BAD BOY OF MANHATTAN

BAD BOY OF MANHATTAN
Bab 49. Whatever That Is.


__ADS_3

"Kau bermain dengan sangat bagus, Anak Muda." James menepuk-nepuk pundak Elric dengan bangga. Si anak baptisnya itu hanya menanggapinya dengan senyuman kecut. Ia melirik Emma yang berdiri di samping James. Gadis itu tersenyum padanya. Namun mood Elric sudah sangat buruk malam itu, sehingga ia tidak membalas senyuman Emma. Bahkan sesaat lalu ketika gadis itu memuji-mujinya, pemuda itu hanya menanggapinya dengan mengedikkan bahu. Rasanya pujian Emma yang seharusnya adalah sesuatu yang ia tunggu-tunggu, sudah tidak ada artinya lagi.


Acara charity malam itu berlangsung dengan sukses. Penyumbang dana terbesar tentu saja adalah James. Dan itu semakin membuat Elric dongkol. Ekpektasinya tentang malam itu buyar. James mencuri spotlight dan juga Emma. Ia bisa melihat gadis itu terkagum-kagum ketika mengetahui James tidak ragu-ragu merogoh koceknya dalam jumlah besar untuk membantu anak-anak di Afrika.


Dan tentu saja, James malam itu mencuri Emma dari Elric. Ayah baptisnya itu mencoba mendekat pada Emma dan selalu ingin mengobrol berdua dengannya. Sementara Elric, ia harus rela satu meja dengan teman-teman bandnya sambil sesekali memperhatikan keakraban Emma dengan James di meja lain.


Elric merasa muak sekali dengan pria itu. Sang basis Hellbound itu benar-benar mencari muka di depan gadis pujaannya. Saking buruknya suasana hati Elric, sampai-sampai pemuda itu tidak terlalu memperhatikan apa yang sedang dibicarakan oleh Darren.


"Bukan begitu, Elric?"


Tepukan Darren di bahunya membuat pemuda itu terkesiap. Ia yang sedang memperhatikan James dan Emma buru-buru melempar pandang pada Darren. "Ah, ya ... aku rasa begitu." Entah apa yang sedang Darren bicarakan, Elric hanya menjawab sekenanya.


Darren terkekeh. Ia menoleh ke arah meja di mana James dan Emma berada, lalu memandang ke arah Elric dengan senyum jahil. "Itu pacar James?" tanya Darren.


"Not yet (belum)!" tegas Elric membuat Darren, Samuel dan Jacob terkikik. Ketiganya langsung bisa menebak apa yang sedang terjadi.


"Aku mencium bau persaingan di sini," celetuk Samuel.


"Persaingan keluarga," sahut Jacob membuat Elric salah tingkah.


Darren terkekeh. Ia lalu menoleh kembali ke arah Emma sambil mengelus dagunya. "Sepertinya wajah gadis itu tidak asing," pikirnya. "Apa aku pernah bertemu dengannya di suatu tempat?" tanyanya pada diri sendiri.


"Emma alumni Columbia," jawab Elric seraya menyeruput gelas cocktailnya.


"Aah, begitu. Mungkin aku pernah melihatnya di kampus." Darren mengangguk-anggukkan kepala.


"Manis. Meskipun sedikit old fashion." Samuel mengemukakan pendapatnya tentang Emma.


"Setuju." Jacob terkekeh. "Aku lebih suka gadis semacam itu dari pada gadis-gadis glamour New York yang membosankan," ungkapnya kemudian.


"Yeah. Dan sepertinya James pun mempunyai pendapat yang sama denganmu, Jacob." Darren melempar pandang ke meja James dan Emma, lalu bergantian menatap Elric. Ia berniat menggoda pemuda itu. Sementara Elric hanya tersenyum kecut. Ia tidak berniat menanggapi obrolan teman-temannya itu.

__ADS_1


***


Emma sesekali melempar pandang pada Elric yang duduk bersama teman-temannya di meja yang terletak tidak jauh dari tempatnya dan James duduk. Pemuda itu terlihat murung. Entah apa yang sedang terjadi padanya.


"Apa aku sudah mengatakannya?" tanya James membuat Emma terkesiap.


"Mengatakan apa?" tanya Emma seraya mengerutkan keningnya.


"Kalau kau cantik sekali malam ini."


Emma terkekeh. Entah kenapa ia merasa tidak nyaman dengan pujian James. Ia merasa pria itu memperlakukannya sedikit berlebihan. "Thanks," ucapnya kemudian.


"Apa masih tidak ada jawaban untukku, Emma?" tanya James. Emma menelan salivanya. Jika James mulai menuntut tentang hal itu, ia merasa bingung bagaimana menjawabnya. Tentu saja ia merasa tersanjung dikejar oleh seorang James Howard. Hanya saja ....


"Aku ... masih belum bisa menjawabnya, James," sahut Emma hati-hati.


James menghela napasnya. Gadis cantik di hadapannya ini begitu sulit untuk ia gapai. Ini sedikit membuatnya frustrasi, namun juga tertantang. "Apa aku tidak cukup bagus untukmu? Kau mau aku bersikap bagaimana?" tanyanya sedikit menuntut.


Elric membuatnya terkagum-kagum beberapa saat lalu di atas panggung. Anak itu tidak terlihat seperti biasanya. Ia menjelma menjadi seorang gitaris dengan karakter unik. Emma tidak tahu bagaimana menggambarkan penampilan Eric dengan kata-kata. Yang jelas, matanya tidak bisa lepas dari gerak-gerik anak itu di atas panggung. Sangat menghipnotisnya. Dan Emma merasa ada sesuatu yang aneh di dalam hatinya.


"Kau datang untuk Elric, ya?" tanya James membuat Emma buru-buru memutus pandangannya pada Elric.


"Elric ... mengundangku. Dia mengatakan ini konser pertamanya."


James mengangguk-angguk. Pria itu berusaha menepis praduga dalam benaknya. "Bagaimana menurutmu penampilan Elric malam ini?"


"Dia ... luar biasa."


James tersenyum. "Sebentar lagi banyak gadis-gadis yang akan tergila-gila padanya," pancingnya.


Emma menyunggingkan senyumnya. Mungkin saja. Tapi, ia tahu tujuan Elric sama sekali tidak mengarah ke sana. "Mungkin," sahutnya pelan.

__ADS_1


"Cheers!" James mengangkat gelas cocktailnya dan meminta Emma untuk melakukan hal yang sama. Kedua gelas mereka pun berbenturan pelan.


***


Pukul sebelas malam James mengantar Emma pulang ke East Harlem setelah mengatakan berbagai alasan menolak ajakan pria itu untuk menginap di apartemennya. Dan saat ini jam menunjukkan pukul satu dini hari. Emma belum bisa memejamkan mata. Elric pun belum pulang hingga sekarang. Sewaktu di bar, ketika ia berpamitan pada anak itu, Elric mengatakan kalau ia akan pulang terlambat.


Emma belum bisa memejamkan mata meskipun badannya lelah dan mata terasa berat. Ia pun memutuskan untuk duduk di ruang tamu menunggu Elric. Meskipun ia tidak tahu kenapa ia harus menunggu anak itu pulang.


Hampir satu setengah jam lamanya Emma menunggu kepulangan Elric. Namun anak itu belum juga muncul. Rasa kantuk pun akhirnya menyerangnya. Ia membaringkan badan di atas sofa dan beberapa saat kemudian gadis itu pun memejamkan mata.


Rasanya Emma hanya terlelap untuk beberapa saat ketika ia merasa pipinya disentuh oleh sesuatu yang dingin. Ia pelan membuka mata dan wajah Elriclah yang pertama kali dilihatnya.


"Kau menungguku, ya?" Senyum jahil Elric terbit di bibir tipisnya.


Emma mendesis. "Hanya memastikan kau bisa pulang dengan selamat."


Bibir Elric mencebik. "Memangnya kenapa?" tanyanya seraya duduk di samping Emma.


"Karena kau pasti banyak minum dengan teman-temanmu."


"Aku tidak terlalu banyak minum. Setelah kau dan James pergi, aku pergi ke studio bersama mereka."


Emma tersenyum. "Karena kau sudah pulang, aku akan melanjutkan tidurku di kamar."


"Emma!" Elric meraih lengan Emma menahan gadis itu untuk beranjak dari duduknya.


"Ya?"


Elric menatap Emma untuk beberapa saat. Keduanya bertemu pandang cukup lama tanpa saling mengucap kata. "Good night, Emma," ucap Elric seraya melepaskan genggaman tangannya di lengan gadis itu.


***

__ADS_1


__ADS_2