BAD BOY OF MANHATTAN

BAD BOY OF MANHATTAN
Bab 36. Tidak Ingin Membuang Waktu.


__ADS_3

Sambil mengaduk segelas susu panas untuk menghangatkan malamnya, Emma terbengong di meja makan dapur. Ia memikirkan sikap Elric yang akhir-akhir ini, bisa dikatakan, aneh. Sikapnya manis dan selalu mengucapkan kata-kata melantur yang membuat Emma bertanya-tanya apa maksudnya. Sangat berbeda dengan awal-awal pertemuan mereka yang penuh dengan pertengkaran dan saling ejek satu sama lain.


Meskipun Emma malas menduga-duga, tapi ia sedikit banyak merasa penasaran ada apa dengan anak itu. Jangan-jangan Elric menyukaiku?


Emma meraup wajahnya. Ia berharap dugaannya tidak benar. Mungkin Elric hanya butuh sosok teman yang bisa membuatnya nyaman untuk bercerita tentang apa pun. Semoga saja begitu. Emma meneguk susunya. Bayangan wajah James yang tampan melintas di benaknya. Bibir Emma menyunggingkan senyum tipis. Masih jelas dalam ingatannya, ekspresi wajah pria itu ketika memergokinya di kamar Elric. Antara kaget, tidak suka dan juga kecewa. Entahlah. Mungkin itu yang bisa Emma gambarkan. Tapi, James pria yang tenang. Ia memang sudah matang dan dewasa.


Bagaimana rasanya menjadi kekasih seorang James Howards? Pria yang jarak umurnya begitu jauh dari dirinya. Bukan hanya itu saja, ia juga adalah bassist Hellbound. Jarak umur tidak masalah baginya karena James adalah pria dewasa paling tampan yang pernah ia temui. Pastilah banyak gadis-gadis muda seumurannya yang masih tergila-gila dengan James. Apalagi ia kaya raya.


Emma menopang janggutnya dengan kedua tangan. Pandangannya terlempar ke langit-langit dapur. Senyum tipis tersungging dari bibirnya. Elric bilang, James menyukainya. Dan pria itu memang mengatakan padannya saat makan malam. Tapi, Elric juga bilang, ia memiliki kekasih. Bibir Emma seketika cemberut. Kalau James sudah memiliki kekasih, kenapa ia mengungkapkan rasa suka padanya?


Dihabiskannya gelas susu dan beranjak dari duduknya. Emma mulai mengantuk. Ia sudah menguap beberapa kali. Gadis itu langsung saja menuju kamarnya dan naik ke atas ranjang lalu bersembunyi di balik selimut tebalnya. Emma tidak punya penghangat ruangan untuk saat ini karena tagihan bulanannya masih membengkak. Gajinya juga harus dipotong student loan sebelum ia gunakan untuk membayar sewa apartemen dan membeli bahan makanan sederhana.


Setelah beberapa saat otaknya berkelana entah ke mana, matanya pun tertutup dan Emma masuk ke dalam alam mimpi.


***


Sore itu, ketika Emma menyelesaikan pekerjaan terakhirnya di restauran dan bersiap-siap untuk pulang, ia dikejutkan dengan suara ribut-ribut dari luar restauran. Emma keluar dari ruang karyawan dan melangkah menuju kerumunan orang yang ada di luar restauran.


"Ah, itu dia gadis yang aku tunggu."


Suara seorang pria di balik kerumunan rekan-rekan kerjanya dan juga beberapa orang yang tidak Emma kenal membuat mereka menyingkir dan semua mata menatap ke arahnya.


"Tujuanku ke sini, untuk menjemput gadis cantik ini." James, berjalan menghampiri Emma yang masih berdiri mematung di depan pintu restauran kemudian meraih telapak tangannya dan menggandeng gadis itu menuju mobilnya yang terparkir di sisi jalan.


"Emma! Cinderella!"


"Lucky girl (gadis beruntung)!"


"I wish I were you, Emma (seandainya saja aku jadi kau, Emma)!"

__ADS_1


Seruan dan celetukan rekan-rekan kerjanya terus terdengar hingga Emma masuk ke dalam mobil James. "Apartemenku hanya sepuluh menit berjalan kaki dari sini," ucap Emma. Ia baru sadar kenapa tadi ia hanya menurut saja ketika pria ini menggandengnya ke dalam mobil.


James terkekeh sembari tangannya lembut mengelus kepala Emma. "Maaf aku menculikmu." Ia tidak menghentikan mobilnya di depan gedung apartemen Emma. James justru melajukan mobil keluar dari East Harlem.


Emma menatap pria tampan itu keheranan. "James ... apartemenku terlewat," ujarnya.


"Aku tahu."


"Kau ... mau membawaku ke mana?" tanya Emma. Dadanya saat ini sudah bertalu-talu. Baru semalam ia membayangkan semua tentang pria di sampingnya ini, sekarang ia berada di dalam mobilnya, bersamanya.


James menarik sudut bibirnya. "Ke mana saja. Kau mungkin akan menyukainya."


"Tapi ... aku memakai seragam kerjaku."


"Kau terlihat seksi. Aku suka gadis berseragam," ucap James sembari melirik paha Emma yang sedikit terekspos. Emma buru-buru menurunkan rok menutupi pahanya hingga ke lutut. Hal itu membuat James terbahak. Ekspresi malu-malu Emma sungguh menggemaskan.


"Yes."


"Mau menonton live music, sambil minum dan mengobrol?" tawar James.


"Okay." Emma tersenyum tipis melihat penampilannya sendiri. Baju kerja terusan setinggi lutut, stoking, flat shoes vintage andalannya, dan sweater rajut warna merah maroon yang membalut baju kerjanya. Sungguh bukan kostum yang tepat untuk menonton pertunjukan. Begitu timpang dengan penampilan James yang rapi, dan tentu saja semua yang melekat di tubuhnya adalah barang mahal dan bermerk.


James mengajaknya ke rooftop sebuah hotel di Central Park. Di sana, ada sebuah executive lounge dengan pemandangan senja indah sungai Hudson dan gedung-gedung pencakar langit Manhattan di seberang. Sepertinya hanya orang-orang tertentu yang boleh masuk ke dalam lounge. Emma melihat semua pengunjung berpakaian fancy dan terlihat kaya. Hanya dirinya saja makhluk yang paling tidak cocok berada di sana. Bahkan penampilan para pelayan Lounge jauh lebih mewah dibanding dirinya.


"Kita duduk di sini." James menggandeng tangan Emma dan membawanya ke meja yang menempel dengan pembatas kaca di pinggir lounge. Dari sana, sungai Hudson terlihat begitu indah diterangi ribuan lampu. "Bagaimana, Emma? Kau suka tempat ini?"


"Ini ... indah sekali. Baru kali ini aku tahu ada tempat sebagus ini di Manhattan." Emma terkekeh. "Ah tentu saja, ini bukan kelasku," lanjutnya kemudian.


"Aku senang menjadi orang pertama yang menemanimu mengeksplor tempat-tempat bagus di Manhattan."

__ADS_1


Emma tersipu. Kata-kata James sungguh romantis. Bunga-bunga dalam da da Emma mulai bermekaran. "Emma ... ada penampilan spesial malam ini. Kau pasti tahu dia." James menunjuk ke arah belakang Emma tepatnya di sebuah panggung kecil yang saat ini telah terisi oleh dua orang pria yang terdiri dari pemain Lazer Harp dan pemain vocoder canggih dengan tombol digital yang rumit.


Emma seketika terbelalak dan menutup mulutnya yang terbuka saking terkejutnya. Dua pria itu adalah duo electro legendaris dari Perancis, Thomas Bangalter dan Guy-Manuel De Hommem Christo, yang popular dengan nama Daft Punk.


"You're joking (kau bercanda)!" pekik Emma.


"I'm not (tidak)," kekeh James. "Kemari. Duduk di sampingku biar kau bisa menikmati pertunjukan mereka dengan tenang." Ia menepuk-nepuk tempat kosong di sebelahnya meminta Emma untuk duduk di sana.


Seorang pelayan datang membawakan pesanan James bersamaan dengan Emma berpindah tempat duduk di samping pria itu. Dua gelas berisi cairan biru yang menyala ketika tersorot lampu dari arah panggung, dan dua piring caviar nachos, salah satu cemilan termahal di dunia. Dan lagi-lagi, baru kali ini Emma merasakannya.


Semalam Emma membayangkan bagaimana rasanya menjadi kekasih seorang James Howards. Dan hari ini, Tuhan memberinya jawaban.


"You look beautiful, Emma." James yang kini sudah semakin mendekat pada Emma, membisikkan kata-kata pujian di telinga gadis itu. Suara musik yang dimainkan duo Perancis di atas panggung mulai terdengar. Suaranya membantu Emma meredam detak jantungnya.


"Aku tidak ingin membuang waktu, Emma. Aku akan mengatakannya lagi. Aku menyukaimu. Tapi kali ini kau harus menjawabku." James meraih anak rambut Emma yang jatuh di pipi. Ia mendekatkan wajahnya pada wajah gadis itu, namun ia masih memberi jarak. Jika Emma menjawab iya, maka bibir tipis indah itu akan segera dipagutnya.


***


Hannah menepikan mobilnya di seberang hotel berbintang lima di area Central Park. Dadanya berdegup kencang melihat James menggandeng seorang gadis muda masuk ke lobby hotel. Ia memang mengikuti ke mana perginya James. Ia juga tahu James akan menonton penampilan spesial Daft Punk yang legendaris itu di executive lounge yang ada di rooftop. Dan ia berpikir, James pasti mengajak wanita yang sedang diincarnya. Dugaannya tidak meleset.


Rasa memiliki James yang begitu besar mendorong Hannah untuk mempertahankan pria itu tetap berada di sisinya. Ia sudah merenung beberapa hari ini. Pantaskah jika ia melakukan segala cara untuk membuat James tidak berpaling darinya?


Ia bukan wanita jahat. Ia tidak akan melakukan hal-hal memalukan atau menjebak James dan semacamnya.


Hannah akan bertarung secara fair. Maka di sanalah ia, berdiri di depan pintu lounge setelah mengurus izin masuk dengan kartu member tetapnya di bar elite itu. Ya. James beberapa kali mengajaknya berkencan di sana, dan berakhir dengan percintaan panas di kamar hotel.


***


Kulewatkan tidur siangku yang berharga demi update di sini. 🤘🤘🤘

__ADS_1


__ADS_2