
"Elric, tunggu!" panggil Nathan ketika melihat Elric keluar dari ruang perpustakaan diikuti oleh Mrs. Becky Sanders. Nathan melambai sekilas kepada wanita itu ketika ia berpamitan.
"What (apa)?" tanya Elric tak acuh.
"Kenapa pelipismu?" tanya Nathan sambil memeriksa wajah Elric. Pelipis pemuda itu sudah tidak tertutup kain penutup luka, tapi terlihat bekas lukanya memerah.
"It's nothing (bukan apa-apa)," jawab Elric sambil lalu.
"Kau berkelahi?" tuduh Nathan seraya mengikuti langkah Elric di koridor rumah menuju ke ruang dapur di mana Lupita sedang menyiapkan makan siang untuknya. Wanita itu dengan cekatan meladeni tuan mudanya.
"El?" Nathan menuntut jawaban putranya itu.
"Kenapa kalau aku berkelahi? Kau akan menganggap aku tidak bersikap baik dan membatalkan rencanamu untuk mengembalikanku ke sekolah umum?" Elric balik menuduh sang ayah. "Anyway, Dad (lagi pula, Papa) ...." Elric menatap Nathan lekat. "Aku pikir sebaiknya aku mencari tempat tinggal sendiri saja."
"What are you talking about (apa yang kau bicarakan)?" tanya Nathan terkejut.
"Kau tahu apa maksudku, Nath," sahut Elric. Ia melanjutkan suapan sendoknya. Lalu kembali bersikap tak acuh.
Nathan menggeleng. "Aku sungguh tidak mengerti jalan pikiranmu. Apa yang kau mau sebenarnya? Apa aku ayah yang buruk? Apa kau sangat membenciku?"
Elric menghela napasnya. "Yang aku mau adalah, jangan mencampuri urusanku. Apa kau bisa?" Ia membanting sendok dan garpu ke atas piringnya, lalu melangkah pergi meninggalkan Nathan yang hanya bisa memandangi kepergiannya.
"Kau lihat itu, Lupita?" ujar Nathan pada asistennya dengan wajah yang terlihat kesal. "Aku tidak pernah bisa berbicara dengan anak itu," gerutunya.
Lupita tersenyum dan menarik kursi untuk duduk di samping Nathan. "Mr. Bradley ... aku rasa Elric sedang dalam proses pembuktian diri," ucapnya.
"Pembuktian diri seperti apa?" sergah Nathan.
"Pembuktian diri bahwa dia sedang menuju kedewasaan. Longgarkan ikatanmu, Mr. Bradley ... Elric bukan anak kecil lagi," pinta Lupita sembari menepuk-nepuk bahu Nathan.
__ADS_1
Nathan mengelus rambutnya. "Aku hanya tidak ingin dia salah jalan dan terlibat hal-hal buruk. Seperti yang ia lakukan beberapa waktu lalu."
Kembali Lupita tersenyum. "Mr. Bradley ... kau tidak akan tahu mana jalan yang benar kalau kau tidak tersesat terlebih dahulu. Elric butuh pengalaman. Dia sedang mengeksplor dunianya. Biarkan saja. Awasi saja dari jauh. Bantu Elric kalau dia memang butuh bantuan," terangnya. "Maafkan aku kalau aku terdengar menggurui, Mr. Bradley," ucapnya.
Nathan tersenyum tipis. "It's okay, Lupita."
"Jangan putus asa, Mr. Bradley. Menghadapi anak remaja memang sulit. Aku pernah mengalaminya," kekeh Lupita.
"Yeah." Nathan menyahut lirih. Elric adalah satu-satunya. Ia hanya ingin yang terbaik. Dan ia tidak mengerti kehidupan macam apa yang diinginkan oleh Elric.
***
"Kalian bertiga anak buah Fat Tony?" Pria bertubuh besar berkaus longgar yang dipadukan dengan setelan jas berwarna biru tua dan mengenakan kalung emas itu menatap Elric, Michael dan Ryan secara bergantian.
"Yeah," jawab Elric sambil bergerak selangkah maju ke arah pria itu dan memberikan sebuah bungkusan besar yang tertutup rapat pada pria itu.
"Hmm." Pria itu menerima bungkusan dari tangan Elric dan menepuk-nepuknya sambil mengangguk-angguk. "Temui anak buahku di ruang sebelah. Mereka akan mengurus pembayaran kalian."
"Kalian tunggu di sini saja." Elric mencegah Michael dan Ryan untuk menunggu di luar ruangan yang ditunjukkan oleh pria tadi.
Beberapa saat kemudian setelah menyelesaikan pembayaran barang yang dibawanya, Elric keluar dari ruangan itu dan mengajak dua sahabatnya itu keluar gedung yang mereka tahu, itu adalah sebuah club kecil. Yang tadi mereka temui di ruang sebelah adalah pemilik club sekaligus teman bos mereka, Fat Tony.
"Wah ... kita bisa minum sepuasnya malam ini," ujar Ryan gembira, setelah menyetor hasil penjualan barang pada Fat Tony dan menerima gajinya.
Elric merogoh ponsel di saku celananya dan memeriksa jam di layar. Pukul lima sore, pikir Elric, Emma baru selesai bekerja. Ia berniat mengajak gadis itu makan sesuatu di tempat yang nyaman untuk mengobrol. "Aku tidak bisa," kata Elric.
"Memangnya kau mau ke mana? Jangan bilang kau takut pada ayahmu, El," ejek Michael.
"Aku ingin menemui seseorang."
__ADS_1
Ryan dan Michael saling melempar pandang keheranan. Tidak biasanya Elric menolak ajakan mereka. "Kau ingin menemui siapa, El? Pacarmu? Si galak itu, Emma?" kekeh Ryan.
Elric mengibaskan tangannya. "Sudah jam lima. Aku pergi dulu." Pemuda itu segera berlalu dari hadapan kedua sahabatnya yang kembali saling pandang heran melihat tingkah Elric yang sedikit aneh.
Sementara Elric berjalan di sidewalk yang ramai pejalan kaki sore itu. Restauran Meksiko tempat Emma bekerja tidak terlalu jauh. Hanya perlu waktu sepuluh menit untuknya sampai di sana.
Elric berdiri tidak jauh dari restauran Meksiko yang tampak masih ramai itu. Beberapa karyawan keluar dari arah pintu restauran. Tapi, ia belum melihat Emma. Setelah sekitar setengah jam ia menunggu. Sosok gadis cantik yang ia nantikan itu pun muncul. Ia keluar dari dalam pintu, masih dengan seragam pegawai yang dibalut sweater rajut besar abu-abu. Emma berjalan bersama seorang temannya sambil berseloroh, terdengar dari gelak tawanya yang renyah.
Elric yang sedang menghisap rokoknya buru-buru membantingnya ke lantai dan menginjaknya. Ia berjalan cepat menghampiri Emma yang seketika memasang wajah kagetnya meihat Elric tiba-tiba muncul entah dari mana. "Sedang apa di sini?" tanya Emma.
Elric meringis sambil menggaruk kepalanya. Ia bingung menyusun skenario yang tidak terlalu mencurigakan untuk mengajak Emma pergi jalan-jalan.
"Elric?" panggil Emma. Sementara Alice, rekannya, hanya tersenyum-senyum. Gadis itu sudah bisa menebak kalau pemuda tampan di hadapannya ini ingin mengajak kencan Emma.
"Aku ... ingin ... sebenarnya, ada yang ... emmh ... aku ...." Tiba-tiba lidahnya terasa kelu ketika Emma menatapnya dengan pandangan keheranan.
"Dia ingin mengajakmu kencan, Em," potong Alice gemas. Elric tersentak mendengar ucapan teman Emma yang langsung pada intinya. Dadanya yang sejak tadi berdegup kencang kini bertambah kencang. Mungkin saat ini wajahnya sudah terlihat pucat.
"Huh?" Emma mengerenyitkan keningnya. "Kau mau apa, Elric?" tanyanya kemudian. Tanpa pikir panjang, Elric meraih lengan Emma dan menariknya pergi dari tempat itu.
"Elric! What are you doing (apa yang kau lakukan)?" protes Emma sembari berusaha melepaskan lengannya dari genggaman tangan Elric.
"Ikut saja!" Elric berseru tanpa melepaskan lengan Emma.
"Elric!" bentak Emma sambil menarik rambut Elric agar pemuda itu melepaskan cekalannya.
"Auch," keluh Elric sambil mengelus kepalanya. Ia pun melepaskan lengan Emma dan menghentikan langkahnya.
"Dasar bocah aneh!" gerutu Emma.
__ADS_1
"Temani aku ke China Town." Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulut Elric. Dan China Town, adalah tempat yang terlintas di benaknya. Ia ingat cerita Alya dulu sering mengajak Nathan ke sana. Selain itu, China Town adalah tempat yang paling cocok dan seru di Manhattan untuk mengajak seorang gadis berkencan dengan budget minim tentunya.
***