
Panggilan berakhir, Triash menutup telepon dan menangis. Dia merasa sakit hati, dikhianati, dan disalahpahami. Dia tidak percaya bahwa ayahnya, akan menikahi wanita dan menggantikan ibunya begitu saja.
Dia tidak tahu bagaimana memproses perasaannya, dan dia merasa diliputi oleh kesedihan dan kemarahan. Dia membenamkan wajahnya di bantal dan menangis tersedu-sedu, mencoba meredam suara rasa sakitnya. Yang dia inginkan hanyalah tertidur dan melupakan panggilan telepon yang mengerikan ini, tetapi dia tahu bahwa dia tidak akan bisa tidur dengan mudah malam ini.
Akhirnya, setelah waktu yang terasa seperti berjam-jam, dia merasakan kelopak matanya bertambah berat, dan dia tertidur lelap.
•••
Saat Triash bangun keesokan paginya, dia merasa lesu dan lelah. Matanya merah dan bengkak karena menangis sepanjang malam, dan dia merasa seperti tidak tidur sama sekali. Terlepas dari upaya terbaiknya, dia tidak bisa menghilangkan perasaan sedih dan sakit hati yang menguasai dirinya.
Dia menyeret dirinya keluar dari tempat tidur dan menjalani rutinitas paginya dengan autopilot, merasa tubuhnya bergerak sendiri. Dia mandi, berpakaian sendiri, dan makan sebentar sebelum menuju keluar pintu.
Saat dia berjalan ke sekolah, dia merasakan beban di hatinya yang membebani dirinya seperti satu ton batu bata. Dia tidak bisa mengerti mengapa ayahnya dengan mudah bisa melupakan ibu Triash, dia merasakan kepahitan dan kebencian tumbuh di dalam dirinya.
Saat dia memasuki halaman sekolah, Dia menarik napas dalam-dalam dan mulai berjalan ke dalam kelas. Saat memasuki ruang kelas dia melihat Adipta menatapnya dengan ekspresi khawatir. Dia tahu bahwa dia sedang kacau saat ini.
Triash mencoba memasang wajah seperti biasanya dan duduk di mejanya. Adipta dapat melihat ada sesuatu yang mengganggunya, tetapi dia tidak ingin mengorek atau memaksanya untuk membicarakannya.
Dari jauh Jeera memperhatikannya dan datang untuk menanyakan ada apa. Triash menarik napas dalam-dalam dan memberitahunya tentang hal yang terjadi tadi malam.
Jeera mendengarkan dengan tenang, dengan ekspresi simpati di wajahnya. Dia mengerti betapa sulitnya bagi Triash untuk menerima ini dari ayahnya, dan dia ingin membantu dengan cara apa pun yang dia bisa.
__ADS_1
Dia menawarkan untuk duduk didekatnya, agar dapat meminjamkan telinga dan bahu untuknya menangis. Dia mengerti bahwa butuh waktu baginya untuk memproses semuanya, tetapi dia ingin dia tahu bahwa dia tidak sendirian.
Bel pertukaran pelajaran berbunyi, waktunya pertandingan bola basket. Dia merasa kewalahan oleh emosi yang telah dia tahan, dan ketika sebuah bola menghantam dadanya dengan keras, dia merasa semuanya mengalir keluar.
Dia menangis, merasa seperti dia tidak bisa menahannya lagi. Jeera dan Adipta melihatnya dan berlari menghampirinya. Mereka melihat dia menangis dan segera beraksi, mereka merangkulnya dan membawanya ke dalam kelas.
Mereka dapat melihat bahwa dia sedang berjuang, dan mereka tidak ingin mendorongnya untuk berbicara atau memberikan nasihat. Sebaliknya, mereka hanya memeluknya dan mendengarkan saat dia mencurahkan perasaannya. Jelas bahwa dia menahan banyak rasa sakit, dan mereka ingin berada di sana untuknya.
•••
Triash pulang ke rumahnya dan melihat seorang wanita di ruang tamunya, wanita itu menatap dan tersenyum padanya. Ayahnya datang dan memperkenalkan Triash pada Ayse. mereka duduk bersama diruang tamu.
Sampai akhirnya ayahnya meninggalkan mereka berdua. Ayse mendekat dan duduk di samping Triash. Dia mencoba mengakrabkan diri dengannya, bertanya tentang bagaimana harinya disekolah dan apa saja yang mengganggunya. Triash menatap Ayse dengan tatapan emosi dia menarik nafas panjang dan berlari ke kamarnya, membanting pintu di belakangnya.
Emosinya masih berkecamuk, tetapi dia tahu bahwa dia harus menemukan cara untuk menenangkannya dan berpikir jernih. Dia mengambil beberapa napas dalam-dalam dan mencoba memusatkan dirinya. Dia tahu bahwa satu-satunya cara untuk maju adalah dengan menghadapi ayahnya dan berbicara dengannya. Hanya dengan begitu dia bisa tenang.
terdengar suara ketukan dari pintu kamarnya, dia membukanya dan melihat Ayse berdiri di ambang pintu, memegang nampan berisi makanan. Triash kaget dan marah, dan dia tidak ragu untuk mengungkapkan perasaannya.
Dia berteriak pada Ayse, menyuruhnya berhenti bertingkah seolah dia adalah ibunya. Dia mengingatkan Ayse bahwa dia hanya memiliki satu ibu, wanita yang melahirkannya. Dia memperjelas bahwa dia tidak membutuhkan atau ingin Ayse menggantikannya.
Ayse tampak kaget dengan ledakan Triash, tapi dia tidak mundur. Dia mencoba meredakan situasi dengan menawarkan makanan dan memberi tahu Triash bahwa dia hanya ingin memastikan Triash baik baik saja.
__ADS_1
Triash tidak ingin mendengarnya. Dia berteriak pada Ayse untuk pergi dari kamarnya. Dia tahu bahwa dia kasar, tapi dia tidak peduli. Dia hanya ingin dibiarkan sendiri untuk mengatasi emosinya dengan caranya sendiri.
Dengan itu, Ayse meninggalkan ruangan, menutup pintu di belakangnya. Triash duduk di tempat tidurnya, menarik napas dalam-dalam dan berusaha menenangkan diri. Dia tahu bahwa dia telah bertindak secara impulsif, tetapi dia tidak bisa menyesalinya.
Triash duduk di tempat tidurnya mencoba mengalihkan pikirannya. Jadi dia menelepon Adipta dan bertanya apakah mereka bisa bertemu di taman, tempat mereka duduk sebelumnya. Adipta setuju, dan mereka membuat rencana untuk bertemu di sana dalam satu jam.
Dia tahu bahwa dia dapat berbicara dengan Adipta tentang apa saja, dan bahwa dia akan mendengarkannya tanpa menghakimi atau mencoba menawarkan solusi. Dia punya cara untuk membuatnya merasa dipahami dan dimengerti, dan dia bersyukur.
•••
Ketika dia bertemu Adipta di taman, dia tahu ada yang tidak beres. tetapi dia tidak mendesaknya untuk detailnya. Sebaliknya, dia hanya duduk di sebelahnya dan mendengarkan Triash saat dia mencurahkan isi hatinya.
Rasanya melegakan akhirnya berbicara dengan seseorang yang mendengarkan tanpa berusaha menyelesaikan masalahnya atau menawarkan saran. Triash merasa diperhatikan dan didengar.
Saat Triash terus mencurahkan isi hatinya kepada Adipta, dia menemukan bahwa perasaannya terhadap Adipta semakin dalam. Dia merasa aman dan nyaman dalam, dan fakta bahwa dia menawarkan dukungan tanpa syarat sangat berarti baginya.
Saat dia menangis di bahunya, dia menyadari bahwa dia jatuh cinta lebih dalam padanya dengan cara yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Sensasi yang aneh dan baru, tapi dia tidak ingin menyangkalnya atau menolaknya. Dia telah melalui begitu banyak hal selama beberapa tahun terakhir.
Adipta terus mendengarkan dan memeluknya erat-erat saat dia menangis, menawarkan kenyamanan dan dukungannya tanpa menghakimi. mengatakan padanya untuk mengambil setiap langkah yang diinginkannya. dan dia pantas merasa bahagia dan dicintai.
Saat perasaannya pada Adipta semakin dalam, dia tahu bahwa dia harus membuat keputusan tentang apa yang ingin dia lakukan dengan perasaan ini. Namun, dia tidak ingin terburu-buru melakukan apa pun tanpa sepenuhnya memahami emosinya sendiri.
__ADS_1
Lalu Adipta mengantarnya pulang dan memberikan senyum semangat padanya.