BAD BOY OF MANHATTAN

BAD BOY OF MANHATTAN
Bab 55. And The Party Begins.


__ADS_3

"Kenapa tidak bilang padaku kalau kau ada wawancara pekerjaan?" James masih fokus ke jalanan karena ia tidak menggunakan outopilot untuk melajukan mobilnya. Di sampingnya, duduk Emma dengan hati yang kacau. "Aku bisa menemanimu."


"Aku tidak mau mengganggu kesibukanmu," sahut Emma memberi alasan. Alasan yang ia buat-buat. Pada kenyataannya, ia lebih senang Elric yang menemaninya.


"Lagi pula, Emma ... kalau kau mau tinggal bersamaku, kau tidak perlu bekerja. I'll support you financially (aku akan menyokong hidupmu)," ujar James.


"Tidak. Aku bukan tipe wanita yang hanya mengandalkan laki-laki untuk masalah finansial."


James menghela napasnya berat. "I'm sorry, I didn't intend to offend you (maaf, aku tidak bermaksud menyinggungmu)," ucapnya seraya meraih tangan Emma dan menggenggamnya. Sementara satu tangannya yang lain masih memegang kemudi. "I love you and I will give anything to make you happy (aku mencintaimu dan aku akan memberikan apa saja agar kau bahagia)."


Emma menelan salivanya untuk membasahi tenggorokannya yang terasa kering. Ia menatap James yang sekilas sedang menoleh kepadanya dan tersenyum. Apa yang salah dengan pria tampan dan mapan ini sehingga hati Emma tetap saja meragu?


"Boleh aku mengungkapkan pendapatku?" ucap James.


"Yeah. Tentu."


"Tentang kau dan Elric yang tinggal satu atap. Sepertinya aku tidak nyaman dengan itu. Apakah ada kemungkinan kau akan pindah dari apartemen itu dalam waktu dekat ini?"


"Kenapa ... kau merasa terganggu dengan itu, James?"


James menepikan mobilnya di sebuah area taman kota yang sepi. Ia lalu memosisikan badannya menghadap ke arah Emma. "Begini, Emma ... bagaimana perasaanmu kalau aku tinggal satu atap dengan seorang wanita, meskipun kami hanya berteman?"


"Elric is your godson, for god's sake (Elric itu anak baptismu, ya ampun)!" ucap Emma setengah berseru.


"I know, Emma, I know!" seru James seraya mengacak rambutnya kasar. "But he likes you, Emma, he likes you!"


Emma menggeleng. "Bullshit (omong kosong)!"


James mendesis. "Oh, come on, Emma ... I'm not stupid. I can see that (Yang benar saja, Emma ... aku tidak bodoh. Aku bisa melihatnya)." Emma menunduk. Gadis itu tidak tahu harus menanggapi apa kata-kata James.

__ADS_1


"Aku bisa membelikanmu apartemen yang lebih layak jika memang kau belum mau tinggal bersamaku, Emma."


"Tidak. Tidak perlu," sergah Emma. Ia tidak mau pindah dari apartemennya yang sekarang. Ia sudah merasa nyaman. Atau mungkin ada Elric yang membuatnya nyaman. Ah, Emma bingung dengan pikirannya sendiri.


James menghembuskan napasnya kasar. Ia menggelengkan kepala pelan. "Do you have crush on him (kau suka dia, ya)?"


"Who? Elric?" tanya Emma gugup. James mengangkat kedua tangan. Mengiyakan pertanyaan Emma.


Emma tidak suka diserang seperti itu. Ia tidak suka dituduh. Lebih tepatnya, dipaksa mengakui sesuatu yang mungkin benar adanya.


"Jawab, Emma!" James yang tidak sabar mendengar jawaban Emma sedikit menaikkan nada suaranya. Namun, demi melihat gadis itu terkejut dengan sikapnya yang sedikit keras padanya, James melembutkan suaranya. "Dengar, Emma ... aku tidak cemburu pada Elric. Mungkin ini hanya bagian dari rasa frustrasiku karena kau tidak kunjung membuka hatimu padaku." Tangannya lembut merapikan anak-anak rambut Emma yang jatuh di pipi. "Maafkan aku, Sayang." James meraih dagu Emma dan mendekatkannya pada wajahnya. Namun, niatnya untuk memagut bibir itu ia urungkan. Akhirnya, James menarik Emma ke dalam pelukannya dan hanya menciumi ujung kepala gadis itu.


"I'm afraid to lose you, Emma. That's all (aku takut kehilanganmu, Emma. Hanya itu)."


Emma memejamkan matanya. Segalanya terasa rumit. Semakin lama ia merasa begitu enggan membuka hati untuk pria yang sedang mendekapnya ini. Tapi, James begitu baik padanya. Bohong jika ia tidak bisa merasakan betapa pria ini begitu mencintainya.


***


"Aku rasa mereka tidak akan menyetir kita. Mereka suka musik kita dan tahu prospek ke depannya," ujar Samuel.


"Omong kosong." Darren kembali menimpali.


"Tidak ada salahnya mencoba, bukan?" Jacob mencoba menengahi.


Darren menghembuskan napasnya kasar. Ia benar-benar tidak suka band yang ia bentuk beberapa tahun silam atas nama idealisme, harus disentuh oleh industri. Ia ingin Bad Boy Of Manhattan, sukses tanpa campur tangan orang-orang yang hanya ingin mengambil keuntungan saja.


"Sudah berapa tahun band ini hanya jalan di tempat, Darren. Aku mulai merasa jenuh. Kau dan prinsipmu itu menghambat proses kita untuk dikenal banyak orang?" ucap Samuel.


Darren membulatkan matanya mendengar penuturan Samuel. "Kau mulai menjadi poser sekarang, Sam?!" Ia sedikit meninggikan nada suaranya.

__ADS_1


Samuel mendesis. "Aku mencoba untuk mengerti selama ini, Darren. Mengabaikan kalau Ben Chevalier ayahmu yang bisa dengan mudah membawa band kita ini menuju puncak. Dan sekarang, kita punya kesempatan untuk maju, tapi kau mengabaikannya. You're just an idealist freak (kau hanya seorang maniak idealist)!" maki Samuel.


"Wow! Kalau kau tidak senang, silahkan hengkang dari band ini!" tantang Darren.


"Tidak masalah untukku!" Samuel menimpali cepat.


"Hei, hei! Tenanglah kalian berdua. Kita bisa membicarakan ini dengan kepala dingin." Elric yang sejak tadi hanya menyimak kini angkat bicara.


Samuel mencibir. "Kau juga sama dengan si brengsek ini." tunjuknya pada Elric. "Stupid freak! Idiot!" makinya di depan muka pemuda itu.


Elric hampir saja melayangkan bogem mentahnya ke wajah Samuel kalau saja Jacob tidak menahannya. "Oh, Come on, Guys. Kita bisa membicarakan ini dengan baik-baik," ucapnya. "Ayolah, Darren," pintanya pada Darren.


"I need some fresh air (aku butuh udara segar)," ujar Darren seraya menyambar jaketnya dan melangkah keluar dari studio membawa kekecewaannya terhadap ucapan-ucapan Samuel.


"I'm gonna talk to him (aku akan bicara dengannya)." Elric menatap tajam pada Samuel sekilas disambut dengan desisan pemuda itu. Lalu ia melangkah keluar mengejar Darren.


Di luar gedung, Elric mendapati Darren tengah menyandarkan punggungnya di dinding pembatas bangunan apartemen dan trotoar, sambil menghisap rokoknya.


"Kau baik-baik saja?" tanya Erlic seraya mengambil sebatang rokok yang ditawarkan oleh Darren.


Darren menghembuskan asap rokok ke udara. Pemuda itu mengangkat kedua tangannya pasrah. "Samuel was finally show his true colors (Samuel akhirnya memperlihatkan sifat aslinya). Kalau kau tahu maksudku," kekehnya.


"Dia tidak akan mengerti apa yang kita rasakan. Tidak akan pernah mengerti, Darren." Elric menghisap rokoknya dalam-dalam. Menikmati pergerakan asap dari rongga mulut melewati hidungnya. "Mungkin juga dia memang sedang jenuh. Give him sometimes (beri dia waktu)." Elric mencoba mengerti melihat masalah dari dua sisi. Meskipun tadi ia sangat tersinggung dengan ucapan Samuel.


Darren mendesis pelan. "Music label my a*s (label musik apanya)!" umpatnya kesal. "Aku sama sekali tidak berniat untuk menjadi budak mereka. I say we stay underground, so we stay underground (aku bilang kita tetap berada di jalur bawah tanah, ya kita berada di jalur bawah tanah)!" tegasnya.


Elric menyunggingkan senyum tipisnya. Darren adalah cerminan dirinya. Sama-sama anak rockstar ternama, sama-sama idealist dan keras kepala, mungkin.


***

__ADS_1


__ADS_2