
Elric sudah berpakaian rapi dan berniat untuk mengajak Emma pergi ke suatu tempat. Suatu tempat yang ia sendiri belum menentukannya. Pikirnya, ia akan memilih tempat nanti saja saat Emma menyetujui ajakannya.
Kini, ia berdiri di depan pintu kamar Emma dan mengetuknya beberapa kali. Gadis itu muncul dari balik pintu dengan tubuh berbalut kaos oblong kebesaran dan celana legging rumahan lengkap dengan sleepers bulu-bulu.
"Sudah cukup tidurnya?" tanya Elric seraya memiringkan kepala memeriksa wajah Emma yang polos tanpa riasan. Namun, justru gadis itu terlihat sangat manis.
"I guess so, why (kurasa iya, kenapa)?" Emma menautkan alisnya.
"Ayo, pergi ke suatu tempat."
"Ke mana?"
Elric mengedikkan bahu. "Tidak tahu. Akan kupikirkan nanti."
Emma terbahak. Hanya Elric yang bisa mengajak seorang gadis pergi keluar tanpa menentukan tempat tujuannya terlebih dahulu.
"Kau serius, El?" tanya Emma.
"Kau tidak lihat aku sudah berpakaian rapi?"
Emma meringis. "Sepuluh menit," ucapnya seraya menutup pintu.
Elric tersenyum gembira mendengar jawaban Emma. Pemuda itu pun memutuskan untuk menunggu di sofa ruang tamu.
Pas sepuluh menit, Emma keluar dari kamarnya. Sederhana dan manis. Begitu kesan yang ditangkap oleh Elric saat melihat outfit yang dikenakan oleh Emma. Celana katun, coat panjang yang dipadu dengan kaos di dalamnya, lalu sepatu casual.
"Kenapa melihatku seperti itu?" Emma menaikkan kedua alis tebalnya.
Elric meringis. "Ready?
Emma mengangguk. Gadis itu membuka pintu apartemen dan melangkah keluar, diikuti oleh Elric. Di luar, East Harlem siang itu tidak terlalu ramai, hingga memudahkan mereka untuk berjalan kaki di sidewalk.
"Sudah kau putuskan mau ke mana?" tanya Emma.
"Hmm ... central park?" tawar Elric. Hanya tempat itu yang terlintas di benaknya.
Emma mengangguk-angguk. Central park tidak terlalu buruk. Di sana banyak restauran, cafe, tempat nongkrong, bahkan jalanan setapak seperti di dalam hutan yang bisa dipakai untuk berjalan-jalan menghirup udara segar.
"Kita jalan kaki saja, ya. Hanya enam belas menit," kekeh Elric.
Emma tersenyum. Jika dengan James, pastilah ia akan memakai mobil mewahnya untuk mengajaknya jalan-jalan, juga memilih tempat-tempat elite yang mahal. Namun dengan Elric, selalu apa adanya, spontan dan tidak menguras isi dompet. Dan entah bagaimana, perjalanan ke Central Park sepertinya tidak terasa sama sekali. Mengobrol ke sana kemari dengan topik-topik yang seru membuat keduanya tidak menyadari kalau mereka telah menginjakkan kaki di area taman kebanggaan Manhattan itu.
"Tunggu di sini," pinta Elric sambil menunjuk bangku panjang di bawah pohon sugar maple rindang dengan daun-daunnya yang berwarna oranye dan merah.
Emma memperhatikan Elric berlarian ke arah mini van penjual junk food yang parkir di tepi jalan. Gadis itu meloloskan tawanya saat Elric terjebak antrian pembeli yang panjang. Pemuda menoleh ke arahnya dan mencebikkan bibir serta memasang wajah sebalnya yang menggemaskan.
Ditambah lagi, ada beberapa orang gadis yang mengenal siapa Elric dan meminta untuk berfoto bersama. Emma terkikik saat Elric dengan canggung melayani permintaan penggemar barunya itu. Tidak sampai di situ, acara jumpa fans mendadak itu menarik perhatian pengantri lain yang juga mengenali Elric. Mereka pun memanfaatkan kesempatan bertemu dengan sang idola baru untuk berfoto dan mengobrol beberapa saat.
"Kita cari tempat yang lebih sepi saja," keluh Elric begitu berhasil membeli dua bungkus bacon roll dan melepaskan diri dari jerat para fansnya. Pemuda itu menutup kepalanya dengan hoodie agar tidak dikenali oleh siapa pun.
Emma terkekeh. "Idola baru," godanya seraya bangkit dari duduknya dan mengikuti langkah Elric masuk ke dalam taman.
"Menyebalkan sekali. Seharusnya Darren saja yang menerima perlakuan seperti ini," gerutunya. "Normalnya, vocalist sebuah band yang seharusnya lebih terkenal, bukan?"
"Sudahlah, El. Terima saja resikonya," ucap Emma. Sejujurnya gadis itu juga terkejut melihat popularitas Elric naik secepat ini.
Eric menghela napas berat. "Aku ingat waktu kecil, ayahku harus selalu menyamar setiap kali ingin mengajakku jalan-jalan. Kalau tidak, dia bisa dikejar-kejar fans dan juga wartawan," terangnya. Ia meraih lengan Emma dan mengajaknya duduk di sebuah bangku kosong yang ia temukan di tengah-tangah taman. Bangku yang mereka duduki sedikit terpisah dari bangku-bangku lain yang sudah dipenuhi orang-orang yang sedang menikmati suasana taman yang sejuk. Diiringi oleh satu band akustik yang sedang mengamen.
"Emma ...." Elric mengulurkan sebungkus bacon roll pada Emma.
"Thanks."
"Em ...."
__ADS_1
"Ya?"
Elric memijit tengkuknya. Sepertinya ia ingin mengucapkan sesuatu namun begitu berat untuk meloloskan dari bibirnya.
"Ya, El?" desak Emma seraya menyipitkan matanya menatap pada pemuda yang sedang terlihat gugup itu.
"Lupakan saja," ucap Elric.
"Ish!" desis Emma sebal. "Apa yang ingin kau katakan, El?" tanyanya penasaran.
"Tipe pria yang kau sukai. Seperti apa?"
Emma menaikkan alisnya. "Kenapa menanyakan hal itu?"
"Jawab saja, Em!"
Kembali Emma mendesis. "Yang baik, tentu saja."
"Spesifikasinya?"
"Hah?"
"Iya. Fisiknya."
"Hmmm." Emma mengelus janggutnya. "Seperti ... Nathan Bradley, mungkin," cebiknya.
"Owh, yang benar saja!" protes Elric seraya merotasikan bola matanya.
Emma terbahak. "Ben Chevalier, kalau begitu."
"Jadi tipe pria yang kau sukai adalah pria-pria tua seperti mereka?" Elric memasang ekspresi wajah cemberutnya. "Kalau begitu, James juga termasuk tipe pria yang kau sukai?"
Tawa Emma seketika lenyap. Mendengar nama pria itu membuatnya mengingat kembali kata-kata pedas yang diucapkan oleh James. Dan hatinya terasa nyeri.
"Aku tidak mau membicarakannya," sungut Emma.
"Okay. Lagi pula untuk apa membicarakan pria tua itu." Elric melempar bungkus bacon roll yang telah kosong ke tempat sampah. Kemudian ia melipat kedua tangan dan mengalihkan pandangan ke arah band akustik yang sedang menyanyikan sebuah lagu yang sama sekali tidak dikenalinya.
"Kenapa kau yang marah? Kau yang memancing pembicaraan seperti itu!" gerutu Emma.
"Aku tidak marah," elak Elric. "Aku hanya tidak suka saja pria itu selalu mendekatimu."
Emma menghabiskan satu gigitan terakhir bacon rollnya, lalu membuang bungkusnya ke tempat sampah. Gadis itu kemudian menggeser duduknya lebih dekat pada Elric.
"El, katakan padaku. Kenapa kau tidak suka James mendekatiku?"
"Itu ... karena ... dia terlalu tua untukmu. Dia juga seorang casanova. Dia tidak pernah serius dengan seorang wanita. Aku tidak mau kau sakit hati."
Emma mendecak. "Hanya karena itu? Kau yakin?" pancingnya.
Elric terdiam beberapa saat. Kemudian ia memutar badan menghadap pada Emma. "Apa kau tidak mengerti sesuatu?"
"Mengerti apa maksudmu? Ayolah, El. Tidak usah berbasa-basi."
"Aku menyukaimu!" seru Elric cepat. "Apa kau tidak bisa melihatnya?"
Kini giliran Emma yang terdiam. Ia menatap sepasang mata Elric yang juga tengah menatap matanya.
"Jadi bagaimana?" Lucu. Keduanya mengucapkan kalimat itu secara bersamaan, membuat mereka terkekeh bersama.
"Tunggu di sini," pinta Elric seraya beranjak dari duduknya. "Aku tidak pintar mengungkapkan perasaanku. Jadi, kau dengar saja ini." Elric berjalan ke arah band yang baru saja menyelesaikan satu lagu.
Emma menggeleng pelan sembari menyunggingkan senyumnya. Elric sudah berada di antara band itu dan meminta sang gitaris meminjamkan gitar padanya.
__ADS_1
"A song for the most beautiful girl in Manhattan who's sitting alone by maple tree over there (sebuah lagu untuk gadis tercantik di Manhattan yang sedang duduk sendiri di dekat pohon maple di sebelah sana)," ucap Elric melalui pengeras suara, membuat Emma tidak bisa menahan tawanya. Namun, hatinya begitu gembira.
Ucapan Elric di sambut oleh sorak sorai anggota band dan beberapa pengunjung taman yang berada di sekitarnya. Elric mulai memainkan gitar akustik di tangannya dengan rapi dan bersih. Pemuda itu memainkannya dengan normal, bukan sebagai gitaris Bad Boy Of Manhattan yang penuh dengan eksplorasi.
Wise men say
Only fools rush in
But I can't help falling in love with you
Shall I stay?
Would it be a sin
If I can't help falling in love with you?
Like a river flows
Surely to the sea
Darling, so it goes
Some things are meant to be
Take my hand
Take my whole life too
For I can't help falling in love with you
Like a river flows
Surely to the sea
Darling, so it goes
Some things are meant to be
Take my hand
Take my whole life too
For I can't help falling in love with you
For I can't help falling in love with you
"I really can't help falling in love with you, Emma Lopez," ucap Elric di akhir lagunya.
***
Hello, aku punya novel baru yang bisa dibaca setelah Elric dan Emma selesai, ya.
Sudah ada di lapakku, boleh difavoritkan dulu, biar nanti bisa langsung tahu saat up.
Judulnya Jerk Superhero.
Biasanya Superhero adalah seseorang yang sempurna, bukan? Baik, melindungi, dan siap sedia melawan kejahatan.
Tapi, bagaimana kalau Superheronya bandel dan selengean, play boy pula? Pasti nggemesin lah ya, gemesin pengin nabok, pake bibir.
__ADS_1
😁😁😁