BAD BOY OF MANHATTAN

BAD BOY OF MANHATTAN
Bab 37. Kutunggu Jawabanmu.


__ADS_3

"Aku menunggu jawabanmu, Emma," ucap James sambil menyentuh pipi Emma dan mengelusnya dengan ibu jarinya.


"Bukankah ... kau sudah punya pacar?" tanya Emma pelan. Ia berkali-kali menelan salivanya dengan susah payah. Wajah bassist Hellbound itu begitu dekat. Ia merasakan napasnya tersendat-sendat.


"Said who (kata siapa)? Elric?"


Pelan Emma mengangguk. Ia tidak berani menantang tatapan James yang mengintimidasinya, tapi romantis dalam waktu yang bersamaan.


"Maksudmu ... Hannah?" Mata James terbelalak melihat sosok wanita cantik nan elegan yang sedang melangkah mendekatinya. Hannah.


"Hi, James," sapa Hannah dengan santainya. Dan tanpa menunggu persetujuan James, ia duduk di seberang meja. Melipat kakinya sambil menatap James dan Emma. "Kau tidak mau mengenalkan gadis ini padaku, James?" sindirnya.


"Owh, Hannah, Emma. Emma, Hannah," kata James. "Ada yang ingin kau lakukan di sini?" tanyanya keheranan.


Hannah menarik sudut bibirnya. Ia lalu memandang ke arah Emma yang tampak gugup. Pikirnya, dirinya jauh lebih cantik dan elegan. Lihatlah gadis muda itu. Seragam apa yang ia kenakan di balik sweaternya. "Aku ada janji dengan Mr. Allan Brown." Ia menjawab sambil melambai pada seorang pria paruh baya yang sedang duduk di meja bar. Pria itu membalas lambaian Hannah sambil mengirim ciuman jarak jauh pada wanita itu.


"The Don Juan Mister Brown (Mr. Brown si don Juan )?" tanya James.


Hannah terkekeh. "So, this is Emma. Your new toy (Jadi ini Emma. Mainan barumu), James?"


James terkesiap mendengar ucapan Hannah. Dan sepertinya Emma pun merasa jengah dengan kata-kata itu. Karena gadis itu seketika menggeser duduknya sedikit memberi jarak dari James.


"Well, Selamat menikmati kencanmu, James," ucap Hannah sembari beranjak dari duduknya. Tersenyum tipis pada Emma, lalu melangkah meninggalkan keduanya. Wanita itu tidak percaya ia harus bersaing dengan gadis muda lugu dengan dandanan kuno. Ia tidak akan menganggap serius Emma. Ia biarkan saja James melakukan apa pun yang ia mau. Ia yakin, ketertarikannya pada gadis itu tidak akan berlangsung lama. Ia merasa dirinya jauh lebih cantik, lebih elegan dan lebih menarik.


"Hannah ... pacarmu?" tanya Emma. Ia merasa tidak enak, canggung, dan juga kecewa.


"Look, I can explain this (aku bisa jelaskan ini)," kata James seraya meraih telapak tangan Emma. "Aku memang punya hubungan dengan Hannah, tapi ... kami tidak punya komitmen. Jadi, aku pria bebas."


Emma menelan ludahnya. Tidak punya komitmen. Tapi, mereka melakukan apa saja layaknya sepasang kekasih. Dan jika dilihat dari raut wajah Hannah, ia tahu wanita itu cemburu.


"Jadi, selama ini kau tidak pernah punya komitmen dengan wanita?" Emma memberanikan diri untuk bertanya.

__ADS_1


"Aku pernah berkomitmen dengan wanita, Emma. Beberapa kali dan selalu gagal. Itulah kenapa aku tidak mau melakukannya lagi. Tapi, sejak bertemu denganmu aku merasa ingin memulai lagi sebuah hubungan yang normal."


"Tapi ... bagaimana dengan Hannah?"


James menoleh pada Hannah yang kini sedang bergelayut manja pada Allan Brown sambil memegang gelas cocktailnya. Ia menggeleng pelan. Ia tahu, Hannah sedang memanasinya. Ada sedikit perasaan tidak rela melihat Hannah bersama pria lain, namun rasa ketertarikannya pada Emma jauh lebih besar.


"She'll be fine ( dia akan baik-baik saja)," kata James. Meskipun ia merasa bersalah pada Hannah, namun ia berusaha untuk menepis perasaan itu.


Emma menundukkan kepalanya. Ini adalah situasi yang sedikit sulit untuknya. Ia ingin menerima James, tapi ada Hannah yang mengharapkan pria ini. Dan Hannah datang dalam kehidupan James sebelum dirinya. Rasanya ia tidak bisa berbahagia di atas penderitaan orang lain. Meskipun hatinya kini diliputi kekecewaan.


Emma menarik tangannya dari genggaman James. "Aku tidak tahu harus menjawab apa."


"Emma ...."


"Maaf, James ...."


"Baiklah, aku akan memberimu waktu lagi untuk berpikir." James menghela napasnya dalam-dalam. Ia tidak menyangka Hannah datang dan merusak suasana malam ini. Ia yakin, sebelum Hannah datang, Emma berniat untuk menerima dirinya. Tapi, bukan James Howards namanya kalau ia menyerah begitu saja. Ia bisa merasakan kalau Emma juga menyukainya.


Duo Daft Punk dari atas panggung masih menjamu pengunjung lounge dengan lagu-lagu hits mereka yang chill. Tapi tidak mampu membuat tenang hati Emma. Ia sudah tidak merasa nyaman di tempat itu.


"Okay. Kuantar kau pulang sekarang." James beranjak dari duduknya dan mengulurkan tangan pada Emma untuk membantunya berdiri.


"I'm okay (aku baik-baik saja)." Emma menolak uluran tangan James dengan halus. Meski kecewa, James menunggu Emma melangkah mendahuluinya dan mengikuti gadis itu menuju pintu lounge. Sebelum berlalu, ia menatap Hannah sekilas. Wanita itu mengangkat gelas cocktailnya sambil tersenyum penuh kemenangan.


***


"Emma ... kau marah?" tanya James ketika mobilnya berhenti di depan pintu lobby apartemen Emma.


"Owh, tidak ...." Emma merapikan tas selempangnya dan bersiap untuk membuka pintu mobil.


"Ingat, Emma ... aku memberimu waktu. Artinya aku menunggu jawabanmu," ucap James. Emma hanya mengangguk. "Can I give you a hug (boleh aku memelukmu)? tanya James.

__ADS_1


Emma mengangkat kepalanya. Ia terkesiap ketika tanpa aba-aba James meraih tubuhnya dan membawanya ke dalam pelukannya. Namun gadis itu tidak kuasa menolak. Seperti yang sudah dibayangkannya, memeluk James memang sangat menyenangkan.


James melepaskan pelukannya, dan lagi-lagi, membuat Emma terkejut dengan kecupan yang dicurinya dari bibir gadis itu. Kecupan yang berkembang menjadi pagutan. Sepertinya James tidak bisa menahan diri untuk menikmati bibir tipis Emma.


"James," panggil Emma seraya mendorong pelan dada James. Ia menyukainya. Sangat. Tapi, hatinya masih dilanda kegalauan. James seorang rockstar yang dikelilingi banyak wanita. Hannah contohnya. Ia wanita yang sempurna. Emma tidak ingin kecewa dan sakit, jika nanti perasaannya semakin mendalam.


"I'm sorry," ucap James sembari menghapus jejak bibirnya di bibir Emma dengan ibu jarinya.


"Good night." Emma buru-buru membuka pintu mobil dan menghambur ke luar. Ia berlarian masuk ke dalam gedung apartemennya dan menghilang di balik pintu lobby.


***


Elric mengetuk pintu apartemen Emma dengan keras. Pasalnya, sudah berapa kali ia mengetuk dan gadis itu tidak juga membukakan pintu. Hingga beberapa saat kemudian pintu dibuka dari dalam dan muncul wajah Emma yang sepertinya baru bangun tidur.


"Astaga!" seru Elric. "Aku kira kau mati, Emma," gurau Elric.


Emma memutar bola matanya sebal. Ia masih ingin mendekap tempat tidurnya tapi terganggu dengan kedatangan Elric. Semalaman ia tidak bisa tidur memikirkan James Howards. Untungnya, hari ini adalah akhir pekan.


"Kau mau apa, El?" Emma melangkah gontai ke arah dapur untuk mengambil segelas air putih.


"Em, bisa temani aku?" Elric mengikuti langkah Emma.


"Hmm?" Emma menaikkan alisnya sembari meneguk gelas air putihnya.


Erlic meringis sambil mengelus rambut panjang ikalnya. "Ke toko musik."


"Toko musik?"


Elric mengangguk. "Aku ingin membeli gitar akustik."


Emma memicingkan matanya menatap Elric tidak percaya. Namun, sebelum gadis itu mengucapkan sesuatu, Elric sudah menarik tangannya hendak membawanya ke luar apartemen.

__ADS_1


"Elric! Aku belum mandi!"


***


__ADS_2