
Emma keluar dari gedung Zetta Elementary School dengan wajah sumringah. Ia berlarian ke arah Elric yang sedang menunggunya sambil menyandarkan punggung ke sebuah batang pohon maple merah yang tumbuh di halaman sekolah dasar itu.
"Bagaimana hasil wawancaranya? Kau diterima?" tanya Elric. Pemuda itu memang bersikeras ingin menemani Emma melakukan wawancara hari itu.
"Dasar bodoh! Mereka tidak langsung memberitahukan hasilnya, El. Aku akan mendapat kabar beberapa hari lagi." Emma melangkah keluar dari halaman sekolah diikuti oleh Elric.
"Setidaknya kau bisa menebak kira-kira mereka akan menerimamu atau tidak," sahut Elric. Ia memosisikan dirinya berjalan di samping gadis itu.
Emma terkikik. "Sepertinya aku akan mendapat kabar baik."
"Aku yakin kau akan diterima bekerja di sana."
Bibir Emma mencebik. Lalu tersenyum gembira membayangkan sebentar lagi profesinya yang seorang pelayan restauran akan beralih menjadi seorang guru. Setidaknya ada kemajuan di dalam hidupnya. "El, kenapa kau membolos sekolah?" tanya Emma yang tiba-tiba ingat kalau hari ini bukan hari libur.
"Aku ingin menemanimu," jawab Elric dengan entengnya.
"Kenapa?"
"Ingin melihat senyum bahagiamu," kekeh Elric seraya mengelus tengkuknya.
Emma tertawa renyah. Ia meninju bahu Elric pelan. "Kau ini. Bilang saja kau malas pergi ke sekolah."
Elric mendahului langkah Emma lalu memutar badan menghadap gadis itu dan berjalan mundur. " Yeah. Itu salah satunya."
Emma memanyunkan bibirnya. "Untukmu, sekolah tidak penting, El. Karena ... masa depanmu sudah terjamin."
"Kata siapa masa depanku terjamin?" cebik Elric.
"Orang tuamu kaya raya. Skill bermain gitarmu ... seperti dewa," puji Emma. "By the way, I love to see you playing guitar, you look ... hmmm ...." Emma memikirkan kata-kata yang tepat untuk menggambarkan apa yang dirasakannya.
Elric menyunggingkan senyum tipisnya. "Terlihat apa?" tanyanya tidak sabar.
"Aku tidak mau mengatakannya," kikik Emma.
"Kenapa?"
"Nanti kau besar kepala."
__ADS_1
Elric mendesis. "Menyebalkan sekali," gerutunya.
"Yang jelas, kau tidak terlihat seperti Elric anak tujuh belas tahun yang manja."
Elric menautkan kedua alis tebalnya. "Aku tidak manja!" sergahnya. "No way (tidak mungkin)!" lanjutnya.
Emma terbahak. Diperhatikannya wajah merajuk Elric yang menggemaskan. "Hei, rambutmu sudah bertambah panjang, ya," ucapnya mengalihkan rasa canggungnya ketika kedua mata mereka bertemu pandang.
"Oh ya?" Elric mengelus rambutnya. "Apa sebaiknya aku potong saja?"
"Jangan!" Emma berseru cepat.
"Kenapa?"
"Aku ... kau lebih cocok dengan rambut panjang." Emma memberi alasan.
Elric terbahak. Ia kembali ke sisi Emma dan mengikuti langkah gadis itu. "Baiklah, kalau kau yang meminta," godanya seraya menyikut lengan Emma.
"Bukan begitu. Itu demi penampilanmu di atas panggung. Bukankah lebih keren kalau seorang gitaris itu berambut panjang," terang Emma. Tiba-tiba gadis itu merasakan pipinya menghangat. Semburat merah di wajah Emma sempat tertangkap retina Elric.
"Em ...."
"Apa kau menyukaiku?" tanya Elric. Ia mencondongkan badannya memeriksa Emma yang sedang menundukkan kepala menyembunyikan wajahnya yang bersemu merah.
"Kalau aku membencimu mana mungkin aku mau tinggal satu atap denganmu," sahut Emma.
Elric menghela napasnya. Bukan itu jawaban yang ia inginkan. Kenapa gadis itu membelokkan pertanyaannya? Mengertikah Emma apa yang dimaksud dengan pertanyaannya itu?
"Ya, kau benar," kekeh Erlic sambil menggaruk kepalanya.
"El, kau sadar tidak kalau sikapmu padaku kadang aneh?"
"Hmm? Really (benarkah)?"
"Yeah. Kadang aku merasa kau marah-marah padaku tanpa alasan yang jelas. Di sisi lain, kadang kau baik sekali padaku. Aku sempat berpikir mentalmu terganggu."
"What?" Elric membulatkan kedua bola matanya. "Jangan bicara sembarangan!" rutuknya.
__ADS_1
Emma terkikik. "Atau jangan-jangan ...." Emma menelan salivanya. "Kau ... suka padaku?" Entah kenapa Emma ingin menanyakan hal itu pada Elric. Namun ia berharap pertanyaannya ini akan ditanggapi anak itu sebagai gurauan.
"Kalau iya, bagaimana?"
Dada Emma berdebar mendengar Elric justru menantangnya dengan membalikkan pertanyaan. "I-tu ... entahlah ... kau pasti tidak serius. A-ku le-bih pantas jadi kakakmu, bukan?"
Melihat Emma gugup, Elric menyunggingkan senyumnya. "Siapa yang butuh kakak sepertimu. Aku tidak mau punya kakak sepertimu, Emma," tegasnya.
Emma merotasikan bola matanya. "Menyebalkan!" desisnya kemudian.
Keduanya lalu saling diam hingga sampai di depan gedung apartemen mereka. Mereka terkejut ketika mendapati James tengah bersandar pada mobilnya yang terparkir di depan gedung. Kedua lengannya ia lipat ke dada dan wajahnya tampak muram.
"Sedang apa kau di sini?" tanya Elric pada James dengan sinisnya.
James menarik sudut bibir memaksakan senyumnya. "Aku menunggu Emma."
"Memangnya kau tidak ada kesibukan lain?" serang Elric.
"Aku sibuk. Tapi, aku menyempatkan diri untuk mengunjungi pacarku," jawab James dengan suara yang tenang. Lalu ia melempar pandang pada Emma. "Dari mana kau, Emma? Kenapa tidak menjawab telponku?"
Emma tercekat. Ia memang membisukan dering ponselnya saat wawancara di Zetta. Dan ia lupa mengembalikannya ke mode semula. "Ma-af ... aku tidak mendengar kau menelpon."
"Apa tadi kau bilang? Emma pacarmu?" tanya Elric pada James dengan sorot mata penuh selidik.
"Ya, El. Emma pacarku." James melangkah ke arah Emma dan meraih lengan gadis itu. "Ayo, Em ... aku harus bicara denganmu."
"James ... aku ...." Emma hendak menolak ajakan James, namun pria itu sudah keburu menariknya dengan sedikit keras. Cengkeraman tangannya sedikit membuat lengannya terasa nyeri.
"Hei, James! Apa kau sudah meminta persetujuan Emma? Jangan asal membawanya seperti ini!" hardik Elric sambil menepis tangan James dari lengan gadis itu.
James tertawa hambar mendengar penuturan Elric, lalu menarik kembali lengan Emma dan membawa gadis itu ke belakang punggungnya. Ia menantang Elric dengan tatapan meremehkan. "Aku sudah bilang Emma pacarku, El."
"Bullshit (omong kosong)!" desis Elric. "Em, kemari!" ujarnya seraya mengulurkan tangan pada Emma yang berdiri di balik punggung James.
James menyingkirkan tangan Elric pelan. "What's wrong with you, El (ada apa denganmu, El?" tanyanya. Sejujurnya pria itu merasa heran kenapa Elric bersikap seprotektif itu terhadap Emma. Tidak mungkin anak baptisnya ini menyukai kekasihnya. Ia tidak sedang kesal pada Elric. Kebetulan anak itu berada di tengah-tengah kekesalannya pada Emma yang tidak mengangkat telpon dan membuatnya menunggu di depan gedung cukup lama karena ia tidak mendapati Emma di apartemen. James sudah mengorbankan waktu di tengah-tengah kesibukannya untuk bertemu dengan kekasihnya itu walaupun hanya sebentar.
James mengangkat tangannya memberi isyarat pada Elric untuk tidak mendekati Emma. Kemudian pria itu membuka pintu mobilnya dan menyuruh Emma masuk. Sementara Elric hanya bisa mendengus kesal dan memandangi mobil James yang mulai menjauh dari hadapannya.
__ADS_1
***