
Chapter 29 Rev
Saat Huang Yi Zhen berada di taman. Telponnya bergetar, sebuah nama tertera di layarnya. 'my baby Luo luo'
"???"
Wanita tua muncul dengan cekikikan di sisi Huang Yi Zhen. "Kucing kecil, itu adalah telpon dari kekasih kecilmu. Berhati-hatilah agar istrimu tidak mengamuk dan mencincangmu menjadi tumis kucing, hahaha..."
Setelah mengatakan omong kosong lagi, Wanita tua menghilang. Huang Yi Zhen merasa bingung harus mengangkat telpon atau tidak. "Sudah ku duga kamu tidak akan mengangkat telpon ku. Sejujurnya aku sedikit sedih."
Seorang wanita asing dengan tinggi sebahu Huang Yi Zhen, berbicara dengan nada sendu. (Sekitar 174cm, Huang Yi Zhen memiliki tinggi 187 cm). Dalam ingatan Huang Yi Zhen ia tidak mengenal Wanita asing ini. Huang Yi Zhen mengerutkan kening. Yang baru saja menelponnya adalah 'kekasih' pemilik tubuh asli. Jadi Wanita ini pasti adalah...
"Luo Luo ?" Tanya Huang Yi Zhen.
Ada senyum kecil yang terbit di wajah 'Wanita' itu. Rupanya itu adalah lelaki kecil kekasih pemilik tubuh asli. Sheng Luo namanya. Melihat wajah konyol Huang Yi Zhen yang seolah-olah melupakannya membuat Sheng Luo sedikit kesal. Sheng Luo menarik tangan kanan Huang Yi Zhen ke pelukannya, dan membimbing Huang Yi Zhen untuk berjalan-jalan.
Sheng Luo sendiri memiliki wajah feminim dengan bibir merah dan kulit putih yang halus. Meski umurnya sama dengan pemilik tubuh asli, ia terbilang pendek untuk ukuran Pria. Lagi pula Sheng Luo memang tidak pernah menyukai Wanita, ia seorang gay murni.
Ingatan Huang Yi Zhen tidak sempurna, dan dalam ingatan yang tidak lengkap itu ia sama sekali tidak pernah membangun hubungan asmara apapun. Lagi pula Huang Yi Zhen adalah Siluman Kucing, ia sama sekali tidak mengetahui bagaimana cara mengungkapkan kasih sayang di antara manusia.
Sheng Luo menyandarkan kepalanya ke bahu Huang Yi Zhen. Sambil berjalan bersama, ia berkata pada Huang Yi Zhen. "Yi Zhen... Apakah aku mengganggu hidupmu?"
Huang Yi Zhen mengingat karakter pemilik tubuh asli yang sangat menyayangi Sheng Luo. "Tidak, kamu bukanlah penghalang dalam hidupku. Hanya saja kabar tentang aku yang di pecat pasti sudah sampai ke keluargaku. Hanya menunggu waktu saja keluargaku pasti akan menjemputku."
Meski akting Huang Yi Zhen tidak begitu baik, setidaknya itu dapat membuat Sheng Luo percaya tanpa curiga padanya. Wanita tua muncul lagi dengan senyum licik di wajahnya. "Kucing kecil kau sudah pandai berakting huh?"
'Itu bukan urusanmu!' batin Huang Yi Zhen.
Wanita tua melayang mengelilingi Huang Yi Zhen. "Tapi kamu harus hati-hati loh... Sheng Luo bukan orang baik-baik." Setelah mengatakan nasihat, Wanita tua menghilang di udara tipis.
__ADS_1
Biasanya wanita tua hanya akan meneriakkan omong kosong. Namun kali ini nada seriusnya membuat Huang Yi Zhen merasakan sesuatu. Huang Yi Zhen tiba-tiba merasakan niat membunuh yang kuat berkobar di belakangnya. Huang Yi Zhen berbalik. Namun tidak ada siapapun di sana.
"Yi Zhen, ada apa?" Sheng Luo bertanya dengan nada bingung.
"Aku merasakan tatapan dingin di suatu tempat." Gumam Huang Yi Zhen.
Karna berada di taman, banyak orang yang membawa hewan peliharaannya untuk jalan-jalan. Sebenarnya selain tatapan predator seseorang, Huang Yi Zhen juga merasakan tatapan pemujaan para kucing. Sheng Luo meminta Huang Yi Zhen untuk berhenti berjalan dan duduk di kursi taman.
"Yi Zhen, aku benar-benar minta maaf... Karna aku..." Saat Sheng Luo ingin mengeruk simpati Huang Yi Zhen dengan beberapa tetes air mata, Huang Yi Zhen malah di kerubungi kucing-kucing.
"Sial." bisik Sheng Luo.
"Maaf aku tidak dapat mendengarmu Luo Luo, kucing-kucing ini benar-benar manja." Ujar Huang Yi Zhen sambil mengusap satu persatu temannya.
"Meong..."
(Kakak, aromamu terasa akrab)
(Kakak, maukah kamu bermain bersama kami?)
"Meong, meong!"
(Tidak, kakak harus ikut dan tinggal di rumahku saja!)
Huang Yi Zhen merasa lebih hidup ketika berinteraksi dengan para kucing. Para pemilik kucing ikut berbicara dengan Huang Yi Zhen dan anak-anak kucing mereka. Ketika matahari mulai naik, anak-anak kucing mulai lapar. Namun mereka enggan untuk pergi meninggalkan Huang Yi Zhen.
"Jika kalian lapar kalian harus makan, pergilah ikuti pemilik kalian pulang. Di lain waktu kita semua akan bertemu lagi." Huang Yi Zhen tersenyum pada teman-teman kucingnya.
Setelah pamitan yang singkat. Sheng Luo segera berdiri dan mengajak Huang Yi Zhen ke suatu tempat. "Yi Zhen, ayo kita makan ke suatu tempat. Kali ini aku yang traktir."
__ADS_1
Setelah menaiki mobil taksi, Sheng Luo membawa Huang Yi Zhen berjalan. Huang Yi Zhen mengenali tempat ini sebagai pinggiran kota. Dalam ingatan pemilik tubuh asli, pinggiran kota bukanlah tempat yang baik. Banyak preman berkeliaran, Hukum negara pun tidak berlaku di tempat ini. Orang tua pemilik tubuh aslilah yang mengingatkan pemilik tubuh asli, agar menjauh dari tempat ini.
Huang Yi Zhen adalah Siluman kucing. Rasa ingin taunya sangat besar, terutama ketika melihat sesuatu yang mirip dengan laser di gedung kosong. Tanpa Huang Yi Zhen sadari, pupil kucingnya yang berwarna merah terang itu menyala. Insting kucingnya terbangun.
Tidak peduli berapa kali pun Sheng Luo memanggilnya, siluman kucing itu tidak mengubah arah jalannya. Sheng Luo menggertakkan giginya, beberapa preman sudah dia sewa untuk membuat Huang Yi Zhen tak sadarkan diri.
Bagaimanapun Huang Yi Zhen yang kehilangan pekerjaannya tidak lagi berguna untuknya. Dan lagi Huang Yi Zhen adalah pria tampan, akan ada orang yang menginginkannya. Jika di jual maka keuntungan akan mengalir seperti air terjun mengisi penuh dompetnya.
Jika Huang Yi Zhen pergi ke arah yang berlawanan, maka ia tidak akan bertemu jebakan yang Sheng Luo siapkan untuknya. Sheng Luo menggigit bibir bawahnya. "Yi Zhen ada apa? Mengapa pergi kesana?" Panggil Sheng Luo.
Huang Yi Zhen menghentikan langkahnya. Namun laser di sebrang gedung seolah menggodanya, itu bergerak-gerak! Huang Yi Zhen tidak lagi memikirkan Sheng Luo, ia bergegas untuk menangkap sinar laser.
Sheng Luo menghentakkan kaki kirinya ke tanah karna kesal. "Apa lagi yang kalian tunggu?! Ikuti targetnya!" Teriak Sheng Luo ke preman yang ia bayar.
Namun preman itu malah mengerubunginya. Sheng Luo segera merasa ada yang salah, terutama saat melihat tatapan yang seperti serigala lapar di mata preman itu. Sheng Luo berteriak marah "Apa yang ingin kalian lakukan! Target kalian kan bukan aku!"
"Seseorang telah membayar kami dua kali lipat. Untuk bermain denganmu." Ujar ketua Preman. Seringai di wajahnya memperlihatkan giginya yang kuning.
Sheng Luo semakin ketakutan. "YI ZHEN! TOLONG AKU!"
"Tidak tau malu, bukankah kamu memerintahkan kami untuk mencelakai Pria itu. Sekarang kamu ingin dia menolong mu? Heh, jangan terlalu berharap!" Ketua preman mengangkat Sheng Luo yang kurus seperti karung beras.
Sheng Luo adalah Pria berwajah cantik yang bernasib buruk. Sejak kecil pelecehan selalu datang kepadanya karna hidupnya yang miskin. Lingkungan pinggiran kota dulu adalah tempat asalnya, sehingga ia segera mengingat penghinaan yang pernah ia lupakan jauh-jauh.
Kemiskinanlah yang membuatnya menderita, sehingga ia selalu membenci Pria atau Wanita yang lahir dengan sendok emas di mulut mereka. Sheng Luo melampiaskan rasa bencinya pada orang-orang kaya itu dengan cara menguras harta mereka. Jika targetnya sudah miskin dia akan menjual organ dalam target untuk uang, itu jika targetnya jelek atau tua. Jika tergetnya muda dan tampan atau cantik, maka ia akan menjual targetnya itu ke rumah bordil.
Pemilik tubuh asli juga merupakan salah satu targetnya. Namun sekarang Sheng Luo harus merasakan bagaimana rasanya penderitaan dan penghinaan untuk yang ke sekian kalinya lagi. Akibat seorang anonim, Huang Yi Zhen yang seharusnya di jual malah menghilang, dan dirinya, Sheng Luo, yang seharusnya mengipasi dirinya dengan uang, malah harus melayani nafsu para preman kasar ini.
'Aku Sheng Luo bersumpah! Jika aku mengetahui siapa yang melakukan ini padaku, akan ku bayar dia berkali kali lipat!' batin Sheng Luo.
__ADS_1
Wanita tua yang mengamati semuanya di bola kaca tertawa sinis. Masuknya Huang Yi Zhen dan Hu Lei telah mengacaukan garis takdir dunia kecil itu sendiri. "Namun, aku suka kekacauan. Mari lihat seberapa kacau dunia kecilku karna kalian."