BAD BOY OF MANHATTAN

BAD BOY OF MANHATTAN
Bab 25. Like Father Like Son.


__ADS_3

GREENWICH VILLAGE, MANHATTAN.


"Elric! Astaga! Kau kenapa?" Alya yang sedang mengobrol dengan Barbara, mertuanya, memekik begitu melihat puteranya yang baru saja masuk dengan pelipis yang dibalut dengan kain penutup luka.


"It's nothing, Mom (bukan apa-apa, Ma)," sahut Elric sambil menghindari tangan Alya yang hendak menyentuh luka di pelipisnya. "Hi, Barb ... kapan datang?" tanyanya pada Barbara, yang membuka kedua tangannya menuntut pelukan dari cucunya itu.


"Owh, Baby Boy, My love ... how I miss you (bocah lelakiku, cintaku ... betapa aku rindu padamu)," ucap wanita setengah baya berambut pirang yang sebagian telah memutih itu sambil memeluk Elric dengan erat.


Elric senang neneknya datang dari Portland untuk mengunjunginya. Untuk wanita seusianya, Barbara cukup asyik untuk diajak bicara tentang apa pun. Wanita itu juga tidak banyak protes apa pun yang dilakukannya.


"Kau berkelahi, Elric?" tanya Alya ketika ketiganya duduk di taman belakang. Wajahnya menyiratkan kecemasan. "Memangnya semalam menginap di mana?" lanjutnya.


"Alya, jangan terlalu memperlakukan Elric seperti anak perempuan," ujar Barbara. "Berkelahi dan tidak pulang semalaman itu sudah biasa untuk anak laki-laki."


Elric menarik sudut bibirnya. Ia pikir neneknya ini memang terbaik. Sementara Alya tampak tidak setuju dengan perkataan Barbara. Ibu mana yang tega melihat anak satu-satunya babak belur seperti itu. "Tapi, kalau Nathan tahu, Elric akan mendapat masalah, Barb. Elric sedang menjalani kursus kepribadian."


"Kursus kepribadian?" tanya Barbara sambil mengerutkan keningnya. Wanita itu menoleh ke arah Elric yang duduk di sampingnya. Elric hanya mengedikkan bahu.


"Iya ...." Alya menceritakan apa yang sudah dilakukan Elric sampai ia harus terkena sanksi oleh Nathan. Dan saat ini ayahnya sedang mempertimbangkan apakah Elric sudah siap untuk kembali ke sekolah umum lagi atau tidak, walaupun Nathan sudah memberi kebebasan untuk keluar rumah semaunya. Tapi, jika hari ini ia melihat Elric dengan wajah babak belur, pastilah semua akan runyam kembali. "Untung saja Nathan tidak di rumah," ucap Alya mengakhiri ceritanya.


"Astaga," ujar Barbara sembari terkekeh. "Kenakalan remaja." Ia mengacak rambut Elric gemas. "El, mau berkencan denganku nanti siang?" tawarnya. Ia berniat mengobrol dengan cucunya itu dari hati ke hati.


"Okay, My Lady," sahut Elric sembari meraih tangan Barbara dan menciumnya bak seorang Ratu. Ia lalu beranjak dari duduknya dan masuk ke dalam rumah.


***


CENTRAL PARK, MANHATTAN.


Barbara menggandeng lengan Elric dan berjalan pelan menelusuri jalanan setapak di dalam taman yang lengang. Daun-daun gugur dari pepohonan yang tumbuh di mana-mana membuat sejuk pemandangan siang itu.

__ADS_1


"Di mana Richard, Barb? Kenapa dia tidak datang ke sini bersamamu?"


"Kakekmu itu selalu sibuk," kekeh Barbara sambil mengelus lengan Elric yang sedang digandengnya. "Tapi dia merindukanmu. Kapan terkahir kali kau datang ke Portland ... mm ... satu tahun lalu, bukan?"


Erlic mengangguk. Ia melempar pandangan sekilas pada dua orang yang sedang jogging melintasinya. "Barb, can I ask you something (bisa aku tanya sesuatu padamu)?" tanyanya kemudian.


"What is that (apa itu, El)?"


Elric meringis sambil menggaruk kepalanya. "Aku menyukai seorang gadis ...."


"Awh, really?" Barbara terpekik.


"Tunggu, Barb ... biar aku selesaikan perkataanku," ujar Elric. "So, I like this girl. She's like older than me (aku suka gadis ini, dia lebih tua dariku), mungkin tiga atau empat tahun di atasku. Dia ... gadis tangguh. Seorang feminist, galak dan cantik."


"And?"


Erlic terkekeh. "Yang ingin aku tanyakan adalah, bagaimana cara memikat gadis seperti dia?"


"Emma ...."


Barbara tersenyum. Rupanya cucu kesayangannya ini sudah dewasa. Rasanya, baru kemarin ia meihat Elric masih bayi. Lihatlah sekarang ia sudah berubah menjadi pemuda tampan menjelang dewasa. "Emma sedikit mirip denganku saat muda dulu. Tangguh, keras dan galak. Dulu Richard perlu sedikit perjuangan untuk mendapatkanku," kata Barbara bangga.


"Oh ya?" Elric mencebikkan bibirnya. "So, what did he do (lalu, apa yang dia lakukan)?"


"Well, dia menghujaniku dengan perhatian. Menemuiku setiap hari dan tidak memberi kesempatan padaku untuk memikirkan pria lain," gelak Barbara sembari membayangkan masa lalunya bersama Richard.


"Perhatian seperti apa?"


"Bersikap lembut, romantis, memujiku cantik setiap kali bertemu, memberiku hadiah ... yeah, hal semacam itu."

__ADS_1


Elric mengangguk-angguk. Ia mengajak Barbara untuk duduk di bangku kayu panjang di bawah pohon oak. "Tapi, waktu itu Richard sudah punya pekerjaan?" tanya Elric.


"Yep."


Elric menghembuskan napasnya kasar. Ia belum punya pekerjaan tetap. Upahnya bekerja sebagai kurir untuk Fat Tony di East Harlem belum seberapa.


"Sepertinya aku harus mencari pekerjaan tetap terlebih dahulu," ujar Elric. "Memberi hadiah pada seorang wanita butuh uang, bukan?" kekehnya.


"Astaga, El." Barbara menepuk keningnya. "Kau ini memang mirip sekali dengan Nathan, ya? Dulu dia tidak mau memakai fasilitas yang diberikan oleh Richard," lanjutnya. "Rumah di Greenwich itu hasil kerja kerasnya sendiri."


Elric tersenyum tipis. Meski ia tidak suka disamakan dengan Nathan, namun kali ini ia tidak protes.


"El, aku jadi penasaran seperti apa Emma ini. Gadis yang mampu menarik perhatian seorang Elric yang biasanya tidak peduli pada apa pun," ujar Barbara.


"Kau mau bertemu dengannya?" Mata Elric berbinar.


"Why not (kenapa tidak)?"


Elric tersenyum senang. "Apa kau lapar, Barb?" tanyanya.


"Pretty hungry (cukup lapar)."


Elric menarik sudut bibirnya. "Bagaimana kalau makanan Meksiko untuk makan siang. Restauran di East Harlem."


Barbara menaikkan alisnya. "Why Mexican food? Why Est Harlem (kenapa makanan Meksiko? Kenapa East Harlem?)?"


Elric tersenyum lebar. "Because she works there (karena dia bekerja di sana)."


***

__ADS_1



Elric and Barbara


__ADS_2