
James mengangkat kedua tangannya, memberi isyarat kalau ia tidak ingin berkomentar apa pun tentang apa yang terjadi di kamar itu antara Elric dan Emma. "Sorry, sepertinya aku mengganggu kalian berdua," sindirnya. Meskipun ia tidak yakin apa yang terjadi seperti yang ia lihat.
"El, ibumu memintaku untuk menengokmu. Sepertinya mereka akan berada di Rochester selama beberapa hari." James memaksakan senyumnya. "Hi, Emma," sapanya pada Emma.
"Elric sakit. Dia memintaku datang. Dia ... punya tattoo baru," terang Emma. Ia menjelaskan keberadaannya di kamar Elric pada James tanpa pria itu memintanya. Dan kata-kata yang diucapkannya sangat berantakan. Ia gugup, dan juga takut James akan mengira dirinya dan Elric telah melakukan hal-hal yang tidak senonoh.
"Owh, begitu?" James berjalan menghampiri Elric dan Emma. "Coba kulihat tattoomu, El," ucapnya setelah matanya melihat punggung Elric yang tadinya mulus kini terukir dengan tinta hitam dan beberapa warna lain. "Nice (bagus)," puji James. Sementara Elric memasang wajah sinisnya. Pria ini, yang adalah ayah baptisnya, telah berubah status menjadi rivalnya dalam memperebutkan hati Emma.
"Kau ini manja sekali, El. Kau membuat Emma repot harus datang kemari. Lihat! Dia bahkan belum mengganti baju kerjanya." James mendecak.
"Untuk apa menengokku? Aku baik-baik saja," kata Elric seraya mengenakan kembali kaosnya.
"Alya yang memintaku," ulang James. "Kau tahu, bukan, aku tidak bisa menolak permintaannya," kekehnya sembari menepuk-nepuk pipi Elric. Ia lalu memegang kening pemuda itu dan mencebik. "Kau tidak sakit. Itu hanya reaksi kulitmu yang shock menerima benda asing. Dulu aku juga begitu. Kau lihat ini? Kau tidak bisa membayangkan rasa sakitnya, El," gelaknya seraya menyibakkan kemeja hitamnya hingga perut bagian sampingnya yang kokoh dan terukir dua pedang menyilang tertutup tameng besi terlihat dengan jelas. Emma yang menyaksikan pemandangan indah perut James terkesiap. Ia ingin memalingkan muka, tapi rasanya sayang untuk dilewatkan. Terlalu menggiurkan.
Astaga. Emma menelan salivanya.
"Emma ... maafkan anak manja ini, ya. Dia memang selalu semaunya sendiri." James memandang ke arah Emma yang masih terbengong di tempatnya berdiri. "Kau pasti ingin beristirahat sehabis bekerja, bukan? Biar aku antar pulang."
"No!" seru Elric. "Biar aku yang mengantar Emma." Elric melompat dari atas ranjangnya dan menarik Emma ke belakang punggungnya. Pikirnya, ia ingin melindungi gadis itu dari sang casanova, James Howards.
"Kau di sini saja, El. Bermain game atau menonton film. Atau apa pun, terserah."
Elric mendesis. Ia melangkah ke arah nakas dan menyambar ponselnya. Kemudian ditariknya lengan Emma dengan paksa dan membawa gadis itu menuruni tangga lalu masuk ke basement yang terhubung dengan garasi rumah mereka.
"Elric! You don't even have driving license (kau kan tidak punya SIM)!"
Elric tidak memedulikan seruan James. Ia membawa Emma ke garasi dan menyuruhnya masuk ke dalam mobil sportnya. Ia terpaksa menggunakan hadiah dari Nathan setahun lalu itu untuk membuat Emma nyaman. Ia tidak ingin kalah dari James.
__ADS_1
"What's wrong with you (ada apa denganmu), El?" tanya Emma begitu Elric mengemudikan mobilnya keluar dari garasi.
"Aku ingin menjauhkanmu dari si casanova itu," jawab Elric sembari matanya fokus ke jalanan. Ia menyetir mobilnya secara manual karena ingin terlihat seperti pria sejati di depan Emma.
Emma menepuk keningnya dan bertahan dengan posisi itu untuk beberapa saat. "Aku benar-benar tidak mengerti."
"Apa yang tidak kau mengerti?"
"Sikapmu akhir-akhir ini, Elric."
"Kenapa sikapku?"
Emma menghembuskan napasnya kasar. Ia menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi. "Aneh."
"Itu karena ...."
Akhirnya, Emma hanya mengibaskan tangannya, menganggap ucapan Elric hanya angin lalu. "Kau punya mobil sebagus ini dan lebih senang naik kereta bawah tanah?" ujarnya seraya mengamati interior mobil yang canggih. Ia merasa seperti sedang berada di dalam sebuah pesawat ruang angkasa.
"I use this car only for special moment ( aku memakai mobil ini hanya untuk waktu spesial)."
Emma mengerutkan kedua alisnya. "Artinya sekarang adalah waktu yang spesial?"
Elric menaik-naikkan alisnya sambil tersenyum jahil ke arah Emma. "Mengantar gadis yang spesial," ucapnya.
Emma menggeleng. Anak ini mulai melantur lagi. Mungkin demamnya sangat parah, sehingga otaknya tidak mampu berpikir jernih. Emma pun memutuskan untuk tidak melanjutkan obrolannya dengan Elric hingga sampai di depan apartemennya di East Harlem.
***
__ADS_1
ROCHESTER, NEW YORK.
Acara tahunan yang diadakan penggiat musik rock papan atas Amerika menampilkan proyek-proyek sampingan dari para front man band-band besar, tidak terkecuali Nathan yang memiliki proyek musik bersama istrinya, Alya. Tiga hari acara diselenggarakan dengan meriah dengan lokasi di Highland Park, taman yang berada di perbukitan indah di kota yang terkenal dengan julukan kota bunga itu.
Malam itu, setelah pertunjukan selesai, Nathan menemui sahabat lamanya, Benjamin Chevalier, gitaris The Rebellion yang juga memiliki proyek solo di luar bandnya. Beberapa tahun tidak saling bertemu karena kesibukan masing-masing, ditambah lagi The Rebellion memindahkan basecamp mereka dari Manhattan ke Los Angeles, California.
Nathan dan Ben, sama-sama berambut pirang, sama-sama bermata biru, sama-sama pernah masuk seratus besar gitaris terbaik dunia versi majalah Rolling Stone, dan sama-sama menjadi tokoh penting dalam industri musik metal di Amerika. Dari semua itu, yang paling membuat obrolan kedua pria tampan itu malam ini begitu
serius adalah, mereka sama-sama memiliki anak lelaki semata wayang yang unik.
"Darren, anakku, ada di fase yang sama beberapa tahun lalu. Tidak mau menyentuh alat musik sama sekali. Dengan alasan yang sama dengan Elric, ingin mencari jati dirinya sendiri. Aku biarkan saja. Sekarang, tahun pertama di universitas, he's back to where he belongs (dia kembali ke asalnya)," terang Ben sambil terkekeh ketika Nathan selesai mengungkapkan isi hatinya.
"Bagaimana perkembangan Darren sekarang?" tanya Nathan.
"Well, dia masih tinggal di Manhattan. Masuk di Columbia. Dia punya band dan kalau aku perhatikan, dia bermain gitar gaya experimental."
Nathan meneguk gelas anggurnya. Pemandangan di hadapan mereka sangat menawan. Lampu kota Rochester terhampar di bawah sana, terlihat memukau dari tempat mereka duduk, di sebuah cafe yang ada di rooftop hotel tempat mereka menginap.
"Darren anak yang sensitif. Dia introvert dan susah bergaul dengan orang-orang di sekitarnya. Kau tahu, dia tumbuh tanpa kehadiran seorang ibu. Jadi sebenarnya, musik adalah tempat yang tepat untuk mengekspresikan apa yang mereka rasakan. Aku pikir Elric juga seperti itu," terang Ben.
Nathan mengangguk-angguk. "Aku harap Elric bisa bertemu dengan Darren suatu hari. Anak itu harus banyak belajar dari pengalaman orang lain."
Ben mengangkat kedua tangannya. "It's possible (sangat mungkin). Siapa tahu suatu hari nanti mereka bergabung dalam satu band dan menggemparkan dunia musik. Kita harus bersiap-siap untuk lengser, bukan?" gelak Ben disambut oleh tawa Nathan.
Nathan menghela napas dalam-dalam. "I really hope so (aku sangat berharap begitu)."
***
__ADS_1