BAD BOY OF MANHATTAN

BAD BOY OF MANHATTAN
Bab 42. The Bad Boy Of Manhattan


__ADS_3

"Kalian punya masalah denganku?" Elric melipat kedua telapak tangan ke depan dadanya. Menatap tajam pada gerombolan pemuda yang selama ini sering membullynya itu.


"Wah, lihat anak manja ini, rupanya dia punya keberanian juga." Pemuda yang berperawakan paling besar di antara teman-temannya bersuara, disambut dengan ejekan teman-temannya yang ditujukan untuk Elric.


Elric menggeleng pelan. Ia berpikir ulang untuk menghajar para pemuda itu. Untuk apa ia membuang waktu meladeni orang-orang bodoh yang tidak tahu apa-apa tentang hidupnya.


"Elric, ada masalah?"


Suara Ryan mengagetkannya. Ia datang bersama Michael dan beberapa tiga temannya dari East Harlem yang rata-rata bertampang beringas. Mereka sudah siap memasang badan untuk Elric. Kalau soal berkelahi, mereka sudah terbiasa menghadapi anggota gangster yang jauh lebih brutal dari pemuda-pemuda sok jagoan yang merasa berkuasa di Hunter Science.


"Aku tidak punya masalah. Mereka yang membuat masalah." Elric menarik sudut bibirnya melihat nyali para pemuda itu terlihat menciut. Tentu saja mereka tidak ingin mencari masalah dengan anak-anak East Harlem yang terkenal tidak main-main jika sudah terlibat perkelahian antar geng.


Si badan besar mengangkat kedua tangannya. Lalu tanpa mengatakan apa pun, ia mengajak teman-temannya berlalu dari hadapan Elric. Walaupun tatapannya pada Elric masih terlihat sinis.


"Bunch of losers (sekelompok pecundang)!" umpat Michael.


Elric mengibaskan tangannya. Ia mengajak Ryan dan Michael masuk ke dalam gedung utama sekolah setelah sebelumnya menghadiahi tiga temannya yang lain high five (tos).


"El, lihat ini!" langkah Michael terhenti di depan sebuah layar besar yang menempel di dinding berdekatan dengan ruang guru. Layar itu adalah tempat di mana para siswa bisa melihat pengumuman penting, karya, dan segala hal yang berhubungan dengan kegiatan sekolah maupun kegiatan di luar sekolah yang dirasa cukup bermanfaat, seperti info summer camp, kompetisi, dan lain sebagainya.


Elric melangkah mundur mendekati Michael dan berdiri di samping sahabatnya itu, kemudian memeriksa layar. Telapak tangan Michael mengusap permukaan layar untuk mengembalikan sebuah poster yang sudah berganti dengan info lainnya.


Hi, we are looking for a talented lead guitarist for joining our experimental band "The Bad Boy Of Manhattan". If you feel you're the choosen one, come and get us at Columbia University.


Contact me, Darren Chevalier.

__ADS_1


Begitu yang Elric baca dari poster virtual di layar. Ia memandang bergantian antara Michael dan Ryan mencoba meminta pendapat kedua sahabatnya itu. Sebuah audisi band untuk mencari gitaris berbakat. Yang membuat Elric tertarik adalah kata experimental yang mereka sematkan pada genre bandnya.


"Kau bisa mencobanya, El," kata Michael.


"Bukankah kau tidak mau bermain musik lagi?" tanya Ryan, memandang ke arah Elric yang tampak bimbang.


"Aku mau bermain musik lagi. Karena ...." Elric menggantung kata-katanya. Ia tidak mungkin mengatakan ada seseorang yang membuat gairah bermusiknya kembali muncul. Elric tidak mau menjadi bulan-bulanan kedua sahabatnya itu.


"Jadi?" tanya Michael yang sedang menunggu Elric melanjutkan ucapannya.


"Akan aku pikirkan." Elric menyunggingkan senyumnya. Ia tidak sabar untuk menemui Emma dan meminta pendapatnya.


***


Emma tersadar ada James yang baru saja masuk dan menghampirinya. Tenggorokannya seketika tercekat. Dadanya berdebar tidak menentu. Ia pun menjadi salah tingkah.


"Hi, Girls (halo, gadis-gadis)," sapa James ramah dan membuat Alice dan dua rekannya seperti ingin pingsan saja. Lain halnya dengan Emma yang hanya berdiri mematung tanpa sanggup menyahut sapaan James.


"Kau mau menjemput Emma?" tanya Alice seraya melirik Emma yang kini melotot ke arahnya.


"Yeah. Apa Nona cantik ini sudah siap untuk pulang?" James menoleh pada Emma sambil melempar senyumnya.


Emma hanya bisa mengangguk. Kemudian, seraya memelototi ketiga temannya dan mengatakan stop it (hentikan) pada mereka yang terus menggodanya, ia mengikuti langkah James keluar dari restauran.


James memakai topi rajut musim dinginnya sebagai kamuflase agar tidak dikenali siapa pun. Ia menggandeng tangan Emma berjalan menelusuri sidewalk East Harlem yang sore itu tidak terlalu ramai orang berlalu lalang.

__ADS_1


"Emma, maaf seminggu ini aku tidak menghubungimu. Aku sibuk sekali." James memulai pembicaraannya.


"It's okay (tidak apa-apa)," jawab Emma lirih. Tentu saja tidak apa-apa. Ia mengerti pria di sampingnya ini pasti sangat sibuk. Dan Emma tidak berani mengganggunya. Meskipun ada semacam perasaan rindu yang bergelayut dalam hatinya. Tapi, Emma sadar, ia masih beum bisa memberi jawaban atas penawaran James untuk menjadi kekasihnya.


"Sepertinya aku sudah siap mendengar jawabanmu," kekeh James seraya mengerlingkan matanya ke arah Emma.


Emma menelan ludahnya dengan susah payah. "Aku ...."


"Tahan dulu, Emma. Aku tidak mau kau menjawabnya di pinggir jalan seperti ini ...."


Emma mengelus tengkuknya. Astaga. Penampilan James benar-benar membuat dadanya berdebar kencang. Kenapa pria itu tampan sekali. Coat hitam berlapis-lapis dengan kancing terbuka, memperlihatkan kemeja garis-garis yang menjadi dasar pakaiannya. Topi rajut yang menyembunyikan rambut panjangnya membuat James terlihat lebih tampan dari biasanya. Dan jangan lupakan jambang tipis yang menghiasi wajahnya. So manly (macho sekali).


"Kita ke apartemenmu dulu, ya?" James tidak sedang meminta izin. Ia sedang memberi keputusan ke mana tujuan mereka sekarang.


Emma hanya bisa mengangguk. Ia pun membiarkan saja tangannya yang masih digandeng oleh James, dan sesekali melirik ke arah pria itu. James seperti tahu apa yang diinginkannya. Ia tidak pernah berbasa-basi, tapi ia tidak kasar. Ia memperlakukan Emma seperti seorang gadis yang sedang berada dalam perlindungannya.


"Ladies first," ucap James ketika Emma membuka pintu apartemennya dan mempersilahkannya masuk terlebih dahulu.


Emma pun masuk diikuti oleh James. Gadis itu mempersilahkan basisst Hellbound itu untuk duduk di sofa ruang tamunya yang tidak luas tapi juga tidak sempit.


Elric keluar dari kamarnya ketika mendengar suara pintu apartemen dibuka oleh seseorang. "Emma, kau sudah pulang? Ada yang ingin aku ...." Kata-katanya menguap begitu saja ketika melihat ayah baptisnya duduk di atas sofa, memandangnya dengan kening berkerut.


"Elric? Why are you here (kenapa kau ada di sini)?"


__ADS_1


__ADS_2