
Elric dikejutkan oleh suara sirine mobil patroli polisi yang meraung di jalanan East Harlem. Pastilah sedang ada kerusuhan antar geng di luar sana. Ia menghembuskan napas kasar, merasa sebal tidurnya tertanggu.
Ia menyipitkan mata menghindar dari cahaya terang yang masuk dari sela-sela tirai jendela kamar Emma. Kamar Emma? Elric terkekeh sendiri. Ia tertidur di ruangan bercat biru yang tertata rapi khas kamar seorang gadis.
Direnggangkannya otot-otot badannya yang terasa pegal karena posisi tidurnya tidak berganti semalaman, meringkuk sembari memeluk bantal milik Emma.
Sepertinya hari sudah menjelang siang, namun Emma belum kembali ke apartemen. Ke mana dia?
Elric beranjak dari atas ranjang, lalu melangkah keluar dari kamar itu. Suasana ruang tamu masih lengang. Pemuda itu menghela napas pelan. Ada rasa khawatir terbersit dalam hatinya. Apa jangan-jangan Emma memang sangat frustrasi dengan rasa bersalahnya?
Ia membuka pintu kamarnya sendiri bermaksud melanjutkan tidurnya di sana. Namun, pemandangan di atas ranjangnya membuat kedua matanya membulat.
"Apa?!" Rupanya Emma sedang tertidur di kamarnya. Jadi, dari semalam Emma ada di apartemen dan mereka bertukar kamar? Elric terkekeh pelan seraya menggelengkan kepala.
Emma masih terlelap. Gadis itu memeluk bantal miliknya seakan-akan sedang memeluk seseorang. Melihat wajah cantik dan damai gadis itu, rasa kesalnya pun sirna seketika. Elric berjalan mendekat ke ranjang dan duduk di tepiannya.
"Em ...."
"Hmm ...."
Bibir Elric mencebik. Emma masih asyik dalam dunia mimpi. Ia perhatikan wajah cantik gadis itu dengan seksama. Mulai dari rambut, kening, mata, hidung, lalu turun ke bibirnya. Astaga! kenapa gadis ini cantik sekali?
Ah, alih-alih membangunkan Emma, Elric justru merebahkan diri di samping gadis itu. Matanya tidak lepas menatap wajah cantik itu. Cukup lama ia bertahan dalam posisi itu, hingga pelan Emma membuka matanya.
"El?!" Emma terkejut dan beringsut mundur hingga punggungnya menabrak dinding. Posisi ranjang Elric memang menempel ke dinding.
"Hmm ... aku lelah sekali. Aku pikir aku pulang dan bisa tidur dengan tenang. Tapi, ternyata ranjangku sudah diklaim seseorang," sindir Elric.
Emma terkesiap. Gadis itu berdehem sekali untuk melicinkan tenggorokan. "Ma-af, aku ... semalam ...."
"Mabuk dan salah kamar?" potong Elric seraya menaikkan kedua alisnya.
"Owh, bukan ...." Emma berusaha menetralisir perasaan tidak menentu yang menyerangnya saat ini. "Aku minta maaf, El. Aku terlambat datang ke konsermu. Aku datang tepat saat konsermu sudah selesai."
__ADS_1
"Kau datang?"
Emma mengangguk. "Maaf, Elric," ucapnya lirih.
Elric tersenyum kecut. "Sudahlah, lupakan saja. Lagi pula, konsernya tidak terlalu penting." Ia melipat lengan di atas kepala. Pandangannya tertuju pada langit-langit kamar. "Auch!" serunya kemudian saat tiba-tiba Emma menghambur ke atas tubuhnya dan memeluk pemuda itu dengan erat. Elric terkejut bukan main. Namun, pelan ia membalas pelukan gadis itu.
"Maafkan aku, El, aku sungguh minta maaf," ucap Emma seraya mendusalkan wajahnya ke leher Elric.
"Jadi, kau menyesal?" cebik Elric.
"Sangat menyesal."
"Where were you, anyway (semalam kau di mana)?"
Emma menarik dirinya dari pelukan Elric. Gadis itu menundukkan wajahnya. "James ... memaksaku pergi ke suatu tempat ...."
Elric mendecak sebal. "I knew it (pasti)."
"Dia memaksaku, El. Dan ...."
"Dia ... melamarku."
Mata Elric membola. Kemudian pemuda itu menggeleng pelan. "Aku tidak bisa percaya ini. Kau menerima lamarannya?"
"Tidak ... aku ...."
"Bagus!" potong Elric.
Emma tersenyum tipis. "Kau mau memaafkanku?" tanyanya dengan suara lirih.
"Entahlah ...." Elric mengedikkan bahu.
Emma menghela napasnya berat. Ia memeluk lututnya frustrasi.
__ADS_1
"Aku akan memaafkanmu, asal ...." Elric menyunggingkan senyumnya yang mencurigakan. "Asal ...." Pemuda itu mendekatkan wajahnya ke wajah Emma.
Emma terkesiap. Dadanya mulai bergemuruh. Tatapan netra coklat yang begitu sendu itu mampu membuatnya membantu. Sekuat tenaga ia ingin menjauh. Rasanya ia belum sanggup menganalisis perasaannya.
"El ...." Emma menahan dada Elric. "Aku ... belum menyikat gigiku," ucap gadis itu asal. "Sampai nanti, El." Emma buru-buru melompat dari atas ranjang dan menghambur keluar kamar.
"What?" Elric mengangkat kedua tangannya. Namun sejurus kemudian pemuda itu terbahak seraya menggaruk rambutnya yang mulai memanjang.
***
James menyingkirkan pelan tangan Hannah yang melingkar di dadanya. Pria itu lalu duduk di tepian ranjang seraya menumpu dagu dengan kepalan tangan.
Ia terpaksa memanggil Hannah kembali. Sebagai pria normal, ia membutuhkan sentuhan seorang wanita. Rencananya, setelah Emma menerima lamarannya, ia akan membawa gadis itu ke apartemennya dan menghabiskan malam bersama. Ia sudah sangat penasaran dengan apa pun yang ada pada gadis itu. Kenyataannya sangat menyesakkan dada. Emma menolaknya dan pergi entah ke mana.
James pun memanggil Hannah untuk melampiaskan hasratnya yang nyaris tidak terbendung. Meskipun hanya Emma seorang yang ingin disentuhnya.
"James ...." Suara serak khas bangun tidur dari balik punggungnya membuat lamunan James buyar. Ia menoleh pada wanita cantik tidak berbusana yang hanya berbalut selimut itu.
"Hmm?"
"Thank you ...." Tatapan mata Hannah begitu menyimpan kerinduan. Menyimpan harapan untuk bersama pria pujaannya itu.
James tersenyum kecut. Ia berharap yang berbaring di atas ranjangnya itu adalah Emma. Dengan tubuh indahnya yang selama ini hanya dilihatnya dari balik pakaian old fashioned yang selalu dikenakan gadis itu.
"Ini tidak berarti apa-apa, Hannah." James memberi peringatan. Peringatan pada Hannah untuk tidak menaruh harapan apa pun padanya.
"Aku tahu. Aku tidak keberatan. Bisa dekat denganmu lagi saja sudah sangat cukup." Hannah menggigit bibir bawahnya, getir.
"Sorry ...."
Hannah beringsut mendekati punggung James dan memeluknya. Menenpelkan kulit wajahnya pada kulit punggung James yang dipenuhi tattoo itu.
"Tidak usah meminta maaf. Aku akan selalu ada untukmu."
__ADS_1
***