BAD BOY OF MANHATTAN

BAD BOY OF MANHATTAN
Bab 79. Merelakan.


__ADS_3

Empat pemuda berambut panjang itu duduk saling berhadapan satu sama lain di ruang tamu studio mereka. Elric duduk di samping Darren, sementara Samuel, yang beberapa waktu lalu terlibat aksi saling pukul dengan Elric, duduk di samping Jacob.


Canggung. Tentu saja. Belum ada di antara keempat pemuda itu yang berniat mengawali pembicaraan. Hingga akhirnya, beberapa saat kemudian, Darren pun mengalah.


"Elric akan kembali ke dalam band," ucap Darren, disambut cibiran Samuel. Sementara Jacob hanya menyimak sambil menghisap rokoknya.


"Yeah, I'm back." Elric menimpali. Ia mengarahkan pandangannya pada Samuel. "Aku minta maaf, Sam. Aku tahu aku brengsek."


"Ya, kau memang brengsek." Samuel berucap. Namun, wajahnya tidak lagi sesinis beberapa saat lalu.


"Ah, ayolah, Teman-teman, kita sudahi saja konflik ini, dan kembali ke rencana semula." Kali ini Jacob angkat bicara.


"Aku setuju," sahut Darren. "Jadi, apa kita sudah sepakat untuk melupakan kekonyolan kita?" kekehnya seraya mengulurkan tangannya, meminta ketiga temannya untuk melakukan hal yang sama.


Elric pun menumpuk tangannya di atas tangan Darren, lalu diikuti oleh Samuel dan Jacob. "Sampai kematian memisahkan kita," kekehnya.


"Okay, kita rujuk kembali." Darren mengangguk-angguk.


"Aku benci mengatakan ini, tapi aku harus mengatakannya. Aku menyayangi kalian." Elric berucap sembari memutar bola matanya.


Ketegangan di antara keempat pemuda tampan itu berangsur memudar. Mereka membangun chemistry kembali dengan melakukan latihan-latihan pasca konflik yang terjadi, dan semakin memahami satu sama lain.


Elric pun kini lebih menikmati keberadaannya sebagai gitaris The Bad Boy Of Manhattan. Ia memutuskan untuk tidak kembali ke sekolah, karena ingin fokus pada karir bermusiknya. Nathan pun menyerahkan semua keputusan di tangan Elric. Ia merasa Elric sudah cukup dewasa untuk memutuskan segala sesuatunya sendiri. Ya, Elric menjadi dewasa setelah ditempa hal-hal yang cukup menguras emosinya.


Bagi Elric, obrolan terakhir dengan sang ayah mampu membuat pikirannya terbuka. Bahwa ada beberapa hal yang tidak bisa ia paksakan karena di luar kuasanya. Terutama tentang Emma. Ia memang telah memutuskan untuk membiarkan Emma menjauh darinya. Toh, mereka sama-sama masih sangat muda, masih memiliki energi yang besar untuk mengejar mimpi-mimpi mereka. Jika suatu saat dirinya dan Emma bertemu kembali, tentu situasinya akan sangat berbeda.


***


Emma meraih tasnya dari atas meja kerjanya dan beranjak dari duduknya. Ia berpamitan pada seorang rekan gurunya dan melangkah keluar ruangan itu. Di koridor ia menyapa beberapa murid saat berpapasan dengannya. Senyumnya mengembang saat sekilas memperhatikan anak-anak didiknya yang saling bergurau satu sama lain, tertawa lepas seperti tiada beban.

__ADS_1


Gadis berambut coklat itu melangkah cepat keluar gedung sekolah dan membelah halaman yang luas. Namun langkahnya terhenti saat melihat sosok tegap berkacamata hitam dengan tubuh dibalut mantel panjang, berdiri di samping mobil mewah, tersenyum ke arahnya.


"Hi, James," sapa Emma. Apa dirinya masih marah pada pria itu? Tidak. Ia sudah melupakan semua yang terjadi dan memutuskan untuk melanjutkan hidupnya.


"Aku datang untuk menjemputmu. Aku harap kau tidak menolakku kali ini." James membukakan pintu mobil untuk Emma. Padahal gadis itu belum menyatakan persetujuannya.


James berusaha mendekati Emma kembali. Ia tidak berhenti mengejarnya meskipun Emma sudah berulang kali mengatakan kalau ia belum ingin berhubungan dengan siapapun. Sudah kesekian kalinya James menjemputnya di sekolah tempatnya mengajar, namun selalu berakhir dengan penolakan.


"Please ...." James meminta dengan wajah memelas.


Emma pun akhirnya mengiyakan ajakan pria itu. Ia masuk ke dalam mobil mewah James dengan malas. Si basis Hellbound itu buru-buru memutari mobil dan duduk di belakang kemudi. Ia mengulas senyumnya sekilas pada Emma sebelum akhirnya melajukan mobilnya meninggalkan area itu.


"Terimakasih sudah bersedia aku antar pulang, Emma."


"Aku tidak mengerti kenapa kau begitu ingin mengantarku pulang?"


"Maaf, James ... aku ingin fokus dengan pekerjaanku sekarang. Aku belum memikirkan tentang hal itu," jawab Emma jujur. Dan rasanya ia tidak ingin berurusan lagi dengan selebritis.


"Tentu, Emma. Tentu. Kita tidak usah terburu-buru. Anggap saja sekarang kita adalah teman."


Emma menghela napasnya berat. James belum juga berubah dengan sifatnya yang selalu sedikit memaksa. Ah, seorang pria jika memiliki harta dan kuasa memang seperti itu. Selalu melakukan segala sesuatunya dengan cara sedikit memaksa.


"Kau tinggal di mana sekarang, Emma?"


"Masih di East Harlem. Tapi aku tidak tinggal lagi di gedung apartemen yang sama."


"Okay ...." James memutar kemudi masuk ke jalan utama Brooklyn. Namun, saat melewati jalan yang seharusnya menuju ke East Harlem, ia tidak memutar masuk ke sana, melainkan menuju ke downtown Brooklyn.


"Sorry, James ... sepertinya kau melewatkan jalan ke East Harlem."

__ADS_1


"Kau punya waktu untuk menemaniku makan siang, bukan? Yeah, memang sudah sedikit terlambat untuk makan siang, tapi perut harus tetap diisi, bukan?" kekeh James dengan santainya. "Makan siang sebagai teman," tegasnya setelah melihat keraguan di wajah cantik Emma.


Emma pun pasrah saat James membawanya memasuki area downtown, dan berhenti di depan sebuah restauran barbeque. James mengambil tempat duduk di luar gedung restauran agar bisa memandang sekitar dengan jelas. Gedung-gedung pencakar langit yang mengelilingi area itu, dan para pejalan kaki yang lalu lalang di sekitarnya.


"Aku pesankan juga untukmu, ya?" ujar James saat seorang pelayan wanita datang menghampiri.


"Tapi, aku belum terlalu lapar."


"Makan sebelum kau lapar itu lebih baik, tidak akan menambah berat badan karena kau tidak akan makan secara berlebihan," ujar James sembari melihat-lihat buku menu yang diberikan oleh si pelayan. "Pineapple orange chicken untuk Nona Cantik ini, untukku grilled brisket with peanut salsa. Dan dua botol bir, please," ucapnya pada si pelayan.


James menatap Emma yang duduk di hadapannya. Gadis itu tampak sedang memandang ke arah jalanan seraya melipat kedua tangan di depan dada.


"Emma ...."


"Ya?" Emma buru-buru melempar pandang ke arah James.


"Apa kau mau memaafkanku?" tanya James.


Emma menangkap arah pembicaraan James. Meminta maaf karena telah mengacaukan hubungannya hubungannya dengan Elric. "What's done it's done," sahutnya seraya mengulas senyum tipis. Memang semua sudah terjadi dan sejujurnya, meninggalkan Elric adalah keputusan yang tepat. Semuanya bisa kembali seperti semula. Hubungan James dan keluarga Bradley, Elric bisa kembali dengan band-nya, begitupun Hellbound tidak akan terpecah lagi.


Emma melempar pandangannya ke arah billboard yang terpampang di sebuah gedung yang ada di hadapannya. Dadanya berdebar saat foto Elric bersama tiga temannya muncul di sana, dengan jadwal konser akan mereka lakukan, dalam waktu dekat ini. Gadis itu mengulas senyumnya. Memang semua sudah kembali seperti semula. Meskipun dirinya harus rajin menghibur diri sendiri, dan terus belajar merelakan semuanya.


***


Mau promo novel baru ah,



Bisa nanya di kolom komentar ini novel ada di mana.

__ADS_1


__ADS_2