BAD BOY OF MANHATTAN

BAD BOY OF MANHATTAN
Bab 22. James Terlalu Tua Untukmu!


__ADS_3

STANTON STREET, MANHATTAN.


Basecamp Hellbound.


Mata James membulat ketika dilihatnya dari dinding kaca, Elric sedang berkutat dengan gitarnya di dalam studio. Ia mendorong pintu kaca dan memberi isyarat dengan dagunya pada Elric untuk keluar.


"Sarah!" panggil James pada asisten Hellbound yang sudah belasan tahun bekerja dengan mereka.


Sarah muncul dari arah dapur menghampiri James dan Elric. "Yes, James?" tanya wanita itu.


"Tadi aku membeli sarapan. Bisa tolong kau ambilkan di mobilku?" ujar James sembari menyerahkan kunci mobilnya pada Sarah.


James lalu memandang Elric. "Kau sudah sarapan?" tanya James disambut gelengan kepala Elric. Lalu mengajak pemuda itu ke ruang dapur.


"Aku pikir kau sudah menolak permintaan Nathan untuk ikut konser Hellbound bulan depan," ucap James sembari menatap Elric heran.


Elric hanya mengedikkan bahunya. Ia tidak mau mengatakan kepada ayah baptisnya itu kalau ia hanya ingin terlihat bersikap baik di depan Nathan, agar ayahnya itu memberinya kebebasan.


"Kau hanya ingin terlihat seperti anak baik di depan Nathan, bukan?" James terkekeh. Ia sudah bisa menebak rencana anak baptisnya itu. Karena yang ia tahu, Elric sudah tidak mau bermain musik lagi.


Elric hanya menyeringai. Ia meraih satu piring Quesadillas Fritas yang disodorkan Sarah padanya. "Thanks," ucapnya pada Sarah. Wanita itu mencubit pipi Elric gemas sambil terkekeh. Ia sudah mengenal anak itu dari bayi dan sering menjaganya saat Nathan membawanya ke studio. Melihatnya sudah menjadi pemuda yang begitu tampan, membuatnya gemas.


"Aku membelinya di restauran Meksiko tempat Emma bekerja," ucap James membuat Elric yang sedang mengunyah sepotong tortillas melempar pandangan padanya.


"Kau ... masih mengejar Emma?" tanya Elric.


"Kau sudah tahu apa yang menimpa Emma?" James balik bertanya pada Elric tanpa menjawab pertanyaan pemuda itu.


"Hmmm." Elric melanjutkan kunyahan tortillasnya.


"Aku benar-benar bersimpatik pada gadis itu," ucap James.


"Kau sudah punya pacar, James!" sergah Elric menunjukkan ketidaksukaannya.


James terkekeh. "Maksudmu Hannah?" tanyanya. "Aku tidak punya komitmen apa pun dengannya."


"You're too old for her (kau terlalu tua untuknya)."


"Emma juga bukan remaja seumuranmu lagi, El."


"You're a womanizer (kau seorang Casanova)!"


Kembali James terkekeh. "Kau tahu, El ... jika seorang pria belum menemukan wanita yang tepat, dia akan singgah di beberapa wanita. Itu bagian dari proses pencarian."


"Lalu Emma? Kau berencana untuk sekedar singgah?"


"Aku tidak tahu, El ... pertama kali melihat Emma di Greenwich, aku langsung tertarik padanya."


"Emma tidak cocok untukmu, James!"


James menaikkan kedua alisnya, menatap Elric heran. "Why do you think so (kenapa kau berpikir seperti itu)?"


"Come on, you're a rockstar, Emma is just an ordinary girl ( ayolah, kau seorang rockstar, Emma hanya gadis biasa)." Elric mengatakan alasan yang sangat dibuat-buat. Tentu saja ia tahu, tidak ada yang salah jika James menyukai Emma.


"Nonesense (omong kosong)!" decih James. "Kau tahu, bukan, Anak Muda ... kisah cinta ayah dan ibumu?"


Elric mengedikkan bahunya. "Memangnya kau yakin Emma juga menyukaimu?"


Bibir James mencebik. "Itu yang harus aku cari tahu."

__ADS_1


Elric menghembuskan napasnya kasar. Ia memandang James sejenak. Ayah baptisnya itu memang tampan. Rambut cokelat panjang yang selalu diikat rapi, lalu mata hazelnya, tubuhnya yang atletis, dan rahang kuat yang ditumbuhi rambut tipis. Umurnya pun sudah matang dan ia adalah gambaran seorang pria sejati. Gentle tapi Manly. Wanita mana yang bisa menolak pesonanya. Apalagi, James juga kaya raya.


"Wah, kalian tidak menunggu kami untuk sarapan," celetuk William sambil mencomot satu potong tortillas dari piring yang telah disiapkan oleh Sarah.


"Sarapan apa? Hmm ... kelihatannya enak." Nathan muncul dari balik pintu dan mengikuti William mengambil sepotong tortillas.


James terbahak. "Aku yakin istri-istri kalian pasti sudah menyiapkan sarapan. Sedangkan aku dan Elric masih bujangan. Tidak ada yang menyiapkan sarapan untuk kami," kekehnya.


Nathan memandang Elric heran. "Aku tidak tahu kau sudah ada di sini. Aku pikir tadi kau masih tidur. Ibumu juga tidak bilang apa-apa padaku," ujarnya.


"I slept here. I told Mom already (aku tidur di sini. Aku sudah memberi tahu mama)," sahut Elric seraya beranjak dari duduknya dan meninggalkan pria-pria berambut panjang itu.


Elric masuk kembali ke dalam studio dan meraih gitarnya. Jemarinya mencabik senar gitar, namun otaknya sibuk memikirkan obrolannya dengan James tentang Emma.


Selama ini James adalah sosok ayah yang lain untuknya. Yang lebih terbuka, lebih santai dalam menyikapi apa pun yang ia lakukan. Ia lebih nyaman mengobrol dengan James dari pada dengan Nathan.


Tapi, untuk pertama kalinya, Elric merasa insecure dengan keberadaan James. Pria itu punya segalanya. Tampan, terkenal, mapan dan matang. Sedangkan dirinya hanya bocah kemarin sore yang tidak punya apa-apa jika bukan karena ayahnya adalah seorang Nathaniel Bradley.


Sungguh perasaan yang aneh. Merasa iri dengan ayah baptisnya sendiri.


***


Emma sedang memakai sweaternya ketika Alice, rekan kerjanya mendekati dirinya dan menyenggol bahunya sambil tersenyum jahil. "Bagaimana kau bisa mengenal James Howards, Emma?" tanyanya. Rupanya gadis itu memendam rasa penasaran seharian.


"Owh, aku pernah mengajar les kepribadian untuk anak Nathan Bradley. Aku bertemu dengan James di sana," terang Emma sembari meraih tas selempangnya.


Alice mengikuti langkah Emma keluar dari ruang kursus karyawan dan berjalan keluar dari restauran. "Wah, enak sekali bisa kenal dengan orang-orang terkenal seperti mereka, ya," ujar Alice.


"James dan Nathan, mereka pria-pria yang baik dan gentleman. Tapi anak Nathan ... dia bisa membuatmu terkena darah tinggi. Bandel dan menyebalkan." Wajah Erlic terlintas begitu saja di benak Emma. Terakhir ia bertemu anak bandel itu seminggu yang lalu di hari meninggalnya Juana. Elric menemaninya beberapa jam di apartemen Lessy. Saat itu ia sedang berada di titik di mana langit seakan runtuh menimpanya. Emma pikir Elric masih punya sedikit rasa empati terhadap orang lain.


"Mungkin karena masih anak-anak dan manja. Berapa umurnya?" tanya Alice.


Ketika melewati apartemen lamanya, ia melihat seorang remaja dengan hoodie merah maroon sedang duduk di kursi panjang yang ada di depan apartemen Ryan. Emma memutar kedua bola matanya. "Kenapa kau selalu berkeliaran di sini?" tanya Emma pada Elric sambil melipat kedua lengan di depan dada.


Elric yang sedang sibuk dengan gadgetnya mendongak. Matanya berbinar melihat Emma berdiri di hadapannya. "Aku bekerja di sekitar sini," sahutnya sambil menyimpan gadget ke dalam tas punggungnya.


Emma mendesis. "Bekerja dengan gangster? Begitu?" tuduhnya.


Elric mengangkat kedua bahunya. "Yang penting bisa menghasilkan uang."


Emma menggeleng. Ia tidak mengerti dengan jalan pikiran anak itu. Kenapa harus mempersulit hidupnya sedangkan ia punya segalanya. Benar-benar tukang mencari masalah.


"Emma, duduk di sini." Elric menepuk-nepuk tempat kosong di sebelahnya.


Emma menghela napasnya. Ia lalu duduk di samping Elric. "Apa pekerjaanmu?" tanyanya penasaran.


"Rahasia." Elric terkekeh.


Emma mendecak sebal. "Kau akan mendapat masalah lagi, Elric."


"Kau tidak usah mengkhawatirkanku, Emma. Aku akan baik-baik saja," ujar Elric membuat mata Emma membulat.


"Siapa yang mengkhawatirkanmu? Sebagai orang yang lebih tua darimu, aku hanya memberi nasehat," sergah Emma.


Elric meringis sembari menggaruk kepalanya. "Are you feeling better (apa kau sudah merasa lebih baik)?" tanyanya mengalihkan pembicaraan.


"Yeah. I have to. I gotta move on. I'm alone now (Ya. harus. Aku harus melanjutkan hidup. Aku sendirian sekarang)," jawab Emma lirih.


"You have me ... emm ... still have a dad, right (kau punya aku ... emm ... masih punya seorang ayah, bukan)." Elric yang merasa salah berucap buru-buru meralat perkataannya. Ia bernapas lega. Sepertinya Emma tidak mendengar ucapan pertamanya.

__ADS_1


Emma mengedikkan bahunya. "He's busy with his new woman (dia sibuk dengan wanita barunya)," ucapnya.


"Lucu, ya ... kita berdua sama-sama punya masalah dengan ayah kita. Hanya saja kasusnya berbeda." Elric merogoh saku celananya dan mengambil satu bungkus rokok. Ia mengambil sebatang lalu menyalakannya. "You want some (kau mau)?" tawar Elric sembari menyodorkan bungkus rokoknya pada Emma.


Emma menggeleng. "Kau gila, El ... kau punya ayah yang sangat keren. Sepertinya kau sendiri yang bermasalah."


Elric menghembuskan asap rokoknya ke udara. "Susah untuk dijelaskan. Kau harus berada di posisiku terlebih dahulu. Baru kau akan mengerti."


"Maybe (mungkin)," ucap Emma lirih. Matanya kosong menatap ke jalanan. Lamunannya buyar ketika ponsel di tasnya berdering. Emma buru-buru mengambil benda itu. Ada nomor tidak dikenal tertera di layar. "Hello?" Emma menyapa. Beberapa saat kemudian ia terlihat gugup. "Emm ... aku ... ya ... tidak ada acara ... malam ini," ucapnya terbata.


Elric menatap Emma curiga. Sepertinya ia tahu siapa yang menelpon gadis itu. "Siap yang menelponmu?" tanyanya memastikan.


"Emm ... James," jawab Emma gugup.


"Mau apa dia?" tanya Elric. Jelas ia menampakkan wajah tidak sukanya.


"Mengajakku makan malam."


Elric mendesis. "Jangan menerima ajakannya!"


Emma mengerutkan keningnya. "Why (kenapa)?" tanyanya heran.


"He's too old for you (dia terlalu tua untukmu)," jawab Elric dingin.


"Memangnya kenapa?"


"Kau mau punya pacar pria tua sepertinya?"


"Huh?" Emma mengedip-ngedipkan matanya. Wajahnya terlihat bingung. "Memangnya aku bilang mau jadi pacarnya?"


"Kau ini bodoh, ya?!" hardik Elric membuat Emma terkesiap.


"Kenapa kau mengatakan aku bodoh?!" Emma berseru kesal.


"Memangnya kau tidak bisa menebak jika seorang pria mengajakmu makan malam, apa yang dia inginkan?"


"Kau mau bilang James menyukaiku?" tanya Emma dengan mata berbinar. Dadanya tiba-tiba berdebar kencang.


Elric mendesis. "Gadis ini memang bodoh," gerutunya.


"Ishh!" Emma memukul ujung kepala Elric dengan keras, membuat pemuda itu meringis sambil mengelus kepalanya. "Apa maksudmu, Anak Breng sek!"


"Dengar!" tegas Elric. "Jangan terlalu senang, Emma. James itu seorang Casanova. Banyak wanita cantik yang memburunya. Lagi pula dia sudah punya pacar. Namanya Hannah. Cantik, glamor, dan elegan," terang Elric.


Wajah Emma cemberut. Artinya, secara tidak langsung, Elric mengatakan kalau selera James itu tinggi. Bukan gadis biasa yang sederhana seperti dirinya.


"Aku tidak sedang mengatakan kau tidak cukup cantik untuk James," ucap Elric yang merasa tidak enak melihat Emma yang sepertinya tersinggung dengan kata-katanya.


"Kau memang selalu mengatakan aku jelek!" sungut Emma.


"Ya, itu memang benar ... auch!" pekik Elric ketika rambut panjangnya sudah berada di genggaman tangan Emma dan ditarik dengan keras.


"Dengar, ya, Anak Breng sek! Aku akan makan malam dengan James. Akan kutunjukkan kalau aku juga bisa jadi cantik seperti wanita-wanita yang memburunya!" tegas Emma seraya beranjak dari duduknya dan melangkah meninggalkan Elric dengan perasaan dongkol.


"James sudah punya pacar, Emma!" seru Elric.


"I don't care (aku tidak peduli)!" teriak Emma dari kejauhan.


Elric bangkit dari duduknya dan menendang bangku panjang di hadapannya dengan keras. "F uck (Sia lan)!!" makinya geram.

__ADS_1


***


__ADS_2