
Columbia University, Manhattan.
Elric duduk di sudut ruangan tunggu sambil menumpu dagu dengan telapak tangan. Wajahnya tampak tegang. Sesekali ia memperhatikan teman-temannya yang sedang mengobrol bersama menejer mereka, Harry.
"Hei, tegang sekali," sapa Lily yang kini sudah duduk di samping Elric.
Elric meringis sambil mengelus tengkuknya. "Sedikit," kekehnya.
"Ini konser besar pertama kalian, ya?"
"Yep."
"Tenang saja. Kau pasti akan menikmati moment pertama di atas panggung dengan ribuan penonton yang mengelu-elukan namamu. Santai. Lagi pula kalian sedang menjadi buah bibir sekarang."
Elric terbahak. Tegangnya bukan karena panggung yang beberapa saat lagi akan disambanginya. Ia sibuk memikirkan apakah Emma akan datang menonton atau tidak. Karena perasaannya mendadak tidak enak.
"Elric, aku sungguh penasaran dengan penampilanmu di atas panggung. Apakah akan sejahil aransemen pada lagumu?" ujar Lily sembari mengelus dagunya.
"Jahil? Begitu kesan yang kau tangkap?" tanya Elric seraya menaikkan kedua alis tebalnya.
"Ya. Jahil. Mempermainkan perasaan pendengarmu. Seperti ... berpindah-pindah dimensi, kalau bisa aku bilang," terang Lily. Gadis itu tidak bisa menyembunyikan ekpresi kekagumannya.
"Thanks."
"Mungkin aku harus banyak belajar darimu. Bisa kapan-kapan kita bertemu dan bicara lebih lanjut tentang hal ini?" tanya Lily.
Elric mencebik. "Yeah, why not?" ujarnya.
Lily tersenyum senang. "Ah, sepertinya aku harus bersiap-siap naik panggung," ucapnya sembari bangkit dari duduknya. "Sampai nanti, Elric." Gadis itu melambai kecil sebelum akhirnya menghampiri menejernya yang telah menunggu di ambang pintu.
Elric mengulas senyumnya membalas lambaian tangan Lily. Pemuda itu meraih ponsel di dalam tas yang tergeletak di sampingnya. Ia menggulir layar mencari nomer Emma.
Em, kau datang, tidak?
***
__ADS_1
Emma tersentak saat James tiba-tiba duduk bersimpuh di hadapannya. Pria itu menyodorkan sebuah kotak beludru berwarna merah dan membukanya. Gadis itu pun menutup mulut saking kagetnya.
"Will you marry me?" James menatap mata Emma penuh harap. Disaksikan oleh pengunjung restauran di rooftop salah satu hotel bintang lima di Manhattan itu, James melamar Emma.
"Say yes!" celetuk dari salah seorang pengunjung restauran.
"Say I do!" seru pengunjung yang duduk di sudut ruangan.
Sementara James mengulas senyumnya, menunggu jawaban dari mulut Emma. Hatinya begitu was-was apakah gadis itu akan menerima lamarannya.
"Emma?" panggil James setelah beberapa saat lamanya Emma tidak kunjung memberi jawaban.
"James ... I'm sorry." Emma menelan saliva dengan susah payah. Kata-kata Emma membuat James seketika menutup kotak beludru berisi cincin itu dan berdiri. Suara-suara prihatin terdengar dari para pengunjung restauran. Wajahnya memerah menahan kesal, atau mungkin malu karena ditolak gadis pujaannya di depan umum.
"James, aku minta maaf. Tapi ... ini sungguh terlalu cepat," ucap Emma dengan suara bergetar. Perasaannya saja masih ragu apakah ia menyukai James atau tidak. Tentu saja lamaran ini membuatnya semakin shock.
"Apa yang kau tunggu, Emma?" tanya James. Ia tampak menahan nada suaranya agar tidak meninggi.
Emma menelan salivanya. Sepertinya ia harus jujur saja kalau dirinya memang tidak tahu apa yang ia rasakan pada James.
"Aku sudah lelah menunggumu, Emma!" James akhirnya tidak bisa menyembunyikan kekesalannya. "I'm sorry to say ... kalau kau adalah gadis yang tidak tahu diuntung!" makinya.
James terkesiap. Ia tersadar telah mengucapkan kata-kata yang menyinggung Emma. "Em ... bu-kan maksudku begitu. Maafkan aku ... aku hanya sedang kesal. Aku bingung. Aku frustrasi kau menolak lamaranku," terangnya.
Emma bangkit dari duduknya dengan kasar. Ia tidak berminat untuk berdiskusi apa-apa dengan James. Gadis itu segera berlalu diikuti pandangan mata heran dari pengunjung restauran.
***
"Emma! Tunggu!"
James meraih lengan Emma yang berjalan cepat menelusuri sidewalk lengang. "Emma!" Ia menarik tubuh gadis itu hingga menabrak dadanya. "I'm sorry," ucapnya seraya mendekap gadis itu.
Emma mendorong pelan dada James menjauh darinya. "I gotta go (aku harus pergi), James!"
"No!" sergah James. "Tidak sampai kau memaafkanku."
__ADS_1
"Okay, aku memaafkanmu." Emma melirik jam di pergelangan tangannya. Sial!
"Emma! Emma! Dengar dulu, please, stay, please!" James mengejar langkah cepat Emma menuju ke stasiun bawah tanah. "Dengar, Emma ... aku tidak bermaksud untuk menyinggungmu. Baiklah ... kalau kau butuh waktu lagi, aku akan menunggu. Aku berjanji tidak akan memaksamu atau melakukan hal aneh seperti tadi."
"James, I really have to go. Kita bicara lagi lain kali." Setelah mengucapkan kalimat itu, Emma berlarian menuju tangga menurun menuju ke stasiun bawah tanah. Sepertinya ia sudah terlambat pergi ke konser Elric. Namun ia memutuskan untuk tetap datang ke Columbia, apa pun yang terjadi.
***
"Columbia!"
Suara Darren menggema di seluruh ruangan auditorium disambut oleh sorak sorai penonton yang memenuhi ruangan berkapasitas empat ribuan orang itu.
The Bad Boy Of Manhattan sudah mendekati detik-detik lagu terakhir mereka setelah hampir satu jam lamanya mereka menghibur penonton dengan lagu-lagu mereka yang bahkan belum release. Sebuah konser spesial perkenalan mereka kepada dunia. Sesuai prediksi, ke empat pemuda itu sudah berhasil mencuri hati para penikmat musik yang datang malam itu.
"Lagu terakhir. Ini akan menjadi single di album perdana kami." Suara Darren kembali menggema. "This is ... I Would Hurt A Fly."
Darren tersenyum ke arah Samuel dan memberi isyarat dengan kerlingan matanya untuk memulai intro lagu dengan drumnya. Lalu, ia sendiri menyambungnya dengan permainan gitarnya yang lembut.
Namun, intro lagu yang lembut itu dibungkam oleh sayatan gitar Elric yang panjang dan aneh. Begitu epic, begitu doom. Diimbangi oleh bas dari Jacob yang sedikit keteteran mengikuti permainan Elric.
Entah memang lagu itu sengaja diaransenen secara berbeda antara live dan rekamannya, Elric dengan wajah dinginnya terlihat seperti psikopat yang sedang mengamuk. Ia tidak peduli apa pun. Ia marah. Lagu itu membuatnya marah. Atau sebenarnya Emma yang membuatnya marah?
Gadis itu tidak datang. Satu kursi di area VVIP kosong. Dan sosok Emma tidak terlihat di mana-mana. Elric memaki-maki lewat cabikan gitarnya. Menumpahkan kekesalannya pada benda kesayangannya itu.
***
Emma berlarian masuk ke halaman gedung auditorium Columbia yang saat ini sudah lengang. Pintu utama sudah tertutup rapat. Namun, masih terdengar suara riuh dari dalam.
Gadis itu menghampiri loket yang dijaga oleh dua orang gadis berkostum baju tradisional Scotland yang dimodifikasi menjadi mini dress. Ia menyerahkan satu tiket VVIP pada kedua gadis itu, namun keduanya malah mengerenyitkan dahi. "Konsernya sudah selesai. Apa kau masih ingin masuk? Masih ada satu acara penutup."
Emma menghela napas kecewa. "Apa Bad Boy Of Manhattan masih tampil di acara penutupnya?" tanyanya.
"Tidak. Hanya acara having fun dengan rektor."
Emma mengambil kembali tiket dari tangan salah seorang gadis penjaga loket itu. Ia lalu terduduk lemas di anak tangga depan pintu auditorium.
__ADS_1
Elric pasti akan sangat membencinya. Dan Emma benci itu.
***