BAD BOY OF MANHATTAN

BAD BOY OF MANHATTAN
Bab 59. Bersulang Untuk James.


__ADS_3

SkyLab Music Studio, Manhattan.


"Perlu kalian tahu, SkyLab menganut ideologi bermusik tahun tujuh puluhan. Produser yang mengikuti musisi. Bukan musisi yang mengikuti produser. Jadi, kalian tidak usah khawatir akan disetir oleh kami." Pria berbadan besar bernama Jerome Adams itu menerangkan sesaat setelah penandatanganan produksi debut album oleh The Bad Boy Of Manhattan. Jerome adalah CEO dari SkyLab.


"Aku merasa beruntung kalian mau menerima tawaranku. Karena aku dengar, Darren sedikit keras kepala," kekeh Jerome seraya mengerlingkan mata ke arah Darren. Pemuda itu pun ikut terkekeh.


"Apa lagi saat kami mendengar ada putra dari Nathan Bradley yang jenius." Jerome mengalihkan pandangannya pada Elric. "Dan juga drummer serta bassist kalian yang mumpuni." Kini ia menunjuk ke arah Samuel dan Jacob. "Intinya kami menyukai kalian dan apa pun yang nantinya akan kita produksi."


Sebagai frontliner, Darren mewakili teman-temannya mengucapkan terimakasih pada Jerome. Misi pertama adalah, menyelesaikan materi album perdana. Berhubung mereka memiliki studio sendiri, maka semua kegiatan dari aransemen hingga recording, mixing dan mastering semua dilakukan di markas mereka. Pihak SkyLab hanya memfasilitasi beberapa alat rekaman yang belum tersedia di studio dan juga dua orang sound engineer.


"Show terdekat kalian adalah, konser tahunan Festival Of Pop&Rock Music di Columbia. Kalian menjadi bintang tamu bersama Lily Boyd," terang Harry suatu hari. Ia adalah pria berusia tiga puluhan yang ditunjuk menjadi menejer Bad Boy Of Manhattan. Orangnya cukup tegas dan teliti. Meskipun sedikit tidak memiliki toleransi. Namun, orang seperti Harry-lah yang mereka butuhkan.


"Lily Boyd?" Darren menaikkan kedua alis tebalnya.


"Yep. Anak Mia dan Brandon Boyd dari Funeralopolis. Gadis itu satu menejemen dengan kalian di SkyLab, kalian tahu?"


Darren terkekeh. Mia Boyd adalah guru biolanya sewaktu kecil dulu, dan wanita itu pernah dekat dengan ayahnya, Ben. Tetapi menurut Ben, itu adalah cerita yang membuat dadanya sesak. Ia ditinggalkan oleh Mia karena wanita itu ternyata jatuh cinta dengan sahabatnya sendiri. Sungguh sial nasib ayahnya dalam hal percintaan. Ah-satu lagi wanita yang pernah mengisi hati sang ayah, Kania Dervishi. Anak konglomerat New York, yang pada akhirnya juga kandas. Darren ingat, dulu entah kenapa ia sangat tidak menyukai wanita itu.


"Strateginya ...." Harry mengetuk-ngetuk meja beberapa kali untuk meminta perhatian dari keempat pemuda di hadapannya itu. "Kalian bisa membereskan satu single dalam waktu tiga hari?"


"Piece of cake (gampang)," sahut Darren di sambut anggukan yang lainnya.


"Okay. Bereskan satu single segera. Akan aku setorkan ke SkyLab, dan meminta mereka mengirimkan press release ke semua media. Spam, spam. Sampai booming. Aku pikir sekelas SkyLab hanya perlu waktu satu minggu untuk membuat lagu kalian naik." Harry menerangkan.


"Pokoknya sebelum acara di Columbia, lagu kalian harus sudah booming."


***

__ADS_1


"No way!" seru Nathan seraya memukul bahu James. Kedua pria itu sedang berada di bar pribadi milik Nathan di kediamannya. Bartender mereka adalah, Rosalina. Wanita berusia tiga puluh lima tahun yang dulu pernah menjadi baby sitter Elric. Tapi sekarang Nathan menunjuknya sebagai asisten rumah tangga membantu Lupita.


"Yes way, Man." James tersenyum penuh dengan kebanggaan.


"Bagaimana bisa Emma Lopez mau menjadi kekasih pria tua sepertimu. Kau memaksanya, ya?"


James terbahak mendengar gurauan Nathan. "Menurutmu aku mudah untuk ditolak?"


Nathan mendesis. Lalu ditenggaknya satu sloki whisky yang baru saja dituang oleh Rosalina. "Menurutku lebih pantas Elric yang memacari Emma."


James menggeleng. Nathan tidak tahu kalau putranya itu memang menyukai Emma. "Mereka lebih cocok menjadi sahabat," elaknya. "Kau tahu mereka berbagi apartemen di East Harlem?"


"Yep. Kuharap mereka pacaran saja. Aku yakin Emma punya andil merubah hidup Elric menjadi lebih baik."


James menyambar sloki yang baru saja disodorkan oleh Rosalina. Ia meneguknya dengan cepat. "Kau mau mendukung sahabatmu ini atau anakmu, huh?"


"It doesn't matter, Nathan. You know what, I'm gonna marry her (tidak masalah, Nathan. Kau tahu, aku akan menikahinya)."


Nathan membulatkan mata birunya. "Apa? Aku tidak salah dengar? James Howards membicarakan tentang pernikahan?"


"Ayolah, kau jangan terlalu berlebihan."


Nathan kembali terbahak. "Alya! Kemari, Sayang. Ada yang ingin membuat pengakuan!" serunya memanggil Alya yang sedang melintas di depan pintu.


Alya mencondongkan badan ke belakang sambil mengerenyitkan dahi. "Come here, Baby!" panggil Nathan kembali.


"Apa yang sedang dua pria tampan ini bicarakan?" tanya Alya sambil menarik kursi di samping Nathan dan mendudukinya.

__ADS_1


"Whisky, Nyonya?" tawar Rosalina.


"Oh, tidak. Anggur saja," sahut Alya sembari menyunggingkan senyum pada wanita keturunan hispanic itu.


"James ini, dia pacaran dengan Emma. Mantan guru Elric," lapor Nathan.


Alya memicingkan mata memandang ke arah James. "Really?"


Nathan tidak kuasa menahan tawanya sampai-sampai pria itu hampir saja tersedak. "Si Breng sek ini sungguh membuatku shock," kikiknya.


James menghembuskan napas kasar. "Harusnya kalian berdua memberiku selamat. Apa kalian senang melihatku sendirian sampai tua?" desisnya. "Kau sudah punya keluarga bahagia. Punya istri cantik," tunjuknya pada Alya. "Punya anak yang menyebalkan seperti Elric." Mata Alya melotot pada James. Pria itu terkekeh. "William juga sudah berkeluarga. Istrinya sedang hamil anak kedua. Sedang aku baru saja menemukan wanita yang tepat."


Alya dan Nathan saling menukar pandang. Keduanya pun mencebikkan bibir bersamaan. Tidak tega rasanya menggodai James terus-terusan. Nampaknya ia serius kali ini. Nampaknya ia memang sedang jatuh cinta.


"Tapi, kau terlihat seperti pedo ... mmmph!" Alya buru-buru membungkam mulut Nathan dengan telapak tangannya.


"Okay, ayo bersulang untuk kebahagiaanmu, James," ucap Alya seraya mengangkat gelas anggurnya.


James tersenyum. "Kau memang wanita termanis yang pernah aku temui, Alya. Kenapa kau dulu tidak menikah denganku saja, ya?" Pria itu menaik-naikkan alisnya. Nathan mendesis seraya merotasikan bola matanya. Lalu ketiganya saling mendentingkan gelas dan sloki mereka.


"Untuk kebahagiaan James."


***



Well, Hello ... Nathan.

__ADS_1


__ADS_2