
"It's delicious, Lessy (ini enak sekali, Lessy)." Elric memuji-muji masakan Lessy berkali-kali. Mungkin hampir setiap ia selesai mengunyah makanannya, pujian selalu mengalir dari mulutnya. Bahkan Lessy sampai menggeleng-gelengkan kepalanya sambil terkekeh.
Meskipun Emma senang melihat perubahan sikap Elric terhadap orang-orang di sekitarnya, namun, rasanya ini sedikit berlebihan. Pikiran Emma tidak bisa lepas dari James. Ia merasa tidak enak membuat pria itu menunggunya dan akhirnya memutuskan untuk membatalkan rencana makan malamnya.
"Tidak usah memikirkan James, aku yakin sekarang dia sedang berkencan dengan Hannah," celetuk Elric sambil mengunyah makanannya.
Emma mendesis. Lalu memandang ke arah Elric yang sedang tersenyum miring sambil menaikkan alisnya. Anak itu selalu bisa menebak isi kepala Emma.
"Gagal makan malam dengan James, masih bisa makan malam denganku, bukan?" Elric menyunggingkan senyum jahilnya pada Emma. "Dengan masakan Lessy yang sangat lezat ini," lanjutnya seraya menoleh ke arah Lessy dan menaik-naikkan alisnya.
"Kau sudah memujiku seratus kali, Elric," kekeh Lessy sambil mengibaskan tangannya.
Sementara wajah Emma masih tampak cemberut. Ia juga kesal tidak jadi makan malam dengan seorang James Howards. Padahal itu akan menjadi moment yang sangat istimewa buat Emma.
"Sebaiknya kalian menginap di sini saja. Aku takut di luar masih berbahaya. Terutama kau, Elric," ujar Lessy setelah mereka menyelesaikan makan malam.
Elric tampak gembira mendengar tawaran Lessy. Ia pun langsung menyetujuinya. Mengenai orang tuanya, ia akan mengabari mereka nanti.
"Aku pulang saja, Lessy ... lagi pula apartemenku hanya beberapa blok dari sini," kata Emma.
"Jangan, Emma ... meskipun hanya beberapa blok, tetap saja di luar tidak aman apalagi ada kerusuhan antar geng. Kau tentu tahu seperti apa East Harlem saat hal itu terjadi, bukan?" Lessy meyakinkan Emma.
Emma menghela napasnya, lalu menoleh ke arah Elric yang tampak sangat gembira. Ada apa dengan anak itu? Kenapa dia terlihat senang sekali? Dasar aneh!
"Elric, kau bisa membantuku mengambil matras di kamarku?" tanya Lessy. Elric dengan senang hati mengiyakan wanita paruh baya itu. Sementara Emma duduk di atas sofa sembari menatap layar ponselnya. James tidak menghubunginya lagi sejak pesan terakhir tentang pembatalan rencana makan malam. Bibir Emma mencebik. Mungkin Elric benar. James sedang berkencan dengan pacarnya. Tiba-tiba hatinya mencelos kecewa.
"Aku hanya punya satu kamar. Ranjangnya juga kecil. Kalian tidak apa-apa tidur di sini?" tanya Lessy ketika selesai mempersiapkan matras, sprei, dua buah selimut dan dua buah bantal di ruang tamu yang tidak begitu luas itu.
Emma terkesiap. "Ah, ya ... aku bisa tidur di sofa."
"Jangan! Biar aku saja yang tidur di sofa," sergah Elric.
Lessy terkekeh. "Kalian atur saja," ujarnya. "Selamat malam, anak-anak," ucapnya sembari meninggalkan Elric dan Emma berdua di ruang tamu.
Emma melempar satu bantal ke arah Elric hingga mengenai wajahnya. Membuat pemuda itu meringis sambil spontan menangkap bantalnya. Ia duduk di atas sofa dan memberi isyarat dengan dagunya pada Emma yang ada di sampingnya untuk turun ke matras.
Jam menunjukkan pukul sepuluh malam. Elric mengambil ponsel dari saku celananya dan menulis pesan pada Alya kalau ia tidak pulang malam ini. Tidak lupa ia mengatakan pada ibunya itu untuk tidak usah mengkhawatirkannya. Setelah itu, ia pun menelpon Michael. Terdengar suara makian di seberang sana yang sepertinya adalah suara sahabatnya itu.
"Sorry, I've been kidnapped by someone(maaf, aku telah diculik oleh seseorang)," ucap Elric sambil terkekeh dan melirik Emma yang sedang menyiapkan selimut dan bantal di atas matras. Gadis itu memutar bola matanya mendengar ucapan Elric.
"Sudah dibereskan oleh Fat Tony."
"Owh, okay." Elric menyahut. Lalu ia menutup teleponnya dan membaringkan badannya di atas sofa. Ia baru menyadari kalau tubuhnya terasa remuk redam akibat pukulan dan hantaman salah satu anggota Fordham Fire itu.
"Emma?" panggilnya.
"Hmmm."
__ADS_1
"Kau sudah tidur?" tanya Elric seraya melongok ke bawah sofa di mana Emma sudah masuk ke dalam selimut. Ia hanya bisa melihat ujung kepala gadis itu.
"Yes," jawab Emma dengan malas.
Tangan Elric pelan hendak menyentuh rambut Emma, tapi ia mengurungkan niatnya karena gadis itu sedikit merubah posisi tidurnya. "Elric ...," panggil Emma.
"Ya?" sahut Elric cepat.
"Bisa matikan lampunya?" pinta Emma.
"Owh, okay." Elric menghela napas kecewa. Ia pikir Emma masih mau mengobrol dengannya. "Alexa, turn off the light, please (Alexa, tolong matikan lampunya)," perintahnya kepada benda kecil pipih berwarna hitam dan lampu led biru di lapisan bawahnya yang ada di atas bufet dengan wajah cemberut.
***
Tengah malam, Elric terbangun ketika mendengar suara seseorang sedang terisak. Dalam remang cahaya lampu kota yang menelusup masuk melalui sela-sela tirai jendela, ia melihat Emma sedang menelungkupkan kepala memeluk lututnya.
"Alexa, turn on the light (Alexa, tolong nyalakan lampunya)," ucap Elric seraya beranjak dari sofa.
Ketika lampu menyala, Emma buru-buru menghentikan isak tangisnya dan menyusut air matanya dengan cepat. Ia langsung memasang wajah sebalnya.
"Are you okay (kau baik-baik saja)?" tanya Elric.
"Yeah." Emma masih memeluk lututnya. "I just can't sleep (aku hanya tidak bisa tidur)."
Bohong sekali. Jelas-jelas Elric mendengar ia terisak. Sambil memegangi punggungnya yang nyeri, Elric mendekat dan duduk di samping Emma. Memeluk lututnya sendiri seperti yang dilakukan gadis itu.
"For me, yeah, it's pretty tough (untukku, iya, cukup keras)," sahut Emma dengan pandangan kosong.
Elric menoleh ke arah Emma dan menatap wajah sembab gadis itu. Ia ingin menghiburnya. Tapi, sulit untuknya menyusun kata-kata. Ia takut akan terdengar klise atau sekedar basa-basi. Elric memaki dirinya sendiri karena tidak punya pengalaman sama sekali menghadapi wanita.
Menyukai seorang gadis saja baru kali ini.
Apa? Menyukai seorang gadis?
Elric berdehem sekali untuk melicinkan tenggorokannya. "Emma ...."
"Hmm?"
"Apa kau sedang bersedih?" Elric memaki dirinya dalam hati. Pertanyaan macam apa itu. Tentu saja Emma sedang bersedih. Kalau tidak ia pasti tidak akan menangis.
"Memangnya aku terlihat bahagia?" sindir Emma.
"Yeah." Elric meringis sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Mau meminjam bahuku?"
Emma mengerenyitkan keningnya. "Untuk apa?"
"Untuk ... emm ... yeah ... siapa tahu kau sedang ingin membagi kesedihan dengan orang lain." Elric benar-benar membenci dirinya sekarang. Kata-katanya sungguh tidak tersusun rapi.
__ADS_1
Emma mendesis. "Tidak denganmu," sungutnya.
"Kenapa?"
"Mulutmu tidak bisa dipercaya. Kau pasti hanya ingin mengejekku," kata Emma sambil menoyor pelipis Elric di bagian lukanya, membuat pemuda itu meringis kesakitan. Namun, Emma malah tergelak.
"Aku serius," ujar Elric seraya menatap Emma lekat.
"Bukannya kau membenciku?" Emma menaikkan alisnya.
"Kata siapa? Aku menyukaimu!"
"Huh?" Emma terbengong mendengar ucapan Elric.
"Mak-sudku, iya, aku membencimu, dulu, saat kau mematahkan hidungku." Elric meralat kata-katanya.
Emma terkikik. Ia lalu menghela napasnya dan merangkak masuk ke dalam selimutnya kembali. "Sudahlah, tidur saja," ucapnya sembari memejamkan matanya.
"Emma ...," panggil Elric pelan.
"Hmmm," gumam Emma dengan malas.
"Boleh aku tidur di sebelahmu?" Badan Elric terasa panas dingin mengucapkan kata-kata itu.
Emma mendecak. "Ada apa dengan sofanya?"
"Terlalu kecil. Aku harus meluruskan badanku. Punggungku sakit sekali," keluh Elric.
Emma menghela napas dalam-dalam. "Anak manja!" gerutunya. "Aku saja yang tidur di sofa," ujarnya sambil menyibakkan selimut dan merangkak ke atas sofa.
"Jangan Emma!"
"Huh?" Emma membulatkan kedua matanya.
"Di sini saja," ujar Elric sambil meringis dan menepuk-nepuk tempat kosong di sebelahnya.
"Kau bukan anak-anak lagi, Elric!"
"So (lalu)?"
"Hmm ...." Emma menghela napasnya berat. "Kemari kau," perintahnya.
Dengan senyum lebar Elric mendekat pada Emma yang sudah duduk di atas sofa. "Auchh!" pekiknya ketika segenggam rambutnya ditarik Emma dengan keras. "Eeemmaaa," rajuknya.
"Tidur, Anak bandel!" hardik Emma seraya menarik selimutnya dan membaringkan badannya di atas sofa. Sambil memunggungi Elric yang ada di atas martras, bibir Emma menyunggingkan senyum tipis. Anak bandel itu sudah seperti adik lelaki yang tidak pernah ia miliki saja.
***
__ADS_1