BAD BOY OF MANHATTAN

BAD BOY OF MANHATTAN
Bab 41. Di Jantung East Harlem


__ADS_3

"Emma," panggil Elric sambil menepuk lengan gadis itu pelan. Pundaknya masih menjadi tempat Emma bersandar. Orang-orang mulai meninggalkan halaman swalayan karena film telah berakhir. Namun, sepertinya Emma sudah jauh berkelana dalam mimpinya.


"Em!" Elric kembali menepuk lengan Emma, kali ini sedikit lebih keras.


"Ya? What? Wassup (apa? ada apa)?" Emma terlonjak kaget. Ia menoleh ke kanan dan kirinya dan mendapati kursi-kursi di sekitarnya telah kosong. Layar besar di hadapannya pun sudah menayangkan iklan kembali. "Filmnya sudah selesai?"


"Yeah," kekeh Elric.


"Damn! I fell asleep, didn't I (si al, aku ketiduran, ya)?"


"Di sini ... selama satu jam empat puluh menit." Elric menunjuk pundaknya.


"Owh, Sorry." Emma beranjak dari duduknya, lalu merapatkan sweaternya dan melangkah meninggalkan halaman swalayan disusul oleh Elric.


Jantung East Harlem malam itu cukup ramai seperti biasanya di malam akhir pekan. Stand-stand makanan, toko-toko yang buka hingga malam, pengamen jalanan dan pejalan kaki yang rata-rata adalah warga sekitar.


Sebenarnya Emma tidak berminat untuk berlama-lama di sana. Ia ingin segera meringkuk di atas kasurnya dan terlelap hingga pagi menjelang. Tapi, lagi-lagi, Elric mengajaknya berjalan-jalan menikmati suasana malam yang dingin. Melihat betapa cerianya wajah anak itu, Emma pun tidak tega untuk menolak ajakannya.


"Mau makan marshmallow? Taco? Chicken sandwich atau ...." Erlic memandang sekelilingnya, barangkali menemukan cemilan enak yang mungkin Emma sukai.


"Marshmallow? Okay." Emma menyahut.


"Tunggu di sini."


Pandangan Emma mengikuti langkah Elric menuju sebuah toko permen yang berada di samping kirinya. Gadis itu merasa heran kenapa Elric begitu antusias mengajaknya jalan-jalan. Tapi Emma tidak ingin berpikir macam-macam. Mungkin Elric hanya butuh teman. Itu saja.


Elric keluar dari toko permen sambil menggoyang-goyangkan satu bungkus besar marshmallow di tangannya. "Kenapa para gadis suka sekali marshmallow?" gumamnya seraya menyodorkan bungkusan berwarna pink itu pada Emma.


"Because it's soft and sweet (karena lembut dan manis)." Emma membuka bungkusan di tangannya. "Sweet (manis)," ujarnya seraya mengunyah satu manisan kenyal berwarna putih itu. "Kau mau?" tawarnya pada Elric sambil mengambil satu manisan lagi dan memasukkannya ke mulut pemuda itu.


"Lihat langit Manhattan malam ini," tunjuk Elric ke atas.

__ADS_1


Emma mendongakkan kepalanya. Langit tampak cerah, meskipun masih sedikit terhalang oleh polusi udara dan juga polusi cahaya. Namun, itu adalah pemandangan yang cukup langka untuk wilayah sepadat Manhattan. Dan udara pun semakin dingin dengan tingkat kelembaban yang rendah.


"El, apa kau masih bekerja pada Fat Tony?" tanya Emma ketika mereka duduk bersebelahan di pot beton yang memutari pohon Carpinus.


"Yeah. Kalau aku tidak bekerja dengannya, bagaimana aku membayar sewa apartemen dan kebutuhan lainnya?''


Emma memutar kedua bola matanya. Ia tahu alasan Elric hanya dibuat-buat saja. "Memangnya apa pekerjaanmu?"


"A delivery man (kurir)."


"Barang apa?"


"Apa saja. Sebagian besar cannabis."


"Bukankah pekerjaan itu terlalu beresiko?"


"I like to take risks (aku suka mengambil resiko)."


Elric menarik sudut bibirnya. "That's cool, right (asyik, kan)?" kekehnya.


Emma mendecak. "Tidak asyik kalau kau harus berakhir di penjara, atau cacat, atau kemungkinan terburuk adalah ...."


"Mati," potong Elric. Ia terbahak. "Hidup itu penuh dengan resiko, Em. Bahkan ketika kau sedang tidur di kasurmu yang nyaman saja tidak menjamin kau bebas dari resiko apa pun."


Pintar sekali anak ini menjawab. Emma tidak lagi bisa berkata apa-apa. Pilihan hidup Elric memang aneh. Di saat ia punya segalanya, justru ia memilih untuk berjuang dari nol dengan jerih payahnya sendiri. "Mungkin aku sudah pernah menanyakan ini padamu. Tapi, aku akan menanyakannya lagi. Apa kau berhenti bermain musik memang benar-benar karena ayahmu? Maksudku, kau benar-benar tidak ingin berada di bawah bayang-bayang ayahmu?"


"Aku tidak berhenti. Aku menepi. Aku ingin memutus campur tangan orang tuaku dalam bermusik." Elric mengambil bungkus rokok di saku celananya lalu menyalakan sebatang. "Aku cinta musik. Itu bagian dari hidupku sejak dulu. Tapi, kalau aku ingin serius menekuninya dan berkarir di sana, memulai dari awal tanpa keterlibatan ayahku adalah pilihan yang tepat."


"Kenapa? Bukankah itu bisa memuluskan jalan karirmu?"


Elric menghisap rokoknya dalam-dalam lalu menghembuskan asapnya. Ditatapnya Emma yang duduk di sampingnya. "Aku tidak sedang menyombongkan diri. Tapi, biar aku terangkan padamu, Em ... aku punya kemampuan bermusik di atas rata-rata. Aku punya banyak ide. Aku berinovasi. Dan aku ingin orang melihatku sebagai Elric Bradley dengan apa yang aku punya di sini." Elric mengetuk-ngetuk kepalanya sendiri dengan jari telunjuknya. "Bukan karena mereka melihat nama besar ayahku lalu semua jalanku dipermudah. It's f ucking bullsh it (itu omong kosong)!"

__ADS_1


"Owh, okay, I see (aku mengerti)." Emma menyunggingkan senyumnya. Untuk remaja berumur tujuh belas tahun, Elric termasuk hebat bisa memegang teguh prinsipnya, meskipun membuat orang-orang di sekitarnya salah paham.


"Kalau aku bertemu dengan orang-orang yang cocok dan satu frekwensi denganku, entah besok, lusa atau dalam waktu dekat ini, aku akan memulai bandku."


"Nice, El."


"Yang penting kau selalu mendukungku."


"Huh?" Emma mengerutkan dahinya. "Aku?" Ia menunjuk dirinya sendiri.


"Iya. Kau. Aku butuh dukunganmu, Emma."


Emma yang masih keheranan menatap Elric penuh tanda tanya. "Why me (kenapa aku)?"


"Karena ... karena aku tinggal satu apartemen denganmu. Bukankah ... dengan kata lain kita berdua sudah seperti keluarga?"


Emma menghela napas lega. Memang jawaban itu yang ingin didengarnya dari mulut Elric. Ia menghalau pikiran-pikiran aneh tentang anak itu yang terkadang hinggap di benaknya, ketika Elric bersikap atau mengatakan hal-hal aneh padanya.


***


HUNTER SCIENCE HIGH SCHOOL, MANHATTAN.


"Hei, Rockstar Boy? Di mana pengawalmu, huh?"


Suara ejekan itu terdengar dari arah gerombolan siswa laki-laki yang berkumpul di dekat pintu masuk gedung utama sekolah. Elric yang tahu ejekan itu ditujukan padanya, seperti biasa hanya menganggapnya angin lalu.


"Si anak manja yang tidak bisa lepas dari ketiak ayahnya." Kalimat itu disambut oleh gelak tawa begitu Elric melewati para pemuda itu.


Elric menghentikan langkahnya. Ia mengepalkan telapak tangannya menahan geram. Selama ini ia tidak mengacuhkan ejekan anak-anak breng sek itu karena dirinya malas membuat keributan. Namun hari ini akan berbeda.


***

__ADS_1


__ADS_2