BAD BOY OF MANHATTAN

BAD BOY OF MANHATTAN
Bab 58. Unknown Feeling.


__ADS_3

Elric mendorong pintu studio milik Nathan pelan. Sang ayah sedang sibuk dengan gitarnya sehingga tidak menyadari kehadirannya. Akhirnya, ia memutuskan untuk menunggu beberapa saat sambil menyandarkan punggung di samping pintu. Memperhatikan gerak-gerik ayahnya memainkan gitar dengan penuh hikmat.


Nathan menyelesaikan satu sayatan pada senar gitar Les Paulnya, kemudian memutar badan dan mendapati sang putra sedang memperhatikannya. "Owh, Elric. Come here, Boy (kemari, Nak)."


"Hello, Nathan." Elric mendekat pada sang ayah dan memberi pelukan sekilas. Nathan lalu menyuruh pemuda itu duduk di sampingnya.


"Apa kabar, El?"


"Seperti yang kau lihat." Elric menyentuh senar gitar yang masih dipegang Nathan. "Masih setia dengan gitar klasik tuamu ini?" kekehnya.


"Well, ini gitar bersejarah. Saksi perjalanan Hellbound. Aku tidak mungkin melelangnya."


Elric manggut-manggut. "Berapa harganya dulu?" tanyanya.


"Hmm ... kalau tidak salah lima ribu dollar."


Elric meminta Nathan memberikan gitar berwarna hitam itu padanya. "Repot sekali. Kenapa tidak memasang jack wireless saja?" katanya seraya merapikan kabel yang menancap pada output jack gitar.


Nathan terbahak. "Kalian gitaris muda, tidak mengerti asyiknya bermain dengan gitar klasik."


"Yeah, right (terserahlah)." Elric memutar bola matanya. Ia lalu mencoba memainkan sebait nada yang membuat Nathan membulatkan mata birunya.


"Tunggu! Apa itu tadi?" tanya Nathan. "Coba kau ulangi lagi." Elric meringis. Ia kemudian memainkan kembali nada yang sesaat lalu ia perdengarkan.


"Bisa kau jelaskan apa itu?"


"Well, gabungan antara noise dan industrial."


Nathan memicingkan mata menatap sang putra. "Did you invent this technic (kau yang menemukan teknik ini)?"


"Tidak. Aku mengambil inspirasi dari mana-mana. Kebetulan teman satu bandku punya selera yang sama."


"Kau punya band, El?"


Elric terkekeh. "Yeah. Dengan Darren Chevalier."


Kembali Nathan membulatkan matanya. Teringat pembicaraannya dengan Ben Chevalier beberapa waktu lalu tentang anak-anak mereka. Rupanya takdir memang benar-benar mempertemukan Elric dan Darren.


"Wow!" ungkap Nathan terkagum-kagum. Putranya ini sudah memiliki banyak kemajuan dalam hidupnya. Sepertinya, membiarkan Elric menentukan jalan hidupnya sendiri adalah keputusan yang tepat. Nathan tidak perlu memaksa Elric untuk bermusik. Karena musik akan menuntunnya kembali. Dan, ayolah-skill gitar Elric sangat tidak bisa dianggap remeh. Anak ini memang jenius.


"I'm so proud of you, Kid (aku bangga sekali denganmu, Nak)," ucap Nathan seraya menepuk-nepuk bahu Elric.

__ADS_1


"Jangan bangga sekarang, Dad. Perjalananku masih jauh."


"Ah, apa pun itu aku tetap bangga padamu." Nathan merangkul leher Elric dan mengusap-usap ujung kepala pemuda itu gemas. "Apa yang membuatmu pulang kemari, El?"


Elric berdehem sekali. Lalu meletakkan gitar milik sang ayah ke stand gitar. Pemuda itu menarik satu kursi dan duduk di hadapan Nathan.


"Aku butuh uang, Dad."


"Hmm ...." Nathan mencebik. Sebuah moment langka Elric meminta uang padanya.


"Aku tidak meminta. Aku meminjam."


"Kau mau meminjam uang padaku?" Nathan menaikkan kedua alisnya.


"Kalau kau mau membantuku. Tapi, kau harus membantuku. Aku sangat membutuhkannya. Beri aku tiga bulan untuk mengembalikannya."


Nathan terkekeh mendengar penuturan putranya itu. "Berapa yang kau butuhkan?"


"50.000 dollar."


Bibir Nathan mencebik. "Untuk apa uang sebanyak itu?" selidiknya.


"Mereka berurusan dengan mafia?"


Elric mengedikkan bahu. "Sepertinya begitu. Ini menyangkut seorang ibu. Dia akan kehilangan putranya kalau besok sore uang itu tidak tersedia. Aku membayangkan Alya berada di posisi itu."


Nathan tersenyum. Mulia sekali hati putranya ini. Alya juga menceritakan padanya kalau Elric menjual mobil sport hadiah darinya untuk membantu melunasi student loan seorang teman dan sisanya ia sumbangkan ke panti asuhan.


"Jadi?" tanya Elric.


"Akan aku transfer uangnya ke akun cryptomu."


Elric menghela napas lega. "Thanks, Dad," ucapnya.


"Tapi ... dengan satu syarat. Menginap malam ini dan temani ibumu jalan-jalan besok."


"Deal!"


***


Masalah Noah sudah selesai. Yang terpenting adalah melihat Nyonya McGovern tidak khawatir lagi. Namun, Elric sempat memperingatkan Noah untuk tidak kembali membuat masalah. Pemuda itu berjanji untuk bersikap baik dan menjauhi judi agar tidak terlilit hutang, meskipun Elric tidak yakin apakah ia akan menepati janjinya itu.

__ADS_1


Begitu sibuknya hari itu, dari menemani Alya jalan-jalan di pagi hari, lalu siangnya ia harus berada di studio, dan sore ia mengurus masalah Noah hingga tuntas. Sampai-sampai, Elric lupa kalau Emma semalam marah-marah padanya saat ia menelpon gadis itu untuk mengabarkan kalau ia berhasil mendapatkan uang dari ayahnya untuk membantu Noah. Emma masih tidak setuju kalau Elric membantu pemuda itu. Alhasil, gadis itu memutus sambungan telpon secara sepihak.


Elric membuka pintu apartemen pelan dan mendapati ruang tamu gelap. Ia menekan saklar manual yang ada di samping pintu. Lampu menyala, namun tidak ada Emma di sana.


"Emma!" panggilnya sambil mengetuk pintu kamar. Ia yakin gadis itu sudah pulang karena coatnya sudah tergantung di sudut ruangan.


"Em ...." Jemari tangannya berhenti di udara saat pintu dibuka dari dalam. Emma memasang wajah cemberutnya seraya menatap sinis pada Elric.


"Masih marah?"


"Menurutmu?"


"Boleh aku masuk?"


"Tidak!"


"Ya, sudah, ayo bicara di ruang tamu." Elric menarik tangan Emma dan membawa gadis itu duduk bersebelahan di ruang tamu.


"Aku janji. Sekali ini saja aku menolong Noah. Lain kali aku pastikan dia tidak berulah." Elric menunjukkan dua jarinya. "Aku hanya memikirkan Nyonya McGovern."


"Lebih bagus Nyonya McGovern kehilangan anak tidak berguna seperti dia," sungut Emma.


"Hei, Emma ... ucapanmu itu sungguh jahat." Sejujurnya Elric tidak mampu menahan senyum bahagia saat gadis itu mengomelinya seperti ini.


"Masalahnya, sekali kau membantunya, dia pasti akan merasa ... hei!" Emma terkesiap saat Elric tiba-tiba mencium pipinya. Hanya sekilas, namun mampu membuat ucapannya menguap di udara. "Ish!" Dipukulnya pelan bahu Elric. "Aku sedang bicara serius, El!" hardiknya.


"Okay, okay ...." Elric mengangkat kedua tangan tanda menyerah.


"Sudahlah, terserah kau saja." Emma beranjak dari duduknya. "Aku mengantuk." Gadis itu melangkah kembali ke arah pintu kamar.


"Tidak mau memberiku pelukan selamat malam?" tanya Elric yang kini sudah berdiri di belakangnya.


Emma memutar badan. Dilihatnya Elric sudah membuka kedua tangan meminta sebuah pelukan darinya. Gadis itu menghela napas terlebih dahulu, kemudian masuk ke dalam dekapan si jangkung di hadapannya itu.


Saat keduanya saling melepaskan pelukan, ada moment sepersekian detik wajah mereka saling berdekatan, namun ragu-ragu untuk saling mempertemukan bibir mereka.


"Good night, Em ... sweet dream."


Emma mengangguk. Kedua pasang mata saling beradu hingga pintu kamar memutus pandangan mereka.


***

__ADS_1


__ADS_2