BAD BOY OF MANHATTAN

BAD BOY OF MANHATTAN
Bab 29. Casual Dinner


__ADS_3

James berjalan mondar-mandir di kamarnya. Sesekali ia mengelus janggutnya. Tampak ia sedang memikirkan sesuatu yang sangat serius. Ia sudah mengenakan pakaian yang cukup rapi. Kemeja putih yang dipadu dengan winter coat panjang berwarna hitam, celana jeans biru dan sepatu putih casual keluaran brand ternama. Rambut panjangnya ia sisir rapi ke belakang.


Tidak biasanya James gelisah seperti ini jika ingin mengajak seorang wanita pergi keluar. Bahkan ia harus menyusun agenda, apa saja yang harus ia lakukan nanti saat bersama wanita itu. Selama ini, wanita-wanita yang berkencan dengannya selalu berakhir di tempat tidur pada kencan pertama, karena mereka sangat agresif dan tidak malu-malu serta berpengalaman. Tapi, kali ini feelingnya mengatakan kalau wanita yang akan ia temui ini akan sulit untuk dihadapi. Wanita itu polos, malu-malu, dan masih sangat muda. Karena wanita itu adalah seorang gadis berumur duapuluh satu tahun yang bernama Emma.


Sore itu, dengan hati berdebar James menjemput Emma di apartemennya di East Harlem. Gadis itu benar-benar membuatnya terpukau dengan penampilannya yang sederhana. Sederhana namun manis. Penampilannya sungguh menggemaskan. Old fashion, tapi cantik.


James mengajak Emma ke sebuah restauran mewah di dekat Central Park. Dan dengan polosnya, Emma yang lahir dan besar di New York, mengatakan kalau ia belum pernah satu kali pun menginjakkan kakinya di restauran bernama Loeb Boathouse yang berada di tepi danau.


Menu yang James pesan, spesial, untuk gadis cantik berbaju terusan warna biru tua di hadapannya ini, sesame crusted salmon, dua gelas cocktail yang juga untuk dirinya, dan maple waffles sebagai makanan penutup. Mahal, tentu saja. James berharap Emma terkesan dengan hang out pertama mereka.


"Emma ...."


"Ya?"


"You look beautiful (kau terlihat cantik)," puji James. Ia sudah tidak bisa membendung rasa kagumnya pada Emma.


"Thanks," jawab Emma gugup. Sebenarnya ia sudah gugup dari James menjemputnya. Ia tidak tahu harus mengobrol apa dengan pria tampan itu. Rasa canggungnya begitu luar biasa, meskipun ia merasa sangat bahagia.


"Hidupmu baik-baik saja?" tanya James.


Emma meringis. "Aku mencoba untuk baik-baik saja."


James semakin mengagumi Emma. Gadis muda yang tangguh meskipun didera cobaan yang cukup berat. "You're great (kau hebat)," pujinya kembali. Dan Emma pun hanya tersenyum tipis.


"Emma ... mungkin kau bertanya-tanya kenapa aku mengajakmu makan malam," ucap James dengan wajah serius. "Aku menyukaimu," lanjutnya tanpa basa-basi.


Emma terkejut mendengar ucapan terus terang James. Tubuhnya seketika terasa panas dingin. Ia berusaha menelan salmon yang sedang dikunyahnya dengan susah payah.


"Kau tidak perlu menanggapi sekarang, Emma," kekeh James yang melihat gadis di hadapannya itu salah tingkah.

__ADS_1


Lagi-lagi Emma hanya bisa meringis. Ia pun menyukai James, tentu saja. Wanita mana yang tidak terpesona dengan bassist Hellbound itu. Hanya saja, Emma merasa ini seperti mimpi. Hanya khayalannya belaka. Tiba-tiba ada sosok sesempurna James datang dalam hidupnya. Padahal selama dua puluh satu tahun hidup di dunia, Emma tidak pernah mendapat keajaiban seperti ini.


Tapi, tiba-tiba ucapan Elric tentang James yang sudah punya kekasih, terlintas dalam benaknya. Dan hal itu membuatnya berpikir, keajaiban ini tentunya tidak sempurna. Keberuntungan tidak pernah dirancang semudah ini untuknya.


"Kau baik-baik saja, Emma?" tanya James membuat Emma terkesiap.


"Emh ... yeah," jawab Emma gugup.


"Kau dengar yang aku bilang tadi?" James memastikan. "Kau tidak harus menanggapinya sekarang."


"Aku tidak tahu harus bilang apa." Emma benar-benar mati kutu.


James terbahak. "Lupakan saja. Aku hanya mengungkapkan perasaanku."


"Aku ... hanya gadis biasa. Kenapa kau bisa menyukaiku? Kau bahkan ... belum mengenalku," ucap Emma.


"Berbeda?"


"Yeah ... kau berbeda. Kau tidak seperti gadis-gadis New York yang glamor."


"Aku tahu," kekeh Emma. "Aku memang old fashion." Ia teringat kata-kata yang selalu diucapkan Elric tentang dirinya. Old fashion, kuno.


"In a good way (dalam hal yang baik)," potong James. "Aku suka. Maksudku, itu yang aku suka. Aku tidak pernah bertemu gadis yang punya karakter kuat sepertimu, Emma."


Emma benar-benar merasa tersanjung dipuji sedemikian rupa oleh James. Tapi, ia berusaha untuk tidak terlena. James sudah punya kekasih. Mungkin benar yang Elric katakan, James seorang casanova.


***


Setelah mengucapkan terimakasih dan berpamitan, Emma melangkah keluar dari mobil James dan berdiri di sisi jalan, menunggu hingga mobil mewah warna hitam itu menjauh dari pandangannya.

__ADS_1


"Geez (astaga), Erlic!" pekik Emma ketika ia membalikkan badan hendak melangkah masuk ke dalam gedung apartemennya, dan mendapati Elric berdiri di hadapannya dengan kedua lengan dilipat di depan dadanya.


"Bagaimana kencannya? Sukses?" sindir Elric.


"Hanya makan malam biasa, Elric. Bukan kencan," sahut Emma sembari melangkah masuk ke dalam gedung apartemennya.


"Dia sudah mengatakan perasaannya padamu? Kalian sudah menjadi sepasang kekasih?" Elric mengikuti Emma menaiki tangga.


"Kenapa mengikutiku?" tanya Emma seraya membuka kunci pintu apartemennya.


"Kau belum menjawab pertanyaanku," sahut Elric. Ia masuk ke dalam apartemen Emma tanpa menunggu persetujuan gadis itu dan duduk di kursi panjang buluk yang berada di ruang tamu.


Emma memutar bola matanya jengah. Dalam benaknya muncul pertanyaan, kenapa anak itu peduli ia dan James menjadi sepasang kekasih atau tidak. "Pulang, Erlic!" perintahnya seraya menunjuk jam digital yang ada di atas bufet. Pukul sembilan malam. "Kau sudah berkeliaran di East Harlem seharian, bukan?" tuduhnya.


"Siapa yang berkeliaran? Aku bekerja," protes Elric seraya beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah dapur yang hanya dibatasi oleh lemari pendek. Ia membuka lemari pendingin dan mengambil satu kaleng bir.


Emma mendesis. Ia lalu masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu rapat-rapat membiarkan saja Elric berbuat sesukanya. Ia hanya ingin membersihkan diri di kamar mandi dan mengganti dressnya dengan pakaian rumahan yang lebih nyaman.


Keluar dari kamarnya, ia mendapati Elric sedang berbaring menyilangkan kaki di atas sofa buluknya sambil menikmati rokoknya. "Pulang, Elric! Nanti kau akan dicari orang tuamu," ucap Emma sambil melangkah menuju dapur. Ia mengambil sebotol anggur untuk melanjutkan segelas cocktail yang dihabiskannya bersama James di restauran beberapa saat lalu.


Emma menarik kursi di hadapan Elric menjatuhkan pantatnya di sana. "Elric ...." Ia memanggil pemuda itu.


"Hmmm ...."


"Aku bilang pulang sana," ujar Emma.


Elric bangkit dari posisi berbaringnya dan duduk sambil menatap Emma lekat. "Boleh aku menginap di sini?"


***

__ADS_1


__ADS_2