
Emma selalu menghindar jika Elric hendak mengajaknya bicara. Gadis itu tetap bersikukuh dengan keputusannya untuk memberi waktu masing-masing untuk memikirkan semuanya. Elric sampai kehilangan akal untuk membujuknya. Hingga, ia merasa lelah dan akhirnya mengikuti saja kemauan Emma.
Lalu, Elric pun memutuskan untuk menginap beberapa hari di rumah orang tuanya. Untuk menenangkan diri, dan juga memberi kesempatan pada Emma untuk memikirkan semuanya. Pikirnya, jika ia tidak berdekatan dengan gadis itu, mungkin Emma akan merindukannya. Ya, semoga saja.
Di taman belakang rumah, Elric berbaring di kursi ayun empuk yang berada di pinggir kolam renang. Ia memejamkan mata menikmati sinar matahari yang menghangatkan badannya.
"Boleh aku duduk di sini?"
Erlic membuka matanya. Dilihatnya sang ayah di sampingnya, duduk di kursi yang di bawanya dari dalam rumah. "Silahkan saja," jawabnya acuh tak acuh.
"Boleh aku bicara tentang tragedi yang sedang terjadi baru-baru ini?"
Elric kembali membuka matanya. "What do you wanna know (apa yang ingin kau ketahui)?" tanyanya tanpa basa-basi.
"Apa saja," cebik Nathan seraya mengangkat kedua tangannya.
"Pertama, aku keluar dari bandku, kedua, aku dan Emma sedang berpisah untuk sementara waktu. Sempurna, ya," kekeh Elric ironis.
"Apa masalahnya serumit itu?"
"Mungkin tidak."
"Hmmm." Nathan bergumam.
"Hei, Dad ... aku dengar kau membatalkan semua jadwal manggung Hellbound. Benarkah?" tanya Elric, masih dengan mata terpejam.
Nathan terkekeh. "Aku sedang tidak ingin melihat wajah James Howard yang menyebalkan itu."
"Geez (astaga)!" keluh Elric. "Aku tidak pernah menyangka, temanmu itu bisa jadi orang yang paling menyebalkan di seluruh muka bumi."
"Mungkin dia memang sedang benar-benar jatuh cinta." Nathan mengedikkan bahunya. "Kau mengambil Emma darinya, bukan?"
Elric terbahak. Benar juga apa yang dikatakan oleh Nathan. Saat dirinya menyatakan perasaannya pada Emma, gadis itu masih menjadi kekasih James. Artinya, memang dirinyalah yang merebut Emma dari tangan James. "Jadi, aku penyebab semua ini?"
__ADS_1
"Well, aku tidak tahu siapa yang benar atau siapa yang salah dalam hal ini. Yang jelas, kau dan James sama-sama ingin mencapai tujuan masing-masing. Hanya saja, apa yang dilakukan James memang menjijikkan. Untuk umurnya yang sudah sangat dewasa, seharusnya dia bisa bersikap lebih bijaksana. Itulah mengapa aku libur bicara dengannya untuk sementara waktu."
Elric mengangguk-angguk. Namun sejurus kemudian pemuda itu mendecak sebal. "Astaga, aku benci mengatakan ini," ujarnya seraya memukul-mukul keningnya sendiri. "Menurutkmu, apa yang harus aku lakukan, Nathan?"
"Tentang yang mana? Bandmu, atau Emma?"
"Dua-duanya."
"Kalau aku memberimu nasehat, apa kau akan menerapkannya?"
"Mungkin."
Nathan terkekeh. "Listen, Young Man (dengar, anak muda), tentang bandmu, kalau aku jadi kau, aku tidak akan keluar. Jalani saja. Apa pun yang sudah James lakukan, tidak akan mempengaruhi jati dirimu dalam bermusik, El. Mungkin karirmu cepat menuju puncak karena insiden ini, tapi ... orang yang menikmati musikmu tidak akan peduli. Mereka menyukaimu karena kemampuanmu. Lihat saja sekarang, orang-orang tahu kau adalah seorang gitaris jenius. Dan mereka melihatmu sebagai dirimu. Bukan karena kau anak Nathan Bradley."
"Hmm ... akan aku pikirkan kata-katamu." Elric sedikit merubah posisi tidurnya, mencari posisi yang nyaman. "Lalu tentang Emma, apa kau juga punya pendapat yang bagus?"
"Urusan cinta, ya ...." Nathan mengelus janggutnya. "Wanita selalu butuh waktu untuk berpikir. Mereka ingin kita memberi mereka ruang. Semakin kita mengejar mereka, semakin mereka akan menjauh. Aku punya cerita yang mungkin bisa menginspirasimu, El."
"That's right."
"Okay, I'm listening (aku dengarkan)."
"Sebelum kau lahir, aku pernah membuat kesalahan pada Alya."
"Kau selingkuh?" Elric bangkit dari posisi berbaringnya dan menatap sang ayah lekat.
Nathan mendecak. "Jangan potong dulu ceritaku, Anak Muda!"
Elric mengangkat kedua tangan. "Okay, go on (lanjutkan)."
"Bisa dikatakan aku selingkuh, bisa juga bukan karena ... ah, sudahlah, bagian itu tidak penting. Intinya begini, aku benar-benar harus berjuang untuk mendapatkan hati Alya kembali. Sampai-sampai aku merasa lelah dan pasrah menerima apa pun yang akan terjadi. Tapi, dalam hatiku yang paling dalam, aku percaya, ibumu pasti akan kembali padaku. Jadi, aku biarkan saja. Aku memberinya waktu. Aku tidak mengganggunya lagi. Aku biarkan dia berpikir apakah aku penting dalam hidupnya atau tidak."
"Lalu, dia kembali padamu. Tentu saja," sahut Elric seraya mengulas senyumnya.
__ADS_1
"Voila."
"Artinya aku harus membiarkan Emma menjauh dariku untuk sementara waktu, dan memberinya ruang agar dia bisa berpikir apakah aku penting dalam hidupnya atau tidak, begitu?"
"Yeah. Asal kau kuat menghadapinya. Dan bersabar."
Elric mengangguk-angguk. "Baiklah," ucapnya dengan senyum lebar. "Ternyata kau berguna juga, Nath."
Nathan tergelak mendengar ucapan Elric. Namun, ia merasa bangga, putranya itu bersedia melibatkannya dalam diskusi dari hati ke hati semacam ini. Pikirnya, sebagai seorang ayah, ia tidak terlalu buruk.
***
Elric membuka pintu apartemennya pelan. Ia ingin menemui Emma, dan mengatakan kalau ia setuju menjaga jarak untuk sementara waktu, agar mereka bisa berpikir dengan kepala dingin. Namun, ia melihat ruangan apartemennya ini sedikit berbeda. Terlihat lebih kosong dari sebelumnya.
Dengan dada berdebar ia mengetuk pintu kamar Emma. Lama ia menunggu gadis itu membuka pintu hingga beberapa menit. Namun, pintu kamar tidak kunjung dibuka.
Tangannya meraih handle pintu. Tidak terkunci. Ia pun membukanya dan melangkah masuk. Seketika Elric menghembuskan napasnya kasar melihat kamar Emma telah kosong. Bukan hanya ia tidak mendapati gadis itu di sana, namun semua barang-barang miliknya pun raib. Emma sudah meninggalkan apartemen ini.
Lama ia berdiri mematung tanpa tahu apa yang harus dilakukannya. Saat ia hendak mengambil ponsel di saku jaketnya dan berniat menghubungi Emma, ia teringat pembicaraannya dengan Nathan. Wanita tidak suka terlalu dikejar. Biarkan saja. Biarkan Emma berpikir apakah dirinya penting dalam hidup gadis itu.
Elric menghela napas dalam-dalam. Ia berusaha menguatkan dirinya untuk menghadapi fase ini. Lalu meyakinkan dirinya bahwa suatu saat Emma pasti akan kembali padanya.
Ia pun keluar dari kamar Emma dan masuk ke dalam kamarnya sendiri. Elric membereskan semua barang miliknya. Pakaian, gitar dan semua semua barang yang ada di kamar itu kecuali ranjang dan mabel. Ia memutuskan akan kembali ke Greenwich.
Memulai dari awal lagi. Elric memantapkan hati dan membuang semua ragu. Seperti halnya Emma, ia pun memberi kesempatan pada dirinya sendiri untuk berpikir.
Seperti judul lagu milik Taylor Dayne, Love will lead you back, Elric percaya, sejauh apa pun ia dan Emma saat ini, kekasihnya itu pasti akan kembali ke pelukannya.
Diambilnya ponsel di saku jaketnya, lalu menggulir layar mencari nomer seseorang.
"Darren, can I talk to you? Now?"
***
__ADS_1