
Emma merapatkan sweaternya menghalau udara dingin yang menusuk hingga ke tulangnya. Ia mengimbangi langkah cepat Elric menuju toko musik yang berada di ujung jalan East Harlem. Ia menguap beberapa kali. Rasa kantuk masih menyerangnya. Pikir Emma, Elric ini keterlaluan sekali. Ia bahkan belum mandi dan masih memakai piyama.
Tapi, dilihatnya pemuda itu begitu bersemangat memilih gitar akustik di dalam toko. "Kenapa membeli gitar akustik?" tanya Emma. Ia membaca merk-merk gitar yang semua tampak asing di matanya.
"Aku mau menitipkannya di apartemenmu." Elric menyahut sambil mengambil satu gitar akustik berwarna cokelat tua dan membawanya ke ruang percobaan untuk memeriksa kualitasnya.
"Apa maksudmu menitipkannya di apartemenku?" tanya Emma yang kini telah duduk di samping Elric.
Elric hanya meringis saja tanpa menjawab pertanyaan Emma. Pemuda itu sibuk menyetem tuning page gitarnya. "Setidaknya ini merk terbaik dari harga yang termurah," ucapnya.
Emma melihat price tag berupa sticker kecil bulat di badan gitar. Seribu lima ratus dollar. Gadis itu mencebik. "Kau punya uang sebanyak itu?" tanyanya.
"Tentu saja punya." Erlic menggenjreng gitarnya. Alisnya mengerut ketika mendengar ada satu nada yang tidak sesuai.
"Hasil menjual cannabis?" tuduh Emma.
Kembali Elric meringis. Ia masih sibuk mengutak-atik gitarnya hingga pakem. Lalu sekali lagi ia menggenjreng gitarnya dan tersenyum senang.
"Berapa alat musik yang bisa kau mainkan?" tanya Emma.
"Ada beberapa. Gitar, piano, biola. Ibuku yang mengajarkan biola padaku."
Emma manggut-manggut. "Kenapa tiba-tiba kau ingin bermain musik lagi, El?"
Elric menoleh ke arah Emma, menghentikan permainan gitarnya. "Aku sudah menemukan alasanku bermain musik lagi."
"Oh ya? Apa itu?"
Elric mendekatkan wajahnya pada Emma membuat gadis itu terkesiap. Ia memandang Emma dari jarak dekat. "Rahasia." Senyum jahilnya tersungging.
Emma mendesis sambil memukul bahu Elric pelan. "Kau belum menjawab pertanyaanku, El!" gerutunya.
"Which one (yang mana)?" tanya Elric.
__ADS_1
"Kenapa ingin menitipkan gitar di apartemenku?"
Elric menggaruk kepalanya. "Agar aku tidak bosan kalau menginap di apartemenmu."
Emma membulatkan kedua mata indahnya. "Memangnya kau berencana akan sering menginap di apartemenku?" tanyanya.
"Mungkin."
Emma mengelus dagunya. Sejujurnya ia berniat mencari flatmate untuk berbagi biaya sewa apartemen. Tiba-tiba saja ide menawari Elric untuk menjadi flatmatenya muncul di benaknya. "Aku sedang mencari flatmate. Terlalu berat untukku membayar biaya sewa apartemen seorang diri. Bagaimana kalau kau saja? Dari pada aku mendapat partner yang tidak aku kenal sama sekali."
"Are you serious (kau serius), Em?" tanya Erlic gembira.
"Kalau kau mau. Kalau kau tidak mau, aku terpaksa memasang iklan di Shareroom.us."
"Aku mau!" seru Elric. Ia memang berencana untuk keluar dari Greenwich. Namun, karena penghasilannya belum cukup untuk menyewa apartemen dan biaya sekolah, ia harus menundanya.
"Memangnya kau juga serius ingin tinggal tanpa orang tuamu?"
"If you say so (kalau menurutmu begitu)."
Elric beranjak dari duduknya lalu membawa gitarnya ke meja kasir. Setelah menyelesaikan pembayaran, ia mengajak Emma untuk pulang ke apartemennya.
"Tapi, kamar yang satunya cukup sempit." Tiba di apartemennya, Emma menunjukkan kamar sempit di sebelah kamarnya. Ia menggunakannya untuk menyimpan barang-barang yang sudah tidak terpakai.
"Aku tidak punya masalah dengan itu," sahut Elric.
Emma mengangkat tangannya. "Seribu lima ratus dollar satu bulan. Kita bagi dua."
"Deal." Elric menjabat tangan Emma.
"Aku akan membersihkannya terlebih dahulu sebelum kau pindah kemari. Aku juga akan membuat aturan-aturan. Kita bisa mendiskusikannya nanti."
Elric tersenyum gembira. Ia tidak menyangka Emma menawarinya menjadi flatmatenya. Ini benar-benar sesuai dengan harapannya. Ia akan bertemu Emma setiap hari.
__ADS_1
***
Nathan dan Alya menatap Elric yang sedang duduk di hadapan mereka. Keduanya menunggu sang putera mengutarakan maksudnya.
"Aku ingin keluar dari rumah ini." Elric membuat kedua orang tuanya saling pandang. Ia sudah pernah mengungkapkannya pada Nathan beberapa minggu yang lalu. Meskipun tanggapannya negatif.
"How (bagaimana caranya)?" tanya Nathan. Sementara Alya hanya terdiam dengan perasaan gundah.
"Easy. I pack my bag and get out of here (Mudah. Aku berkemas dan pergi dari sini)." Elric menjawab asal.
"Aku tahu itu, Elric. Maksudku ... bagaimana kau akan hidup sendiri di luar sana? Kau pasti tidak mau menerima fasilitas apa pun yang aku berikan, bukan?" Nathan membandingkan Elric dengan dirinya sendiri. Dahulu, kurang lebih ketika ia seumur Elric, ia nekad pergi dari rumah orang tuanya dan menolak semua yang diberikan oleh Richard, ayahnya. Kini, anak lelaki satu-satunya itu rupanya mengikuti jejaknya. Itu yang membuatnya gamang. Akhirnya, ia merasakan apa yang dirasakan orang tuanya dahulu.
"You don't have to worry about that, Dad (kau tidak usah khawatir tentang itu, ayah)."
Nathan menoleh ke arah Alya yang diam seribu kata. Wanita itu sedang bergulat dengan pikirannya sendiri. Sebagai orang Asia, tentu saja melepaskan anak keluar dari rumah untuk hidup mandiri membuatnya was was dan tidak tenang. Tapi, ini Amerika. Sejujurnya Alya tahu dan mengerti, hal itu sangatlah wajar. Bahkan ada banyak keluarga yang terang-terangan mengusir anak mereka yang sudah cukup umur. "Kau akan tinggal di mana?" tanya Alya lirih.
"Tempat yang aman."
"Apa kau masih mau bertemu denganku jika kau keluar dari rumah ini?"
"Oh, come on, Mom ... don't be so melodramatic (ayolah, ma ... tidak usah drama)." Elric memutar kedua bola matanya.
"Jawab saja, Elric!" seru Alya. Ia tampak emosional.
"Sure, sure, Mom ... you're important for me (tentu, tentu, ma ... kau penting untukku)."
Alya menghambur ke arah Elric dan memeluk puteranya itu erat-erat. Menciumi pipinya dengan gemas layaknya balita, lalu memeluknya kembali. "Is it a yes (apa ini berarti kalian mengizinkan)?" tanya Elric. Ia menatap ayah dan ibunya secara bergantian.
Nathan menghela napasnya dalam-dalam. Ia teringat pembicaraannya dengan Ben Chevalier di Rochester. Front man The Rebellion itu mengatakan bahwa ia membiarkan saja Darren Chevalier melakukan apa pun yang ia mau. Bahkan meninggalkan dunia musik yang sudah didokrin sejak kecil. Ia pun kembali membandingkannya dengan dirinya sendiri dahulu. Betapa pemberontaknya ia semasa remaja. Elric adalah cerminan dirinya di masa lalu. Nyatanya, ia bisa sesukses ini sekarang, meskipun perjuangan yang ia lalui tidaklah mudah. "Kalau itu yang kau mau, El. Aku hanya bisa berpesan, hati-hati dan fokuslah pada apa pun yang ingin kau lakukan. Dan ingat, kalau kau butuh bantuan, kau tahu harus pergi ke mana," ucap Nathan sembari membuka kedua tangannya. Mengisyaratkan kalau Elric bisa mengandalkannya kapan pun ia butuh bantuan.
Elric menarik sudut bibirnya. Baru kali ini ayahnya itu sangat bijaksana dan diplomatis. Mungkin Nathan Bradley tidak terlalu buruk.
***
__ADS_1