BAD BOY OF MANHATTAN

BAD BOY OF MANHATTAN
Bab 44. A Brilliant Guitar Player.


__ADS_3

Emma membuka pintu apartemennya dan melangkah masuk. Ia menghidupkan lampu ruang tamu dan terkejut melihat Elric yang sedang duduk di atas sofa sambil melipat kedua tangan ke depan dada.


"Geez (astaga), Elric ... kau mengagetkanku!" gerutu Emma sembari memegangi dadanya yang berdebar kencang.


"Hmmm, sorry," ucap Elric sekenanya. Ia menatap tajam ke arah Emma. "Bagaimana kencannya?" Ia tidak ingin basa-basi. Sudah berjam-jam ia menunggu Emma dan ingin menanyakan apa yang terjadi di antara gadis itu dan ayah baptisnya.


Emma mengulum senyumnya, lalu duduk di sisi Elric. "El, boleh aku menanyakan beberapa hal tentang James?" Elric mendesis. Ia membuang mukanya ke arah pintu balkon yang terbuka.


"Kau pasti mengenalnya sejak kecil, dan kau pasti tahu seperti apa karakternya. Apa dia pria baik?"


"Tidak. Dia jahat, suka mempermainkan hati wanita dan plin plan." Elric menjawab asal.


Emma mendecak sebal. Kenapa Elric selalu menjelek-jelekkan James di hadapannya. Kenapa dengan anak itu? Sepertinya Elric tidak menyukai semua anggota keluarganya. "Aku serius, El."


"Aku juga serius," sahut Elric pendek. "Kau pacaran dengannya?"


Emma kembali mengulum senyum. Yang terjadi di apartemen James beberapa saat lalu adalah, Emma belum bisa menjawab apa pun tentang pernyataan cinta James padanya. Gadis itu tidak mau buru-buru karena ingin mengenal satu sama lain terlebih dahulu. Ia dan James baru beberapa kali bertemu dan belum tahu karakter masing-masing.


Sementara Elric menggeleng pelan. Senyum Emma menyiratkan kalau jawabannya adalah iya, Emma pacaran dengan James. "Jadi, kau akan pindah ke apartemennya? Menikmati semua fasilitas miliknya dan hidup mewah sebagai kekasih seorang rockstar?"


Emma terkekeh. Pemikiran Elric terlalu jauh. Lagi pula, ia bukan wanita yang mudah silau oleh kemewahan. Jika Emma memutuskan untuk menerima James, maka ia harus tahu seperti apa karakternya. Mengenal satu atau dua minggu belum cukup untuk menyimpulkan sifat asli seseorang. Apalagi ia dan James jarang menghabiskan waktu bersama.


Berbicara dengan Elric mengenai hal ini sepertinya percuma. Melihat dari reaksinya, anak itu sepertinya ogah-ogahan memberi informasi yang ia butuhkan. "Ah, El, kau ingin memberitahukan apa padaku? Sewaktu aku dan James datang sepertinya aku mendengar kau ingin memberitahukan sesuatu?" tanya Emma mengalihkan pembicaraan.


"Nevermind, forget it (sudahlah, lupakan saja)," jawab Elric marah. Ia tidak punya semangat lagi untuk meminta pendapat Emma mengenai audisi sebuah band di Columbia University.


"Ayolah, El. Katakan padaku," desak Emma. Ia tiba-tiba merasa penasaran.


Elric menghela napasnya. "Ada audisi gitaris band di Columbia."


Mendengar nama almamaternya disebut, Emma tersenyum gembira. Selain itu ia juga senang Elric mulai melirik musik kembali. Seperti yang pernah dikatakan oleh anak itu, ia akan kembali bermusik jika bertemu dengan orang-orang satu frekwensi, di luar keluarganya tentu saja. "Wah, aku senang sekali mendengarnya, El. Oh ya, apa nama bandnya?" Emma tahu ada beberapa nama band yang popular di Columbia.


"Bad Boy Of Manhattan."


"Owh ... aku tahu band itu," ujar Emma. Band itu digawangi oleh Darren Chevalier. Adik tingkatnya dahulu di Columbia. Pemuda itu cukup terkenal di kampus. Selain karena ia adalah anak dari Benjamin Chevalier, ia juga musisi yang sangat berbakat.


"Oh ya?" Elric kini mulai tertarik dengan obrolannya dengan Emma. "How (kok bisa)?"

__ADS_1


"Karena aku lulusan Columbia. Bad Boy Of Manhattan cukup popular di sana."


"Owh, I see (begitu)."


Emma tersenyum dan mengangguk. "Do it El ... I know you can (lakukanlah, El, aku tahu kau bisa)."


Elric memutar posisi duduknya menghadap Emma. "Aku butuh dukunganmu, Em," ucapnya seraya menatap mata Emma yang juga sedang menatapnya.


"Tentu saja, El ... aku pasti akan selalu mendukungmu." Emma pelan merapikan anak rambut Elric yang jatuh di wajah imutnya, lalu mengelus kepala anak itu pelan. Ia maksudkan elusan di kepala Elric sebagai bentuk kasih sayang pada seorang adik, namun tatapan pemuda itu tiba-tiba membuatnya gugup.


"Em ...."


"Ah, ya?" Emma yang buru-buru menarik tangannya dari kepala Elric menyahut gugup. Ia melempar pandangan ke arah lain, menghindari tatapan mata Elric.


"Nothing (tidak apa-apa)," ucap Elric. Ia mengurungkan niatnya untuk menyentuh bibir Emma yang tiba-tiba saja terlintas di benaknya.


***


COLUMBIA UNIVERSITY, NEW YORK.


Audisi diadakan di basecamp Bad Boy Of Manhattan yang berada di dalam area Columbia. Tepatnya di sebuah apartemen yang disulap menjadi sebuah studio.


Beberapa menit kemudian, seorang pemuda bertubuh ceking keluar dari balik pintu sambil menggendong softcase gitarnya. Ia tersenyum pada Elric sambil mengucapkan, "Good luck, Bro. They're harsh (mereka susah)." Elric menyambutnya dengan senyum dan anggukan kecil.


"Kau Elric Bradley?" tanya seorang pemuda berambut cokelat kehitaman yang baru saja keluar dari balik pintu studio dan menghampiri Elric.


"Ya," jawab Erlic seraya menjabat tangan pemuda berahang tegas itu.


"Hi, aku Darren. Kau sudah siap?" tanya pemuda yang menyebut namanya Darren itu.


"Most ready (siap banget)," jawab Elric mantap.


"Alright, come on in (baiklah, ayo masuk)."


Elric menyambar sofcase gitarnya dan mengikuti Darren masuk ke dalam studio. Di dalam ruangan berperedam itu, ada dua orang pemuda lain yang sudah menunggu. Darren memperkenalkan keduanya pada Elric. Ada Samuel Alinsky, penggebuk drum dan Jacob Acker sang bassist. Keduanya berambut panjang sebahu, begitu pun Darren.


"Bradley, ya? Ada hubungan dengan Nathan Bradley?" kekeh Samuel.

__ADS_1


"No comment (tidak ingin berkomentar)," sahut Elric dengan senyum lebarnya sambil menyiapkan gitarnya. Satu tablet untuk efek software yang sudah terhubung dengan gitarnya. Kemudian ia mengutak-atik layar tablet untuk mencari nama device amplifier di studio itu yang bisa menampung suara dari efek gitarnya.


"Mana yang harus aku hubungkan?" tanya Elric seraya menunjuk beberapa ampli di sampingnya.


"Area 51 volume two," jawab Darren. Elric mengangguk.


"Come on, show me what you got (ayo, tunjukkan kemampuanmu), Elric," ucap Samual.


Elric menarik sudut bibirnya. Ia memulai menggeser jemarinya di atas fret gitar tanpa menekannya. Membuat suara-suara berisik yang tidak beraturan. Kemudian, ia menekan satu tombol di badan gitarnya dan terdengar efek synthesizer membuat distorsi gitarnya tersendat.


Nada-nada yang dibuat oleh Elric terdengar aneh. Minor, rusak, tapi dinamik. Membuat Darren menaikkan alisnya kagum. Senyumnya terbit. Dari sekian banyak gitaris yang mengikuti audisi, hanya Elric yang langsung membuatnya tahu, pemuda itu yang ia cari.


"Kau bersekolah di mana?" tanya Jacob pada Elric begitu pemuda itu mengakhiri permainan gitarnya.


"Hunter Science, kelas 12."


"Okay, kami akan menghubungimu beberapa hari lagi," kata Samuel.


Elric mengangguk. Ia membereskan gitar dan peralatannya lalu berpamitan. Sementara Darren, ia menatap dua sahabatnya itu dengan wajah berbinar.


"I want this kid (aku menginginkan anak ini)," ucap Darren.


'"Yeah. He's a genius (dia seorang jenius)." Jacob menyahut. "Dia anak Nathan Bradley?"


"Jangan pernah menanyakan itu padanya. Aku tahu yang anak itu pikirkan," kata Darren. Ia melihat dirinya sendiri dalam diri Elric.


"Hmm." Jacob mengangguk-angguk. "Aku akan menghubunginya beberapa hari lagi."


"No!" protes Darren.


Samuel dan Jacob saling melempar pandang heran. Bukankah Darren menginginkan Elric bergabung dalam band mereka?


"Bring him in. Now (bawa dia masuk. sekarang)!"


***


Mohon maaf kalau upnya random dan jarang, soalnya saya jalan empat novel di platform yang berbeda.

__ADS_1


Seambisius itukah si Lady?. Ya, benar, saya ambisius, serakah, penuh dengki dan dendam kesumat.


Hahahahaha (tertawa sangat jahat).


__ADS_2