BAD BOY OF MANHATTAN

BAD BOY OF MANHATTAN
Bab 33. Part Of My Body.


__ADS_3

HUDSON YARDS, MANHATTAN.


"Do you love me (apa kau mencintaiku)?" Hannah membuat pola-pola acak di dada James dengan jemarinya.


"Aku tidak tahu apa itu cinta. Maksudku, belum tahu." James melipat kedua lengan ke bawah kepalanya. Membiarkan Hannah memperlakukan dadanya seperti sebuah kertas gambar.


"I love you, James ... I always do (aku cinta kau selalu, James)," ucap Hannah. Namun suara lirihnya terdengar putus asa.


James menghela napasnya berat. Wajah manis Emma melintas di benaknya. Ada apa dengan gadis itu sehingga ia begitu tertarik dengannya. Emma seperti magnet. Emma misterius. Emma membuatnya penasaran. Ia ingin menyaksikan tubuh indah di balik pakaian-pakaian old fashion itu. James bosan dengan wanita-wanita yang dengan suka rela menyerahkan diri padanya untuk ditiduri.


"I'm gonna die if you leave me (aku akan mati kalau kau meninggalkanku)," bisik Hannah seraya mendusalkan kepala ke leher James.


Kali ini James merasa terjebak dengan perasaan bersalahnya pada Hannah. Ia membiarkan wanita itu memupuk harapan tinggi atas dirinya. Awalnya, James tidak mempermasalahkan semua itu. Karena mungkin, ada peluang, walaupun kecil, kalau ia akan melanjutkan hubungannya ke jenjang yang lebih serius. Itu, sebelum ia bertemu dengan Emma. Lagi-lagi Emma. Gadis itu membuatnya mabuk.


"Hannah ...."


"Aku tahu ... aku tahu ... tidak seharusnya aku berkata seperti itu. Tapi, tolong jangan tinggalkan aku, James ...."


James menatap wajah cantik yang bersandar di dadanya itu. Cantik bagai dewi, namun tidak mampu menumbuhkan bunga-bunga yang bermekaran dalam hatinya, lengkap dengan kupu-kupu yang beterbangan. Mungkin ia hanya pria breng sek yang naluri kelelakiannya mengalahkan akal sehatnya sendiri. Hannah, kemolekannya membuatnya bergairah. Tapi cinta? Tunggu dulu.


Kenapa Hannah akhir-akhir ini menjadi melankolis? Tentunya karena sentuhan James berbeda dari sebelumnya. Rasanya, wanita itu tidak lagi merasakan adanya gairah membara di setiap permainan ranjang mereka. Hannah tahu, James sedang menyukai seseorang. Tapi, Hannah mencoba menutup mata. Yang terpenting, James tidak meninggalkannya. Itu saja yang ia minta. Bodoh? Anggap saja begitu. Cinta memang menyumbat akal sehat untuk selalu berpikir jernih.


"I gotta go, Hannah (aku harus pergi, Hannah)," kata James seraya menggeser badannya agar terlepas dari rengkuhan Hannah. Ia beranjak dari ranjang dan melangkah menuju kamar mandi.

__ADS_1


Hannah terdiam di balik selimutnya. Ia memikirkan sesuatu. Haruskah ia tetap menutup mata? Menunggu sampai saat James mencampakkannya? Atau ia harus tetap mempertahankan posisinya.


Aku harus melakukan sesuatu.


Siapa wanita yang sedang disukai oleh James?


***


"F uck! It hurts so bad (Sia lan! Sakit sekali)!" umpat Elric seiring jarum tajam dari mesin perajah menggores kulit punggungnya.


"Don't be such a cry baby, El (jangan cengeng, El)," kekeh pria berambut biru dengan wajah penuh tattoo yang sedang merajah punggung Elric yang mulai menampakkan otot-otot khas pria dewasanya.


"F uck you, Kyle (Sia lan kau, Kyle)!" umpat Elric pada pria bernama Kyle itu. Ia meringis menahan sakit yang teramat sangat dan tiada henti menyerang punggungnya.


Sepuluh menit kemudian, sebuah lukisan gadis bermahkota duri dengan sayap malaikat yang melebar ke kanan dan kiri sampai ke kedua bahu Elric, terlihat sempurna. "Voila." Kyle berucap setelah tugasnya menggambar punggung Elric selesai.


Elric bernapas lega. Sakit yang selama hampir lebih dari tiga jam dideritanya akhirnya berganti dengan rasa segar cairan disinfectant yang dibalur oleh Kyle ke punggungnya. "Sudah beres?" tanya Elric.


Kyle mengambil ponsel dan mengambil foto hasil tattoonya lalu memperlihatkannya pada Elric. "Nice (bagus sekali)," ujar Elric senang.


"Who is she (siapa gadis ini)?" tanya Kyle.


Elric menggaruk kepalanya sambil terkekeh. "My special one (seseorang yang spesial dalam hidupku)," jawabnya malu-malu.

__ADS_1


"I see (oh, begitu)." Kyle membenahi peralatannya dan melambai pada Elric yang berpamitan padanya.


Keluar dari studio tattoo milik Kyle yang masih berada di area East Harlem, Elric berjalan dengan riang menelusuri trotoar menuju stasiun bawah tanah. Ia memutuskan pulang ke Greenwich untuk beristirahat karena ia yakin punggungnya akan mengalami penyesuaian dengan tinta-tinta yang masuk ke dalam pori-porinya.


Keputusannya membubuhi tattoo di tubuhnya bukan karena ia mengikuti ayahnya. Namun lebih kepada, simbol bahwa ia sudah dewasa sekarang. Seperti anak-anak remaja dalam beberapa suku traditional di dunia yang diwajibkan merajah tubuhnya ketika menginjak usia dewasa.


Rumahnya di Greenwich tampak lengang. Ia tidak melihat Nathan atau pun Alya di mana-mana. Hanya ada Lupita yang sedang mengurus laundry. Pablo pun tidak terlihat. Artinya, kedua orang tuanya sedang berada di luar kota.


"Mereka sedang berada di Rochester. Berangkat dua jam yang lalu. Kata mereka kau tidak membalas pesan atau pun mengangkat telpon mereka. Jadi, mereka menitipkan pesan padaku." Begitu keterangan Lupita.


"Acara apa?"


"Sebuah pesta, sepertinya."


"Mereka menginap?"


"Yeah, kurasa."


Elric mengangguk lalu masuk ke dalam kamarnya dan membaringkan badan di atas ranjang empuknya. Ia menatap langit-langit kamar dengan senyum tipis tersungging dari bibirnya.


Wajah Emma kini terukir di punggungnya. Sudah lama Elric ingin membubuhi tattoo di badannya. Tapi, ide menggambar wajah gadis itu adalah sebuah ide yang muncul begitu saja di dalam benaknya.


She's part of my body now (dia bagian dari tubuhku sekarang).

__ADS_1


***


__ADS_2