
Chapter 17 Revisi
"GOARHHH!!" Golem itu mengangkat tangan kirinya untuk menghancurkan Gu Chu dan Hu Lei dalam satu pukulan.
Hu Lei melempar Gu Chu ke sisi lain Gua. Hu Lei juga menghindari pukulan golem itu. Golem setinggi Tiga Meter itu berjalan kearah Gu Chu yang masih terbaring di tanah. Setiap langkahnya membuat dinding gua bergetar.
Golem itu mengangkat tangan kanannya untuk membanting tubuh Gu Chu. Hu Lei melompat tinggi ke atas tubuh Golem itu. Kemudian dari telapak tangan Hu Lei muncul semburat petir hitam yang menjalar di tubuh Golem itu.
Gerakan Golem itu terhenti akibat serangan listrik. Hu Lei memanfaatkan kejadian itu untuk menarik Gu Chu dan bersembunyi.
"Bocah Gu, kau masih hidup kan?" tanya Hu Lei saat mereka bersembunyi.
"Begitulah, tapi aku kesulitan bernafas. Hentakan yang terjadi tadi membuat nafasku tidak lancar Nyonya." ujar Gu Chu sambil memegangi dadanya.
"Aku mengerti, ini pedangmu. Kamu tunggu di sini. Biar Nyonya ini yang menghabisi raksasa idiot itu" Ujar Hu Lei dengan seringai bangga.
Hu Lei melompat keluar dari persembunyiannya, ia segera berubah menjadi Rubah besar yang tingginya menyamai Golem itu. Merasakan kehadiran Hu Lei, Golem itu berbalik dan mengaum ke arah Rubah besar itu. Raungannya mengeluarkan batuan permata yang runcing. Permata itu di tembakkan ke arah Hu Lei. Hu Lei melompat dan menghindari permata itu.
Saat Hu Lei mendarat ia segera melancarkan serangan pada Golem tersebut. Hu Lei membuka mulutnya dan bola petir di tembakkan ke arah Golem besar itu. Seperti sebelumnya, Golem itu berhenti bergerak seolah sedang tersentrum listrik.
Gu Chu memperhatikan di kejauhan, permata di tubuh Golem itu tampaknya retak. Namun sepertinya Retakan itu pulih kembali setelah sambaran petir mereda. Gu Chu berdiri untuk menyampaikan apa yang ia lihat pada Hu Lei. Namun Sebuah benda licin menutup mulutnya. Benda itu juga melilit tubuhnya.
Tanpa di ketahui Hu Lei, Mao Yun Zi muncul di sisi Gu Chu. "Tampan, ini adalah masalah cinta Kakak ipar dan Kak Yi Zhen. Kamu tidak boleh ikut campur."
Mao Yun Zi memberikan senyuman yang terlihat seperti bukan senyuman. Senyuman Palsu itu entah mengapa membuat jantung Gu Chu berdebar-debar.
'Ada apa ini? Mengapa jantungku berdebar? Bukankah aku seharusnya panik?' Bantin Gu Chu.
"Kalau begitu, mari kita lihat perjuangan kakak ipar di tempat lain." Kemudian Mao Yun Zi menggerakkan tangannya seperti gerakan mengajak orang pergi.
__ADS_1
Benda licin yang mengikat tubuh Gu Chu bergerak membawa Gu Chu ke sisi Tuannya. "Anak pintar." Puji Mao Yun Zi.
Gu Chu merasa khawatir, ia takut di apa-apakan oleh Nona Mao itu. Kesannya terhadap Mao Yun Zi sudah buruk di awal. Sehingga baginya Mao Yun Zi bisa saja membahayakan hidup yang baru saja ia dapat.
Mao Yun Zi membawa Gu Chu ke ruangan transparan yang berhadapan langsung ke pertarungan Hu Lei dan Golem. "Bagaimana menurutmu? Bukankah Kakak ipar sangat hebat dalam bertarung?"
Mao Yun Zi bertanya pada Gu Chu ketika Hu Lei berhasil mengalahkan Golem. Gu Chu mengangguk penuh semangat. Hu Lei adalah idolanya, di matanya Hu Lei selalu hebat.
"Kucing Sialan! Dimana Bocah Gu?!" Hu Lei berteriak saat mendapati bahwa Gu Chu menghilang.
"Dia ada bersamaku, aku akan menjaganya untuk Kakak, silahkan lanjutkan perjalanan Kakak." Suara Mao Yun Zi kembali memenuhi Gua.
"Xiao Xu, ini giliranmu." Bisik Mao Yun Zi. Setelah Mao Yun Zi berbisik, Benda licin yang melilit tubuh Gu Chu bergerak melepas Gu Chu. Gu Chu hendak kabur, namun tangan lentik yang mungil menyentuh bahu kanannya. Sentuhan ringan itu membuat tubuh Gu Chu berhenti bergerak, lebih tepatnya tidak dapat bergerak.
Mao Yun Zi menangkupkan tangannya di pipi kiri Gu Chu. Lalu berbisik dengan suara halus. "Jangan pikir bisa kabur dariku." Lalu Mao Yun Zi menggingit pelan daun telinga kanan Gu Chu.
Aksi pelan itu membuat wajah Gu Chu Memerah malu. "Hahaha, dasar perjaka kuno. aku yakin seumur hidup, kamu belum pernah dekat dengan wanita." Ejek Mao Yun Zi.
Merekapun berteleportasi ke ruangan berikutnya, di mana di sana mereka di hadapkan dengan Hu Lei yang berdiri di atas genangan air yang setinggi pergelangan kakinya. Mao Yun Zi suka melihat ekspresi malu Gu Chu. Ada ketertarikan khusus yang timbul di lubuk hati Mao Yun Zi saat menggoda perjaka kuno itu.
Kembali ke Hu Lei. setelah ia mengalahkan Golem, ia membawa pedang Gu Chu memasuki ruangan berikutnya. Di ruangan berikutnya Hu Lei melawan cacing berlendir yang tampak lengket. ujung kepala cacing itu terdapat mulut terbuka dengan gigi yang terlihat seperti pedang. Dua mata juga terlihat di kepalanya.
Karna sekarang Hu Lei ada di atas air, ia tidak bisa melawan cacing itu dengan petir. Untungnya ia Membawa pedang milik Gu Chu. Namun menggunakan pedang juga bukan cara terbaik. Begitu Hu Lei memotong cacing itu, mayat cacing itu akan jatuh ke air, lalu menyatu kembali.
"Apa-apaan ini! Agrh! Membuatku kesal saja!"
Hu Lei menebas tanpa henti, membuat tubuh cacing itu terpotong menjadi bagian-bagian kecil. Saat itu di bagian kepala ada sebuah batu kecil berwarna ungu. Bagian itu kemungkinan adalah inti cacing itu. Hu Lei menyeringai, ia sudah tau apa kelemahan Cacing itu.
Dengan semangat yang baru Hu lei menebas kembali tubuh cacing yang sudah kembali utuh. Lalu ia menyambar inti cacing itu. Benar dugaannya, inti itu hanya dapat membangun ulang tubuh cacing itu saat inti itu terkena air yang Hu Lei pijak. Hu Lei segera berlari menuju rintangan terakhir. Semangatnya menggebu ketika berpikir ia akan menemui Huang Yi Zhen.
__ADS_1
Mao Yun Zi memeluk Gu Chu untuk membawanya berteleportasi menuju ruangan berikutnya. Di Rintangan terakhir Hu Lei melawan Seekor burung raksasa. Sepertinya burung ini adalah burung yang sedang berevolusi menjadi siluman.
Di ruangan tempat mereka mengawasi Hu Lei. Gu Chu bertanya. "Sebenarnya.. mengapa nona Mao begitu suka konflik?"
"Hm? Kamu bertanya padaku? Hm... bagaimana ya? Mungkin aku hanya bosan... Kau harus tau, hidup dengan melajang ratusan tahun itu membosankan." Ujar Mao Yun Zi dengan tatapan bosan.
Gu Chu bertanya lagi. "Ta.. Tapi bukankah itu.. adalah hal buruk.. " Bisik Gu Chu.
"hahahaha... ya, ini memang buruk. Tapi aku akan berhenti jika ada Pria yang mau menemaniku, atau saat aku mati." ujar Mao Yun Zi.
Ketika Gu Chu memikirkan Pria lain berdiri di sisi Nona Mao, ia merasa tidak suka, dan hatinya sedikit sakit. Gu Chu pernah melihat adegan ini di televisi Tuan Huang. Jantung berdebar, perasaan tidak suka jika orang lain mendekati orang itu, dan perasaan selalu ingin bersama dengan orang itu. Ini semua tanda-tanda CINTA.
'Apakah aku jatuh cinta pada Nona Mao? ' Batin Gu Chu.
Mao Yun Zi kembali duduk di pangkuan Gu Chu. Ia mendekatkan wajahnya ke wajah Gu Chu. "Tampan, mengapa kamu melirikku terus hm..?"
pertanyaan itu membuat Gu Chu lebih gugup dan malu. Mao Yun Zi terkekeh melihatnya. 'Jangan-jangan bocah ini menyukaiku?' batin Mao Yun Zi.
"Apa Nona Mao sungguh-sungguh akan berhenti mengganggu Tuan Huang dan Nyonya, jika ada seorang Pria yang menemani nona?" Tanya Gu Chu dengan wajah merah.
Mao Yun Zi menyeringai. "Ya, aku berjanji."
Gu Chu bertanya lagi dengan Wajah yang lebih merah. "Ka.. ka... kalau begitu... a.. aku.. akan menemani.. Nona Mao..."
Mao Yun Zi sebenarnya cukup tertarik pada pria pemalu di depannya ini. Rasanya cukup menyenangkan untuk menggodanya. Mao Yun Zi pun mengangguk. "Boleh saja."
Hu Lei yang berhasil mengalahkan Burung Raksasa itu kembali memasuki ruangan lain. Itu adalah ruangan kecil yang di tengahnya terdapat bunga besar yang menelan Huang Yi Zhen. Bunga itu dalam kondisi mekar, di atas kelopak bunga itu, Huang Yi Zhen melayang dalam posisi tidur.
Hu Lei mendekat ke arah bunga. "Jika kamu masih ingin Kak Yi Zhen, sebaiknya jangan kesana."
__ADS_1
Mao Yun Zi datang dengan Gu Chu yang ikut berjalan di belakangnya. "Kak Yi Zhen sekarang bukan tertidur, melainkan pingsan. Tubuhnya ada di sini, namun jiwanya ada di dunia kecil yang entah ada di mana. Jika Kakak masih mencintai Kak Yi Zhen, kakak harus menyusul Kak Yi Zhen ke dunia kecil itu dan membawanya pulang. Tapi mungkin Kak Yi Zhen sudah tidak lagi mengingat siapa kita. Tenang saja, aku akan membantu Kakak. Bagaimanapun kini aku menutuskan untuk tidak mengganggu hubungan Kakak dan Kak Yi Zhen lagi." Mao Yun Zi tersenyum manis untuk menunjukkan ketulusannya.
"Baiklah, tapi sebelum itu kita harus kembali ke desa Wang Jia untuk mengatakan sesuatu pada Ayah dan Ibu mertua." Ujar Hu Lei.