
"Welcome back, Brother." Elric memberi pelukan selamat datang pada Noah yang hari itu sudah pulang ke East Harlem. Michael dan Ryan pun bergantian memeluk pemuda itu.
"Wah, senang sekali bisa kembali menghirup udara bebas." Noah merangkul pundak Elric dan Michael yang duduk di samping kanan dan kirinya. "Senang melihat wajah kalian lagi," lanjutnya.
Elric tersenyum. Ia senang Noah kembali ke East Harlem. Meskipun reputasinya buruk, tapi Noah adalah orang yang jujur. Ia memiliki sisi jelek yang terkadang menjerumuskan, namun ia juga mempunyai sisi baik yang membuat Elric merasa nyaman bergaul dengannya.
"Kau masih bekerja untuk Fat Tony, El?" tanya Noah seraya menepuk-nepuk pundak Elric.
"Tidak lagi," jawab Elric membuat Noah mengerutkan alisnya.
"Kenapa? Lalu bagaimana kau mendapatkan penghasilan untuk hidup sendiri di sini? Mengingat kau tidak mau orang tuamu ikut campur."
"Elric kembali bermain musik, Noah. Dia punya band sekarang." Ryan menyahut pertanyaan kakaknya.
"Oh ya? Tapi ... apa itu cukup?"
Elric tersenyum lebar memperlihatkan gigi taringnya yang menggemaskan. "Kau tidak perlu khawatir tentang itu."
Noah mencebik. "Baiklah ... sepertinya aku memang tidak perlu khawatir mengenai hal itu." Pemuda itu terkekeh seraya menepuk-nepuk bahu Elric.
"Ayo, kita rayakan kepulanganmu, Noah!" seru Michael. Disambut anggukan setuju Elric dan Ryan.
Merayakan kepulangan Noah artinya mereka akan minum di tempat favorit mereka di sebuah rooftop gedung apartemen yang sudah tidak berpenghuni. Noah yang bertugas membeli minuman mengingat ketiga pemuda itu belum cukup umur untuk membeli alkohol atau masuk bar.
***
__ADS_1
"Bagaimana bisa?!" Emma yang baru saja tiba di apartemennya sore itu terpekik ketika menerima telepon dari Nelnet, lembaga keuangan di bawah naungan departmen pendidikan Amerika Serikat yang memberinya student loans. Bukan kabar buruk, melainkan sebuah kabar terbaik dalam sebulan atau bahkan dalam beberapa tahun belakangan dalam hidupnya.
Seseorang telah melunasi student loansnya. Ia seorang yang tidak mau menyebutkan nama. Pihak Nelnet hanya memintanya untuk menandatangani dokumen pelunasan hutang yang telah mereka kirimkan padanya melalui email.
Hanya satu nama yang muncul di benaknya. James. Emma menggulir layar ponsel mencari nama James di sana. Sebuah kebetulan. Belum sempat ia menyentuh tombol panggil, pria itu sudah menelponnya terlebih dahulu.
"Hi, James." Emma menyapa James di seberang sana. "Ya. Okay ... see you tonight."
Emma menyunggingkan senyumnya. Ia mulai menyusun kata-kata bagaimana mengucapkan terimakasih pada James yang telah membantunya meringankan beban yang selama ini ditanggungnya.
Ia duduk di sofa dengan napas yang begitu lega. Setidaknya gajinya tidak akan terpotong untuk membayar cicilan. Emma mulai berpikir untuk mencari pekerjaan yang lebih layak dan sesuai dengan latar belakang pendidikannya. Tidak mungkin selamanya ia menjadi pelayan restauran dengan gaji pas-pasan dan tidak ada kemajuan sama sekali. Selama ini hidupnya hanya tentang bertahan hidup, bukan tentang menyusun rencana menggapai masa depan yang cerah.
Lamunan Emma buyar ketika pintu apartemen dibuka oleh seseorang. Elric muncul dari balik pintu. Pemuda itu menyunggingkan senyum mendapati Emma yang sedang duduk di sofa ruang tamu dengan wajah yang terlihat cerah.
"Hi, El." Emma menyapa Elric dengan senyum cerianya.
"Hmm ... kau tahu, El, ada orang baik yang sudah melunasi student loanku."
Elric terkekeh. You're welcome, Emma (sama-sama, Emma). "Bagus sekali. Lalu, siapa orang baik itu?" pancingnya kembali.
Emma menatap Elric dengan senyuman yang masih tersungging di bibirnya. "Pangeran dari Camelot," kekehnya. Kemudian gadis itu beranjak dari duduknya dan mencium pipi Elric sekilas sebelum akhirnya melangkah masuk ke dalam kamarnya.
"Emma!" panggil Elric membuat Emma menyembulkan kepala dari balik pintu. "Kau tidak ingin mengobrol denganku sekarang?" tanyanya.
"Hmm ... aku ingin bersiap-siap. Siapa tahu sang pangeran akan mengajakku ke suatu tempat nanti malam," gelak Emma seraya menutup pintu kamarnya.
__ADS_1
Elric menaikkan alis tebalnya dan tersenyum gembira. Mungkinkah Emma sedang memberikan kode padanya untuk mengajak gadis itu pergi ke suatu tempat nanti malam? Mungkin saja. Emma akan berterimakasih padanya dan ....
Pemuda itu menggeleng pelan. Benaknya sudah dipenuhi prasangka yang menyenangkan. Ia pun memutuskan untuk masuk ke dalam kamar dan bergumul dengan gitarnya, menunggu saat malam tiba.
Hingga malam tiba, Elric bergegas mempersiapkan diri untuk mengajak Emma ke suatu tempat yang belum ia putuskan. Ia adalah orang yang spontan. Ide tempat bisa saja datang tiba-tiba saat sudah keluar dari apartemen.
Pakaian apa yang bisa membuatnya terlihat menawan di depan seorang wanita? Ah, Elric terbiasa dengan penampilan cuek apa adanya. Kalau Emma suka padanya, bukan penampilan yang utama, melainkan sikap dan caranya memperlakukan gadis itu.
Pilihannya pun jatuh pada, lagi-lagi, kemeja tebal motif kotak-kotak yang ia kenakan di atas kaos hitam polos. Celana panjang denim warna hitam dan sepatu casual. Rambut panjangnya ia ikat sebagian. Voila. Elric pun siap.
Ia keluar dari kamarnya dan mengetuk pintu kamar Emma. Gadis itu keluar dengan penampilan yang telah rapi. Cantik, tentu saja. Wujud Emma benar-benar menyegarkan matanya.
"Kau mau pergi?" tanya Emma seraya memperhatikan penampilan Elric. Anak itu terlihat, menawan, jika ia harus mengutarakan pendapatnya.
"Yeah. Kau juga sepertinya sudah siap. Aku berniat untuk ...." Kata-kata Elric menguap begitu saja saat Emma memintanya untuk menunda ucapannya karena gadis itu harus menerima telepon yang berdering di dalam tas selempangnya.
"Aku akan segera turun." Emma berbicara dengan seseorang di ponselnya. "Kalau begitu aku pergi dulu, El. James sudah menungguku di bawah."
"What (apa)?!" Elric berseru tidak percaya. "Kenapa kau pergi dengan James?"
Emma meringis. Ia lalu mencium pipi Elric sekilas dan menghambur ke arah pintu apartemen. "See you, El." Gadis itu melambai kecil pada Elric sebelum menutup pintu.
Elric menggeleng tidak percaya. Wajahnya mengisyaratkan kekesalan tiada tara. Kedua telapak tangannya mengepal erat. "Breng sek!"
"Jadi kau mengira James yang membayar student loanmu, Emma?!" seru Elric.
__ADS_1
"F uck!" maki Elric seraya menendang kaki sofa yang berada tidak jauh darinya.
***