
Emma berdiri di antara para pejalan kaki yang berlalu lalang di area Time Square yang ramai. Sesekali gadis itu menoleh ke samping kanan dan kirinya mencari sosok Elric yang seharusnya sudah datang lima belas menit yang lalu.
"Ya, bagus sekali ... terlambat pada kencan pertama," sungut Emma. Gadis itu menoleh ke belakang, membaca papan nama sebuah restaurant untuk memastikan ia tidak salah tempat menunggu, seperti yang sudah disepakati olehnya dan juga Elric.
Emma menghembuskan napasnya kasar. Ia merapatkan syal di lehernya untuk menghalau udara dingin sambil melihat-lihat ke sekelilingnya.
"Hah?" Mulutnya ternganga saat melihat ke arah gedung Time Square, dan melihat wajah empat pemuda berambut panjang yang tidak asing di matanya, terpampang di papan Billboard besar di sana. "Unbelievable (tidak bisa dipercaya)," ucapnya.
The Bad Boy Of Manhattan New Single : Sorcery, available in all digital platforms.
"Wow," ucap Emma terkagum-kagum. Senyumnya merekah demi melihat wajah pacarnya, Elric, berpose layaknya foto model, namun dengan ekspresi wajah yang terlihat garang.
"Hei!"
Satu tepukan di bahu membuat Emma terkesiap. Gadis itu segera memutar badan dan mendapati si foto model abal-abal berdiri di hadapannya.
"You're late ( kau terlambat)," sembur Emma kesal.
"Astaga ... hanya dua puluh menit, Emma." Elric membela diri. "Maaf ... sulit sekali melepaskan diri dari Larry." Ia menyebut nama managernya.
Emma menghela napasnya. "Menyebalkan" ucapnya ketus.
Elric terkekeh melihat raut wajah Emma yang terlihat kesal. "Okay, ini kencan pertama kita. Seharusnya aku tidak terlambat. Maafkan aku, ya," pintanya setengah memohon.
"Ya, aku harus memaklumi. Punya pacar seorang rockstar yang sangat sibuk." Emma menunjuk papan Billboard di mana wajah Elric terpampang di sana.
"What (apa)?" Elric terkejut melihat foto dirinya, Darren, Samuel dan Jacob di gedung Time Square. "Apa-apaan ini?" ujarnya.
Emma mengerutkan dahinya. "Kau tidak tahu?" tanyanya.
"Tunggu ...." Elric mengambil ponsel dan melangkah menjauhi Emma untuk menelpon seseorang.
Emma mencebikkan bibir. Elric terlihat tidak senang saat berbicara dengan seseorang di ponselnya. Entah apa yang pemuda itu bicarakan, Emma tidak terlalu mendengarnya karena suasana begitu ramai.
Beberapa saat kemudian, Elric menutup telepon dan melangkah mendekatinya. Wajahnya tampak kesal. Namun, saat bertatap mata dengan Emma, senyumnya kembali terbit.
__ADS_1
"Ada masalah?" tanya Emma.
"Sedikit. Akan kuurus nanti. Aku tidak mau kencan kita terganggu," timpal Elric seraya merapikan topi rajut di kepala Emma.
Emma tersenyum. Benar juga. Ini kencan pertama mereka, tidak boleh diusik dengan hal-hal apapun yang bisa merusak suasana bahagia di antara mereka.
"Jadi, Tuan Puteri ... kau mau ke mana?" tanya Elric.
"Aku lapar." Emma mencari-cari restaurant yang mungkin bisa cocok dengan selera makannya malam ini. Di belakang mereka ada restaurant Italia, namun, sepertinya ia tidak sedang berselera dengan menu makanan di sana.
"Kau mau makan apa?"
"Hmmm ... hot dog, pretzels, sandwich, anything American (menu makanan Amerika apa saja)."
Elric mengangguk-angguk. Ia lalu menggandeng tangan Emma dan berjalan di antara orang-orang yang berlalu lalang, mencari keperadaan lapak penjual hot dog dan semua yang disebut oleh Emma.
Seperti biasa, mereka tidak menyukai restaurant mewah ataupun tempat-tempat luxury untuk makan dan berjalan-jalan. Keduanya menyukai kencan a la rakyat jelata yang mengasyikkan.
"Apa aku mengenalmu?" Penjual hot dog yang mereka datangi bertanya pada Elric sambil meneliti wajah pemuda itu. "Sepertinya wajahmu familiar," lanjutnya.
Emma menunjuk papan Billboard di gedung yang ada di belakang mereka, memberi tahu ada foto Elric dan bandnya di sana.
Elric menggeleng sambil terkekeh pelan mendengar perkataan pria itu. "Hello," sapanya.
"Mimpi apa aku semalam," ujar si penjual hot dog senang. Setelah menyelesaikan dua kotak pesanan Elric, pria itu meminta untuk berfoto dengan pemuda itu.
"Kau memang jenius. Aku suka lagumu. Terus berkarya, Anak Muda," ucap pria itu saat Elric dan Emma berpamitan.
Emma tersenyum-senyum melihat gaya canggung Elric yang lucu. Benar-benar payah, pikir gadis itu. Elric sepertinya tidak terlalu menyukai perhatian yang terlalu berlebihan seperti itu.
"Duduk di sini, El." Emma menarik lengan Elric dan membawanya ke sebuah kursi kosong yang ada di taman kecil yang dikelilingi gedung-gedung pencakar langit.
Lumayan juga tempat itu. Agak sepi dan hanya diterangi lampu-lampu taman yang remang-remang. Di tengah taman ada dua orang pengamen jalanan dengan peralatan musik mereka yang lengkap tengah melantunkan lagu-lagu hits tahun ini. Lagu-lagu romantis, tentu saja, karena yang menonton mereka rata-rata adalah pasangan yang sedang menikmati waktu kebersamaan mereka.
"Kau tidak suka menjadi selebritis, El?" goda Emma seraya menyenggol lengan Elric dengan sikunya.
__ADS_1
"Kau sudah tahu itu, bukan?" cebik Elric. Dikunyahnya satu gigitan roti dan sosis dengan lahap.
Emma meringis memperlihatkan gigi-giginya yang rapi. "Tapi kau tidak bisa menghindarinya. Kau akan sangat terkenal sebentar lagi."
"So what (lalu kenapa)?" ujar Elric acuh tak acuh.
"Banyak wanita yang akan memujamu."
"Hmmm ...." Elric tersenyum tipis, memiringkan kepala menelisik wajah Emma yang tertunduk. "Kenapa?" tanyanya.
"Tidak apa-apa. Nikmati saja."
Elric terbahak. Lalu menghabiskan sisa roti berisi sosis dan membuang bungkusnya ke tempat sampah. "Kau sudah selesai, Em?"
"Yeah." Emma menyodorkan kotak berisi sisa hot dog yang tidak ia habiskan. Tiba-tiba saja perutnya kenyang hanya dengan beberapa gigit saja. Atau, karena ada semacam kekhawatiran yang melanda hatinya saat ini. Kekhawatiran akan hal yang belum tentu terjadi.
Elric menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi seraya meluruskan satu lengan ke belakang punggung Emma. "Tentu saja aku menikmatinya." Ia menimpali ucapan Emma beberapa saat lalu.
"Yeah, good."
"Being with you (bersamamu)."
Emma berdehem sekali melicinkan tenggorokannya. Sungguh sial. Rasa canggung kembali melanda. Dalam hati ia berusaha menenangkan diri. Yang duduk di sebelahnya hanya seorang Elric, yang sudah beberapa bulan tinggal satu apartemen dengannya.
Gadis itu pun terkekeh seraya memijit keningnya. "It's so funny," ujarnya.
"Kenapa?"
"Kita. Menjalin hubungan ... sebagai ...."
"Pacar?"
Emma mengangguk sambil menahan senyumnya. Sementara Elric menggeser badannya lebih mendekat pada gadis itu. Ia menoleh ke sana kemari memeriksa sekelilingnya. Tidak ada yang memperhatikan. Ia pun mencuri satu ciuman di pipi Emma.
"Ish!" desis Emma seraya mendorong bahu Elric pelan. Pipinya pun seketika bersemu merah. Demi apa pun, ia merasa dirinya bukan gadis berusia dua puluh satu tahun yang seharusnya sudah berpengalaman dengan seorang pria.
__ADS_1
Ya. Dirinya adalah seorang perawan lugu dan juga kuno, yang jatuh cinta dengan remaja berusia delapan belas tahun yang juga belum berpengalaman dengan seorang wanita.
***