BAD BOY OF MANHATTAN

BAD BOY OF MANHATTAN
Bab 28. What Is Love.


__ADS_3

CHINA TOWN, MANHATTAN.


Elric memperhatikan Emma yang sedang menikmati Beef Noodle Soupnya dengan penuh hikmat. Melihat gadis itu makan dengan lahap tanpa menjaga imagenya sama sekali, membuatnya berkali-kali meloloskan senyum tipisnya.


"Kau tidak lapar?" tanya Emma yang melihat Elric tidak menyentuh makanannya sama sekali. Pemuda itu lebih terlihat seperti bengong.


"Owh, ya ... aku lapar." Elric buru-buru mengambil sumpit di sebelah mangkuk dan mengaduk mienya.


"Ada sesuatu yang ingin kau lakukan di sini?" tanya Emma.


Elric menggeleng sambil meringis. "I need some fresh air (aku butuh udara segar)," jawabnya.


"Kenapa mengajakku? Bukankah kau punya banyak teman?"


"Mike dan Ryan ingin minum-minum. Aku sedang tidak ingin bergabung dengan mereka."


Emma menghabiskan sisa makanannya dan meneguk segelas teh hangat sebagai penutup. Ia melirik sekilas Elric yang sedang menikmati makanannya dalam diam. Akhir-akhir ini Elric sedikit aneh. Ia merasa pemuda itu sedikit berbeda. Awal-awal bertemu, Elric adalah anak remaja yang sangat menyebalkan. Tapi kini, sikapnya sudah lebih baik. Emma berpikir, mungkin saja pelajaran yang ia sampaikan sewaktu masih menjadi guru kepribadiannya, berhasil masuk ke dalam otaknya. Atau, gurunya yang sekarang memang bagus.


"Aku yang bayar. Aku baru mendapat gajiku," ujar Elric setelah ia menghabiskan semangkuk mienya. Ia menghampiri kasir dan menyelesaikan pembayaran.


"Mau minum bir?" tawar Elric. Kini mereka sudah berada di taman sebuah yang cukup ramai. Taman Columbus sore itu, banyak orang menghabiskan waktu di sana, dengan keluarga atau hanya sekedar berjalan-jalan dengan pasangan mereka.


"Okay," jawab Emma sambil mencari tempat duduk yang masih kosong dan tidak banyak orang berlalu lalang.


"Biar aku belikan dulu," kata Elric. Ia meminta Emma untuk menunggu sebentar dan melangkah keluar dari area taman.


Emma duduk di bangku kecil di bawah pohon callery pear yang tidak berdaun. Ia merapatkan sweaternya menghalau udara peralihan musim dingin menuju musim semi yang begitu dingin di New York. Meskipun dingin, suasana di taman itu cukup menyenangkan. Melihat orang-orang dari berbagai ras dengan wajah-wajah ceria mereka berkumpul dengan keluarga, pasangan dan para sahabat, walaupun terbersit di benaknya rasa iri melihat kehangatan mereka atas satu sama lain.


Dari kejauhan, dilihatnya Elric berjalan mendekat dengan satu dua kaleng bir di tangannya. Pemuda itu menyodorkan satu kaleng bir bertuliskan harpoon winter warmer pada Emma. Lalu duduk di sebelah gadis itu sambil membuka tas punggungnya dan mengeluarkan beberapa bungkus makanan ringan. Pretzels crisp dan beer nuts. Perpaduan yang menggiurkan.


"Thanks," ucap Emma sambil melempar senyumnya pada Elric. "Tadi kau bilang kau baru mendapat gajimu?"

__ADS_1


"Yep." Elric membuka kaleng birnya dan meneguknya pelan.


"Apa pekerjaanmu? Apa seperti yang aku pikirkan?" tanya Emma penasaran.


Elric tersenyum lebar. Ia tidak langsung menjawab, melainkan membantu Emma membuka bungkus beer nuts. "Tidak penting apa pekerjaanku. Yang penting akun cryptocurrencyku tebal," kekehnya.


"Hati-hati, Elric. Kau mengambil resiko besar dengan bekerja pada gangster," ujar Emma sembari mengunyah kacang.


"I like to take risks, I feel alive (aku senang mengambil resiko, aku merasa bersemangat)," sahut Elric. "Keluar dari zona nyaman."


Emma menghela napasnya. "Terserah kau saja." Tetap saja Emma tidak bisa mengerti jalan pikiran Elric.


"Aku sedang berpikir untuk mencari satu pekerjaan lagi. Menjadi pelayan restauran, misalnya."


Emma mendecak. "Kau ini. Bukankah kau punya kemampuan bermusik yang luar biasa. Kenapa kau tidak memanfaatkan itu?"


"Dari mana kau tahu?" tanya Elric sambil menatap Emma.


"Aku pernah melihat videomu di internet. Kau bermain gitar bersama Hellbound."


"Beberapa hari lalu. Hanya iseng."


"Itu sewaktu aku berumur sembilan tahun. Aku masih tertarik untuk menjadi seperti Nathan Bradley waktu itu. Sungguh bodoh," ujar Elric.


"Memangnya kenapa? Kenapa kau anti sekali dengan ayahmu sendiri?" tanya Emma heran. Jika ia punya ayah seperti Nathan, pastilah ia akan merasa sangat bangga.


Elric mengedikkan bahunya. Ia susah menjelaskan hal itu pada orang lain. Hanya ia yang mengerti bagaimana rasanya menjadi anak seorang rockstar yang begitu popular. Bagaimana ia selalu berdiri di bawah bayang-bayang sang ayah. Bagaimana ia dibully di sekolah oleh teman-temannya yang menganggap ia hanya anak manja dan beruntung, yang tidak punya kemampuan apa pun. Bagaimana ia ingin membuktikan pada semua orang bahwa Elric Bradley bukanlah Nathan Bradley.


"Kau tidak mau main musik lagi, El?" tanya Emma membuyarkan lamunannya.


"No!" jawab Elric tegas. Meskipun dadanya sedikit berdebar ketika mengucapkan kata tidak itu. Ia tidak yakin apakah ia memang tidak mau bermain musik lagi. Kenyataannya, ia menikmati sekali ketika mencabik-cabik senar gitarnya. Ia bahkan memproklamirkan dirinya sendiri bahwa ia bermain lebih bagus dari Nathan Bradley. Hanya saja, ya, begitulah.

__ADS_1


"Kau yakin?" desak Emma.


Lagi-lagi Elric mengedikkan bahu. "Aku menikmati apa yang aku lakukan sekarang, Emma."


"Yeah, lagi-lagi ... terserah kau saja."


Elric menatap Emma dari sampingnya. Sejak kapan tepatnya ia menyukai gadis ini? Entah. Perasaan itu muncul begitu saja. Jika tidak melihatnya beberapa hari saja, ia merasa hampa. Jika tidak mendengar Emma mengomelinya, ia merasa sepi.


Is it love that I'm feeling (apakah yang kurasakan ini cinta)?


What is love (apa itu cinta)?


Ponsel di dalam tas Emma berdering. Gadis itu buru-buru mengambilnya. Matanya membulat dan senyumnya seketika mengembang. "Dia menelponku," ucap Emma dengan wajah berbinar.


"Siapa?" tanya Elric sambil melongok ke layar ponsel Emma. "Owh," gumamnya. Wajahnya seketika muram ketika melihat nama James tertera di sana.


"Hi ...." Emma menyapa James di seberang. "Owh ... sepertinya ... aku, tidak punya acara." Emma berbicara beberapa saat lamanya di telepon. Sementara di sampingnya, mood Elric sudah sangat buruk.


"Wow ... James menelpon untuk menanyakan keadaanku," ujar Emma sembari mengguncang bahu Elric. Tapi, sejurus kemudian bibir Emma cemberut. "Apa yang kau bilang itu benar, El? James sudah punya pacar?" tanyanya disambut anggukan malas Elric.


"Kenapa dia menghubungiku?"


"Kalau kau cerdas kau pasti sudah tahu jawabannya," sungut Elric. "Jangan silau dengan pesona seorang rockstar. Jangan terlena. Nanti kau akan merasakan patah hati." Ia mengingatkan.


Emma mencebikkan bibirnya. Mungkin Elric benar. Tapi, James memang sangat memesona. Wajah tampannya begitu teduh. Caranya berbicara dengan wanita sangat lembut. Ia juga pria yang mapan . Membayangkan berada dalam pelukannya pastilah sangat nyaman dan merasa begitu terlindungi. Emma mentertawakan diri sendiri. Imaginasinya tiba-tiba mulai berkelana ke mana-mana.


"Elric, kau mau ke mana?" Emma terkesiap melihat Elric bangkit dari duduknya dan melangkah pergi begitu saja tanpa mengatakan apa pun.


"Pulang," jawab Elric pendek.


Emma mendengus kesal. Bocah aneh itu yang mengajaknya ke tempat ini, dan sekarang meninggalkannya begitu saja.

__ADS_1


"Elric! what kind of attitude is that (sikap macam apa itu)?!" seru Emma kesal.


***


__ADS_2