
HUNTER SCIENCE HIGH SCHOOL, MANHATTAN.
"Welcome back (Selamat datang kembali), Elric." Dua orang gadis cantik yang berpapasan dengan Elric di koridor menyapa dengan senyum termanis mereka. Namun, Elric hanya melirik mereka sekilas tanpa menyahut. Hanya Michael dan Ryan yang sibuk menggodai keduanya.
Ini hari pertama Elric kembali ke sekolah umum setelah beberapa bulan menjalani kursus kepribadian dengan Mrs. Becky Sanders. Ia tidak mengerti kenapa tiba-tiba ayahnya mengembalikannya ke sekolah umum, padahal beberapa hari lalu ia masih membuat masalah hingga mendapat luka di pelipisnya.
"Clara dan Ashley ... gadis-gadis cantik yang malang," kekeh Michael.
"Kenapa?" tanya Ryan.
"Tidak pernah terlihat di mata Elric." Michael tergelak sambil menyikut lengan Elric yang sedang memasuki kelas.
"Aku sudah bilang semua gadis di sekolah ini penjilat. Kalau mereka tahu aku miskin, pasti mereka tidak peduli padaku," ujar Elric seraya menarik kursinya.
"Miskin? Kau sedang bercanda, ya?" tukas Ryan.
Elric mengedikkan bahunya. Lalu perhatiannya beralih pada seorang guru pria yang baru saja masuk ke dalam ruang kelas. "Welcome back, Elric (Selamat datang kembali, Elric)," sapanya.
Elric melambai sekilas dibarengi dengan senyum tipisnya. Guru itu lalu memulai pelajaran fisikanya. Yang Elric ambil pertama kali masuk ke sekolah ini dua tahun lalu memang kelas science. Pikirnya saat itu, ia ingin jauh-jauh dari musik, sehingga ia melibatkan dirinya dengan sesuatu yang berlawanan. Setidaknya atmosfirnya akan berbeda. Setidaknya ia tidak akan menemui jejak ayahnya di sana.
Namun, hal utama yang menjadi fokusnya sekarang ini adalah, bagaimana ia bisa membiayai sekolahnya sendiri tanpa campur tangan Nathan. Gajinya bekerja dengan Fat Tony cukup tinggi jika dibandingkan dengan upah pekerja restauran atau buruh lainnya. Tapi, tentu saja belum cukup untuk membiayai dirinya sendiri hidup di Manhattan yang terkenal dengan biaya hidup selangit. Menyewa apartemen dan membiayai sekolahnya mungkin belum mampu ia lakukan. Bahkan menyewa apartemen di East Harlem yang kumuh saja bisa membuat seseorang dengan kantong pas-pasan kelimpungan. Tapi, Emma bisa melakukannya. Padahal gadis itu hanya bekerja di restauran kecil.
Emma. Teringat obrolannya dengan gadis itu dua hari lalu, Elric tersenyum sendiri. Ia mendengarkan curahan hati Emma tanpa menyela. Hatinya bahkan terasa perih ketika gadis itu mengungkapkan semua yang sudah dialaminya. Elric bahkan terbawa suasana ingin selalu berada di samping Emma sehingga ia berani mengungkapkan perasaannya, meskipun dengan kata-kata yang tidak tertata. Untung saja saat itu Emma berada di bawah pengaruh alkohol sehingga tidak terlalu bisa mencerna kata-katanya.
***
MANHATTAN DETENTION COMPLEX, MANHATTAN.
Ruangan yang cukup luas itu terdiri dari sepuluh kursi berwarna jingga yang terpisah dan masing-masing berhadapan dengan empat kursi warna biru dengan meja putih di tengahnya. Semua kursi terisi dengan penghuni penjara dan pengunjung mereka. Termasuk Elric, Michael, dan Ryan yang sedang mengunjungi Noah.
Noah tersenyum lebar ketika Elric menyodorkan satu bungkusan besar berisi satu pack rokok dan beberapa kaleng bir. "Aku sangat membutuhkan ini, thanks, El," ucapnya senang.
"Bagaimana kabarmu, Noah?" tanya Elric.
"Excellent (luar biasa)," sahut Noah dengan senyum lebarnya. Entah ia sedang menyindir dirinya sendiri, atau memang ia baik-baik saja di balik jeruji besi.
"We miss you (kami merindukanmu)," ucap Ryan dengan wajah sedihnya. Ia dan sang kakak memang dekat dan selalu melakukan apa pun bersama-sama.
__ADS_1
Noah terkekeh. "Jangan cengeng, Lil Bro (dik)!" ujarnya sambil menepuk keras pundak sang adik. "Aku akan keluar beberapa bulan lagi."
"Jadi hukumanmu tidak dua tahun?" tanya Michael.
"Vonis dua tahun, masa percobaan tujuh bulan. Karena aku berkelakuan baik, yeah ... aku akan keluar lebih cepat. Tapi, sebenarnya Fat Tony yang mengurus semuanya," kekeh Noah. "Ada kabar apa di East Harlem? Kabar baik? Kabar buruk?"
Elric mendecak. "Fordham Fire selalu membuat ulah. Mereka tidak terima kita menginjakkan kaki di Bronx. Aku pikir mereka terlalu serakah. Mereka saja seenaknya berjualan di sebagian East Harlem yang seharusnya menjadi wilayah Fat Tony."
Noah menggeleng. "Tidak bisa dibiarkan. Tunggu sampai aku keluar akan kubuat perhitungan dengan mereka." Ia mengepalkan telapak tangannya geram. Noah adalah orang kepercayaan Fat Tony, ketua gangster yang disegani di East Harlem.
"Pekerjaan kami cukup bagus. Fat Tony membayar kami dengan layak," kata Ryan.
Noah pun mengangguk-angguk. "Dia bos yang tidak pelit. Tapi, jangan sampai kalian melakukan kesalahan atau berkhianat. I'ts gonna be bad (akan buruk akibatnya)." Ia memperingatkan ketiga pemuda itu.
Terdengar suara pengumuman dari sebuah speaker bulat memanjang yang berada di sudut ruangan, bahwa waktu berkunjung telah habis. Elric dan kedua sahabatnya pun berpamitan pada Noah setelah saling memeluk dengan pelukan persaudaraan.
***
Emma keluar dari pintu restauran sambil mengerutkan kening melihat Elric yang sedang berdiri di bawah pohon yang tumbuh di trotoar. Ia menyunggingkan senyum tipisnya sambil menghampiri pemuda itu. "Sedang apa di sini?" tanyanya.
"Menunggumu," jawab Elric
Elric meringis. "Mungkin."
Emma memutar kedua bola matanya. Anak ini memang random. "Dari mana kau?" tanyanya sambil berjalan di sebelah Elric.
"Pulang sekolah dan mengunjungi Noah di penjara."
"Owh, kau sudah mulai masuk ke sekolah umum?"
"Yeah."
Emma mengangguk-angguk. Namun sejurus kemudian ia menghentikan langkahnya dan memukul pelan lengan Elric. "Kenapa kau masih berhubungan dengan Noah. Si breng sek itu yang membuatmu celaka!" hardiknya kesal.
"Brotherhood (persaudaraan)," jawab Elric lugas.
"Kapan dia keluar dari penjara?"
__ADS_1
"Beberapa bulan lagi."
Emma mendecak sebal. Raut wajahnya menunjukkan ketidaksukaannya dengan hubungan paling tidak menguntungkan yang dilakukan Elric dengan Noah. "Dia akan membawamu pada masalah lagi, El," protesnya.
"Dia tidak seburuk yang orang-orang pikir, Em."
Emma mendesis. Ia sama sekali tidak percaya kalau Noah mempunyai sisi baik. Reputasi pemuda itu sudah sangat buruk di East Harlem.
"Tapi aku berjanji padamu, Em ... aku tidak akan membuat masalah," kata Elric dengan wajah serius.
Emma terbahak. "Dasar bodoh! Kenapa kau berjanji padaku? Berjanji saja pada dirimu sendiri," ujarnya seraya menoyor kening Elric.
Elric menggaruk kepalanya sambil meringis. Aku berjanji padamu karena kau penting bagiku, Emma.
"Emma ... apa kau ingat apa yang aku ucapkan malam itu padamu waktu kita minum anggur?" tanya Elric dengan hati berdebar kencang.
Emma mengerenyitkan keningnya. "Memangnya kau bicara apa?" tanyanya.
"Owh, forget it (lupakan saja)." Elric bernapas lega. Emma memang tidak memperhatikan ucapannya malam itu.
Keduanya berhenti di depan gedung apartemen Emma. "Pulang sana, El ... jangan berkeliaran di sini," pintanya.
"Masih ada pekerjaan yang harus aku selesaikan," jawab Elric seraya duduk di atas pagar pembatas gedung apartemen dan trotoar.
Emma menghela napasnya. "Just be careful, El (berhati-hatilah, El)."
Elric tersenyum senang. "Kau mengkhawatirkanku, Emma?"
"Kind of (semacam itu)."
"Kenapa?"
"Because you're a lost boy. I pity you (karena kau anak yang tersesat. Aku kasihan padamu)," gelak Emma membuat Elric memanyunkan bibirnya. "See you, Elric (sampai jumpa, Elric)," ucap Emma seraya melangkah masuk ke dalam apartemen.
Elric tidak menahan Emma meskipun ia masih ingin menghabiskan waktu dengan gadis itu. Ia menarik sudut bibirnya. Mungkin jika ia tetap bergabung dengan Fat Tony, ia akan mendapat perhatian Emma karena gadis itu mengkhawatirkannya. Meskipun alasan Emma karena kasihan padanya.
***
__ADS_1