BAD BOY OF MANHATTAN

BAD BOY OF MANHATTAN
Bab 40. Outdoor Movie Theater.


__ADS_3

"Kau tinggal satu apartemen dengan Emma Lopez?" Ryan membulatkan matanya mendengar informasi yang baru saja Elric sampaikan. Michael yang sedang membuka kaleng birnya pun tidak kalah terkejutnya. Sementara Elric tersenyum penuh arti.


"Bukankah dia gadis galak yang menakutkan? Bagaimana kau bisa mendapat ide untuk tinggal dengannya? Lalu, orang tuamu bagaimana? Mereka mengizinkan kau keluar dari rumah?" cecar Michael.


Elric menghisap sisa rokoknya lalu membanting puntungnya ke lantai dan menginjaknya. "Emma sedang butuh partner untuk berbagi biaya apartemen. Kebetulan aku memang punya niat untuk keluar dari rumah orang tuaku, jadi ... yeah ... aku tinggal dengan Emma sekarang."


"Kenapa kau bisa tahu Emma sedang mencari partner?" tanya Ryan seraya menyodorkan sekaleng bir yang telah dibukanya pada Elric.


Elric hanya meringis dan tidak mau menjawab pertanyaan Ryan. Namun, dengan ekspresi wajah Elric yang aneh, pemuda berambut merah itu langsung tahu alasannya. "Kau sering bertemu dengan Emma, ya?" tuduhnya kemudian. Elric terbahak seraya mengangkat kedua tangannya.


"Kau pacaran dengannya," ujar Michael seraya memukul pelan bahu Elric.


"Tidak ... maksudku, belum."


Ryan dan Michael tergelak melihat sikap Elric yang menjadi salah tingkah. "Lihat dirimu, El ... kau menolak gadis-gadis cantik dan populer di sekolah. Kau lebih memilih mengejar Emma Lopez yang galak itu. Tapi, aku akui Emma memang cantik. Noah saja dulu pernah mengejarnya. Tapi ditolak mentah-mentah," terang Ryan di sela-sela gelak tawanya.


Elric menggaruk rambut ikalnya yang mulai panjang. "Aku hanya ingin dekat dengannya. Untuk berpacaran sepertinya aku belum siap."


"Kenapa? Kau takut ditolak?" ejek Michael.


"Kau ini anak seorang Nathan Bradley. Gadis mana yang bisa menolakmu?"


Elric mendecak. "Emma tidak peduli itu." Ia melirik jam di pergelangan tangannya. "Hei, time to work (saatnya bekerja)," ujarnya seraya melempar kaleng bir ke tong sampah besar yang ada di ujung gang.


***


Emma memijit pinggangnya yang terasa pegal seharian melayani pengunjung restauran tiada henti. Alice, rekan kerjanya tidak masuk hari ini, jadilah hanya Emma dan dua temannya yang harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk melayani pengunjung. Tepatnya hanya Emma yang pontang panting dari meja satu ke meja lainnya karena satu rekannya adalah juru masak, dan satu lagi sebagai kasir.

__ADS_1


"McKenzie, sampai jumpa." Emma melambai pada temannya yang sedang duduk di meja kasir. Ia melangkah keluar dari restauran dan berjalan menelusuri trotoar yang ramai menuju apartemennya yang hanya memakan waktu sepuluh menit.


Bayangan kasur empuknya sudah menari-nari di pelupuk matanya. Meringkuk di dalam selimutnya adalah hal yang paling ia dambakan saat ini. Namun, ketika masuk ke dalam apartemennya, ia melihat Elric baru saja keluar dari kamarnya dengan pakaian rapi. Tubuh jangkungnya dibalut kemeja kotak-kotak warna biru tua, celana denim hitam dan sepatu casual. Rambut panjang ikalnya yang berwarna cokelat pun ia sisir rapi.


"Em ... cepat ganti baju. Aku mau mengajakmu menonton film." Elric mendorong punggung Emma masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya dari luar.


"Tapi ...." Emma membuka pintu dan hendak protes.


"Cepatlah," potong Elric sambil mendorong Emma masuk kembali. "Tidak perlu mandi. Tidak perlu berdandan. Kau sudah cantik," ujarnya. Terdengar gerutuan Emma dari dalam kamarnya. Mendengar itu, Elric hanya tersenyum tipis sambil menjatuhkan badan ke atas sofa, menunggu Emma selesai berganti pakaian.


"Kau tahu? Aku mengantuk sekali, El!" sungut Emma begitu gadis itu keluar dari kamarnya. Ia mengenakan pakaian seadanya. Hanya baju terusan setinggi lutut dibalut dengan sweater dan boot.


"Ini masih terlalu sore untuk tidur." Elric yang sudah beranjak dari duduknya segera meraih tangan Emma dan membawa gadis itu keluar.


Rupanya, bukan menonton film di dalam gedung bioskop yang nyaman dan mewah yang dimaksud oleh Elric, melainkan bioskop ruang terbuka yang ada di jantung East Harlem dengan konsep drive in cinema yang populer pada tahun enam puluhan, yaitu menonton film dari dalam kendaraan. Bedanya, di East Harlem, layar berada di halaman sebuah gedung swalayan besar dengan kursi-kursi kayu panjang yang ditanam acak.


"Hiburan rakyat jelata," kekeh Elric seraya mengajak Emma duduk di kursi yang masih kosong.


"Aku sama saja," sahut Elric. "Tunggu sebentar, aku lupa sesuatu." Ia bergegas meninggalkan Emma entah menuju kemana. Sementara Emma duduk menatap layar lebar terpampang di hadapannya, yang sedang menayangkan iklan.


Gadis itu merapatkan sweaternya menghalau udara dingin. Diedarkannya pandangan ke sekelilingnya. Hampir semua kursi telah terisi penuh. Rata-rata adalah pasangan kekasih yang tampak berbahagia menikmati kencan di jum'at malam. Bukan pasangan kekasih muda belia yang dilihatnya, melainkan pasangan paruh baya. Di antara mereka, sepertinya Emma adalah satu-satunya anak muda yang duduk di sana.


Emma menguap beberapa kali. Ia mengantuk sekali. Tapi, ia merasa kasihan dengan Elric yang begitu bersemangat mengajaknya ke tempat ini. Terpaksa ia pun menuruti kemauan anak itu.


"Kau belum makan, bukan?" Elric datang membawa satu bungkus burger dan satu cup kopi panas lalu menyodorkannya pada Emma.


"Wah, kau baik sekali, Lil Bro," ujar Emma dengan mata berbinar. Ia memang belum sempat makan apa pun sejak siang tadi. Lapisan roti, daging dan keju hangat itu membuat air liurnya menetes.

__ADS_1


Elric memanyunkan bibirnya. Panggilan Lil Bro membuatnya sebal. "Tapi ini tidak gratis," ujarnya.


"Berapa semuanya?" tanya Emma seraya menggigit burgernya.


"Ini ...." Elric menunjuk pipinya sendiri.


"Huh?"


"Bayarannya satu ciuman pipi."


"Hei, kau ini tidak sopan sekali, El!"


"Antrian burgernya panjang, Emma. Aku pantas mendapatkan satu ciuman di pipi."


Emma memutar bola matanya jengah. Apa maksudnya anak ini meminta hal aneh semacam itu. Mana mungkin ia mau mencium pipi Elric. Emma pun menggeleng pelan.


"Ya sudah kalau kau tidak mau. Biar aku saja." Tanpa aba-aba, Elric mendaratkan bibirnya di pipi Emma tanpa sempat gadis itu menghindar.


"Elric! Kau ini ...."


"Lihat, Em ... filmnya sudah mulai, jangan berisik!" seru Elric seraya menunjuk layar lebar di hadapan mereka.


Emma masih melotot memandang Elric yang bersikap seperti tidak terjadi apa-apa. Wajahnya yang menyebalkan itu bagaikan tanpa dosa. Emma mengurungkan niatnya untuk mengomeli anak itu karena film telah dimulai dan semua orang yang ada di sekelilingnya tidak lagi bersuara.


Setelah menghabiskan burgernya, Emma mencoba fokus dengan film yang sedang tayang itu, meskipun ia masih merasa kesal dengan kelakuan Elric. Ketika diliriknya pemuda itu, ia justru sedang melempar senyum jahil ke arahnya, membuat gadis itu ingin menjambak rambut Elric saking gemasnya.


Emma mencoba fokus kembali pada layar. Film apa pula yang dipilih oleh Elric untuk ditonton itu. Sama sekali bukan film terbaru. Justru film usang tahun dua puluhan yang didominasi dengan nyanyian. Meskipun terdapat adegan-adegan romantis, film itu cenderung membosankan untuk Emma. Sehingga rasa kantuk kembali menyerangnya. Apalagi saat ia memejamkan matanya, lagu-lagu opera yang terdengar seakan membuainya menuju alam mimpi. Semakin lama semakin membuat rasa kantuknya tidak dapat ia tahan lagi. Tanpa sadar kepalanya pun jatuh di pundak Elric. Dan Elric, yang sedang fokus mengikuti jalannya cerita, terkejut. Namun sejurus kemudian ia tersenyum. Hati-hati ia menggeser duduknya lebih dekat pada Emma agar gadis itu merasa nyaman bertumpu pada pundaknya.

__ADS_1


***



__ADS_2