
Emma mematut dirinya di depan cermin. Ia sudah merias wajahnya dengan polesan make up yang sedikit lebih tebal dari biasanya, meskipun tidak terkesan menor. Lalu, ia memakai gaun sepanjang lutut berwarna merah bata dengan leher tanpa kerah yang terlihat sederhana. Walaupun gaun itu sudah lima tahun ketinggalan zaman, namun tetap terlihat sempurna membalut tubuh rampingnya.
Sepuluh menit lagi, James akan menjemputnya. Sekali lagi Emma mematut dirinya, memastikan semua yang menempel di tubuhnya rapi. Kemudian ia menyambar tas selempangnya dan memakai sepatu vintage warna hitam kesayangannya.
Emma memutuskan untuk menunggu James di luar gedung. Ia duduk di atas pagar pembatas gedung dan sidewalk yang tingginya hanya setengah meter. Dadanya berdebar menanti kedatangan James. Rasanya seperti menanti kedatangan seorang pangeran dari negeri antah berantah yang akan membawanya pergi dari kesengsaraan ini. Bibir Emma menyunggingkan senyum tipisnya.
Namun, senyum Emma pudar ketika dua orang remaja berkulit hitam berlari melintas di depannya sambil membawa tongkat baseball. Keduanya terlihat buru-buru menuju arah blok apartemen lama Emma yang berjarak sekitar satu kilo dari apartemennya saat ini.
Emma turun dari atas pagar pembatas dan memperhatikan dua remaja itu mulai menjauh. Namun ia dikejutkan lagi dengan tiga orang remaja lain yang juga melintas di dekatnya. Salah satu dari mereka bahkan tidak sengaja menabrak bahunya. Mereka bertiga juga membawa tongkat baseball dan berlarian ke arah dua remaja kulit hitam tadi menuju. Mereka mengenakan jaket yang sama bertuliskan Fordham Fire. Rupanya mereka datang dari Bronx.
Sebenarnya pemandangan seperti itu tidak asing lagi di East Harlem. Tawuran antar geng sudah sering terjadi. Warga di sana tidak ingin ikut campur karena tidak ingin celaka.
Emma mengelus dagunya. Tiba-tiba pikirannya melayang pada Elric. Ia berharap anak itu tidak terlibat. Semoga saja si bandel itu sudah pulang ke rumahnya. Tapi, dadanya berdebar ketika teriakan-teriakan terdengar beberapa blok dari tempatnya berdiri. Emma menggigit-gigit jarinya. Perasaannya menjadi tidak enak.
***
"Hei, White Boys (anak-anak kulit putih)!Aku sudah memperingatkan kalian untuk tidak menginjak teritori kami. Rupanya kalian sekelompok anak-anak bengal yang sok jagoan, ya."
Elric yang baru saja mendapat pukulan di wajahnya, mendongak menatap pemuda berkulit hitam yang sedang mengacungkan tongkat baseball padanya. "Mereka geng Fordham Fire dari Bronx," bisik Ryan sambil menahan kepalan tangan Elric yang sudah siap untuk membalas.
Elric berdelapan, sementara pemuda berkulit hitam itu bersepuluh. Kedua kubu bersiap-siap untuk saling menyerang, menyiapkan senjata di tangan masing-masing.
"Mereka ada di kandang kita. Tidak usah takut," ucap Elric seraya melirik teman-temannya.
"Attack (serang)!"
Gang di antara dua bangunan apartemen itu seketika ricuh. Perkelahian dua kelompok yang saling membenci itu tidak bisa dihindari. Saling tonjok, saling memukul, dan saling mendorong.
Darah muda yang meluap-luap seakan haus akan pelampiasan.
Buggh.
__ADS_1
Satu pukulan mendarat di wajah Elric, melukai pelipisnya. Darah segar mengucur membasahi pipinya. Kemarahannya tidak bisa dibendung lagi. Elric berteriak sambil mendorong pemuda yang telah memukulnya itu dan mendesaknya ke dinding. Tapi, belum sempat ia mengayunkan pukulannya ke arah pemuda itu, seseorang menghantam punggungnya dengan tongkat baseball dengan keras hingga ia pun jatuh tersungkur.
"Eat that, White Boy (rasakan itu, anak kulit putih)!"
Elric berusaha bangkit ketika dilihatnya seorang pemuda berkulit hitam hendak menghantamnya kembali dengan tongkat baseball di tangannya. Elric seketika menyilangkan kedua lengannya untuk dijadikan tameng melindungi badannya. Di luar dugaannya, pemuda itu justru terkapar di hadapannya. Sepertinya seseorang telah menghantamnya terlebih dahulu. Elric yang belum sempat mencerna apa yang terjadi, merasakan lengannya ditarik seseorang dan memaksanya untuk berlari meninggalkan tempat itu sekencang-kencangnya.
Gadis bergaun merah maroon, berambut panjang, dan cantik sekali. "Emma?"
"Diam kau, Elric!" hardik Emma sambil memaksanya masuk ke dalam gedung apartemen.
Elric yang kebingungan menurut saja ketika gadis itu membawanya ke dalam lift dan naik ke lantai dua. Emma menggedor pintu bernomor 210 dengan keras, memanggil-manggil nama Lessy.
Ketika pintu dibuka, seorang wanita paruh baya yang tidak lain adalah Lessy, terkejut lalu buru-buru menyuruh Emma dan Elric masuk. "Apa yang terjadi?" tanya Lessy panik.
"Si bandel ini!" hardik Emma sambil mendorong punggung Elric dan memaksanya duduk di atas sofa. "Ingin jadi jagoan." Emma memelototi Elric yang sedang menatapnya dengan kagum.
"Biar aku siapkan air untuk membersihkan lukanya," ujar Lessy sambil melangkah ke arah dapur.
Emma memicingkan matanya, menatap Elric sengit. "Kau benar-benar tidak sayang nyawamu, ya?"
"Kau tidak tahu permasalahannya, Emma."
"Begitu? Apa? Urusan mafia? Wow ... keren sekali." Emma bertepuk tangan memuji tindakan Elric. Entah kenapa ia begitu kesal dengan anak itu. Kenapa Elric senang sekali terlibat masalah. Emma benar-benar tidak habis pikir. Elric mengurungkan niatnya untuk menjawab Emma ketika dilihatnya Lessy datang membawa satu mangkuk air, handuk kecil dan first aid box untuk mengobati luka di kening Elric.
"Maaf merepotkanmu, Lessy," ucap Emma merasa tidak enak. Apartemen Lessy terlintas begitu saja di benaknya saat membawa Elric kabur dari tawuran antar geng itu.
"Tidak masalah. Kau bantu Elric saja, Emma. Aku sedang menyiapkan makan malam." Lessy tidak perlu menanyakan detail kejadian yang dialami Elric. Sebagai warga East Harlem, ia tentu sudah mengerti apa yang terjadi.
Emma duduk di samping Erlic dan membersihkan kening pemuda itu. Wajahnya terlihat masam. Sesekali diliriknya Elric dengan sinis. Ia benar-benar kesal dengan anak itu.
"Aku harus tahu keadaan teman-temanku," ujar Elric.
__ADS_1
"Don't move (jangan bergerak)!" bentak Emma. Selesai membersihkan luka Elric, ia membuka kotak pertolongan pertama dan mencari obat untuk mengolesi luka dan juga kain penutupnya.
Mata Elric mengikuti gerakan Emma yang dengan cekatan mengurus luka di keningnya itu. "Thanks, Emma," ucapnya setelah Emma selesai menutup lukanya.
Emma menghembuskan napasnya kasar. Ia menghempaskan punggungnya ke sandaran sofa. "Kenapa harus terlibat dengan mereka, El?" tanyanya.
"To put some muscle (untuk bikin otot)," kekeh Elric sambil menunjukkan otot lengannya membuat Emma memutar bola matanya sebal.
Elric meneliti wajah Emma dan juga pakaian yang dikenakan gadis itu. "Kau memang berdandan, ya?" godanya.
Emma terkesiap. "Oh, sh it (sial)!" Ia buru-buru mengambil ponsel di dalam tasnya. Matanya membulat. Ia menutup mulutnya yang menganga. "Oh, tidak," keluhnya. Puluhan panggilan tak terjawab dan pesan dari James memenuhi layar ponselnya.
Gadis itu memijit keningnya. Makan malamnya dengan James gagal. Pria itu sudah menunggunya lebih dari satu jam dan menyerah karena ia tidak bisa dihubungi.
"Makan malammu gagal?" tanya Elric. Ia menarik sudut bibirnya.
Emma menggeleng tidak percaya. Ia sudah berdandan sedemikian rupa berharap James bisa melihat dan memujinya saat mereka makan malam. Ternyata ia melewatkannya, gara-gara kekhawatirannya pada Elric yang entah kenapa begitu kuat.
"Biar aku saja yang menilai penampilanmu malam ini," ujar Elric seraya memandang Emma dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Lumayan ... meskipun masih sedikit kuno," gelaknya. Namun sejurus kemudian ia meringis kesakitan ketika Emma dengan sengaja menekan luka di keningnya dengan keras.
***
Hallo, terimakasih sudah mengikuti cerita ini, ya ... semoga bisa memberi hiburan di saat kalian bosan menunggu author-author kesayangan dan novel-novel favorit kalian update bab baru.
Bacalah dengan santai, mau comment, kritik, saran, dari yang pedes sampai membangun, semua akan aku terima dengan pa ha dan da da terbuka, eh, tangan terbuka.
No baper-baper kalau sudah masuk geng Padepokan. Yang baper kusantet nanti 🤣🤣🤣🤣🤣
Enjoy
Lady Magnifica
__ADS_1