BAD BOY OF MANHATTAN

BAD BOY OF MANHATTAN
Bab 47. Apa Pun Untuk Emma.


__ADS_3

"Ya ampun, Elric ... kau pulang." Alya terpekik melihat kehadiran putra semata wayangnya itu di rumah mereka di Greenwich.


Elric tersenyum sambil menghambur pada pelukan ibunya itu. Sudah satu bulan lamanya ia tidak bertemu ibunya. Mereka hanya berkomunikasi sesekali melalui ponsel.


"Where's Nathan? (di mana Nathan)?" tanya Elric seraya mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan, juga ke lantai atas. Ia tidak melihat sosok ayahnya.


"Ada di studio Hellbound, belum pulang sejak kemarin. Mereka sedang mengerjakan single baru." Alya menuntun putranya menuju ruang makan. Di sana ada Lupita yang sedang menyiapkan makan siang di atas meja. "Temani aku makan siang, ya?" pinta Alya.


Elric mengangguk. Kemudian ia menarik kursi dan mempersilahkan Alya duduk. Sikap gentleman putranya itu membuat wanita itu tersenyum bahagia.


"Hi, Lupita," sapanya pada Lupita sang asisten rumah tangga.


"Hello, Young Man." Lupita membalas salam Elric lalu dibalas lagi oleh pemuda itu dengan senyuman. Elric kemudian melempar pandangannya pada sang ibu yang sedang menyiapkan satu piring menu makan siang untuknya.


"Bagaimana East Harlem? Kau betah tinggal di sana?" tanya Alya.


"Yeah. Cukup menyenangkan." Elric mengunyah potongan dagingnya.


"Sebelum aku menikah dengan ayahmu, aku tinggal di Harlem. Aku paham lingkungan di sana. Kau tidak mengalami kesulitan?"


"Sebelum aku tinggal East Harlem, aku sudah terbiasa membaur di sana. Aku punya banyak teman di sana."


"Ya. Aku tahu. Pesanku, jangan terlibat hal-hal yang bisa mencelakaimu." Wajah Alya tampak cemas.


"Kau tenang saja. Aku bisa menjaga diriku." Elric tersenyum tipis, lalu meraih gelas berisi air putih dan meneguknya. "Aku ... berbagi apartemen dengan Emma ... ehmm ... Miss Lopez, untuk meringankan uang sewa."


Alya menaikkan kedua alisnya. "Miss Lopez tinggal di East Harlem?"


"Ya."


"Ah, bagus sekali. Sekalian saja Miss Lopez bisa melanjutkan kursus kepribadianmu," kekeh Alya. Entah kenapa mendengar nama Emma Lopez yang menjadi flatmate Elric membuat hatinya merasa tenang. Gadis itu bisa mengawasi dan menjaga Elric. Alya berpikir mungkin ia akan menemui Emma dan menitipkan putra semata wayangnya itu padanya.


Elric terkekeh mendengar ucapan ibunya. Emma memang membuatnya bersemangat dalam menjalani hari-harinya. Gadis itu juga yang membuatnya kembali bergairah untuk bermusik.


"Mom ... boleh aku meminta sesuatu?"

__ADS_1


"Yes, El ... apa itu?"


"Aku berencana ingin menjual mobilku."


"Maksudmu, mobil yang ayahmu belikan untukmu sebagai hadiah ulang tahun?"


Elric mengangguk. "Aku ingin membantu teman dan juga menyumbangkan hasil penjualannya untuk panti asuhan serta tunawisma." Ia menerangkan. "Lagi pula aku tidak membutuhkan mobil itu. Aku lebih suka menggunakan subway," lanjutnya.


Mata Alya membulat. Apa wanita itu tidak salah dengar? Ia begitu trenyuh mendengar perkataan Elric. Niat anak lelakinya itu sungguh mulia.


"Bagaimana?" tanya Elric.


"Aku tidak keberatan. Aku justru senang sekali. Aku yakin ayahmu juga tidak akan keberatan." Alya tidak henti-hentinya menyunggingkan senyum. Ia melihat perubahan sikap Elric yang cukup signifikan.


"Kau bisa membantuku menjualnya?"


"Tentu, El, tentu." Alya kembali menyunggingkan senyumnya. Oh, putranya itu tampak berseri-seri. Wajah tampan dan menggemaskannya terlihat hangat. Jauh berbeda dengan beberapa bulan lalu Elric selalu menampakkan wajah dinginnya. Bahkan terhadapnya, ibunya sendiri.


***


Sudah beberapa hari Elric tidak bertemu dengan Ryan dan Michael setelah ia mengundurkan diri dari pekerjaannya di Fat Tony. Kedua sahabatnya itu awalnya protes atas keputusan Elric, namun setelah pemuda itu menceritakan ia bergabung dengan sebuah band di Columbia, mereka pun akhirnya mendukung keputusannya.


"Noah akan bebas beberapa minggu lagi." Ryan memberi kabar.


"Owh, benarkah?" Elric dan Michael bersuara secara bersamaan.


"Yeah ... bebas bersyarat."


Elric meneguk bir dan menghisap rokoknya dalam-dalam. "Nice (bagus)," ujarnya. Noah sudah seperti kakaknya sendiri. Meskipun ia breng sek, tapi pemuda itulah yang mengajarkan pada Elric untuk berdiri dengan kakinya sendiri dan tidak takut atas apa pun yang akan terjadi dalam hidupnya. "Aku tidak sabar menantinya keluar dari penjara," kekehnya.


"Yeah, aku juga," sahut Michael. Ketiganya bersulang untuk kebebasan Noah beberapa minggu lagi.


"Hei, bagaimana rumah tanggamu dengan gadis galak itu, El?" goda Ryan membuat Elric tergelak.


"Biasa saja. Memangnya harus bagaimana? Kami hanya berbagi apartemen," sahut Elric.

__ADS_1


"Tidak ada kemajuan?"


"Kemajuan?"


Ryan mengatupkan ujung-ujung jarinya dan menempelkannya satu sama lain membentuk tanda seperti orang yang sedang berciuman. Elric pun terbahak melihatnya. "Tidak, tidak ... aku tidak berani."


"Kau bercanda." Kini Michael memekik. "Kau menyukai Emma dan tidak berusaha mengambil kesempatan untuk sedikit agresif?"


Elric menggeleng. "Aku masih sayang dengan hidungku."


"Apa Emma memang semengerikan itu?" tanya Michael.


"Semua wanita akan melakukan hal yang sama kalau tiba-tiba ada orang yang menciumnya tanpa izin. Aku bahkan belum mengatakan apa pun tentang perasaanku padanya."


"Kau belum mencobanya, bukan? Lagi pula kalian sudah saling kenal dan tinggal dalam satu apartemen." Ryan mengungkapkan pendapatnya.


"Sepertinya Erlic hanya akan terjebak dalam friend zone," gelak Michael.


Elric menggaruk rambut semi ikalnya. Meskipun ide kedua sahabatnya itu terdengar konyol, tapi ia tergelitik untuk mencobanya. Bagaimana kalau mencium Emma saat gadis itu sedang tidur?


***


Elric pelan membuka pintu apartemen. Ruang tamu tampak sepi. Tapi ia melihat sweater Emma sudah tergantung di sudut ruangan. Artinya, Emma sudah pulang kerja. Ragu-ragu ia melangkahkan kakinya menuju pintu kamar gadis itu dan mengetuknya pelan.


Tidak ada jawaban apa pun setelah beberapa saat ia mengetuk pintu bercat abu-abu itu. Ia menekan handle pintu dan membukanya. Rupanya Emma tidak mengunci pintu kamarnya.


Elric menatap Emma yang sedang tertidur lelap di atas ranjangnya. Jam menunjukkan pukul sebelas malam. Tentu saja jam tidur Emma sudah tiba sejak satu jam lalu.


Ia mendekati ranjang Emma dan duduk dengan hati-hati di tepiannya. Beberapa saat ia memperhatikan wajah damai gadis yang sedang berada di alam mimpi itu. Cantik, manis, menggemaskan. Begitulah pemandangan yang terpampang di depan mata Elric.


Ia menatap bibir tipis Emma yang bersemu merah. Entah karena lipstik yang belum sempat gadis itu bersihkan atau memang warna natural bibir Emma memang seperti itu. Ia ragu-ragu mendekatkan wajahnya pada wajah Emma. Tapi, ia ingin merasakan bibirnya menyentuh bibir gadis berambut panjang itu.


Perse tan! Elric akan mencium Emma sekarang juga. Namun, belum bibirnya sempat mendarat di tujuan, Bugggh.


Tangan Elric seketika menangkup hidungnya yang terhantam sesuatu. "Auuch!" pekiknya.

__ADS_1


"Elric! What are you doing (apa yang kau lakukan)?!" Mata Emma kini sudah membulat sembari tangannya terkepal hendak melancarkan satu pukulan lagi. Ia mengurungkan niatnya untuk menghadiahi satu bogem mentah di wajah seseorang yang hendak menyentuhnya itu. Tadi ia terbangun oleh hembuskan napas segar yang menerpa wajahnya.


***


__ADS_2