
Proses rekaman satu single perdana dari The Bad Boy Of Manhattan selama tiga hari menyita waktu Elric. Ia harus tinggal di studio untuk bekerja siang dan malam. Tidak ada waktu lagi untuk bersantai-santai. Ia dan teman-temannya dituntut untuk mengerjakan sebuah lagu, yang tidak asal-asalan, syarat dengan idealisme band mereka, namun mampu mengambil simpati pasar. Hal inilah yang menjadi tantangan Elric dan semua personel band. Apa lagi, genre musik mereka lebih eksperimental dan tidak sembarang orang bisa menikmatinya. Mungkin hanya orang-orang yang benar-benar mengerti tentang musik yang bisa menikmatinya. Atau untuk orang awam, lagu mereka harus diputar berulang-ulang, diresapi dan didengarkan pada moment-moment tertentu. Dan jangan lupakan perdebatan intern yang terjadi. Empat kepala, empat otak yang masing-masing punya ide berbeda dalam aransemen yang tidak mudah untuk disatukan.
"Aku tidak terlalu setuju dengan teknik gitar yang kau pakai di bagian melodi, El. Aku pikir itu terlalu rumit," kata Samuel saat mengungkapkan pendapatnya. "Ini lagu pertama. Ada baiknya kita membuatnya lebih catchy untuk membuat pendengar tertarik."
"Jadi, kita harus mengikuti selera pasar?" Elric, yang tidak suka bermain gitar dengan biasa-biasa saja, melontarkan pertanyaan retorik.
"Menurunkan idealisme sedikit demi membuka peluang, aku rasa tidak masalah." Jacob memberi dukungan atas protes yang dilancarkan oleh Samuel. Keduanya memang seringnya mempunyai cara pandang sama.
Sementara Darren, ia lebih setuju dengan Elric. Sehingga membuat The Bad Boy Of Manhattan terlihat seperti memiliki dua kubu. Kubu Elric dan Darren yang super idealist, serta kubu Samuel dan Jacob yang lebih fleksibel.
"Kalau aku menyederhanakan melodi seperti ini ...." Elric memainkan sebait melodi dengan gitarnya. "Kita akan terdengar seperti Rebellion atau Hellbound. Di mana letak originalitas kita? Menurutku, lagu pertama harus dikenang semua orang dengan karakter The Bad Boy Of Manhattan," terang pemuda itu.
"Memangnya ada yang salah dengan Rebellion atau Hellbound? Toh, tidak ada musik yang original zaman sekarang. Era penemuan nada-nada baru sudah lama berlalu." Samuel menimpali.
Elric menggeleng. "Memang tidak original. Tapi, setidaknya kita bisa membangun karakter bermusik kita dari awal. Aku tidak sedang membicarakan originalitas musik secara general. Aku sedang membicarakan keoriginalitasan musik kita," timpalnya.
Darren mengangkat tangannya. "Mungkin kata yang tepat bukan originalitas, tapi warna baru."
"That's it (tepat sekali)," sahut Elric.
"Aku pikir tidak ada yang perlu dirubah dari aransemen mentah lagu ini. Terutama melodi dari Elric, itu sangat menyegarkan telinga pendengar. Tinggal bagaimana kau mengimbanginya dengan beat drummu, Sam," ucap Darren.
"Okay, aku setuju." Jacob menimpali. "Lebih baik kita masukkan ide masing-masing ke dalam lagu ini, dan sebisa mungkin menyatukannya. Aku rasa itu adil untuk semua personel."
Samuel mencebik sembari mengangkat bahu. "Well, that's better (Ya, begitu lebih baik)."
Perdebatan antar empat pemuda tampan itu berakhir dengan damai. Kali ini terjadi kesepakatan. Namun, bukan tidak mungkin ke depannya mereka akan menemui hal-hal semacam ini dan berakhir dengan perpecahan. The Bad Boy Of Manhattan masih seumur jagung. Ibaratnya, mereka adalah biji yang baru keluar akar beberapa centi. Perjalanan mereka masih jauh menuju sang surya.
***
Setelah selesai mengadakan pertemuan dengan CEO SkyLab sore itu untuk membahas single perdana mereka yang baru saja rampung proses rekamannya, Elric memutuskan tidak bergabung bersama teman-temannya yang diundang minum oleh Jerome. Sudah tiga hari ia tidak pulang ke apartemen dan bertemu Emma. Konsentrasinya tidak boleh teralihkan oleh apa pun selain musik. Tiga hari tiga malam otaknya terus bekerja, dan hanya tidur beberapa jam saja.
__ADS_1
Ia rindu Emma. Ia rindu berinteraksi dengan gadis itu. Sekedar makan fast food di taman, atau mengobrol di ruang tamu apartemen mereka, atau melanjutkan niatnya mencium gadis itu yang belum juga kesampaian.
Elric tersenyum sendiri membayangkan adegan hampir berciumannya dengan Emma yang gagal malam itu, seraya mendorong pintu kaca gedung SkyLab. Ia yang sedang melihat jam di pergelangan tangan dikejutkan dengan sesosok gadis yang entah datang dari mana menabrak dirinya cukup kencang.
"Owh, maaf, maafkan aku." Gadis berambut pendek dengan mata bulat yang menabraknya menyentuh lengan Elric. "Kau tidak apa-apa?"
"It's okay," sahut Elric sambil mengelus lengannya yang terasa sedikit pegal terkena hardcase gitar yang dibawa gadis itu.
"Maaf, aku tadi tidak memperhatikan sekelilingku," kekeh si gadis. Lalu memperhatikan wajah Elric dan menaikkan alisnya. "Kau salah satu personel band yang baru bergabung di SkyLab, bukan?"
"Ah, ya," jawab Elric pendek.
"Aku Lily." Gadis itu mengulurkan tangannya.
Ah-tentu saja. Gadis itu terlihat seumuran dengannya. Lily Boyd. Fotonya terpampang di poster yang ada di dalam gedung SkyLab. Poster yang sama seperti di dalam cover album gadis itu, yang ditunjukkan oleh Jerome.
"Elric." Pemuda itu menyambut tangan Lily.
"Senang berkenalan denganmu. Kita akan sering bertemu sepertinya." Lily tertawa renyah. Lesung pipit di pipi gadis itu membuatnya terlihat manis. "Ngomong-ngomong, aku sudah mendengar demo dan melihat profile kalian. Empat orang pemuda jenius yang berbahaya," kekehnya. "Sepertinya aku baru saja mendapat saingan yang berat," guraunya.
"See ya, Elric."
Elric melambai kecil pada Lily. Lalu melangkahkan kaki meninggalkan area gedung SkyLab yang berjejer dengan gedung-gedung perkantoran di area center of Manhattan.
***
Setelah menunggu beberapa lama hingga Emma keluar dari pintu gerbang Zetta School, Elric mengulas senyumnya saat gadis itu muncul dengan raut wajah kaget bercampur gembira melihat kehadirannya.
"Can I give you a hug (boleh aku memelukmu)?" tanya Elric seraya membentangkan kedua tangan.
Emma terkekeh. Ia menghambur ke pelukan Elric. Tiga hari tidak bertemu dengan pemuda itu, tidak bisa dipungkiri kalau ia merasa rindu. Apartemen mereka terasa sepi. Tidak ada kejahilan Elric atau suara gitarnya yang berisik dan terkadang membuatnya susah tidur.
__ADS_1
"Apa kabar, El?" tanya Emma. Keduanya berjalan menelusuri sidewalk. Mereka memutuskan untuk menikmati sore hari dengan berjalan kaki menuju East Harlem.
"Buruk." Elric meringis sambil memijit tengkuknya.
"Senang mendengarnya, El. Kau sibuk sekali, ya, sampai-sampai tidak pernah menghubungiku," sindir Emma.
"Aku tertahan di studio selama tiga hari tiga malam. Yang kupegang hanya gitar, lalu tidur, lalu gitar lagi, dan seterusnya."
Emma tersenyum. "Tapi, aku senang mendengarnya. Yang sedang kau kerjakan itu suatu kemajuan yang significant dalam hidupmu."
"Ya. Tapi, aku merasa jauh darimu."
Emma tergelak. "Drama!"
"No, no ... aku serius. Aku merasa kesepian kalau kau tidak ada."
Emma menghela napasnya pelan. Ia pun merasakan hal yang sama. Tiga hari terakhir ini ia uring-uringan. Satu kali ia mengiyakan ajakan James untuk makan malam dan menikmati indahnya Manhattan dari restauran yang berada di rooftop sebuah gedung pencakar langit, namun begitu hambar. Ia lebih senang makan di restauran kecil di Chinatown, misalnya.
Tapi bersama Elric.
***
Hi ....
Mau tanya. Ini novel kan tentang cinta dan musik. Menurut kalian, pembahasan tentang musik dan kisah cintanya sudah fifty-fifty, belum?
Kalau belum, besok aku tingkatin menjadi:
80% teknik bermusik, 15 % cinta (pada musik), 5 % cinta-cintaan.
Hahahahahahahaha
__ADS_1
Canda!
😁😁😁😁