BAD BOY OF MANHATTAN

BAD BOY OF MANHATTAN
Bab 57. Kekesalan Emma.


__ADS_3

Elric masuk ke dalam apartemen dengan tampang lesu. Ia bahkan tidak menyadari keberadaan Emma di dapur tengah menikmati makan malamnya. Pemuda itu menjatuhkan badannya ke atas sofa.


"Hei, El!" panggil Emma membuat Elric terlonjak dari sofa.


"Geez, Em. Kau mengagetkanku," gerutunya sembari memegangi dadanya yang berdebar kencang.


Emma terkikik dari arah dapur. Begitu menyelesaikan makan malamnya, ia melangkah mendekati Elric dan duduk di samping pemuda itu. "Kau sudah makan?" tanyanya.


"Uh-huh." Elric menyahut pendek.


"Kau punya masalah?" tanya Emma curiga melihat tampang Elric yang muram.


Elric mengangkat bahu. "Sedikit."


"Ingin bercerita padaku?"


Elric menyandarkan punggung ke sofa. Ia menghela napas sejenak. "Masalah Noah."


Emma mendecak sebal. "Ada apa lagi dia?"


"Dia ditangkap Fat Tony karena menggelapkan uang kiriman barang."


Emma menghembuskan napasnya kasar. "Lalu, apa hubungannya denganmu?"


"Dia temanku, Em."


Gadis itu memutar bola matanya. Dari dulu ia benar-benar tidak suka Elric bergaul dengan begundal East Harlem itu. "Berapa uang yang dia gelapkan?" tanyanya iseng.


Elric menatap Emma. "50.000 dollar."


"Apa? Gila!" umpat Emma seketika. Noah memang benar-benar gila. "Dan kau yang harus membayarnya?" Wajah gadis itu berubah tegang. Ia menatap Elric dengan sorot mata tajam.


"A-aku tidak punya pilihan lain."


"Bullsh it (omong kosong)! Kau tidak usah ikut campur dengan masalah pemuda brengsek itu, El!" tegas Emma. Gadis itu begitu kesal. Ingin sekali rasanya menjambak rambut pemuda di hadapannya ini dan menyadarkannya kalau Noah dan yang lainnya itu bukan teman yang baik.


"Tapi Em ...."


"Elric!" bentak Emma. Gadis itu tidak lagi mampu membendung kekesalannya. "50.000 dollar itu uang yang sangat banyak. Kau mau meminta bantuan ayahmu?" Sorot mata Emma begitu tajam menusuk jantung Elric. Kenapa gadis manis ini tiba-tiba berubah menjadi nenek sihir yang membuatnya bergidig ngeri?

__ADS_1


"Ka-lau itu perlu ...."


"Terserah kau!" Emma bersungut-sungut menjaga jarak dari Elric seraya melipat kedua lengan di depan dada.


"Em ...." Elric menyentuh pelan pundak Emma dan memintanya untuk menoleh ke arahnya. "Kau marah?"


"Tentu saja aku marah!" bentak Emma. Namun sejurus kemudian gadis itu memijit keningnya. "Aku ... tidak marah. Hanya saja ... aku tidak suka ... si brengsek itu memanfaatkanmu," ucapnya pelan.


Elric tersenyum tipis. Entah kenapa ia suka sekali jika Emma mengomelinya seperti ini. Dulu, jika ini terjadi pada saat awal-awal mereka bertemu, sudah dipastikan perang mulut di antara mereka akan terjadi dan berakhir saling menjatuhkan. Tapi kini, Elric hanya bisa pasrah dan mengalah.


Emma menoleh ke arah Elric yang sedang tersenyum-senyum sendiri. Kedua alisnya seketika bertaut. "Hei! Kau kenapa?" tanya gadis itu seraya menepuk paha Elric.


"Owh, tidak. Aku hanya sedang ketakutan melihatmu murka." Erlic meringis memperlihatkan gigi taringnya yang menggemaskan.


Emma mendesis. Ia kembali beringsut melipat lengan di depan dada. Pandangannya dialihkan ke arah depan.


"Em ...." Kini Elric menyentuh lembut lengan Emma.


"Hmmm ...."


"Lihat kemari," pinta Elric.


Emma pelan memutar badan menghadap ke arah Elric. Ia terkesiap saat matanya beradu dengan mata Elric untuk beberapa saat. Tiba-tiba ia merasakan salivanya begitu sulit untuk ditelan. Dan saat wajah pemuda itu mulai mendekat pada wajahnya, lalu sedikit memiringkannya untuk menggapai bibir Emma yang sedikit terbuka seiring suara detak jantungnya yang bertalu-talu, gadis itu merasakan sekujur tubuhnya tidak mampu ia gerakkan.


Getaran ponsel di saku celana Elric seakan membuat keduanya bagai dua magnet dengan kutub sama yang dipertemukan, sehingga masing-masing berbalik arah tanpa aba-aba.


Emma berdehem sekali untuk membuat rasa canggungnya sedikit menghilang. "A-ku belum membereskan piringku," ucapnya seraya beranjak dari sisi Elric dan melangkah menuju dapur.


Sementara Elric yang tidak kalah canggungnya memijit tengkuk sambil meringis. Pipinya pasti sudah serupa lobster rebus sekarang ini. Ah-ia melupakan ponsel pengganggu yang membuatnya gagal mencium Emma. Diraihnya benda itu dari saku celana. Nama Ryan tertera di layar.


"Ya?"


"El, Fat Tony mengancam akan membunuh Noah kalau uang itu tidak kembali besok sore. Ibuku sangat ketakutan." Suara Ryan terdengar dari seberang.


"Sh it!" umpat Elric.


Elric mengelus rambut panjangnya. Kalau sudah menyangkut ibu sahabatnya itu, Nyonya McGovern, yang sudah menganggapnya seperti anak sendiri, mana bisa ia menutup mata.


"Em, I gotta go to Greenwich (aku harus pergi ke Greenwich)!" pamitnya pada Emma yang masih berkutat dengan piring-piring kotornya. Tanpa menunggu jawaban Emma, pemuda itu menyambar tas punggungnya dan melangkah keluar apartemen.

__ADS_1


***


Rumah besar di kawasan elite Greenwich, Manhattan itu lengang. Elric mengibaskan tangan di depan mesin wireless guest detector yang dilengkapi oleh kamera.


"Who is it (siapa itu)?" tanya sebuah suara dari dalam mesin. Sepertinya suara Lupita, si asisten rumah tangga.


"It's me, Elric Bradley!" seru Elric seraya memperlihatkan wajahnya ke arah kamera. "Apa Nathan Bradley ada di rumah? Aku ingin bertemu dengannya," lanjutnya.


"Okaaaay." Suara Lupita kembali terdengar.


Beberapa saat kemudian, Lupita membuka pintu dan langsung menangkup kedua pipi Elric lalu menciumi pemuda itu dengan gemas. "Owh, Baby Boy, how I miss you," ucap wanita paruh baya itu sembari mencubiti pipi Elric.


"Lupita, stooop," keluh Elric seraya menjauhkan tangan wanita itu dari pipinya. "Mana Nathan?" tanyanya seraya masuk ke dalam rumah. Ia mencari-cari keberadaan ayahnya.


"Anak nakal! Temui ibumu dulu," ujar Lupita seraya mendorong Elric naik ke atas tangga menemui ibunya yang sedang berada di dalam kamar.


Elric mengetuk pintu kamar orang tuanya, lalu mendorong pintu berwarna putih itu dan mendapati ibunya sedang membaca buku di atas ranjang. "Apa? Apa aku tidak salah lihat?" Alya menutup buku yang sedang dibacanya dan membentangkan kedua tangan meminta putranya itu untuk datang ke pelukannya.


"Hi, Mom ...." Elric memeluk ibunya dengan erat.


"Seperti mimpi melihatmu datang ke rumah ini," ucap Alya seraya melepaskan pelukannya.


Elric memutar bola matanya. "Oh, ayolah, Mom ... aku hanya tinggal di East Harlem ... sembilan belas menit dari sini," terangnya.


Alya meringis sembari merangkul bahu putranya itu. "Apa kau merindukanku?"


"Kita baru bicara di telpon kemarin, Alya," protes Elric.


Alya terkekeh. "Baiklah, baiklah. Kau menginap di sini, kan, Sayang?''


"Hmm ... tergantung urusanku nanti dengan Nathan."


Wanita cantik itu mengerutkan dahi. "Urusan apa?" tanyanya penasaran.


"Kuceritakan padamu nanti. Mana dia?"


"Ada di studio."


"Okay. I'll be right back (aku akan segera kembali)."

__ADS_1


Alya membentuk bulatan dengan jari telunjuk dan ibu jarinya pertanda ia menyetujui ucapan Elric. Sang putra tersenyum ke arahnya sebelum akhirnya menghilang di balik pintu kamar.


***


__ADS_2