
Umur kepala empat, lajang, dan menyedihkan. Bahkan wanita yang membuatnya rela merendahkan diri dengan mengejar-ngejarnya, jatuh ke pelukan ramaja delapan belas tahun, yang sialnya adalah anak baptisnya sendiri. Anak dari sahabatnya sendiri.
Di atas sofa ruang tamunya yang mewah, James duduk menyandarkan diri dengan lesu. Di tangannya ada sebuah botol anggur yang hanya tinggal setengahnya.
Kembali lagi pada benaknya yang begitu kacau, James masih tidak rela Emma mencampakkannya dan jatuh ke pelukan Elric. Kenapa di saat ia menemukan seseorang yang tepat dan ingin diajaknya serius, justru alam semesta tidak mendukungnya?
Kini ia tidak lebih hanyalah seorang pecundang. Sungguh posisi yang sangat menyebalkan. James basist Hellbound yang begitu gampangnya mendapatkan wanita, harus terseok-seok mengejar seorang Emma Lopez. Ia benar-benar menginginkan gadis itu. Tapi, jalan sudah buntu. Terpaksa ia harus mengambil jalur alternatif. Meskipun hal itu sebenarnya sangat memalukan. Namun, apa boleh buat. Ia sudah terlanjur berambisi mendapatkan gadis itu. Entah hasilnya bagaimana, yang jelas, ia akan berusaha semaksimal mungkin.
***
Saat masuk ke dalam apartemennya, Emma, mendengar sayup-sayup suara lengkingan gitar dari dalam kamar Elric. Gadis itu menghela napasnya dalam-dalam. Ia berdiri mematung di depan pintu kamar Elric, ragu-ragu ingin mengetuknya. Namun, ia harus berbicara dengan kekasihnya itu. Masalah yang sedang mereka hadapi kini cukup pelik. Dan ia merasa tidak boleh ada kesalahpahaman di antara mereka.
Saat ada jeda dari suara lengkingan gitar, tangannya pun pelan mengetuk pintu. Beberapa saat kemudian, Elric muncul, dengan wajah sayu.
"Hi, Emma," sapa pemuda itu. "Wanna come in (mau masuk)?" tawarnya.
Emma mengulas senyum tipisnya. Lalu masuk ke dalam kamar yang terlihat sedikit berantakan itu. Ia duduk di tepi ranjang, menunggu Elric datang menghampirinya.
"Kenapa kau keluar dari bandmu, El?" Emma bertanya pada Elric yang kini sudah duduk di sampingnya.
"Sudah seharusnya," jawab Elric sembari mengulas senyum tipisnya. Ia berusaha menyembunyikan sebuah rasa di dalam hatinya. Entah rasa seperti apa, ia pun tidak bisa menjelaskannya dengan kata-kata.
__ADS_1
"Karena aku?"
"Jangan katakan itu, Em. Aku keluar karena memang sudah tidak sejalan lagi dengan personel lain dan juga manajemennya."
"Tapi Darren?" Emma menatap Elric lekat.
"Kenapa Darren?" Elric balik bertanya. Ia pun menyapa Emma lekat.
"Band kalian sangat penting untuk Darren. Dia yang merintis dari awal. Apa kau tidak mau memikirkan itu?"
"Em!" Elric meraih telapak tangan Emma dan menggenggamnya. "Ini bukan hanya masalah band, atau prinsip hidupku. Tapi, ini juga tentang kau dan aku."
Emma menggeleng. "Aku tahu kau tidak rela meninggalkan bandmu, El. Aku tahu hatimu berat. Aku tahu yang kau rasakan."
"El, kenapa?" Emma terkejut mendengar keputusan Elric. Ini tidak benar. Musik adalah jiwanya. Dan Emma bisa menangkap sorot kesenduan dalam tatapan mata Elric. "Don't do that (jangan lakukan itu), El," pintanya. Ia tidak ingin menjadi penghalang Elric meraih mimpinya. Pemuda itu telah jatuh cinta kembali dengan musik, yang pernah ditinggalkannya karena terbentur ego dengan sang ayah. Dan atas saran Emma sendiri, Elric mulai menyentuh gitarnya kembali. Dan sekarang, pemuda itu tidak boleh berhenti hanya karena alasan yang sepele. Yaitu dirinya.
"Aku sudah memutuskannya, Em. Aku benar-benar tidak mau berpisah denganmu."
"Aku tidak akan pergi ke mana-mana, Elric!" sergah Emma.
Elric menggeleng keras. Ia tidak mau James masuk ke dalam hidup Emma lagi, di saat dirinya lengah. "Sudahlah, Emma. Aku baik-baik saja keluar dari bandku. Justru aku tidak akan baik-baik saja jika aku jauh darimu."
__ADS_1
"Tidak, El. Kau tidak baik-baik saja." Emma menyanggah semua pernyataan Elric. Sorot mata pemuda itu sangat jelas menunjukkan kalau ia tidak baik-baik saja. Mungkin Elric sedang dalam dilema besar.
Keduanya terdiam untuk beberapa saat. Tenggelam dalam pikiran masing-masing. Entah apakah yang sedang mereka hadapi adalah hal yang rumit atau mereka sendiri yang membuatnya menjadi rumit.
Bagi Elric, ia tidak ingin kehilangan Emma, meskipun ada kemungkinan gadis itu akan menerima apa pun yang akan terjadi nantinya dalam hubungan mereka. Namun, ia tidak ingin mengambil resiko. Apalagi ada si Bapak baptisnya yang mengintai saat-saat ia lengah.
Sedangkan bagi Emma, meskipun ia meyakinkan diri untuk menerima resiko akan seperti apa hubungannya dengan Elric nantinya, sejujurnya ia dihantui rasa takut. Takut Elric akan berubah jika pemuda itu berada di puncak karirnya. Namun, ia juga tidak ingin egois. Musik adalah hal yang essential untuk Elric.
"Mungkin kita berdua perlu waktu untuk berpikir." Emma akhirnya meloloskan ucapannya.
"Em, please. Terima saja keputusanku, ya?"
"Serius, Elric. Kita butuh waktu untuk memikirkan semua ini."
"Emma ...." Elric kembali meraih tangan Emma namun gadis itu menepisnya pelan. Pemuda itu pun menghela napasnya berat. "Kenapa kita harus membuat semua ini begitu rumit, Em."
"Ini memang rumit. Aku lulusan psikologi. Ini erat kaitannya dengan mental kita masing-masing. Dan kita tidak bisa terlalu terburu-buru memutuskan segala sesuatunya. Serius, El ... kita butuh waktu." Emma beranjak dari duduknya.
"Em ... kau mau ke mana?" Elric mengekori langkah Emma keluar dari kamarnya.
"Aku mau ke kamarku." Emma memasuki kamarnya dan menutup pintunya tepat di depan wajah Elric.
__ADS_1
Elric mengepalkan tangannya geram. Ia mendongakkan kepala seraya menghembuskan napas kasar. Ia tidak hapis pikir kenapa Emma mempersulit semuanya. Apa maksudnya mereka membutuhkan waktu untuk berpikir? Seharusnya Emma bisa melihat kesungguhannya tanpa ragu-ragu memilih gadis itu.
***