
"Heiii, Elric. Aku tidak bisa percaya ini." Lily yang sedang melintas dengan setelan jogging lengkap dengan hoodienya menghampiri Elric yang baru saja menyelesaikan sebuah lagu dengan gitar akustik.
"Owh, hi, Lily," sapa Elric ramah. Ia yang ingin segera menemui Emma untuk mencari tahu jawaban dari perasaan yang sudah ia ungkapkan dengan sebuah lagu, akhirnya tertahan oleh Lily yang mengajaknya mengobrol.
"Kenapa ada di sini?" tanya Lily seraya mengerutkan alis.
"Jalan-jalan," jawab Elric. Pemuda itu menyerahkan gitar kepada pemiliknya, tanpa lupa mengucapkan terimakasih.
"Aku sering jogging di sini. Seperti yang kau lihat saat ini," terang Lily tanpa ditanya oleh Elric.
"Bagus," sahut Elric sekenanya. "Sorry, Lily ... I gotta go (aku harus pergi)," ucapnya.
"Sampai jumpa, El." Sebelum pergi, Lily memberikan satu pelukan pada Elric, kemudian gadis berambut hitam itu melanjutkan lari siangnya mengelilingi Centar Park.
Semantara Emma yang menyaksikan interaksi Elric dan gadis itu, tampak cemberut. Baru saja ia merasa berbunga-bunga mendengar Elric mengungkapkan perasaannya lewat lagu yang begitu romantis, namun ada saja yang membuat suasana hatinya tidak baik.
"Jadi, bagaimana?" tagih Elric. Ia memiringkan kepala memandangi wajah Emma yang sedikit tertunduk.
"Apanya?" tanya Emma berpura-pura bodoh. "Owh, lagunya bagus. Aku tidak menyangka kau bisa menyanyikan lagi oldies, El."
Elric mendecak. "Bukan itu yang aku maksud."
"Memangnya apa yang kau maksud?"
"Owh, ayolah, Emma." Elric mengacak rambutnya frustrasi.
Emma menarik sudut bibirnya. Ia lalu memutar badan sembilan puluh derajat menghadap ke arah Elric. "Lagumu romantis. Liriknya bagus. Tapi ... aku lebih senang kalau kau menyusun kata-katamu sendiri, El."
"Sh it (sial)!" maki Elric makin frustrasi.
"So (Jadi)?" Emma menaikkan kedua alisnya menuntut.
"Jadi, usahaku memainkan gitar akustik dan menyanyikan lagu melankolis itu sia-sia?"
Emma mau tidak mau terkekeh mendengar ucapan Elric, padahal hatinya sedang dongkol karena melihat pemuda itu dipeluk seorang gadis cantik beberapa saat lalu. "Aku tidak bilang sia-sia. Aku hanya bilang ... aku lebih senang kalau kau ...."
"Ikut aku!" potong Elric seraya menarik tangan Emma dan menggandengnya keluar area taman. Tanpa banyak bicara, tanpa banyak basa-basi.
__ADS_1
"Elric!" seru Emma.
"Yes." Elric menjawab tak acuh. Ia terus berjalan menelusuri sidewalk.
"Where are we going (kita mau ke mana)?"
"Pinggir sungai Hudson."
Emma memutar kedua bola matanya. Elric memang random sekali. Entah apa yang ada di kepala anak itu. "Sudah, ikut saja," ujar Elric yang merasa Emma ingin melancarkan aksi protesnya. Gadis itu mendesis sebal. Namun, ia menurut aja ke mana Elric akan membawanya.
Perjalanan menuju area sungai Hudson yang membelah New York hanya memakan waktu sepuluh menit berjalan kaki. Rasanya hanya sekilas saja, mereka telah sampai di sana.
Ada banyak bangku panjang kosong yang berada di tepi sungai, berhadapan dengan pagar pembatas. Elric mengajak Emma untuk duduk di salah satu bangku. Berdiam di sana untuk beberapa saat sambil memandangi gedung pencakar langit Manhattan di seberang sungai yang terbentang luas.
"Kenapa mengajakku ke tempat ini?" tanya Emma seraya menoleh pada Elric di sampingnya. Jarak mereka hanya sekitar beberapa centimeter saja.
"Kau tidak lihat suasana di sini begitu tenang? Tidak banyak orang yang mengganggu konsentrasiku."
"Konsentrasi?"
"Ya, Emma. Aku sedang menyusun kata-kata yang tepat untuk aku persembahkan padamu."
"Okay, I'm listening (baiklah, aku mendengarkan)," ucap Emma pasrah.
Elric mengelus tengkuknya. "Berbicara dengan wanita tentang masalah hati ternyata tidak segampang mencari teknik baru bermain gitar," kekehnya. "Aku bingung sekali memulainya, Em."
"Kau bilang kau menyukaiku!" Emma memutus kebingungan Elric.
"Ya, itu benar," sahut Elric cepat. "Aku menyukaimu, kau sendiri bagaimana?"
Emma tersenyum tipis. Ah, anak ini mampu membuat hatinya begitu gembira. Selama ini ia selalu saja tidak ingin memikirkan sikap Elric padanya. Emma terlalu banyak pertimbangan. Salah satunya adalah umur Elric yang empat tahun lebih muda darinya.
Dari segi apa pun Emma tidak bisa memungkiri jika Elric beberapa waktu ini menyita perhatiannya. Rindu saat jauh, gemas saat berdekatan, dan Emma menyukai kehadiran anak itu di sisinya.
Ah, dasar dirinya memang perawan yang menyedihkan. Menolak James yang begitu sempurna, serta jaminan akan masa depan dirinya yang terang. Namun, hati kecil selalu mendesaknya untuk cenderung memikirkan segalanya tentang Elric. Saat melihatnya pertama kali beraksi di panggung, Emma nyaris jatuh cinta. Oh, atau mungkin ia memang telah jatuh cinta pada anak itu?
"Astaga, Emma! Lama sekali aku menunggu jawaban darimu!" gerutu Elric seraya mengacak rambut panjangnya sendiri. Taukah Emma jika saat ini waktu berjalan begitu lambat bagi dirinya yang sedang menanti sebuah jawaban penting?
__ADS_1
"Elric ... kenapa kau menyukaiku?" tanya Emma.
"Apa menyukai seseorang harus ada alasannya?" Elric menaikkan kedua alis tebalnya.
"Harus. Alasan itu seperti hukum sebab dan akibat. Contoh, kau menyukai seseorang karena dia cantik dan baik. Sebabnya, karena dia cantik dan akibatnya, kau menyukainya. Voila."
"Jadi, aku harus memberikan satu alasan?"
Emma mengedikkan bahu. "Umumnya wanita ingin mendengarkan sesuatu yang bagus tentang diri mereka."
"Alasan kau cantik, itu sudah pasti. Kau galak ... well, itu kenyataan. Hmmm ... apa lagi, ya. F uck I'm confused (sial, aku bingung)!"
Emma menghela napasnya. Baiklah. Sebenarnya semua sudah jelas di antara mereka. Ia tidak perlu mengorek apa pun lagi dari Elric, atau sebaliknya. "Elric ...."
"Ya?"
Emma mendekatkan wajahnya pada wajah Elric. Ia memejamkan mata menunggu respon dari Elric. Bukankah beberapa kali selalu saja tertunda. Bagaimana kalau sekarang mereka tuntaskan saja sebuah ciuman sebagai tanda bahwa keduanya memiliki perasaan yang sama.
"Memangnya boleh?" tanya Elric.
Emma mendecak. Dirinya memang perawan. Namun, bukan berarti ia tidak tahu apa pun mengenai hal-hal semacam itu. Tapi Elric ini-ah, dasar bocah. Pada akhirnya, ia hanya mengangguk pasrah sebagai jawaban pertanyaan Elric.
Pelan dan ragu-ragu, Elric menyentuhkan bibirnya pada bibir Emma. Satu ciuman pertama paling serius, layaknya dua orang sedang saling membagi perasaan cinta.
Elric seperti berada di atas awan. Begini rupanya rasa bibir Emma yang manis. Tidak ada jenis minuman apa pun di Manhattan yang mampu menandingi manis bibir Emma.
"Apa aku melakukannya dengan benar?" tanya Elric.
Emma memukul dada Elric pelan. "Kau pikir aku sudah berpengalaman?"
"Apa ini ciuman pertamamu?" tanya Elric dengan polosnya.
Emma mendecak. "Tidak." Sebelumnya ia sudah pernah berciuman dengan James dan seorang yang ia sukai di waktu SMA dulu.
Elric bangkit dari duduknya dan mengulurkan tangannya pada Emma. Gadis itu menyambutnya. Lalu keduanya berdiri di dekat pagar pembatas sungai, menghirup udara segar musim semi sore itu.
Elric memeluk tubuh Emma dari belakang. Emma menyandarkan kepala di dada Elric. Sungguh moment yang sempurna. Sampai Emma sadar, kalau ia masih terikat hubungan dengan James.
__ADS_1
***