
"Ada yang mengganggu pikiranmu?"
Elric menoleh ke arah Emma dan mengulas senyum. Pemuda itu menggeleng pelan. "Tidak ada," timpalnya seraya mengelus pipi Emma yang sedang duduk di pangkuannya.
"Really?" tanya Emma seraya memicingkan mata.
Elric mengangguk mantap. "I'm okay."
Emma melingkarkan lengan di leher Elric. Lalu mengecup bibir pemuda itu lembut. "Aku mengenalmu, El. Kalau ada sesuatu yang mengganggumu, kau tidak bisa menutupinya."
"Memangnya aku terlihat seperti apa?" tantang Elric
"Orc ...." Tawa Emma berderai. Ia hanya asal menjawab saja. Bagaimana mungkin pemuda setampan ini ia samakan dengan makhluk bernama orc yang buruk rupa.
"Owh ...." Elric menaikkan kedua alisnya seraya memandang ke arah Emma. "Orc ,huh?"
"Aku bercanda, El," kikik Emma seraya menyentuh bibir Elric lagi.
Elric meringis. Masih saling menatap, keduanya melanjutkan ciuman ringan mereka hingga beberapa saat. "Em, aku akan sangat sibuk bulan ini, sepertinya," ucapnya.
"It's okay ...." Emma meletakkan kepala di bahu Elric. "Aku mendukungmu sepenuhnya, El."
"Aku hanya merasa ada yang aneh dengan semua ini."
Emma mengangkat kepala dan menatap Elric dengan tatapan heran. "Apa yang aneh?"
"Ini terlalu cepat. Maksudku, kenapa tiba-tiba kami melesat naik tanpa hambatan yang berarti?"
"Karena kalian pantas mendapatkan ya, El."
"Tidak, Emma ... pasti ada sesuatu yang salah."
Emma tersenyum dan menggesek hidungnya ke hidung Elric. "Sudahlah, El ... nikmati saja waktumu. Lagi pula, kalian berjuang sendiri tanpa bantuan dari keluarga."
"Hmmm." Wajah Elric masih tampak menyiratkan rasa penasaran.
"Si Pemikir Keras ini!" Emma mengacak rambut ikal panjang Elric gemas.
"Masalahnya ... kau dan aku baru saja memulai sebuah hubungan. Kalau aku terlalu sibuk, aku takut kau menjauh," kekeh Elric.
__ADS_1
Emma merotasikan bola mata. "Elric, aku sudah katakan kalau aku mendukungmu. Lagi pula, aku juga punya kesibukan. Kita masih muda, El. Banyak yang bisa kita lakukan selagi kita masih diberi kesempatan."
"Kau benar," ucap Elric setuju.
Emma mengulas senyumnya. Senyum jahil tepatnya. Ia sudah memikirkan tentang hal yang memenuhi benaknya selama beberapa hari. Ia sudah mempersiapkan diri.
Kedua sejoli itu saling menatap. Dan sepertinya, Elric pun memikirkan hal yang sama. Ini tentang naluri sebagai sepasang kekasih. Keduanya sudah cukup dewasa untuk melakukannya, bukan?
Usia Emma dua puluh dua tahun, dan Elric delapan belas tahun. Sudah saatnya mengakhiri status virgin mereka. Dengan orang yang tepat tentunya.
Lalu, entah siapa yang memulai, dengan tidak ada perdebatan atau pembicaraan tentang keraguan mereka, keduanya bergandengan tangan masuk ke kamar Emma. Kamar yang akan menjadi saksi penyatuan cinta mereka, mungkin.
Elric mendudukkan Emma di tepian ranjang. Lalu membantu gadis itu meloloskan pakaian satu persatu, hingga tubuh indah dan polosnya kini terpampang nyata di depan mata Elric.
"Are we sure (apa kita yakin)?" tanya Elric. Hanya ingin mempertegas saja bahwa mereka berdua memang tidak ada keraguan untuk melakukannya.
"Yeah," jawab Emma yakin. Ia pun membantu Elric melepaskan pakaian yang membalut tubuh pemuda itu. Tubuh yang mulai tampak seperti pria dewasa.
Keduanya berbaring dan saling menatap dengan penuh damba. Telapak tangan mereka saling bertaut. Bibir sepasang kekasih itu menyunggingkan senyum tipis.
"Berjanjilah kita akan selalu bersama." Emma berucap saat tangan Elric pelan membelai rambut panjangnya.
Keduanya bergerak sesuai dengan naluri. It's in the blood. Tidak perlu belajar banyak teori untuk melakukan penyatuan dua manusia berlawanan jenis.
Sebuah langkah besar untuk masuk ke dalam dunia orang dewasa. Sensasi baru, rasa baru. Semua serba baru untuk Emma dan Elric. Meskipun sulit dan sakit pada awalnya, namun, kerjasama yang baik dan jiwa eksplorasi mereka yang tinggi, menghasilkan sebuah penyatuan yang manis meski tanpa adegan aneh.
Manis, seperti vanilla ice cream. Renyah, seperti biskuit pretzel yang baru selesai dipanggang. Gurih, seperti apple pie. Namun semua itu tidak cukup untuk menggambarkan sensasi melambungkan yang sedang mereka rasakan. Syurga, mungkin. Ah-bahkan syurga pun hanya sebuah arketip yang belum tentu nyata.
Ini nyata. Kulit yang saling bersentuhan. Bibir yang saling bertaut. Terlebih lagi, bagian tubuh paling vital yang menjadi inti dari sebuah percintaan, bersatu.
"Aku tidak menyakitimu, Em?" tanya Elric. Ia takut, sentuhannya pada tubuh Emma terlihat seperti seorang baji ngan yang lapar akan kemolekan tubuh wanita.
"Tidak sama sekali." Emma menyahut. Kedua lengannya saling berkait memeluk punggung Elric.
"Kau tidak tahu bagaimana cantiknya dirimu saat ini," ucap Elric. Ia menelusuri leher jenjang Emma dengan bibirnya. Begitu hati-hati, begitu lembut.
"Aku melihat sisi lain darimu. Bukan Elric si bocah menyebalkan, dan bukan Elric si gitaris jenius." Emma membalas pujian Elric.
Elric terkekeh mendengar penuturan Emma. "I love you, Emma."
__ADS_1
"So do I (aku juga mencintaimu)."
Sebuah kata pamungkas yang begitu indah terdengar di telinga mengakhiri moment berkasih mesra keduanya. Kini, kedua anak muda yang telah melepas status virgin mereka itu berbaring bersebelahan menatap langit-langit kamar, dengan tangan yang masih saling menggenggam.
"Tidak terlalu buruk, ya?" kekeh Elric.
"Untuk pemula seperti kita, sepertinya masuk dalam kategori panas," sahut Emma diikuti oleh derai tawanya.
"Kau tidak menyesal, bukan?"
"Tidak. Aku senang. Akhirnya, aku bukan lagi seorang perawan menyedihkan."
"Kau sama sekali tidak menyedihkan, Emma. Berhentilah mengatakan itu," protes Elric. Baginya, Emma adalah wanita paling istimewa di Amerika. Selain ibu dan neneknya, tentu saja.
Emma tersenyum, lalu memutar badan menghadap ke arah Elric yang sedang menoleh ke arahnya. "El, kau tidak menemukan sesuatu yang aneh di tubuhku, bukan?"
Elric mengerutkan keningnya. "Apa maksudmu?"
"Ya. Semacam bagian yang tidak kau sukai."
"You're perfect. Like a guitar, I love every inch of your body (kau sempurna. Seperti gitar, aku suka setiap inci dari tubuhmu)."
Emma terkekeh. "Sungguh aneh, El. Kita berakhir di tempat tidur yang sama."
"Tidak aneh sama sekali. That is love (itulah cinta)."
Emma mengelus pelan dada Elric. "Buatkan aku sebuah lagu," pintanya.
"I will (pasti)."
Senyum Emma kembali merekah. Ia menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya dan juga Elric. Sisa-sisa endorfin yang dihasilkan dari penyatuan mereka masih mengalir melalui saraf-saraf dalam tubuh mereka sehingga hati kedua sejoli itu diliputi luapan rasa bahagia. Rasa bahagia yang mengantar mereka ke alam mimpi.
***
Sorry, ya, Teman-teman. Baru bisa up.
Sejujurnya beberapa hari ini sedang memikirkan kata-kata yang tepat untuk malam pertama Emma dan Elric. Sampai-sampai enggak enak mau ngapa-ngapain. Maunya rebahan aja sambil menunggu gajian.
Enjoy.
__ADS_1