
Pria kulit putih berjenggot panjang di hadapan James itu adalah Abraham Wiggins, seorang teman lama. Pemilik perusahaan rekaman bernama Skylab yang ada di Manhattan, yang menaungi banyak musisi-musisi pendatang baru seperti Lily Boyd dan The Bad Boy Of Manhattan.
"Mungkin anak-anak itu tidak akan suka ini." Abraham menimpali rencana James yang diungkapkan beberapa saat lalu.
"Mereka tidak akan menolak kesempatan ini, asal semua terlihat wajar," jelas James.
"Kalau mereka curiga ada orang yang mengatur semua ini? Terutama Elric, bagaimana?"
James terkekeh. "Mereka tidak akan tahu kalau kau tidak membocorkannya. Ini akan menjadi rahasia kita berdua dan manager mereka. Aku hanya ingin membantu semampuku memuluskan jalan mereka tanpa mereka ketahui."
"Baiklah," cebik Abraham.
James menarik sudut bibirnya. "Kau tahu, bukan ... Elric tidak suka ada campur tangan dari kami."
Abraham mengangguk-angguk. Ia mengerti maksud baik James. Ia ingin Bad Boy Of Manhattan melesat menuju puncak dengan cepat.
Pertemuan pertama mereka minggu ini, sang basist Hellbound ingin poster Elric dan kawan-kawannya terpampang di Billboard Time Square. Ia bahkan yang merogoh kocek untuk mendapatkan space di sana. Dan tentu saja, ia melakukannya itu tanpa ingin diketahui oleh Elric dan kawan-kawannya. Hanya Larry, sang manager yang tahu tentang hal ini.
Kini, James juga menggelontorkan dana besar agar single Bad Boy Of Manhattan bisa masuk top five Billboard chart, kemudian mengadakan serangkaian konser dan juga tour keliling Amerika setelah album perdana mereka selesai digarap.
"Aku sangat menyayangi Elric dan aku ingin yang terbaik untuknya," ucap James sembari mengulas senyum. "Dia dan Nathan tidak terlalu akur. Jadi, sudah menjadi tugasku sebagai ayah baptistnya untuk membantunya meraih apa yang memang pantas ia dapatkan," lanjutnya.
"Tentu saja. Memang sudah seharusnya jalan anak-anak ini mulus. Mengingat siapa orang tua mereka, bukan? Mereka tidak bisa menyangkal itu," kekeh Abraham. "Kau tenang saja, akan aku buat progres mereka sewajar mungkin."
James tersenyum senang. Ia meraih gelas scotch yang disuguhkan oleh Abraham untuknya, lalu meneguknya hingga habis.
Selamat datang di dunia Rockstar, Elric. Aku harap kau masih punya waktu untuk Emma nanti. James tertawa ironis dalam hati.
***
"Jadi?" Elric mendekat ke samping Emma yang duduk di tepian ranjangnya. Malam itu mereka memutuskan untuk bermalam di satu kamar bersama, yaitu kamar Emma, sesuai kesepakatan.
"Jadi apa?" tanya Emma berpura-pura tidak mengerti maksud Elric. Walaupun, sejujurnya, badannya sudah terasa panas dingin. Dadanya pun berdebar kencang.
Elric meringis seraya memijit tengkuknya. Pemuda itu pun tidak kalah gugupnya. Tapi, sebagai seorang pria sejati, ia harus bisa memulai.
"Biar aku bantu melepas sweatermu," ucap Elric seraya membantu Emma meloloskan sweater melalui kepala Emma. Gadis itu kini hanya memakai kaos lengan pendek dan celana legging saja. Begitu pun Elric.
"Bagaimana selanjutnya?" tanya Emma lirih. Kepalanya tertunduk, matanya menatap lantai kamar.
"Pegang tangan?" Elric meraih tangan Emma dan menggenggamnya.
"A-pa sebaiknya aku meletakkan tanganku di pinggangmu?"
"Okay." Elric mengiyakan. Lalu membawa kedua tangan Emma melingkar di pinggangnya. Posisi keduanya kini saling berhadapan, namun tidak saling tatap. Justru hal itu yang sedang mereka hindari saat ini.
Dan saat ciuman mereka terjadi, netra keduanya tidak saling bertemu. Keduanya memejamkan mata, saling merasakan pagutan bibir masing-masing. Tidak ada aksi saling menyerang. Tidak ada aksi saling mendorong apalagi saling membanting. Bahkan, kedua tangan masing-masing tepat pada tempatnya. Tangan Emma di pinggang Elric, begitu pun sebaliknya.
__ADS_1
Apakah mereka akan tetap berada di level itu? Entahlah. Emma dan Elric sama-sama ragu untuk melangkah ke jenjang selanjutnya. Meskipun, hasrat di dada begitu menggebu.
Emma mengakhiri ciuman mereka. Lalu beringsut naik ke tengah ranjang, diikuti oleh Elric. Namun, keduanya hanya duduk berdampingan tanpa ada satupun yang memulai.
"Aku merasa aneh," ucap Emma.
"Aku juga," sahut Elric cepat.
"Apa sebaiknya kita tunda saja?"
"Ya. Mungkin sebaiknya begitu."
Lalu keduanya terdiam. Tenggelam dalam pikiran masing-masing, dalam keraguan, dalam dilema. Hingga sepuluh menit berlalu, hanya terdengar suara sirine mobil patroli polisi yang meraung di luar sana memecah keheningan di antara sejoli itu.
"Mungkin kita tetap harus mencobanya," ucap Emma tiba-tiba.
"Aku setuju," sahut Elric cepat.
"Okay."
"Kau duluan ...."
"Hah? Kenapa aku?"
Elric meringis. "Ladies first," ujarnya.
"Aku stres, El."
"Aku juga."
"Lalu, sebaiknya bagaimana?" tanya Emma.
"Aku tidak tahu."
Kembali keheningan melanda. Namun, suara sirine mobil patroli polisi telah menjauh. Kini hanya tinggal sepasang kekasih yang saling berdiam diri.
Elric meraih tangan Emma dan menggenggamnya erat. Untuk beberapa saat, jemari mereka saling mere mas. Sehingga memancing keduanya untuk saling merapatkan diri.
"Maaf, Em, apa aku boleh melepas t-shirtmu?" tanya Elric hati-hati.
"Kau duluan," sahut Emma.
"Okay." Elric pun melepas t-shirt hitam yang membalut tubuhnya dan melemparnya ke lantai. "Giliranmu ...."
Emma menelan salivanya dengan susah payah. Demi apapun, ini kali pertamanya ia akan menunjukkan tubuh polosnya di depan seorang pria. Dan itu sungguh memalukan. Padahal, ia tahu, tubuhnya tidak bercela.
"Mau aku bantu?" tawar Elric.
__ADS_1
"Aku bisa sendiri." Dengan sangat ragu-ragu Emma melepas t-shirt yang membalut tubuh indahnya. Kini, yang melekat hanya bra dan celana legging saja.
"Wow," ucap Elric kagum. Ini pertama kali ia melihat wanita setengah telan jang dengan mata kepalanya sendiri. Dan tubuh Emma, begitu indah di matanya.
"Jangan melihatku seperti itu, El." Emma menyilangkan kedua lengan di dadanya, menyembunyikan apapun yang tersembunyi di balik bra berwarna merah itu.
"Owh, maaf." Elric buru-buru memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Celanamu?" ucap Emma.
"Oh, iya. Maaf." Elric melepas celana denimnya. Kini tubuhnya yang mulai berbentuk kokoh itu hanya dibalut pakaian dalam saja.
Ah, Emma bahkan tidak sanggup untuk menoleh ke arah Elric. Rasa malunya begitu besar. Sungguh menyedihkan. Bagaimana ia bisa mengakhiri status perawannya kalau begini terus? Umurnya lebih tua dari Elric, seharusnya ia bisa mengajari pemuda itu.
"Em ...," panggil Elric seraya menyentuh bahu gadis itu.
"Ya?" Emma hanya setengah menoleh ke arah Elric. Namun, wajahnya tetap tertunduk. Bagian dadanya masih ia sembunyikan. Ini benar-benar memalukan. "Maaf, El, aku benar-benar terlihat bodoh. Aku perawan yang menyedihkan, ya?" kekeh gadis itu.
Elric tertawa seraya menggaruk kepalanya. "Percayalah, Em ... aku sama stresnya denganmu?" gelaknya.
Emma memutar badan menghadap ke arah pemuda berwajah imut dengan rambut panjang ikal yang menggemaskan itu. Ia menurunkan tangan dari dadanya dan mencoba untuk membuang rasa malunya di depan Elric.
"We don't have to do it tonight (Kita tidak harus melakukannya malam ini), Em," ucap Elric seraya mengelus pipi Emma lembut.
Emma mengulas senyumnya, lalu mengangguk. Gadis itu lalu membaringkan badannya. Elric pun melakukan hal yang sama, berbaring di sisi Emma. Keduanya saling berhadapan.
"Kita mulai saja dengan tidur bersama," kikik Emma.
Bibir Elric mencebik. "Tidur bersama dalam arti yang sebenarnya," timpalnya.
"Tidur," ucap Emma.
"Dan bersama," sambung Elric.
***
Pssstt ... gess, gess! Yuhuu, ngiklan, yo.
Aku punya novel baru, tapi di sebelah, tempat yang sama kaya cerita Nathan dan Alya.
Ini dia, ini dia ... bocah brandal gemesin lagi. Gangster, mafia ... pokoke ngunu lah.
Hari ini sudah mulai tayang di sana, barangkali mau baca wkwkwkk.
Kalau di sini belum up, bisa baca di sana, kalau di sana belum up, bisa baca di sini. Enak kan? Ya enak lah.
__ADS_1