
"Astaga! Barangnya banyak sekali," keluh Elric yang mulai merasa kecapaian memindahkan kardus-kardus dari kamar yang akan ia tempati ke dekat dapur. Untung saja hanya tinggal beberapa lagi yang harus dipindahkan.
Sementara Emma yang sedang mengaduk cat berwarna hitam hanya terkekeh melihat Elric yang sepertinya tidak terbiasa mengerjakan pekerjaan rumah. Tentu saja, ia terbiasa hidup dilayani oleh asisten rumah tangga.
"Bagaimana cara kerja benda ini?" gumam Elric seraya memeriksa mesin penyedot debu milik Emma. Mesin itu sepertinya sudah berumur belasan tahun, dilihat dari modelnya yang tua. Tombolnya manual dan cara menggerakkannya adalah mendorongnya dengan tangan. Berbeda dengan mesin penyedot debu dengan teknologi terbaru yang lebih menyerupai robot dan bisa dijalankan secara otomatis serta mampu mendeteksi debu dan kotoran yang ada di dalam ruangan yang akan dibersihkan.
"Ini model lama milik ibuku. Aku belum mampu membeli yang baru. Beruntung mesin ini masih berfungsi." Emma meraba bagian belakang mesin mencari tombol on off untuk menghidupkan main powernya. Lalu Emma menekan tombol on yang ada di badan mesin.
Emma mendorong mesin ke sana kemari membersihkan debu-debu yang cukup tebal di mana-mana, terutama di sudut-sudut ruangan dan bekas di mana ia menyimpan kardus-kardusnya sebelum dipindahkan ke dekat dapur oleh Elric.
"Biar aku saja, Em ... kau urus catnya saja." Elric merebut dorongan mesin dari tangan Emma.
Emma mencebik, lalu melanjutkan mengaduk catnya. Ada dua kaleng cat, satu berwarna hitam, satu lagi berwarna biru. Hitam dan biru, warna yang dipilih Elric untuk dinding kamarnya. Elric bahkan sudah membawa barang-barang yang dibutuhkanya untuk mengisi kamar barunya itu. Kasur lantai tebal lengkap dengan selimutnya, lalu meja untuk meletakkan game console. Sementara lemari pakaian sudah ada di dalam kamar itu sejak lama.
Elric perhatikan Emma tampak cantik dengan pakaian overall berbahan jeans dipadu dengan kaos putih lengan pendek. Ia mengamati gerak-gerik Emma mengecat dinding dengan serius.
"El, ayo, bantu aku!" perintah Emma yang melihat Elric hanya berdiri saja di tengah kamar membiarkannya mengecat sendirian. "Kau bagian birunya," ujarnya.
"Sorry (maaf)," ucap Elric gugup. Ia segera membantu Emma mengecat bagian dinding lain dengan warna biru yang sudah tersedia.
Butuh waktu satu jam untuk keduanya menyelesaikan dinding. Begitu selesai, mereka menunggu hingga cat kering sambil memakan cemilan dan juga minuman soda. Setelah itu, semua barang yang Elric bawa ditata rapi di dalam di sana.
Kini, terlihat dengan jelas sebuah kamar nyaman nan sederhana khas kamar anak lelaki, meskipun terbilang sempit. Elric tersenyum puas melihat kamar barunya itu.
__ADS_1
"Bagaimana?" tanya Emma seraya menyenderkan lengannya di bahu Elric.
"Not too bad, I like it (lumayan, aku suka)," sahut Elric seraya mengelus dagunya. "Tidak senyaman kamarku di Greenwich tapi aku tidak keberatan," kekehnya.
"Tidak bisa dibandingkan." Emma menggeleng. Mungkin kamar mandi Elric di Greenwich saja masih lebih luas dari pada kamar ini.
"Emma ... apa yang bisa kita lakukan untuk malam pertamaku tinggal di apartemen ini? Kau punya ide?" tanya Elric.
"Hmm ...." Emma mengelus dagunya. Ia berpikir sejenak. "Bagaimana kalau kita cari bahan untuk membuat makan malam," usulnya.
"Good idea (ide bagus)," ujar Elric senang. Apa pun yang akan dilakukan, asal bersama Emma, semuanya terasa menyenangkan.
Menjelang senja, keduanya turun dari gedung apartemen dan berjalan kaki menuju swalayan yang tidak jauh dari tempat tinggal mereka itu. "No, aku tidak suka brokoli!" cegah Elric ketika melihat Emma mengambil dua batang brokoli dari rak sayuran.
"Rasanya aneh. Sebenarnya aku tidak terlalu suka sayuran."
"Jangan kekanakan, El. Kau bukan anak kecil yang harus dipaksa makan sayuran," gerutu Emma sambil melihat-lihat bahan apa saja yang ia butuhkan untuk menu makan malam. "Selain itu, makan sayuran bisa menekan biaya pengeluaran," kekehnya kemudian.
Elric meringis. "Setahuku kau bukan vegetarian."
"Vegetarian atau tidak, aku sesuaikan dengan kantongku," Emma tergelak. Lalu setelah dirasa bahan yang dibutuhkan terkumpul, ia pun menyelesaikan pembayaran di kasir. Tentu saja Elric tidak mau Emma mengeluarkan uang sepeserpun. Layaknya gentleman, ia membayar semua tagihannya.
"Sepertinya mulai hari ini pengeluaranku akan lebih sedikit," ujar Emma senang. "Kalau begini student loanku akan cepat selesai."
__ADS_1
"Bukankah itu gunanya flatmate," sahut Elric seraya meraih dua kantong belanjaan dari tangan Emma dan membawanya masuk ke dalam gedung apartemen.
Emma terkikik seraya mengikuti langkah Elric menaiki tangga menuju ke apartemen mereka. Ia tersenyum memandang Elric yang berjalan di depannya. Batin Emma, anak ini sudah banyak kemajuan. Sikapnya mengalami banyak perubahan. Elric yang tadinya menyebalkan sekarang bisa bersikap manis, terutama pada dirinya.
Menawari Elric menjadi partner berbagi apartemen ternyata bukan ide yang buruk. Emma yang biasanya sendirian dan sering merasa kesepian, sekarang ada Elric yang bisa diajak mengobrol dan berbagi tugas bersih-bersih. Yang utama adalah, pengeluaran bulanannya menjadi lebih sedikit.
"Aku sudah mencatat aturan atau kesepakatan yang akan diterapkan di sini." Selesai makan malam sederhana dengan menu brokoli rebus dan steak ala kadarnya, Emma menyodorkan buku catatannya pada Elric. "Kalau ada yang tidak sesuai kau bisa mengungkapkan pendapatmu."
Elric membaca satu persatu aturan yang ditulis oleh Emma. Tentang jadwal bersih-bersih, tidak mengganggu ketenangan masing-masing, dan hal semacamnya. Namun ada satu kesepakatan yang menggelitik hatinya. "Tidak keberatan jika salah satu dari kita dikunjungi oleh pacar?"
"Yeah. Masuk ke dalam kesepakatan privasi. Tidak keberatan dalam arti, ada orang lain yang menginap di sini atau hanya sekedar berkunjung."
"Memangnya kau punya pacar?" tanya Elric.
"Tidak ... maksudku, belum. But I will have a boyfriend someday or near future. Who knows (tapi aku akan punya pacar suatu hari nanti atau dalam waktu dekat ini. Siapa tahu)."
Wajah Elric seketika berubah menjadi masam. Pastilah yang Emma maksud adalah James. Rupanya gadis ini masih bermimpi menjadi pacar ayah baptisnya itu. "Kau masih bermimpi menjadi pacar James Howards?" Elric tidak tahan untuk meloloskan pertanyaan itu pada Emma.
Emma membulatkan matanya. Kenapa Elric langsung menuduhnya begitu? Meskipun benar adanya, kemungkinan dalam waktu dekat ini, ia akan memberi jawaban pada James. "Kenapa kau langsung menyebut namanya? Aku tidak bilang kalau aku akan berpacaran dengan James Howards," sangkal Emma.
Tapi, Elric bukan anak bodoh yang mudah dibohongi. Sudah jelas Emma membuat kesepakatan itu untuk mengantisipasi agar ia tidak mengganggu James, jika suatu hari pria itu datang ke apartemen ini.
Elric menghembuskan napasnya kasar dan beranjak dari duduknya. Ia lalu melangkah masuk ke dalam kamarnya meninggalkan Emma yang terbengong di ruang tamu.
__ADS_1
***