BAD BOY OF MANHATTAN

BAD BOY OF MANHATTAN
Part 56. The Party Continues.


__ADS_3

Elric yang baru saja keluar dari kamarnya dengan pakaian kebesarannya-hoodie longgar dan jeans biru untuk pergi ke sekolah tertegun menatap Emma yang juga baru saja keluar dari kamarnya di sebelah.


"Ada yang salah?" Emma meneliti pakaiannya sendiri mencari sesuatu yang tidak beres, yang membuat Elric menatapnya sedemikian rupa.


"Owh, tidak, tidak. You look perfect. Pretty (kau terlihat sempurna. Cantik)." Elric terkesiap. Penampilan Emma menghipnotisnya. Rok span setinggi lutut, kemeja warna salem dengan rumbai di bagian dada dipadu dengan cardigan rajut berwarna senada dengan roknya. Kaki jenjangnya dibalut stoking hitam dan sepatu vintage tidak berhak yang membuat penampilannya terlihat begitu elegan, sederhana, manis-kata apa lagi yang pantas menggambarkan Emma sekarang ini? Yang jelas Elric menyukainya. Sangat menyukainya. "Aku yakin kau akan menjadi idola murid-muridmu," ucap Elric. Ini hari pertama Emma mengajar di Zetta Elementary.


Bibir Emma mencebik. "Mau berangkat bersama?" tawarnya.


"Memangnya kau tidak dijemput ... pacarmu?" sindir Elric. Ah-tidak. Elric sedang memancing jawaban Emma dengan menekankan kata pacar. Ia tidak mempercayai pernyataan dari James bahwa Emma sekarang adalah pacarnya.


Emma menggeleng. "Ayo, kita berangkat," ajaknya, disambut dengan anggukan kepala Elric.


Pagi itu mungkin adalah awal dari rutinitas keduanya berangkat bersama ke tujuan masing-masing dengan menggunakan subway. Tujuan mereka searah. Emma ke Zetta Elementary dan Elric ke Hunter Science High School.


"El, kau tahu ... aku sebenarnya sangat gugup." Emma mengungkapkan apa yang dirasakannya pagi itu.


"Kenapa?"


"Menjadi guru pembimbing itu tidak mudah."


Elric tersenyum. "Tapi kau sudah punya pengalaman membimbing anak nakal, Emma."


Emma membulatkan matanya. "Maksudnya, kau anak nakal itu?"


"Yeah. Dan kau berhasil." Berhasil membuat anak nakal itu jatuh cinta padamu.


Emma meringis memperlihatkan gigi-giginya yang rapi. "Tetap saja aku gugup."


Elric meraih telapak tangan Emma yang dingin. Padahal heater gerbong kereta bawah tanah sudah disesuaikan untuk menghalau udara dingin di musim dingin begini. Artinya, gadis itu memang sedang gugup. "Apa kau mau aku menemanimu?"


"Ish!" Emma meraih segenggam rambut panjang Elric dan menariknya gemas. "Bilang saja kau ingin membolos."

__ADS_1


Elric terkekeh. Ia membenarkan ucapan Emma. Memang ia sebenarnya malas pergi ke sekolah. Tidak ada yang menarik di sana. Menemani Emma atau pergi ke studio jauh lebih menyenangkan.


Next stop, Bloomingdale station.


Suara announcement di dalam gerbong membuat Emma beranjak dari duduknya. Dan berpegangan pada satu tiang di dekat pintu otomatis. "Sampai nanti, El," ucapnya pada Elric yang masih duduk di tempatnya, saat kereta telah berhenti sempurna dan pintu terbuka. Elric tersenyum memandangi Emma yang kini telah berbaur dengan para penumpang yang keluar bersamanya dan calon penunpang di peron.


***


Selesai di sekolah, Elric sebenarnya ingin menjemput Emma di Zetta, namun panggilan Jacob untuk segera datang ke studio memaksanya mengurungkan niatnya. Lalu di sanalah ia berkumpul dengan tiga personel Bad Boy Of Manhattan yang sepertinya ingin menyelesaikan konflik kecil di antara mereka yang terjadi kemarin.


Samuel dan Darren, masing-masing masih menunjukkan wajah tidak bersahabat satu sama lain. Jacob bertindak sebagai penengah. Dan Elric sendiri masih menyimak.


"Ayolah, kita bukan band anak SMA yang mudah pecah hanya karena masalah sepele." Jacob memecah keheningan di antara ke empat pemuda berambut panjang yang sibuk dengan pikiran masing-masing.


"Aku sudah mengutarakan pendapatku," sahut Samuel. Ia meraih sebungkus rokok di atas meja dan mengambilnya sebatang lalu menyalakannya.


"Darren?" Jacob menuntut pemuda berambut pirang kecoklatan itu untuk bersuara.


"SkyLab sedang menunggu jawaban kita. Hari ini kita putuskan. Iya atau tidak," tegas Jacob.


Samuel mengangkat tangannya tanda menyerah. Ia sangat menyayangkan jika sampai kesempatan ini hilang begitu saja. Tapi, si keras kepala Darren itu memang sulit. Meskipun ia mengancam akan keluar dari band, ia tidak bersungguh-sungguh akan melakukannya. Bagaimana pun, ia turut andil membentuk band ini dari awal.


"Mungkin tidak ada salahnya kita mencoba." Elric bersuara. "Aku sedang berpikir ... tidak selamanya idealisme bisa membuat perut kita kenyang." Ia membuat perumpamaan kasar. Tidak menampik, tujuan mereka bermusik adalah untuk dikenal banyak orang. Untuk Darren dan Elric, yang dari lahir sudah menjadi sorotan public karena ayah mereka adalah rockstar, mungkin, alasan klise mereka bermusik adalah untuk memuaskan batin tanpa campur tangan dari orang tua mereka karena hal itu sama sekali tidaklah menantang. Tapi, jangan lupakan kalau ada Samuel dan Jacob di antara mereka. Mereka pun ingin mencicipi menjadi sorotan banyak orang.


"That's it (itu dia)." Jacob menjentikkan jari tanda setuju.


Darren kembali menghembuskan napas kasar. "Atur sajalah," ucapnya pasrah. Ia menyambar botol birnya di atas meja dan menenggak isinya hingga habis.


"Okay. Kita sudah sepakat, ya?" Jacob memastikan.


Darren mengedikkan bahu, sementara Samuel mengulas senyum tipis. Dan Elric, hanya mencebikkan bibir. Suasana yang canggung akhirnya mencair kembali. Meskipun di antara Darren dan Samuel masih sedikit terlibat perang dingin.

__ADS_1


***


Elric berjalan mendekati Ryan yang berjalan mondar-mandir dengan gelisah di rooftop tempat persembunyiannya dan kawan-kawannya di East Harlem. Beberapa saat yang lalu Ryan menelponnya agar segera menemuinya. Dari nada suaranya, pemuda itu terdengar panik.


"What happened (apa yang terjadi)?" tanya Erlic.


"Ini tentang Noah," jawab Ryan seraya mengelus rambutnya frustrasi.


"What about him (ada apa dengannya)?" Melihat sikap sahabatnya itu, mau tidak mau ia pun merasa khawatir. Pastilah telah terjadi sesuatu dengan Noah.


"Anak buah Fat Tony memukuli dan membawanya paksa ke markas. Orang tuaku sangat panik."


"Why?"


Ryan menghembuskan napas kasar. "Dia menggelapkan uang kiriman barang."


"Damn (sial)!" umpat Elric. Ia tidak habis pikir kenapa Noah sudah terlibat masalah lagi. "Untuk apa uang itu?"


"Entahlah ... sepertinya Noah terlilit hutang dengan seseorang."


"Berapa? Berapa uang Fat Tony yang digelapkan?" tanya Elric.


"Banyak. Yang aku dengar ... 50.000 dollar."


"Mother Fu cker (baji ngan)!" umpat Elric begitu mendengar nominal yang disebut oleh Ryan. Kini dirinyalah yang panik. Ia tahu, secara tidak langsung Ryan meminta bantuannya untuk menebus uang itu. Sialan-dari mana ia bisa mendapatkan uang sebesar itu. Penjualan mobil sport miliknya sudah ia pergunakan untuk menutup student loan Emma dan sisanya ia sumbangkan ke yayasan anak-anak terlantar. Ia hanya menyimpan sedikit untuk membayar sewa apartemen selama beberapa bulan dan juga biaya sekolahnya. Dalam rekeningnya kini hanya ada uang 20.000 dollar.


"Tolong Noah, El." Permohonan itu pun lolos dari mulut Ryan.


***


Hello, jumpa lagi dengan saya, Lady.

__ADS_1


__ADS_2