BAD BOY OF MANHATTAN

BAD BOY OF MANHATTAN
Bab 34. Wajahku?


__ADS_3

"Emma, aku sakit." Erlic menatap layar ponselnya dengan wajah Emma terbingkai di sana mengerutkan keningnya.


"So (lalu)?"


Elric yang terbaring dengan wajah lesu di atas ranjangnya meringis. "Kau bisa datang ke sini?"


"What (apa)?" Emma terkejut. Namun sejurus kemudian tampak gadis itu melambai pada seseorang yang berpamitan padanya sambil tersenyum.


"Bisa atau tidak, Em?"


"Kenapa aku harus datang ke sana?"


"Aku bosan. Hanya ada Lupita di rumah ini. Aku ingin keluar rumah tapi demamku cukup parah."


Terdengar Emma mendecak. "Memangnya ke mana orang tuamu, El?"


"Pergi."


Emma menghembuskan napasnya kasar. "Panggil dokter saja, El."


"Aku tidak mau dokter. Aku mau kau datang ke sini. Sekarang."


"Kau ini benar-benar anak manja, ya!"


Elric kembali meringis. "Ayolah, Em. Mungkin sebentar lagi aku akan mati. Hanya kau yang aku percaya untuk menjadi saksi surat wasiat yang akan aku tulis."


Emma memutar bola matanya sebal. Namun, melihat wajah Elric yang putus asa, gadis itu pun akhirnya menyetujuinya. Elric tersenyum senang. Ia segera menekan tombol digital di layar tablet yang ada di atas nakasnya dan memberi perintah pada Lupita, "Kalau Miss Emma Lopez datang, suruh dia langsung masuk ke kamarku."


Elric menarik selimut tebal menutupi seluruh tubuhnya. Ia memang terserang demam tinggi akibat penyesuaian kulit punggung dengan tinta-tinta yang menyatu. Saat ini, ia hanya ingin bertemu Emma dan mengobrol dengannya. Ia menunggu kedatangan gadis itu dengan hati berdebar.


Sementara itu, Emma baru saja masuk ke dalam kereta bawah tanah yang akan membawanya ke Greenwich. Sepanjang perjalanan, tidak henti-hentinya ia bertanya-tanya dalam hati, kenapa Elric menyuruhnya datang. Kalau anak itu sakit, kenapa tidak memanggil dokter saja?


Pertanyaan-pertanyaan itu terus menyelinap dalam benaknya hingga ia sampai di rumah mewah keluarga Bradley. Lupita, sang asisten rumah tangga menyuruhnya langsung masuk ke dalam kamar Elric yang berada di lantai atas.

__ADS_1


Emma pelan membuka pintu yang tidak terkunci dan mendapati anak itu sedang meringkuk di bawah selimut tebalnya. "Hei, kau masih hidup, El?" tanya Emma seraya menyentuh kaki Elric.


"Ah, akhirnya kau datang juga, Emma. Hampir saja malaikat maut membawaku. Kalau saja aku tidak bernegosiasi dengannya. Aku bilang padanya, ada seorang bidadari yang akan datang dan menemaniku," kekeh Elric sembari membuka selimut dan menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang. Ia meringis karena punggungnya terasa nyeri.


Emma memutar bola matanya. "Jadi, apa yang harus aku lakukan?" tanyanya.


"Duduk di sini." Elric memberi isyarat dengan telunjuknya ke tepi ranjang. "Aku tidak merepotkanmu, bukan?"


"Repot sekali," sahut Emma seraya menjatuhkan pan tatnya ke tepian ranjang, di samping kaki Elric. Emma memicingkan matanya memandang Elric. Wajah anak itu terlihat merah. Hidungnya pun memerah, dan matanya berair. "Kau memang demam?" tanyanya sambil menempelkan punggung tangan ke kening Elric. Panas sekali.


"Memangnya aku berbohong?" sungut Elric.


"Kenapa tidak memanggil dokter?"


"Tidak perlu. Sebentar lagi juga sembuh. Aku hanya butuh kau di sini."


"Huh?" Emma memasang wajah bengongnya.


"Kau ingin makan atau minum sesuatu? Mungkin aku bisa mengambilkannya di dapur," tawar Emma.


"Tidak usah. Aku bisa menyuruh Lupita." Elric menekan kembali tombol digital merah di layar tablet. "Lupita, bawa sebotol anggur dan dua gelas ke kamarku."


Emma membulatkan mata indahnya. "Minum anggur, ya?" cebiknya.


Elric meringis sambil menggaruk rambut ikalnya yang mulai panjang. "Aku bosan, Em," keluhnya manja.


"Ngomong-ngomong ... kenapa kau bisa terserang demam?" tanya Emma.


Elric pelan meloloskan kaos yang membalut badannya, membuat Emma terkesiap dan kembali membulatkan matanya. "Kenapa kau melepas bajumu?" pekiknya.


Elric mendecak. "Jangan mesum. Aku hanya ingin menunjukkan sesuatu padamu."


Emma mendesis. "Apa?"

__ADS_1


"Kemari," pinta Elric. Ia menyuruh Emma mendekat. Gadis itu menatap curiga pada Elric. "Ayo, Emma. Kemari!"


Emma mendengus. Pelan ia beranjak dari duduknya dan mengikuti telunjuk Elric yang mengarah ke punggung pemuda itu. "Kau membuat tattoo?" tanya Emma terkejut.


"Ya. Bagaimana menurutmu?"


Emma mengamati gambar yang ada di punggung Elric dengan seksama. Wanita bermahkota duri dengan sayap malaikat yang besar. Ia mengerutkan dahinya.


Kenapa wajah wanita itu mirip sekali denganku?


"Bagaimana? Kau suka?" tanya Elric membuat Emma terkesiap.


"Ini ...." Emma menggantung kata-katanya. Ia tidak mau menanyakan apa yang sedang dipikirkannya.


"Wajahmu. Benar."


"Huh?" Emma terheran-heran. Elric seperti tahu apa yang sedang dipikirkannya. Tapi kenapa? Rasanya ia tidak ingin menanyakan lebih lanjut alasannya.


"Kau keberatan kalau aku memakai wajahmu untuk aku gambar di punggungku?" tanya Elric.


"Eehm ... aku ... tidak, hanya saja ... ehmm ...." Emma mendadak merasa gugup. Ada apa dengan Elric? Entah apa yang berkecamuk dalam benaknya saat ini. Ia takut dengan apa yang dipikirkannya sendiri.


Elric meraih tangan Emma dan membimbingnya kembali duduk di tepian ranjang. "Emma ...."


"Ya?"


Elric mendekatkan dirinya pelan pada Emma. Tatapan matanya yang sendu membuat gadis itu terbengong dan lupa untuk berkedip. Untuk Emma, otaknya buntu mencerna ini. Ia tidak tahu apa yang akan Elric lakukan. Sejujurnya, ia tidak mau tahu. Hingga keheningan beberapa saat di antara keduanya dipecahkan oleh suara pintu kamar yang terbuka dan sosok pria tampan berambut panjang berdiri di ambang pintu dengan ekspresi wajah yang sulit untuk diucapkan dengan kata-kata.


"Pakai kaosmu, El!" seru Emma seketika sambil meraih kaos Elric yang tergeletak di dekatnya dan melemparkannya ke wajah Elric. Emma berdiri mematung di sisi ranjang seraya menatap pria yang kini juga sedang menatapnya tajam.


Astaga, James!


***

__ADS_1


__ADS_2