
SKYLAB, MANHATTAN.
Lily yang baru masuk ke dalam ruang tamu studio tersenyum melihat Elric yang sedang duduk sembari menyetem gitar akustik klasik. Ia menghampiri pemuda itu dan duduk di sebelahnya.
"Hi, Lily ...." Elric menoleh sekilas pada gadis berambut pendek dengan poni tinggi itu.
"Hi, Elric, apa kabar?" Lily memperhatikan gerakan jemari Elric yang terampil memutar tuning page gitarnya. "Gitar akustik?" tanyanya heran.
Elric terkekeh. "Bukan milikku. Ini milik Skylab. Lihatlah, klasik, bukan?" Ia menunjukkan gitar berwarna coklat tua dari brand ternama.
"Aku punya satu, tapi ... model terbaru."
"Oh ya? Tapi, kekurangan gitar akustik zaman sekarang adalah, tone classicnya hilang. Gitar klasik, suaranya seksi, tidak ada tipuan, hanya ada kau dan keagungan jari-jarimu," kekeh Elric.
Lily terbahak. "Agreed (setuju). Sayangnya, jari-jariku tidak sehebat jarimu. Mungkin aku harus belajar lagi."
Elric selesai menyetem senar di badan Martin si merk gitar ternama, lalu menguji suaranya. Ia terbeliak senang. "So sexy (seksi sekali)." Seseksi Emma saat mereka menghabiskan malam bersama. Bibirnya menyunggingkan senyum simpul.
"Come on, play me a song (mainkan untukku sebuah lagu)," pinta Lily dengan antusias.
Elric kembali terkekeh. "Lagu apa yang kau mau? Aku tidak tahu banyak lagu mainstream."
"Hmmm ...." Lily mengelus janggutnya. "Karena ini gitar klasik, mainkan saja satu lagu klasik. Apa saja."
"Okay ...." Elric mulai memainkan lagu cello suite number one milik Bach dengan apik. Rapi dengan jemarinya yang meloncat ke sana kemari dengan sempurna.
"Boleh aku merekam videonya?" tanya Lily di sela-sela permainan gitar Elric.
"Tentu," sahut Elric. Ia masih fokus dengan nada-nadanya yang rumit.
Lily mengeluarkan ponselnya dan mulai mengambil video selfie dirinya dan Elric yang ada di belakangnya memainkan gitar. Gadis itu mengulas senyum lebar sembari sedikit menyandarkan punggungnya di bahu Elric. Sementara pemuda itu hanya menoleh ke arah kamera satu kali dan tersenyum sekilas.
Selesai mengambil video, Lily pun segera mempostingnya ke akun sosial medianya dengan menyematkan tulisan; Guess who is it (Tebak siapa ini)!
"Thanks, Elric," ucap Lily senang. "You made my day (kau membuatku senang)."
"You're welcome." Elric mengangguk.
__ADS_1
Lily beranjak dari duduknya dan mencangklong tas selempangnya, bersiap-siap untuk pergi. "Apa kita bisa hang out, kapan-kapan?" tanya gadis itu memberanikan diri.
"Kita sering bertemu di sini dan sering mengobrol." Elric menolak Lily halus. Lagi pula tidak ada hal penting yang bisa dibicarakan dengan gadis itu. Bertemu secara tidak sengaja di SkyLab dan mengobrol seadanya sudah cukup baginya.
Lily tersenyum kecut. "Baiklah, sampai jumpa, Elric." Ia melambai kecil pada Elric sebelum akhirnya berlalu dari ruangan itu.
***
Emma, aku akan pulang telat.
Begitu pesan yang Elric kirimkan untuk Emma berjam-jam yang lalu. Namun, hingga menyelesaikan mixing dan mastering salah satu lagu untuk album perdana Bad Boy Of Manhattan bersama teman-temannya dan seorang sound engineer Skylab, Emma belum membalas pesannya. Dan ini sudah pukul dua dini hari.
"Kau tidak mau tidur di sini?" tanya Darren saat melihat Elric bersiap-siap untuk pulang.
"Tidak. Ada yang sedang menungguku," sahut Elric sambil terkekeh.
"Aaah, begitu," cebik Darren sembari mengangguk-angguk. "Salamku untuk Emma," godanya.
Elric terbahak. "See you, Darren." Ia menyambar tasnya dan bergegas keluar dari studio.
Di luar, ia segera memesan taksi dan tidak sabar untuk segera menemui Emma. Ada sedikit kekhawatiran dalam hatinya mengingat gadis itu tidak menjawab pesannya. Ini tidak seperti biasanya. Tidak mungkin Emma tidak mengecek ponselnya selama itu.
"Emma, apa kau sudah tidur?" panggil Elric seraya mengetuk pintu. Tidak ada jawaban. Ia menekan handle pintu, namun terkunci. Kembali ia mengetuk pintu dan memanggil-manggil nama kekasihnya itu.
Setelah beberapa menit tidak ada jawaban, Elric memutuskan untuk menelepon gadis itu. Dan ia mendengar suara getaran ponsel dari dalam kamar. Artinya gadis itu ada di sana.
"Emma!" Dengan suara sedikit keras Elric memanggil gadis itu kembali. "Kenapa kau mengunci pintunya?" tanyanya. "Emma! Hei, Emma!"
Beberapa saat kemudian, ia mendengar Emma menyeret langkahnya ke arah pintu, lalu membukanya. Wajah lesunya muncul.
"Hello?" sapa Elric sembari terkekeh. "Kenapa mengunci pintunya?"
"Kau punya kamar sendiri!" sahut Emma ketus.
"Tunggu, tunggu. Bukankah kita sudah sepakat untuk menggunakan satu kamar saja?"
"Not tonight (tidak malam ini)!" Emma hendak menutup pintu namun Elric segera menahannya.
__ADS_1
"Ada apa ini?" tanya Elric keheranan. "Dan kenapa tidak membalas pesanku?"
"Kau pikir saja sendiri!" Emma memutar badan dan menjatuhkan badannya ke atas ranjang, lalu beringsut menghadap ke arah tembok sambil menarik selimut.
"Hei, hei ... kau marah? Apa ... aku melakukan kesalahan?" Elric menarik selimut yang menutupi tubuh Emma, namun gadis itu merebutnya kembali.
"Aku tidak mau bicara denganmu!" sungut Emma.
"What?! Elric menaikkan kedua alisnya. "Apa yang sedang terjadi? Aku sungguh tidak tahu apa-apa? Kenapa tiba-tiba kau bersikap seperti ini?"
Emma mendecak sebal. Ia benar-benar sedang tidak ingin berbicara dengan pacarnya itu. Ia kesal bukan main saat tidak sengaja berselancar di salah satu aplikasi sosial media yang sedang booming, dan sosok Elric terlihat di feed trending, bersama dengan gadis yang waktu itu bertemu dengan mereka di Central Park. Si penyanyi pendatang baru bernama Lily Boyd. Yang membuat hatinya sakit adalah, membaca komentar-komentar dari penggemar gadis itu. Hampir semuanya mengatakan keduanya cocok menjadi sepasang kekasih.
"Emmaaa ...," bujuk Elric seraya mengelus lengan Emma di balik selimut. "Apa salahku?"
"Kau ada hubungan apa dengan Lily Boyd?" Akhirnya, pertanyaan itu pun lolos dari mulut Emma.
"Owh." Elric menggaruk kepalanya seraya tersenyum lebar. Ia mengerti apa yang terjadi. Lily pasti mengeposkan video mereka siang tadi ke akun sosial media gadis itu. "She's just a friend (dia hanya teman biasa)."
"Kalian mendapat banyak sekali dukungan untuk menjadi sepasang kekasih!"
"So what, who cares (lalu kenapa, siapa yang peduli)."
"I care (aku peduli)!" seru Emma kesal.
Elric melompat ke belakang Emma dan memeluk gadis itu dengan erat. "Tidak usah peduli, Emma. Kau tahu, bukan, aku hanya menyukaimu."
"Kau akan menemui banyak sekali godaan. Aku tidak tahu apa aku akan sanggup menerimanya." Emma sedang merasakan krisis kepercayaan diri yang parah saat ini. Bayangkan saja, saingannya adalah Lily Boyd, gadis penuh dengan talenta, putri seorang Brandon dan Mia Boyd, punggawa band papan atas Funeralopolis.
Elric terkikik. "Hadap kemari!" pintanya.
"Tidak mau!"
"Emmaaa ...."
Emma menghela napas berat. Dengan malas ia memutar badan menghadap kekasihnya itu. Sejujurnya ia merasa malu harus bersikap seperti ini. Ia terlihat seperti remaja yang sedang dilanda cemburu buta. Ia merasa kekanak-kanankan. Tapi, apa boleh buat. Ia cemburu sekali.
"I love you ...," ucap Elric seraya mengecup bibir Emma lembut.
__ADS_1
***