BAD BOY OF MANHATTAN

BAD BOY OF MANHATTAN
Bab 43. Yes Or No?


__ADS_3

"Elric, why are you here (kenapa kau ada di sini)?" James mengerutkan keningnya menatap Elric yang baru saja keluar dari sebuah kamar.


"Why are you here (kenapa kau ada di sini)?" Elric balik bertanya. Namun hanya basa-basi saja. Ia tahu ayah baptisnya itu mengincar Emma.


Sementara Emma yang merasakan adanya ketegangan di antara kedua pria itu, terutama Elric yang memperlihatkan wajah tidak sukanya terhadap kehadiran James, mencoba untuk mencairkan suasana. "Elric berbagi apartemen denganku, James ...."


"Owh ... benarkah, El? Kau keluar dari Greenwich?" James yang tadinya menoleh ke arah Emma kini kembali memandang Elric.


"Yeah." Elric menjawab sekenanya.


"Aku akan mengganti bajuku," ujar Emma disambut senyuman James.


"Duduklah, El ... aku mau bicara denganmu." James meminta Elric untuk duduk di hadapannya. Setelah pemuda itu mendaratkan pan tatnya di atas kursi, James pun memulai pembicaraannya. "Ayah dan ibumu tahu kau tinggal di sini?" tanyanya.


"Belum."


"Kenapa kau memutuskan berbagi apartemen dengan Emma?"


"Kenapa? Apa kau keberatan?"


James terkekeh. "Tentu saja tidak. Aku hanya heran saja, El."


"Kau mau mengajak Emma ke mana?" tanya Elric sambil melipat kedua lengan ke depan dadanya.


"Ke tempat romantis, ke apartemenku, aku butuh tempat yang nyaman untuk berbicara dengan Emma."


Elric mendecih. "Memangnya pacarmu tidak keberatan kau bersama perempuan lain?" ucapnya sinis.


"Oh, ayolah, El. Kau tahu aku tidak punya pacar."

__ADS_1


"Tidak punya pacar yang serius," potong Elric. "Kau jangan macam-macam dengan Emma, James!" Ia memperingatkan.


"Tenang saja, El ... she's special (dia spesial)," sahut James sambil mengerlingkan matanya pada Elric.


Elric menggeleng pelan. Matanya kini tertuju pada Emma yang baru saja keluar dari kamarnya. Cantik. Masih dengan gaya old fashionnya, tapi Emma tetap cantik. Ia tidak rela gadis ini pergi dengan James Howards.


"Wow ... you look ... beautiful (kau terlihat ... cantik)," puji James sambil beranjak dari duduknya. Pujiannya membuat Emma tersipu.


Elric tidak suka reaksi Emma pada pujian James. Apa gadis itu menyukai ayah baptisnya? Ah, tentu saja ia menyukainya. Bukankah Emma sering membicarakan hal itu padanya?


"See you later (sampai jumpa), El," ucap Emma membuat Elric tersadar James sudah menggandeng gadis itu keluar dari apartemen mereka, meninggalkannya duduk termenung dengan wajah cemberut.


***


James mengajak Emma ke apartemennya di Hudson Yards, area elite yang berada di kawasan sungai Hudson yang membelah New York. Sebuah apartemen mewah yang membuat Emma terkagum-kagum. Seumur hidup baru kali ini ia menginjakkan kaki di sana. Apartemen James adalah tempat mewah kedua setelah kediaman keluarga Bradley yang pernah ia sambangi. Pikir Emma, pantas saja banyak wanita yang mengejar James karena mereka ingin menikmati semua fasilitas yang pria itu miliki. Selain ia juga tampan dan terkenal.


Mimpi apa Emma hingga bisa bertemu dengan James Howards dan diperhatikan olehnya. Namun, Emma merasa ia harus tetap membentengi dirinya agar tidak terjerumus pada semua yang ada pada diri James, sebelum yakin pria itu memang tulus dan menginginkannya. Ia tidak mau menambah penderitaan yang selama ini menaungi hidupnya, dengan menyerahkan hatinya begitu saja pada James, dan pada akhirnya, pria itu hanya mempermainkannya.


Tentu saja Emma terpesona dengan makhluk tampan itu. Tapi, ia mencoba untuk tidak histeris dan sebisa mungkin mengendalikan diri untuk tidak bersikap gugup ketika melihat James datang dari arah dapur membawa dua gelas berkaki panjang berisi cairan merah tua. Sauvignon rouge (anggur merah).


"Thanks," ucap Emma sambil menerima gelas yang disodorkan James padanya. Dari sorot matanya yang tidak lepas memandangi dirinya, Emma tahu, pria ini akan segera menanyakan pertanyaan yang ia lontarkan seminggu lalu.


"Aku tidak sabar ingin mendengar jawabanmu, Emma."


"Aku ...." Meskipun sudah mewanti-wanti dirinya untuk tidak gugup, tetap saja hatinya itu tidak bisa diajak kompromi.


"Emma ... aku tidak terlalu agresif, bukan? Maafkan aku kalau aku kelihatan terlalu menuntut," ucap James yang melihat Emma terlihat gugup, seperti biasanya.


Emma menelan salivanya. Tenggorokannya mendadak terasa kering. Ah, ia lupa sedang memegang segelas anggur. Ia pun meneguk cairan merah tua itu untuk membasahi tenggorokannya. Tapi, bagaimana menjawab James?

__ADS_1


"Setidaknya, beri aku petunjuk apakah aku harus terus mengharapkanmu atau tidak," kata James tegas.


Lihatlah pria itu. Emma pikir, James memang tidak suka bertele-tele. Ia kembali meneguk anggurnya. Kemudian, ia memberanikan diri untuk menanyakan sesuatu. "Hannah?"


James menaikkan kedua alis tebalnya. "Hannah?" Ia mengulang pertanyaan Emma.


"Kau dan Hannah ...."


"Aku tidak punya komitmen apa pun dengannya. Kalau kau menerimaku, aku tidak akan menemuinya lagi."


"Apa ... kau akan berkomitmen denganku?"


"Yes. Of course (tentu saja)."


"Boleh ... aku menanyakan sesuatu?"


"Silahkan, Emma."


"Why me (kenapa harus aku)?"


Bibir James menyunggingkan senyuman manisnya. Ia meletakkan gelas yang sedang dipegangnya ke atas meja. Lalu ia menggeser duduknya mendekat pada Emma. Ia meraih gelas di tangan Emma dan meletakkan gelas itu ke atas meja. "Do you believe love at the first sight (kau percaya cinta pada pandangan pertama)?"


"Aku tidak tahu. Aku belum pernah mengalaminya." Emma tersenyum malu-malu. Pipinya mungkin saat ini sudah bersemu merah. Ia merasa seperti gadis lugu yang tidak punya pengalaman apa pun tentang cinta. Karena memang ia belum pernah berhubungan dengan pria mana pun. Selama ini ia hanya fokus dengan problematika rumah tangga orang tuanya, yang membuat dirinya menarik diri dari semua orang yang berada di sekitarnya.


"Itu yang aku rasakan saat melihatmu pertama kali. Kau akan menganggap itu semacam rayuan atau omong kosong. Tapi, memang itu yang aku rasakan, Emma." James menatap gadis manis di hadapannya ini dengan tatapan tulus. Apa yang diucapkannya adalah benar. Dan ia tidak sedang merayu gadis lugu itu.


"But why me (tapi kenapa harus aku)?" Emma ingin memperjelas lagi kenapa James memilih dirinya.


"Ada satu bisikan dalam kepalaku kalau aku sudah cukup bermain- main dan saatnya melihat masa depan." James mengangkat kedua tangannya. "Aku bukan pria brengsek yang senang mempermainkan wanita. Aku punya pengalaman buruk dengan beberapa wanita yang aku merasa hubunganku serius dan akan naik level ke jenjang berikutnya. Jadi, ada beberapa waktu aku merasa trauma untuk berkomitmen dengan seorang wanita." James mengelus wajah Emma dengan punggung tangannya. "Tapi, sejak aku melihatmu di Greenwich ...." James menelusuri wajah Emma dengan jemarinya. "I know you're the one (aku tahu kaulah orangnya)."

__ADS_1


Emma yang sejak tadi menunduk kini memberanikan diri untuk menghadap wajah James. Tatapan sepasang mata abu-abu itu begitu dalam menghujam jantungnya. Memang tidak mengintimidasi atau bahkan mendominasi, namun tatapan itu begitu lembut, hingga mampu membuatnya terhanyut.


***


__ADS_2