
James mengetuk pintu rumah mungil dengan desain victorian itu. Sang pemilik rumah adalah Hannah, teman kencannya. James membeli rumah itu untuk Hannah setahun yang lalu sebagai imbalan menjadi teman tidurnya. Memang Hannah terkesan seperti wanita murahan, namun James tidak pernah memperlakukannya semena-mena. Ia memperlakukan wanita itu layaknya seorang kekasih. Hanya saja, James tidak berniat untuk melanjutkan hubungan tanpa komitmen itu ke jenjang selanjutnya.
Dan hari ini, James ingin berbicara baik-baik kepada Hannah, bahwa ia sudah tidak bisa melanjutkan hubungan mereka. Hannah duduk di sampingnya dengan kepala tertunduk.
"Maafkan aku, Hannah," ucap James sembari menggenggam telapak tangan Hannah.
"It's okay (tidak apa-apa)." Jelas sekali Hannah menyembunyikan kepedihan di matanya. Meskipun nada bicaranya ia buat seriang mungkin.
"Sekali lagi maafkan aku. Aku tidak bermaksud menyakitimu. Tapi, dari awal aku sudah menjelaskan kalau ...."
"Hubungan kita tidak ada komitmen. Ya, aku mengerti." Hannah memotong ucapan James dengan cepat. Ia masih terus mencoba memaksakan senyumnya.
"Aku harap aku tidak menyinggungmu. Aku menganggapmu wanita yang baik dan aku akan selalu memperlakukanmu dengan baik." James mengelus punggung tangan Hannah. "Come here, let me give you a hug (kemarilah, biar kuberi kau satu pelukan)." James membuka kedua tangannya dan mempersilahkan Hannah untuk masuk ke dalam pelukannya.
Hannah menghambur ke dekapan James dan membenamkan wajahnya di sana. Ia berusaha keras untuk tidak meloloskan air matanya. Ah, kehangatan tubuh James ini mungkin tidak akan pernah ia rasakan lagi.
James mengelus punggung Hannah dengan lembut. Ia melepas pelukannya pada wanita itu lalu merapikan anak rambutnya yang sedikit berantakan. Punggung tangannya mengelus pipi Hannah. Ia tahu wanita cantik itu berusaha menahan diri untuk tidak menangis. Tidak bisa dipungkiri, rasa bersalahnya begitu besar pada Hannah. Tapi, ia harus memberi ketegasan ini. Lebih baik sakit sekarang, dari pada ia memberi Hannah harapan palsu.
***
Ketika masuk ke dalam apartemennya, Emma mendengar sayup-sayup suara gitar yang sepertinya sedang dimainkan Elric di dalam kamarnya. Gadis itu menyunggingkan senyumnya sembari meletakkan dua kotak tacco yang tadi dibawanya dari restauran ke atas meja makan.
Emma masuk ke dalam kamarnya untuk membersihkan diri dan mengganti pakaian kerjanya dengan pakaian rumah yang nyaman. Setelah selesai membersihkan diri, Emma memakai kaus panjang dan celana legging lengkap dengan kaus kaki tebal musim dinginnya. Rambut panjangnya ia ikat sembarang menyisakan anak-anak rambut yang jatuh di dahi dan pipinya.
Keluar dari kamarnya, ia masih mendengar suara gitar Elric dari kamar bocah itu. Pelan ia mengetuk kamar dengan pintu bercat abu-abu itu.
Elric baru membuka pintu setelah Emma mengetuk dengan sedikit keras. Rupanya suara gitar yang sedang dimainkannya itu membuatnya tidak mendengar suara ketukan pintu.
"Hi, Emma ...." Elric memandang gadis itu dari ujung kepala hingga ujung kaki. Manis sekali. Wajahnya terlihat segar. Sepertinya ia baru saja mandi.
__ADS_1
"Ikut makan tacco denganku," ajak Emma sembari memutar badannya dan melangkah menuju ke meja dapur.
Elric tersenyum senang. Ia mengikuti langkah Emma dan duduk berseberangan dengan gadis itu. Ia memperhatikan gerakan Emma yang sedang memindahkan tacco, roti lipat berisi selada, daging dan saus pedas a la Meksiko itu ke atas piring. Emma memberikan satu piring berisi dua buah tacco pada Elric, dan satu piring lagi untuknya sendiri.
"Thanks, Emma."
"Uh-huh."
"Aku sudah ikut audisi."
"Oh ya? Dan?"
"Aku gitaris Bad Boy Of Manhattan sekarang."
Emma membulatkan mata indahnya. Ia menghentikan kunyahan di mulutnya. "It's awesome (bagus sekali), El." Gadis itu menatap Elric dengan mata berbinar. "I'm so happy to hear that (aku senang sekali mendengarnya)."
"Aku butuh dukunganmu."
"Aku ... butuh kau selalu ada di sini."
"Aku selalu ada di sini."
"Kau tidak akan pergi?"
Emma terkikik. "Memangnya aku mau pergi ke mana?"
"Pindah ke apartemen James, misalnya."
"Kenapa aku harus pindah ke apartemennya?"
__ADS_1
"Karena ...." Elric menghabiskan potongan terakhir tacconya. Lalu meneguk segelas air putih yang sudah disiapkan oleh Emma.
"Aku belum punya hubungan apa pun dengan James."
Elric hampir saja tersedak air putih yang hendak ditelannya. "Owh ... it's a good news (itu kabar yg bagus)."
Emma mencebik. "Kenapa kau tidak suka aku berhubungan dengan James? Kau tidak mau aku menjadi ibu baptismu?" kekehnya.
"Aku labih suka kau jadi pacarku." Elric mengucapkan kata-kata itu tanpa melihat ke arah Emma.
Emma menaikkan kedua alisnya. Namun sejurus kemudian ia tertawa sembari mengibaskan tangannya. "Kau ini ada-ada saja," ujarnya tanpa menganggap serius ucapan Elric.
Pemuda itu hanya mengedikkan bahu. Ia memilin gelasnya yang telah kosong. "Kalau aku bilang aku serius mengatakannya, bagaimana?"
"Bercandamu tidak lucu," ucap Emma sambil mengunyah potongan terakhir tacconya.
"Kalau aku tidak bercanda, bagaimana?"
Emma mendesis. "Aku akan menjambak rambutmu. Dasar bocah tengil!" Ia tiba-tiba merasa gugup ketika melihat wajah serius Elric. "Tolong bereskan piringnya, El. Aku mau tidur." Emma buru-buru beranjak dari duduknya dan masuk ke dalam kamarnya.
Di dalam kamar, Emma menghempaskan badan ke atas ranjang. Ia meremas wajahnya pelan. Ia berusaha menepis pikiran-pikiran aneh tentang Elric. Atau lebih tepatnya ia sama sekali tidak ingin pikiran-pikiran itu ada di benaknya. Tidak mungkin dan tidak boleh.
"Emma!"
Gadis itu terkesiap ketika mendengar Elric memanggil namanya sambil mengetuk pintu kamar. Tiba-tiba ia merasa begitu gelisah.
"Can I come in (boleh aku masuk)?"
Emma menghembuskan napasnya dengan kasar. "Tidak. Aku sudah mau tidur." Ia menarik selimut dan menutupi seluruh tubuhnya. "Good night, El!" serunya.
__ADS_1
Sementara di balik pintu, Elric menghela napas kecewa. Ia menatap gitar akustik yang sedang di pegangnya. "Aku hanya ingin menyumbangkan lagu sebelum tidur," gumamnya pelan. Ia pun memutar badan dan melangkah masuk ke dalam kamarnya.
***