BAD BOY OF MANHATTAN

BAD BOY OF MANHATTAN
Bab 51. Lalu Kenapa?


__ADS_3

"Emma ...."


James menatap wajah cantik Emma yang duduk di sampingnya sembari mengulum senyum tipis. Keduanya berada di apartemen James di Hudson Yard. Area elite di dekat sungai Hudson yang membelah New York.


"Apakah kau sudah punya jawabannya?" tanya James penuh harap. Ia berani menanyakan nasib tawarannya kepada Emma karena dilihatnya gadis itu sedang dalam suasana hati yang baik. Dan ia sangat berharap jawaban Emma sesuai dengan harapannya selama ini. Rasanya ia sudah sangat bersabar menunggu gadis itu menyerahkan diri padanya, secara mental mau pun fisik.


Sementara Emma, ia berpikir, apa lagi yang sedang ia pertimbangkan. James sosok pria yang sempurna. Tampan, matang, mapan, popular, gentleman, dan serius ingin menjalin hubungan dengannya. Dan hari ini, pria itu telah membuat salah satu beban hidupnya terlepas. Student loan yang sangat mengganggunya. Tidak munafik jika seorang wanita perlu mempertimbangkan hal-hal semacam itu atas seorang pria yang menawarkan cinta kepadanya.


Dan Emma, di umurnya yang menginjak dua puluh dua tahun, bahkan belum pernah berhubungan dengan pria mana pun selama hidupnya. Ia masih perawan di usia kepala dua. Bukankah itu sesuatu hal yang bisa menjadi bahan tertawaan banyak orang?


Dan kini, Tuhan menghadirkan sosok James yang nyaris tanpa cacat. Masihkah ia akan menolak anugerah ini?


Pertanyaannya adalah, apakah ia jatuh cinta dengan pria tampan bermata biru di hadapannya ini? Dan apakah cinta itu penting jika masa depannya akan sangat terjamin? Bukankah ia sudah lelah dengan hidupnya yang penuh dengan kesengsaraan selama ini?


Emma menarik napasnya dalam-dalam. Kemudian ia mengangguk. Membuat James menautkan kedua alis tebalnya, ragu-ragu apakah anggukan kepala Emma adalah sebuah jawaban yang sudah ia tunggu-tunggu.


"Jadi?" tekan James memastikan kalau dugaannya tidak keliru.


"Ya, James."


"Katakan dengan kalimat yang lengkap, Emma."


"Ya, James ... aku menerimamu."


James bagaikan diguyur oleh salju yang mendinginkan lahar panas di dalam dadanya. Senyum lebarnya tersungging dari bibir tipisnya. Gadis pujaannya itu mengabulkan permohonannya. Dan ini bukan mimpi.

__ADS_1


Ia meraih tubuh ramping Emma dan mendekapnya dengan erat. James memeluk gadis yang kini sudah resmi menjadi miliknya itu sangat lama. Selama yang ia mau. Hingga Emma merasa himpitan tubuh James sedikit membuatnya kesulitan untuk bergerak.


"Sorry, I'm too excited (maaf, aku terlalu senang)," ujar James yang merasakan napas Emma memburu. Ia melepaskan pelukannya pada gadis itu. Kini telapak tangannya menangkup kedua pipi Emma lalu menciumi bibir gadis itu lembut. "Terimakasih, Emma ... terimakasih," ucapnya sembari berbisik mesra.


"Aku yang berterimakasih," sahut Emma. Ia menatap James lekat.


"Untuk?"


Emma tersenyum seraya memberanikan diri mengelus wajah tampan James. "Kau sudah melunasi student loanku hari ini."


James mengerutkan keningnya. Ia tidak mengerti apa yang diucapkan oleh Emma barusan. "Student loan?"


"Kenapa kau kaget begitu?" kekeh Emma. "Kau sudah sangat membantuku, James. Kau tidak tahu apa yang kau lakukan itu benar-benar meringankan beban hidupku."


Masih dengan wajah keheranan, James menyipitkan mata memandang Emma. "Aku tidak mengerti apa maksudmu. Aku tidak melunasi student loanmu, Emma. Aku bahkan tidak tahu kau memiliki tanggungan itu. Tapi, kalau kau menceritakan tentang hal itu sebelumnya, aku pasti akan melunasinya," terang James seraya terkekeh.


Elric.


Dada Emma berdebar kencang. Tenggorokannya tiba-tiba terasa kering. Ia menelan saliva dengan susah payah untuk sekedar melicinkannya.


"Emma?!" panggil James membuat gadis itu terkesiap.


"Ya?" jawab Emma dengan suara parau.


"Menginap di sini, ya, malam ini."

__ADS_1


"A-ku ... sepertinya ... tidak bisa." Tangan Emma tiba-tiba gemetar. Ada apa dengan dirinya? Bukankah seharusnya ia merasa senang? James adalah kekasihnya sekarang dan ia bisa menghabiskan malam ini dengan pria itu.


Tapi, Emma begitu ingin menemui Elric saat ini. Entah karena masalah student loan atau apa pun itu.


"Kenapa, Emma? Apa kau masih ragu-ragu denganku?" tanya James.


"Bu-bukan ... aku ... besok aku harus berangkat kerja pagi. Jarak dari sini ke restauran cukup jauh." Sungguh alasan yang tidak masuk akal. Manhattan itu kecil, semua tempat bisa diakses dalam hitungan menit dengan transportasi yang sudah sangat canggih tentunya.


James terlihat kecewa. Namun ia tidak ingin memaksa gadisnya itu. Mereka baru saja memproklamirkan diri menjadi sepasang kekasih. Dan Emma bukanlah wanita-wanita yang dikencaninya selama ini, yang dengan suka rela menyerahkan tubuh mereka bahkan di kencan pertama mereka. Tentunya ia harus pelan-pelan meraih hati gadis itu.


***


Emma membalas pelukan James dan juga kecupan di bibirnya setelah pria itu menepikan mobil di depan gedung apartemennya. Ia buru-buru keluar dari mobil mewah James dan berjalan cepat masuk ke pintu lobby.


"Elric!" panggilnya begitu ia masuk ke dalam apartemennya yang tampak sepi. Ia tidak melihat anak itu di ruang tamu.


Emma mengetuk pintu kamar Elric namun tidak ada jawaban. Pelan ia membuka pintu yang tidak terkunci itu. Kamar Eric kosong. Emma mengedarkan pandangan ke seluruh ruang kamar berukuran sedang itu. Ia tidak meihat gitar yang biasanya Elric mainkan. Artinya, anak itu mungkin sedang berada di studio.


Ia meraih ponsel di dalam tas selempangnya, lalu menggulir layar mencari nama Elric. Dihubunginya pemuda itu beberapa kali, namun tidak ada jawaban. Ia melirik jam di layar tablet milik Elric yang berada di atas nakas. Pukul dua belas malam.


Emma melangkah gontai ke ruang tamu dan menghempaskan badannya ke atas sofa. Entah kenapa ia merasa kesal Elric tidak menjawab telponnya. Ia tidak sabar ingin menanyakan perihal student loan pada pemuda itu. Gadis itu yakin Elriclah yang telah melunasinya diam-diam.


Tapi, jauh di lubuk hatinya, bukan tentang student loan yang membuat perasaannya tidak menentu. Keputusannya menerima James yang tiba-tiba membuatnya merasa Elric akan segera menjauh darinya.


Lalu kenapa jika Elric menjauh?

__ADS_1


***


__ADS_2