
"Auch!"
"Diam, Elric!" gertak Emma sembari menempelkan es batu yang ia bungkus di dalam handuk kecil ke atas hidung Elric. Emma menahannya di sana hingga lima belas menit lamanya. "Salahmu sendiri mengagetkanku begitu," gerutunya. "Sebenarnya, apa yang tadi kau lakukan di kamarku?"
"Aku ...." Erlic menggaruk rambutnya, kebingungan mencari alasan yang tepat.
"Lupakan saja." Emma mengibaskan tangannya.
Elric menghembuskan napas lega. Untung saja Emma tidak mencecarnya. Ia bahkan belum menyiapkan jawaban yang tepat.
"Emma ... kau mau menonton konser pertamaku, tidak?" tanya Elric.
"Konser pertamamu? Kapan? Di mana?" Emma bertanya antusias.
"Hanya konser kecil. Di sebuah bar di Greenwich. Akhir pekan ini."
"Nama barnya?"
"124 Rabbit Club."
Emma merotasikan kedua bola matanya. Ya. Bar mahal tentunya. Belum lagi tiket menonton konser Elric. Ia menghela napas dalam-dalam.
"Sepertinya aku tidak bisa menontonmu, El." Emma berucap kecewa.
"Why (kenapa)?"
"Aku tidak punya uang, El. Itu bar mahal. Tiket konsermu bagaimana?"
Elric tertawa renyah. "Hanya konser kecil, acara amal untuk anak-anak kelaparan di Afrika. Ada beberapa band baru yang akan tampil. Tidak ada tiket. Gratis."
Emma membentuk huruf O dengan mulutnya. Ia lalu mengangguk setuju, membuat Elric menyunggingkan senyumnya.
__ADS_1
"Sudah mendingan?" Emma menanyakan hidung Elric yang sedikit membiru. "Ugh ... parah sekali hidungmu, El. Maafkan aku." Gadis itu memasang ekspresi wajah penuh penyesalan.
Elric meringis. "My bad (salahku)." Ia menggaruk rambut semi ikalnya dengan gerakan canggung.
"Aku mau melanjutkan tidurku." Emma beranjak dari duduknya dan memindahkan semua barang yang ia pakai untuk mengobati hidung Elric ke dapur. "Selamat malam, El."
"Selamat malam, Emma."
Emma tersenyum sekilas dan melangkah masuk ke dalam kamarnya. Elric menghempaskan punggung ke sofa. Ia menekan-nekan hidungnya yang terasa nyeri.
***
Baju apa yang cocok untuk dipakai ke konser musik? Emma kebingungan sendiri. Bukan karena ia punya banyak pilihan. Tapi, koleksi bajunya memang hanya beberapa saja. Semua modelnya sudah out of date, ketinggalan zaman.
Pilihannya jatuh pada baju terusan di bawah lutut warna abu-abu, sweater hitam, dan boot panjang hitam. Ia merapikan riasan wajah minimalisnya dan juga rambut panjangnya yang ia gerai begitu saja. Setelah dirasa tidak ada yang salah dengan penampilannya, setidaknya menurut dirinya sendiri, ia pun bergegas keluar dari kamarnya. Namun, belum sempat ia membuka pintu apartemen, seseorang telah mengetuknya.
Ia pelan membuka pintu. Yang dilihatnya pertama kali adalah James dengan senyum manisnya. "Hi ...." Emma menyapa dalam keterkejutannya. Ia berpikir, James tidak mengabari apa-apa kalau ia akan datang malam ini.
"Sebenarnya ... aku ...." Kata-kata Emma menguap begitu saja saat James tiba-tiba meraih tangannya dan menggandengnya keluar. Ia tidak memberi kesempatan pada Emma untuk mengucapkan sesuatu karena ia terlalu gembira.
"Kau ingin aku mengajakmu ke mana?" tanya James seraya membukakan pintu mobil untuk gadis itu.
"Sebenarnya aku ingin menonton konser musik." Emma didorong pelan oleh James masuk ke dalam mobil. Ia lalu memutari mobilnya dan duduk di belakang kemudi.
"Ingin menonton konser musik, ya? Baiklah ... ada banyak pilihan tempat yang menyajikan live music di Manhattan kalau akhir pekan begini. Sebutkan saja kau ingin menonton di mana." James melajukan mobilnya pelan keluar dari area East Harlem.
"Aku mau pergi ke sebuah bar di Greenwich. Namanya ... hmm ... 124 Rabbit Club."
"Wah ... kebetulan sekali Elric akan tampil di sana dengan band barunya malam ini."
Memang aku mau menonton konser Elric dan bandnya. Emma menghela napasnya pelan. "Okay." Hanya itu yang lolos dari bibirnya.
__ADS_1
***
124 RABBIT CLUB, GREENWICH, MANHATTAN.
"Ready (siap)?" Darren mengguncang bahu Elric yang tengah memberi sentuhan terakhir pada tune page gitarnya.
Elric mengangguk. Ia melempar pandang pada Samuel dan Jacob yang sudah siap dengan instrument masing-masing. Samuel dengan sepasang stick drumnya dam Jacob dengan basnya. Sementara Darren, juga sudah siap dengan gitarnya.
Keempat pemuda berambut panjang itu naik ke atas panggung setelah band sebelumnya menyelesaikan giliran mereka. Tidak ada master of ceremony yang mengenalkan keempatnya pada audience di ruangan bar yang cukup luas dan ramai.
"Hello, Everyone (halo, semuanya)." Darren menyapa dari atas panggung. "Pengunjung 124 Rabbit Club malam ini, kalian semua adalah malaikat. Kebaikan hati kalian akan menjadi manfaat yang sangat besar untuk anak-anak kelaparan dan terlantar di Afrika sana." Pidato singkat Darren berkumandang ke seluruh ruangan. Tepuk tangan dari para pengunjung yang hampir semuanya dari kalangan menengah ke atas, riuh ke seluruh penjuru bar.
"We are Bad Boy Of Manhattan. I'm Darren, our new guitarist, Elric ... Samuel on drum and Jacob on bass." Darren memperkenalkan teman-teman satu bandnya dengan bangga.
Darren mengangguk pada Elric untuk segera memulai intro lagu yang sudah mereka sepakati selama rehearsal. Sementara Elric, apa yang dirasakan anak itu saat ini?
Berdiri di sebuah panggung dengan namanya sendiri. Orang akan melihatnya sebagai dirinya sendiri tanpa dikenali sebagai anak dari Nathan Bradley. Meskipun ada yang mengenalnya, setidaknya ia bermain bersama bandnya sendiri. Band yang terdiri dari sekumpulan anak-anak rockstar, yang meniti karir mereka tanpa bantuan ayah-ayah mereka.
Elric merasakan atmosfir panggung yang berbeda dengan panggung di mana dulu ia membantu Nathan Bradley. Permainan gitarnya saat ini sungguh menggila. Brutal. Seakan-akan segala bentuk pemberontakan yang ada di dalam dirinya tersampaikan.
Ia mungkin tidak akan digilai para wanita sebagai seorang gitarist muda yang tampan dengan skill di atas rata-rata. Elric justru sepertinya akan digilai penikmat musik yang benar-benar mengerti musik. Dengan penampilan geeknya yang cuek, kaos oblong hitam besar dipadu dengan kemeja kotak-kotak warna biru, celana longgar sepanjang tulang betis, kaos kaki panjang dan sepatu casual. Rambutnya yang sudah mulai menyentuh bahu ia hiasi dengan topi yang bagian depannya ia putar ke belakang.
Dua lagu dibawakan oleh Bad Boy Of Manhattan dengan mulus. Mereka adalah calon band mahal dari segala sisi. Dari segi Skill, asal-usul para personelnya, dan musik yang mereka usung.
Ketika Darren sedang mengucapkan pidato untuk berpamitan turun dari panggung, mata Elric menyapu kerumunan pengunjung yang masih bersorak-sorai mengelu-elukan nama band mereka. Ia mencari sosok Emma. Apakah gadis itu datang menontonnya?
Matanya seketika berbinar menangkap sosok gadis yang dicarinya berdiri di bagian pengunjung VIP bar. Ia tersenyum ke arah Emma yang saat itu tengah melambaikan tangan padanya. Namun senyum Elric memudar ketika sosok James mendekat pada Emma seraya memberikan segelas minuman pada gadis itu. Sang ayah baptist pun melambaikan tangan ke arahnya, dan Elric hanya menyambutnya dengan senyum yang ia paksakan.
***
Mohon maaf baru up.
__ADS_1
Masuk peti tahun 2021, eh, tahu-tahu keluar udah tahun 2022. Mari tidur lagi.