BAD BOY OF MANHATTAN

BAD BOY OF MANHATTAN
Bab 61. Special Invitation.


__ADS_3

Di dalam subway, Emma tersenyum-senyum sendiri menonton video lyric milik Elric dan bandnya di layar ponsel. Video lyric yang dikonsep dengan animasi dua dimensi gambar personel band yang dibuat aneh. Seakan-akan menggambarkan kalau personel Bad Boy Of Manhattan adalah empat pemuda aneh yang misterius. Video itu menjadi trending di sebuah situs video sharing. Sehingga sangat mudah ditemukan di halaman rekomendasi.


Emma menggeleng. Gila memang mereka. Baru beberapa hari merilis single perdana, mereka langsung menjadi buah bibir. Lagu berjudul I would hurt a fly itu memang tidak umum didengarkan oleh telinga awam. Namun keunikan aransemen dan hebohnya media yang memberitakan, membuat banyak orang penasaran dengan band pendatang baru itu.


Gadis itu masih tersenyum-senyum sendiri saat menggulir kolom komentar. Elric dan kawan-kawannya baru juga menunjukkan avatar mereka, tapi banyak wanita yang heboh dan histeris dalam menuliskan komentar. Apa lagi jika suatu saat mereka menampakkan wujud asli mereka?


Ah-Elric. Anak itu memang istimewa. Emma diam-diam merasa bangga sekali padanya. Tinggal satu atap dengan Elric, bagaimana reaksi para penggemarnya nanti? Begitu pikiran jahil Emma.


Emma buru-buru memasukkan ponsel dan earphone wirelessnya ke dalam tas selempangnya saat mendengar suara pengumuman mengatakan kereta akan berhenti di stasiun East Harlem.


Begitu kereta berhenti sempurna, Emma menghambur keluar bersama para penumpang yang memiliki tujuan sama dengannya. Keluar dari stasiun bawah tanah, Emma menyeberang jalan dan melangkah menuju apartemennya yang berjarak sekitar dua kilometer saja.


Emma berharap Elric sudah pulang. Ia ingin memberi selamat pada bocah itu. Dan juga ingin memarahinya karena tidak memberitahukan perihal single perdana bandnya yang sudah release. Ia bahkan harus mengetahuinya sendiri dari sosial media.


Gadis itu membuka pintu apartemennya pelan. Aroma makanan yang sepertinya baru saja matang seketika menusuk hidungnya dan membuat perutnya berontak ingin segera diisi.


Dilihatnya Elric sedang sibuk menyiapkan hidangan di meja makan. Pemuda itu melambaikan tangan padanya. Wajahnya tampak bahagia.


"Hei, Em. Sudah lapar, bukan?" tebak Elric. "Come here." Elric menggerak-gerakkan telapak tangan meminta Emma untuk mendekat padanya.


"Hmm ... kau yang memasak?" tanya Emma sembari mencomot satu ayam tepung berwarna jingga dan menyuapi dirinya. "Enak sekali," pujinya.


"Tentu saja bukan aku yang memasak. Aku memesannya di restauran china seberang jalan tadi siang. Aku hanya menghangatkanya saja," kekeh Elric.


Emma memanyunkan bibirnya. "El, selamat atas single perdanamu."


"Ah, itu." Elric terbahak. "Thanks, Em."


"Kau ini menyebalkan sekali. Kenapa tidak mengatakan apa pun padaku sebelumnya? Aku harus tahu dari media sosial," gerutu Emma sambil mengunyah makanannya.


Elric menggaruk kepalanya. Ia bingung menjawabnya. Baginya, itu hanya sebuah lagu perkenalan band mereka kepada dunia. Tidak terlalu penting untuk memberitahukannya pada orang-orang terdekatnya.


"Kau sudah menjadi selebriti baru sekarang, El. Bagaimana perasaanmu? Nanti, banyak gadis yang histeris saat bertemu denganmu atau menontonmu di panggung."


Elric terkekeh. "Perasaanku? Biasa saja."

__ADS_1


"Ah ya, aku lupa kau sudah menjadi selebriti sejak lahir." Emma menepuk keningnya.


Elric mencebikkan bibir. Ia memutar garpu untuk menggulung mie di piringnya, kemudian menyuapi dirinya.


"Apa kau masih mau tinggal di apartemen sempit ini?" tanya Emma. "Hmm ... sepertinya aku akan merasa kesepian kalau kau pindah dari sini." Emma memasang wajah sedihnya.


"Tentu saja. Kenapa aku harus pindah?"


"Kalau nanti kau punya banyak uang untuk membeli apartemen mewah di Manhattan?"


Elric tersenyum. "Selama kau masih tinggal di sini, aku tidak akan pindah ke mana-mana," ucapnya.


Emma terkekeh. "Aku hanya bercanda, El. Kau boleh pindah dari sini kalau kau mau."


"Aku tidak akan pindah dari sini!" tegas Elric.


"Okay, okay." Emma mengangkat tangannya. Batinnya, Elric serius sekali?


Selesai makan malam, Emma pamit masuk ke dalam kamarnya. Sementara Elric pun masuk ke dalam kamarnya. Namun, di dalam ruangan yang tidak terlalu luas dan penuh dengan gitar dan semua peralatannya, Elric berjalan mondar-mandir sembari memegang selembar kertas kecil berbentuk persegi panjang yang siang tadi ia cetak. Khusus untuk Emma.


"Ya?" Emma dengan pakaian tidur dan rambut basah yang sedang ia keringkan dengan handuk muncul dari balik pintu.


"Untukmu." Elric menyodorkan kertas di tangannya pada Emma.


"Apa ini?" Emma memeriksa kertas itu. Membaca tulisan yang ada di sana. "Tiket konser Bad Boy Of Manhattan?" tanyanya.


"Ya. Kelas VVIP. Khusus untukmu." Elric terkekeh sembari mengelus tengkuknya.


Emma menaikkan alisnya. "Kau mencetaknya?"


Elric meringis. "Ya. Biar terasa spesial."


Gadis itu terbahak. Ia tidak mampu menyembunyikan rasa bahagianya, dan juga terharu.


"Datang, ya. Your presence means a lot to me (kehadiranmu sangat berarti bagiku)," ucap Elric.

__ADS_1


"I will (pasti)," timpal Emma sambil mengulum senyumnya.


Elric berdehem sekali untuk melicinkan tenggorokannya. "Ngomong-ngomong ... kau cantik dengan rambut basah seperti itu," pujinya.


"Owh ...." Emma menghentikan gerakan tangannya mengeringkan rambut dengan handuk. Tenggorokannya tercekat.


"Good night, Em." Elric memutar badan dan berlalu dari hadapan Emma. Gadis itu terdiam sesaat. Sejurus kemudian, senyum di bibirnya pun lolos. Gadis itu menutup pintu kamar dengan hati yang, kalau bisa dibilang, berbunga-bunga.


***


Pakaian apa yang cocok untuk menonton konser band heavy metal?


Emma menghembuskan napasnya kasar. Semua model pakaiannya sungguh kuno. Ia suka memakai gaya kuno, tapi, untuk menonton konser musik, sepertinya tidak akan terlalu cocok.


Tunggu-kenapa ia pusing memikirkan penampilannya? Bukankah ia biasanya adalah orang yang tidak terlalu peduli dengan gaya berpakaian? Kenapa ia ingin terlihat cantik di hadapan Elric?


Emma menepuk-nepuk keningnya mencoba menyadarkan diri dari halusinasi. Akhirnya, pilihannya jatuh pada pakaian yang berwarna serba hitam. Kaos hitam, coat hitam, legging hitam, boot hitam dan riasan sedikit gothic. Gadis itu sudah siap untuk pergi ke pemakaman.


Ia terkekeh mematut dirinya di depan cermin. Penampilan terbaik yang mampu ia usahakan malam ini. Disambarnya tas selempang yang juga berwarna hitam, lalu berjalan keluar dari kamarnya yang berantakan akibat aksinya membongkar isi lemari pakaiannya beberapa saat lalu.


Emma membuka pintu apartemennya dan terkejut saat melihat James sudah berdiri di sana, menggantung jemarinya yang sepertinya hendak mengetuk pintu.


"Hi, Baby," sapa James sembari mengulum senyum. "Wow, look at you, you're ... beautiful," pujian meluncur dari bibirnya saat memperhatikan penampilan sang kekasih yang memukau penglihatannya.


"Hi, James ... kau ...."


"Kau sudah siap rupanya. Aku bahkan belum memberimu kabar akan datang menjemput," kekeh James. "Kalau begitu, ayo berangkat sekarang saja. Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat. Ada hal penting yang ingin aku sampaikan padamu." James bersikap masa bodoh ke mana Emma hendak pergi dengan penampilan seperti itu. Ia sengaja tidak mau menanyakannya.


"Tapi, James ... sebenarnya aku ...."


"Please, Emma ... kau harus ikut denganku. Please, ini penting sekali." Wajah James memelas. Kedua telapak tangan ia satukan sebagai tanda ia sedang memohon.


"Aku mau pergi ke konser ...." Kata-kata Emma menguap begitu saja saat James meraih kedua telapak tangannya dan membawanya ke dada kokohnya.


"Please, Emma ... ikutlah denganku."

__ADS_1


***


__ADS_2