
"Wow! Sedang menyambut calon anggota keluarga baru rupanya." James berucap sembari melangkahkan kaki mendekati empat orang yang sedang menjeda makan malam karena kehadirannya. Pria itu menarik kursi di sebelah Nathan dan menghadap ke arah Elric dan Emma.
"Kenapa tegang sekali? Apa aku mengganggu acara makan malam kalian?" James melempar pandang secara bergantian ke arah Nathan, Alya, Elric dan juga Emma.
"Owh, tidak sama sekali. Kau mau ikut makan? Ambil piringmu, James." Alya bersuara memecah kebekuan di ruang makan itu.
"Terimakasih, Alya. Aku memang belum makan dari pagi. Entahlah, akhir-akhir ini nafsu makanku hilang," kekeh James. Namun kata-katanya terdengar seperti menyindir seseorang. "Ah, aku harus mengucapkan selamat pada pasangan baru ini, bukan? Lihatlah kalian, manis sekali," ucapnya, yang tentu saja hanya basa-basi.
Emma menunduk dan Elric merotasikan kedua bola matanya jengah. Sementara Nathan hanya meringis seraya mengelus tengkuknya. Sungguh suasana yang canggung luar biasa. Bagi Nathan, ia tidak menyangka, orang yang merebut kekasih sahabatnya itu adalah Elric, putranya sendiri.
Namun bagi Elric, ia tidak merasa bersalah sama sekali telah merebut Emma dari James. Kini dengan bangganya ia memasang badan untuk mempertahankan apa yang m
telah menjadi miliknya.
"Bagaimana kerjasamamu dengan Skylab, El?" tanya James di sela-sela kunyahannya.
Elric tersenyum sinis. "Baik-baik saja."
"Sudah sangat sibuk sekarang? Karirmu menanjak dengan mudah, bukan?" James menarik sudut bibirnya.
Elric yang hendak memasukkan sepotong daging ke mulut, urung melakukannya. Ia menatap James penuh selidik. Melihat senyum penuh tipu muslihat pria itu, ia bisa menyimpulkan sesuatu.
"You did it, didn't you (kau yang melakukannya, bukan?" Elric meletakkan pisau dan garpu dengan kasar ke atas piringnya. Baik Nathan, Alya maupun Emma terkejut memandang ke arah Elric.
"Did what (melakukan apa)?" James memasang ekspresi kebingungan di wajahnya. Ia mengedarkan pandangannya ke arah tiga orang lainnya satu persatu.
"Kau yang memuluskan jalan kami, bukan? Kau melakukannya untuk membalas dendam padaku." Elric berdiri menunjuk wajah James di seberangnya.
"Woow, woow, Elric ... easy, Boy (tenanglah, Nak)." Nathan yang sedari tadi hanya menyimak sembari menikmati makan malamnya kini ikut berdiri dan angkat bicara.
"Shut up, Nathan! It's nothing to do with you (diam, Nathan. Ini tidak ada kaitannya denganmu)!" hardik Elric. Kali ini ia menunjuk sang ayah. Dan pria itu mengangkat tangannya pertanda ia tidak akan ikut campur.
__ADS_1
"Kau bicara apa, El? Aku tidak mengerti apa maksudmu." James membela dirinya. Ia menatap ke arah Emma yang duduk terdiam tanpa bisa berkata-kata.
"Kau sungguh menyedihkan. Apa pun tujuanmu, aku tidak bisa menerima ini!" Elric menggebrak meja yang masih dipenuhi hidangan santap malam hingga beberapa gelas yang berisi jus tumpah.
"Elric, hentikan!" Alya menghambur ke arah Elric dan berusaha menenangkan putranya yang sedang dikuasai oleh amarah.
"Sorry, Mom," ucap Elric dengan suara bergetar. "Come on, Em!" Ia meraih tangan Emma dan membawa gadis itu pergi meninggalkan ruangan itu.
Tinggallah Nathan, James dan Alya yang saling melempar pandang satu sama lain. Untuk beberapa saat ketiganya saling diam.
"Apa yang sebenarnya terjadi, James?" tanya Nathan memecah keheningan di antara ketiganya.
James mengedikkan bahu. "Mana aku tahu?" jawabnya.
"Tidak mungkin Elric semarah itu kalau tidak ada apa-apa." Alya menatap James dengan curiga. "Kau tahu sesuatu, Sayang?" Wanita itu kini mengalihkan pandang pada sang suami.
"Elric pernah bertanya padaku, ada seseorang yang sengaja membantunya memuluskan jalan band-nya melalui Skylab. Ia sempat menuduhku," terang Nathan.
James mendecih. "Bukankah seharusnya Elric senang dan berterimakasih pada orang yang membantunya itu? Memangnya dia bisa berproses sendiri? Bodoh!"
"Terserah saja!" James mengibaskan tangannya. "Terimakasih untuk makan malamnya, Alya," ucapnya pada Alya dan memutar badan keluar dari ruangan itu.
Alya menatap ke arah Nathan. "Kacau sekali," ujarnya. Acara makan malam yang seharusnya menyenangkan berubah menjadi bencana.
"Lupita! Bisa kau bereskan mejanya?!" seru Nathan memanggil asisten rumah tangganya.
***
Emma berdiri di ambang pintu balkon menunggu Elric yang sedang berbicara di telepon dengan seseorang. Sepertinya ia sedang terlibat sebuah perdebatan sengit. Perdebatan yang sepertinya tidak berujung, hingga harus diakhiri dengan umpatan dari mulut Elric.
"F uck!" umpat Elric seraya menendang dinding balkon dengan keras. Ia tidak menyadari jika ada Emma di ambang pintu yang sedang memperhatikannya.
__ADS_1
Saat Elric memutar badan, ia terkejut melihat Emma yang berdiri mematung memandanginya. "Sorry, Em ...." Ia mendekat ke arah pacarnya itu dan membuka kedua tangan meminta gadis itu untuk datang ke pelukannya.
"Kau baik-baik saja, El?" Emma mendongakkan wajahnya menghadap wajah Elric yang juga sedang menghadap padanya.
"Aku baik-baik saja. Hanya saja ... hmm ... aku kesal sekali." Ia menempelkan keningnya ke kening Emma. "Bagiku ini memalukan sekali," keluhnya.
"Kau yakin James yang melakukannya? Maksudku, meskipun memang dia yang melakukannya, bukankah dia berniat membantumu?"
Elric mendongakkan wajah dan menghembuskan napasnya kasar. "Omong kosong, Em. Dia tahu aku tidak suka dengan hal semacam itu. Dia sengaja melakukannya untuk membalasku."
Emma membenamkan kepalanya di dada Elric. Kedua tangannya mengapit punggung pemuda itu erat.
"Aku harus bicara dengan manager dan teman-temanku mengenai hal ini."
"Apa rencanamu, El?"
"Kalau kontrak ini tidak bisa dibatalkan, aku akan keluar dari band, atau akan aku buat mereka memecatku."
Emma melepaskan pelukannya. Diambilnya jarak dengan pemuda itu. "Seserius itu?"
"Ini prinsip, Em. Lagi pula, ini bukan bantuan. Lebih kepada, penghinaan," sahut Elric geram.
Emma menghela napasnya. Elric memang teguh pendirian. Setidaknya pemuda ini membuatnya kagum. Umurnya masih delapan belas tahun, namun caranya berpikir tidak lemah.
Ia lalu menggandeng Elric masuk ke dalam apartemen dan melangkah menuju kamar mereka. Di sana, Emma duduk di tepi ranjang, sementara Elric berlutut di depannya. Keduanya saling beradu tatap untuk beberapa saat.
Ditangkupnya kedua pipi Elric dengan telapak tangannya. Lalu ia mendekatkan wajahnya untuk menggapai bibir kekasihnya itu. Elric menyambutnya dengan senang hati. Untuk beberapa saat lamanya, keduanya saling menyalurkan energi baik melalui sentuhan bibir.
Dari lingering kiss hingga naik level menjadi prolonged kiss, keduanya begitu menikmatinya. Tidak puas hanya sampai di situ, tanpa ada salah satu yang memberi aba-aba, keduanya telah meloloskan pakaian yang membalut tubuh mereka. Kini ciuman mereka telah mencapai level french kiss yang membara.
Melupakan sejenak gundah gulana yang ada, dengan ditemani suara sirine mobil patroli polisi yang meraung-raung di luar sana, kedua sejoli yang sudah tidak canggung lagi untuk saling bersentuhan fisik itu menguapkan senyawa-senyawa kimia, menghasilkan perasaan nyaman yang luar biasa.
__ADS_1
Firework.
***