BAD BOY OF MANHATTAN

BAD BOY OF MANHATTAN
Bab 46. Start The Band.


__ADS_3

"Kau akan memegang lead guitar ...." Darren memainkan beberapa nada broken dengan efek synthesizer dari gitarnya.


Elric membulatkan matanya. "Kau serius? Kau tidak mau mengambil posisi itu? Kau front man di band ini." Ia memutar tuning page gitar di tangannya.


"Aku ambil vokal dan rhythm (gitar latar)." Darren terkekeh. "Kau bermain eksperimental, bukan?"


"Aku mempelajari beberapa teknik. Tapi, belakangan ini aku sedang mencoba masuk industrial dan deathgrind."


Darren mengangguk-angguk. "Aku rasa kita berada dalam satu frekwensi. Kau cocok dengan kriteria gitaris yang aku cari."


Elric tersenyum lebar. "Apa proyek pertama yang akan kita kerjakan dalam waktu dekat ini?"


"Hmm ...." Darren menjajal suara distorsi gitar yang baru saja ia atur. "Membangun chemistry antar personel. Terutama denganmu, Elric."


Tentu saja. Ia orang baru di band ini. Meskipun skill bermain gitarnya sangat mumpuni, ia masih harus menyesuaikan diri dan menyeleraskan ide-idenya dengan para personel lama. "Sebelumnya band ini mengambil genre apa?" tanya Elric.


"Experimental death metal." Darren menjawab. "Sebenarnya aku banyak terinspirasi dengan musik-musik metal era tahun 90an. Ada juga yang terinspirasi dari Rebellion dan juga Hellbound," kekehnya. "We can't deny that our old men are musically brilliant (kita tidak bisa memungkiri kalau ayah-ayah kita brilian dalam bermusik)," lanjutnya seraya melirik Elric yang terlihat menyunggingkan senyum tipisnya.


"Aku lebih condong pada Rammstein dan Nine Inch Nails." Elric menyahut. Walaupun ia juga sempat kagum dengan Hellbound, namun ia malas untuk mengakuinya.


"Ah, industrial metal murni," kekeh Darren. "I like them too (aku juga suka mereka)."


"Industrial deathgrind, how about that (bagaimana)?" Elric mengutarakan idenya untuk genre yang akan diusung oleh Bad Boy Of Manhattan.


Saat itu, dua personel lain, Samuel dan Jacob baru bergabung dengan Elric dan Darren di dalam studio. "Berbicara tentang genre, kau punya ide, Elric?" Samual sang penggebuk drum bertanya. Sepertinya dimaksudkan untuk menguji sampai di mana pengetahuan anak itu tentang musik ekstrim.


"Aku baru saja menyampaikan ideku pada Darren," sahut Elric.


"Industrial deathgrind," sambung Darren seraya memandang Samuel dan Jacob.


"Hmm ... tidak jauh dengan genre kita sebelumnya, bukan?" ujar Samuel. Elric memang ditakdirkan untuk bergabung dengan mereka.


"Kau bisa menulis lirik, Elric?" tanya Jacob.


Elric mengangkat kedua tangannya. "Piece of cake (gampang)." Bibirnya mencebik.


"Anggap saja seperti pekerjaan rumah. Kau buat satu lagu, dengan aransemenmu sendiri, dan demonstrasikan pada kami ... minggu depan," ucap Darren yang langsung disetujui Samuel dan Jacob.


Elric tersenyum lebar. Ia begitu gembira ketika teman barunya itu memberi kepercayaan padanya untuk membuat satu lagu. Kesempatan seperti itu yang selama ini belum diberikan oleh ayahnya. Ia hanya dipercaya untuk membantu Hellbound di beberapa panggung.


Sementara, dengan mereka bertiga, Elric merasa menjadi dirinya sendiri. Terlepas dari kenyataan bahwa ia adalah anak Nathan Bradley.

__ADS_1


***


The time has come


I, I invoke the powers


To stand onto the Earth


Needs of an ally, to join the force


I demand the dignity divine


May I receive, the shields of all time


Beside, he will travel


Bringer of order!


He will shake the Earth, by his chant


Purest warrior shall raise the mystikal


Godly, he shall be fierce!


Kindness over all


Same age as his guider!


Translater af beyond in his word


Apprentice of life!


Knows to respect me, Me, my magick


I am thankful for the gift


You'll be proud!


I will asure this, I promise


May my wrath be fruitful

__ADS_1


Jika Elric sudah berkutat dengan gitarnya, maka ruangan kamar yang sempit itu terasa seperti studio musik. Sorcery, adalah judul lagu yang ia tulis beberapa waktu lalu. Menceritakan tentang perjuangan seorang patriot pembela alam semesta. Dari mana Elric mendapat inspirasi untuk menulis lirik yang maknanya begitu dalam itu? Tentu saja dari apa yang dilihatnya dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimana peradaban manusia di zaman sekarang yang mulai kacau balau. Entah dalam politik, hubungan antar manusia, bahkan sumber daya alam yang dikuras habis-habisan sehingga mengancam keberlangsungan satwa liar yang seharusnya bisa hidup dengan aman di habitat mereka.


Aransemen yang dibuatnya pun ia buat sekacau mungkin. Ia mencocokkannya dengan vokal Darren yang menurutnya cukup unik. Pemuda itu bisa berganti-ganti teknik dengan cepat, ketika Elric mempercepat atau memperlambat tempo gitarnya.


Tidak lupa Elric mencatat susunan lagunya di atas kertas. Ia sengaja mengikuti gaya old fashion Emma, mencatat segala sesuatu yang menurutnya penting ke dalam buku. Ngomong-ngomong tentang Emma, apa gadis itu sudah pulang?


Sementara itu di balik pintu kamar Elric, Emma yang hendak mengetuk pintu mengurungkan niatnya ketika suara berisik gitar Elric tiba-tiba berhenti. Entah kenapa Emma ragu-ragu mengetuk pintu kamar anak itu. Ia justru menempelkan telinganya pada pintu menguping apa yang sedang dilakukan Elric setelah suara gitarnya berhenti.


Emma hampir saja tersungkur ketika pintu di buka dari dalam. Untung saja ia tertahan oleh badan Elric yang berdiri di balik pintu.


"Emma ... kau sedang apa?" tanya Elric keheranan.


Emma buru-buru menarik dirinya menjauh dari Elric. "Owh ... aku ... ingin menawarimu makan malam, tapi ... aku dengar kau sedang sibuk." Ia menyelipkan anak rambut ke belakang telinga. Kemudian melangkah ke arah dapur di mana tadi ia meletakkan dua bungkus burrito di atas meja.


"Aku sudah selesai." Elric mengikuti langkah Emma dan kini duduk berseberangan dengan gadis itu. "Thanks," ucapnya ketika Emma memberikan sepiring burrito padanya. "Kau selalu membeli makan malam untuk kita. Apa itu tidak membuat pengeluaranmu menjadi banyak?"


"Ini gratis dari restauran." Emma menggigit tepung gulung berisi campuran kacang, daging dan keju itu.


"Hmm ... kalau setiap hari mendapat makanan gratis dari restauranmu, kita bisa berhemat," seloroh Elric sambil menaik-naikkan kedua alis tebalnya.


Emma tertawa. "Itu hanya berlaku saat aku bekerja melebihi jam kerjaku."


Elric memandang Emma sekilas. Wajah cantiknya tampak lelah. Apa Emma bekerja sangat keras? Apa karena ia harus membayar student loan setiap bulannya?


Sambil mengunyah burritonya, Elric mulai memikirkan sesuatu. Apa yang bisa ia lakukan untuk membantu Emma? Tiba-tiba ia teringat mobil sportnya yang ada di Greenwich. Elric pun tersenyum senang.


***


Bad Boy Of Manhattan are :


Samuel Alinsky (drum)



Jacob Acker (Bass)



Darren Chevalier (vocal, rythm guitar and synthesizer)


__ADS_1


Elric Arthur Bradley (lead guitar)



__ADS_2